Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 17: Lara


__ADS_3

Aku beruntung bisa bertemu dengan pemilik hotel yang ternyata fasih berbahasa Indonesia. Kami pun mengobrol seperti sudah akrab. Pria setengah baya tersebut bercerita tentang awal mula dia merintis usaha di bidang penginapan. Menurut penuturannya, sebelum memulai mendirikan hotel ini, ia sempat tinggal di Indonesia untuk belajar berbisnis dari kakak iparnya selama 5 tahun.


Selain belajar berbisnis, Pak Yamada (sang pemilik hotel), juga belajar banyak hal dari keramahan orang Indonesia yang di aplikasikan dalam pelayanan di hotelnya. Sehingga hotel ini selalu ramai dan mendapat beberapa penghargaan baik dari turis maupun lembaga internasional terkait service dan management.


Saat pertama menginjakkan kaki di sini, aku memang terpukau melihat suasana yang ditawarkan. Nuansa tradisional dan modern membaur dalam interior kamar maupun lobby hotel. Konsep home sweet home yang menjadi trademark memang membuat perasaan serasa di rumah sendiri. Plus-nya, tamu bisa melihat pemandangan kota Sapporo yang menakjubkan dari balik jendela kamar mereka. Hamparan bukit, perkotaan, sawah, dan aliran sungai membuat guratan yang sangat sedap dipandang mata. Hotel ini sangat mengesankan!


Kata pemilik hotel, yang minta dipanggil Paman saja, pemandangan alam di wilayah ini akan lebih memanjakan mata ketika musim semi. Dua bulan lagi dari sekarang. Tetapi beberapa hotel dan penginapan sudah hampir semua kamarnya habis dipesan, termasuk di sini. Tak salah memang, masyarakat Jepang selain sangat melek teknologi, mereka sangat berbaur dengan alam. Sehingga keindahannya dirawat dan dikemas dengan sangat baik untuk menjadi daya tarik wisata.


“Nanti malam ada festival di pusat kota. Pak Dave bisa ke sana untuk melihat kegembiraan orang-orang bermain salju. Ada juga pertunjukkan budaya di sana,” jelas Paman setelah aku mengungkapkan kekagumanku terhadap hotelnya dan kota ini.


“Andai saja saya bisa mengajak istri saya, dia pasti sangat senang, Dia sangat antusias ingin menikmati winter di sini.”


Aku teringat Fay yang mengidamkan bisa berada di tempat ini, saat ini. Indonesia sebenarnya punya banyak destinasi wisata yang tak kalah menarik selain Bali. Ada Lombok, Wakatobi, Ternate, Yogyakarta, Bromo, dan banyak lagi. Namun, Indonesia tak memiliki musim salju. Musim yang sering menjadi lambang kegembiraan dan keromantisan dalam berbagai serial animasi, drama, maupun film.


“Lantas, kenapa istri Pak Dave tidak ikut?”


“Dia sedang hamil muda. Kondisinya masih cukup rentan untuk ikut dalam perjalanan jauh”


“Kalau begitu, datang lagi kemari saat Musim Semi. Nanti mudah-mudahan ada kamar kosong di sini. Atau bisa menginap di rumah Paman, tak jauh dari sini.”


“Setelah mendaratkan kaki di sini, saya memang punya rencana seperti itu, Paman.”


Kami pun tertawa kecil seperti teman lama yang baru bertemu kembali. Pemilik hotel ini sangat ramah.


“Oya, berapa lama Pak Dave di sini? Nanti saya rekomendasi tempat-tempat yang bisa Pak Dave kunjungi.”


“Tiga hari, Paman. Saya sangat beruntung bisa mendapatkan kamar di sini.”


“Ah, tidak. Paman yang selalu merasa beruntung dan bersyukur, karena masih banyak orang yang mau menginap di sini,” tawanya renyah. “Emm, tapi maaf, Paman tak bisa menemani Pak Dave keliling Sapporo, karena ada beberapa pekerjaan yang harus Paman selesaikan.”


“Tidak apa-apa, Paman. Paman sudah mau berbagi cerita saja, saya sudah sangat berterima kasih.”


Paman juga terlihat sangat bersahaja. Walau seorang pemilik hotel, tetapi tak sungkan untuk melayani tamu dan menjalin percakapan.


“Paman baru ingat. Begini saja Pak Dave, nanti biar Pak Dave ditemani oleh keponakan Paman saja.”


“Tidak usah, Paman. Saya tidak mau merepotkan.”


“Tidak perlu sungkan. Kebetulan dia juga sedang free dan sepertinya butuh teman untuk berkeliling kota. Dia sudah beberapa bulan tinggal di sini.” Wajahnya tampak sumringah menuturkan keponakannya. “Dia juga seumuran Pak Dave. Namun, dia belum menikah. Nanti kan sesama anak muda, siapa tahu ketika mengobrol, Pak Dave bisa memotivasinya untuk segera berumah tangga.”


Aku hanya bisa mengangguk. Tak ada lagi kata-kata untuk menolak tawaran Paman.


“Nah, itu keponakan Paman!” tunjuk Paman pada salah seorang laki-laki yang duduk di meja resepsionis.


Aku pun spontan membidik pandangan ke arah yang sama. Namun, hanya bagian rambutnya yang terlihat. Aku penasaran dengan orang yang Paman sebut sebagai keponakannya.


Tak lama, orang itu berdiri. Aku merapikan kacamataku. Benarkah yang aku lihat? Itu seperti Ken. Atau ini hanya halusinasi saja, karena aku beberapa hari ini sedang memikirkan dia. Lagi pula, katanya Ken tengah berada di Jerman.


Meskipun ragu, tetapi aku ingin segera menghampiri orang tersebut untuk memastikan citra pandanganku. Kemudian, Paman meneguhkan penglihatanku. “Ken, kemari sebentar!”


Itu Ken? Benar, Ken ada di sini. Ini bukan mimpi, kan? Jantung berdebar dengan begitu kencang saat dia menghampiri. Aku coba mengadu mata dengannya, tetapi dia tak menghiraukan tatapanku.


“Pak Dave, ini keponakan Paman yang tadi diceritakan. Namanya, Ken.”


Diam. Memandang. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku benar-benar tercengang melihat Ken ada di hadapanku. Tak pernah terpikirkan akan dipertemukan dengannya secepat ini ketika perasaan dan pikiran sedang bertumpu kepadanya.


Aku masih tak percaya bisa bertemu dengan Ken. Ini sebuah keajaiban. Dia berusaha menyalamiku, namun aku benar-benar terpaku.


“Ken…” ucapnya tanpa ada tambahan kata.


Dia tak mengenaliku? Mustahil. Sangat jelas, orang yang di depanku saat ini yaitu sahabatku, Ken. Sekalipun ada puluhan orang yang sama persis dengannya, aku bisa membedakan mana Ken yang aku kenal dan mana yang hanya mirip.


Kenapa dia bersikap seperti baru bertemu denganku?


“Dave.” Anehnya, aku pun membalas dengan hal yang sama.


“Ken, Pak Dave ini dari Indonesia juga. Duduk dulu sebentar di sini,” imbuh Paman memperkenalkan kami dengan polos. Ia tidak tahu kami sudah saling mengenal. Bahkan, sangat dekat.


Ketika Paman memperkenalkan kami, reaksi Ken hanya mengangguk. Ia seolah meyakinkan Pamannya bahwa aku dan dia baru pertama bertemu. Ayo Ken, kenapa seperti tak mengenaliku? Tak inginkah menyapaku dengan lebih bersemangat seperti biasanya ketika lama tak berjumpa? Ken, jangan mengatupkan bibirmu seperti itu. Ini aku, Dave. Sahabatmu.


“Maaf Paman, Ken sedang memeriksa daftar reservasi pelanggan dan meng¬-handle  pelanggan yang tadi complain. Maaf juga Pak Dave, kita mengobrolnya lain kali saja,” ungkap Ken dengan santai. Ya, santai. Ia berpura tak mengenalku. Padahal terakhir aku bertemu dengannya, ia langsung memelukku. Apa karena kata-kataku waktu itu membuatnya benar-benar melupakanku?

__ADS_1


Perasaan sedih menyergap seketika. Ken tak mempedulikanku. Dia berlalu begitu saja. Aku ingin memanggilnya. Tapi, sepertinya dia memang sudah menghapus aku dari sejarah hidupnya.


“Ken.” Langkahnya terhenti saat Paman memanggil. Namun, ia enggan membalikkan badan. Mungkinkah karena ia tak mau melihatku? “Nanti malam temani Pak Dave ke pusat kota untuk melihat festival.” Paman menyuruh Ken untuk menjadi tour guide-ku. Ini awal yang baik.


“Tapi Paman…” Nada suaranya jelas berusaha menolak.


“Kamu ada acara dengan….”


Ken langsung memotong. “Tidak. Maksud Ken….”


Sekarang giliran Pamannya yang memotong ucapan Ken. Aku menjadi penonton saja dulu. “Bukannya tujuan kamu ke sini untuk menenangkan diri? Nah, kebetulan ada Pak Dave. Kalian bisa saling bertukar pikiran atau sekadar mengobrol santai sambil menikmati waktu liburan kan.” Pamannya masih bernegosiasi.


Ken terdiam. Tak ada kata yang keluar untuk merespon.


“Beberapa hari ini kan kekasihmu juga sedang ada acara dengan keluarganya. Tak ada salahnya kan menemani Pak Dave dulu. Dia jauh-jauh dari Indonesia kemari untuk menikmati salju di Hokkaido. Sekalian bantu Paman mempromosikan hotel ini. Siapa tahu kalau Pak Dave terkesan dia akan merekomendasikan kepada rekan kerjanya di Indonesia.”


Paman terus membujuk Ken. Sementara itu, aku berdoa semoga Ken mau. Namun, ada rasa sakit menyeruak di dalam dada saat mendengar Ken sudah memiliki kekasih.


Ken tak memberikan keputusan. Dia berjalan menuju tempatnya semula.


“Maaf, Pak Dave. Beberapa hari ini sikapnya memang agak aneh. Sewaktu kemarin saya pergi ke Seoul, katanya dia ribut dengan kekasihnya. Dia memang orangnya tak banyak bicara, tetapi sebenarnya dia baik dan cukup ramah.”


“Iya, Paman.” Sepertinya sikap aneh Ken karena melihatku saja.


Aku jadi penasaran siapa kekasih Ken dan sudah berapa lama mereka berpacaran. Jika keluarganya sudah mengenal kekasih Ken, tampaknya hubungan mereka sudah berlangsung lama.


“Pokoknya, nanti jam 6 Pak Dave tunggu saja di lobby. Ken pasti mau menemani. Acaranya sudah mulai dari sore, tetapi semakin malam justru semakin meriah,” janji Paman.


Semoga Paman berhasil membujuk Ken. Tak ada kesempatan lain jika bukan kali ini. Aku harus bisa berbicara dengannya untuk menjelaskan perasaanku.


***


Sudah setengah jam aku duduk di lobby dengan gelisah. Menanti Paman lewat, tetapi belum juga terlihat.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.55, aku tak tahu kepastian Ken mau menemaniku atau tidak. Antusiasku lebih besar untuk bisa berbicara dengan Ken dibanding melihat festival salju.


Aku coba tanya kepada resepsionis, katanya Paman sudah pulang dari sejam yang lalu. Aku pun tanya keberadaan ken, namun resepsionis itu menjawab dia juga pulang bersama Pamannya. Waktuku di sini tak lama. Jika Ken terus menghindar, aku tak akan pernah bisa memperbaiki hubungan persahabatan ini.


Kulangkahkan kaki keluar sambil melihat salju yang turun rintik-rintik. Ada perasaan menyesal, karena seharusnya tadi siang aku menyapa Ken lebih dulu dan mengatakan aku sudah mengenalnya di depan sang Paman.


Hingga 15 menit mobil melaju, canggung tak beranjak dari sisi kami. Aku masih bingung untuk membuka obrolan. Ken tampak fokus menyetir tanpa berusaha sekalipun menoleh ke arahku. Ini sangat tidak biasa.


“Aku dengar kamu di Jerman?” Akhirnya, mulutku bersuara saking tak tahan dalam situasi yang seperti dibekukan oleh salju.


“Tidak.”


Ada jeda hampir dua menit. Aku pikir Ken akan menambahkan beberapa kata lagi. Rupanya, hanya satu katu itu.


“Kaatanya kamu sudah punya kekasih sekarang? Siapa?” Pertanyaan ini yang membuatku sangat penasaran.


Ken tak menjawab. Dia semakin diam seribu bahasa. Pandangannya pun masih tak berubah, tak mau berkelok ke arahku.


“Ken?” Aku berusaha memastikan dia mendengar jelas pertanyaanku.


“Tidak,” sahutnya.


Namun, aku merasa belum teryakinkan. “Serius, Ken?”


“Ya.”


Ayolah Ken! Pertanyaanku bukan kuis yang hanya bisa kamu jawab ya atau tidak.


“Kita sudah sampai, Pak Dave!”


Dia berbicara seperti supir kepada penumpangnya.


Ken tak pernah seperti ini sebelumnya. Dia memanggilku dengan sapaan formal saja itu sudah membuatku sakit. Aku jadi tidak bisa memikirkan cara untuk membuatnya mengenaliku. Namun, aku sangat yakin dia tidak sedang amnesia.


Ketika hendak turun dari mobil, ponsel Ken berbunyi. Saat itu dia memandangku sekejap. Pandangan yang sangat dingin. Aku pun membalas dengan mengembangkan senyum.


Terdengar sayup suara perempuan di ujung telepon. Tak begitu jelas ucapannya. Akan tetapi, dari jawaban Ken sepertinya perempuan itu menanyakan posisi Ken di mana dan sedang apa. Ken mengatakan sedang di taman mengantar tamu hotel. Benar, aku memang tamu di hotelnya tapi aku juga sahabatmu kan, Ken?

__ADS_1


Aku mencoba menikmati suasana taman. Benar kata Paman, semakin malam suasana di sini semakin ramai. Terlihat orang-orang begitu ceria menikmati festival salju dan tahun baru. Sayangnya, aku tak bisa larut dalam kemeriahan festival.


Fay menelepon, dia meminta untuk video call agar bisa melihat keramaian festival. Aku cukup khawatir salah memposisikan kamera. Kulihat sekeliling tak ada Ken. Jangan sampai istriku marah, karena melihat Ken dan menuduh pertemuan tidak sengaja ini telah kami rencanakan.


Aku pikir Fay masih akan terus merengek dengan mengatakan seandainya dia ada di sini. Ternyata, dia sudah cukup sumringah melihat suasana festival yang aku shoot. Katanya, ia  sudah bisa meredam keinginannya untuk tahun depan.


Kami tak lama bertatap muka melalui layar virtual. Fay mengatakan ia sudah mengantuk.


Selesai video call dengan Fay, aku mencari Ken. Dia begitu saja menghilang. Setelah mengitari taman, aku lihat Ken sedang bermain salju bersama anak-anak. Dia terlihat gembira. Mengumpalkan salju diiringi tawa. Hal yang jarang aku lihat. Dia mampu berbaur. Hanya saja, mengapa sikapnya kepadaku sedingin salju yang dia genggam?


Aku menghampiri Ken. Niatku ingin berbaur dengan keceriaan yang ia ciptakan. Namun, dia justru menghentikan aktivitasnya.


“Pak Dave mau ke mana lagi?”


“Kita makan malam dulu ya.”


“Di mana?”


“Di sekitaran sini saja. Ada rekomendasi?”


Ken menuntunku ke sebuah restoran di dekat taman. Aku harap suasana bisa mencair di meja makan.


Sayangnya, sekali lagi, hingga beres makan malam Ken masih menutupi memorinya. Aku juga tak bisa memaksakan pembicaraan intim ketika melihat suasana restoran ramai. Meskipun orang-orang sekitar tidak akan paham bahasa kami, tetapi aku khawatir ada kontak emosi yang keluar antara aku dan karibku.


Kemudian, aku memutuskan untuk kembali ke hotel saja. Mungkin memang Ken sudah melupakanku, melupakan persahabatan selama bertahun-tahun yang pernah dijalin bersamaku. Aku tak bisa memaksa jika dia tak ingin mengingatku lagi.


“Ken, sebelum pergi aku sempat mampir ke apartemenmu dan bertemu seorang ibu yang tinggal di depan kamarmu. Dia mengatakan kamu pergi ke Jerman. Aku sangat khawatir kita tidak bisa bertemu lagi. Untungnya, justru takdir berpihak untuk kita bertemu di sini,” tuturku memulai perbincangan kembali.


“Aku mengatakan kepadanya ke Jepang, bukan ke Jerman.”


Ken mau menanggapi, tapi tetap dengan sikap yang dingin.


“Ya, mungkin Ibu itu salah dengar.” Aku hela nafas sesaat. “Ken, kenapa sikapmu seperti tak mengenalku?” Ken diam saat ku tanya hal itu. “Hah?” Aku terbawa perasaan meninggikan nada bicara.


“Lalu, bagaimana seharusnya aku bersikap?” balasnya dengan sebuah pertanyaan balik.


“Apa aku harus menjelaskan aku ini Dave?”


“Aku tahu.”


“Sikapmu seperti ini membuatku kesal. Begitu menyakitkan buatku.” Aku tak bisa lagi meredam emosi.


Tiba-tiba Ken menepikan mobilnya yang sedang melaju kencang secara mendadak. Dia nyaris menabrak pembatas jalan.


“Kenapa?” Dia menatapku. “Kenapa harus kesal dan merasa tersakiti jika ini justru yang kamu mau?”


Kemauanku? Apa maksudnya. “Maksudmu?”


“Baik, aku akan coba ingatkan apa yang pernah menjadi kemauanmu.” Dia menghela sejenak. “Bukankah saat terakhir kamu menemuiku kamu yang meminta aku untuk melupakanmu? Lalu, kenapa sikapmu sekarang seolah mengatakan aku yang salah?” Mata Ken berkaca-kaca. Jadi benar, perasaan itu yang dia tahan.


“Aku sudah menjelaskan kepadamu tentang itu, kan? Aku hanya butuh waktu untuk ¬me¬-manage semuanya dulu. Aku minta kamu mengerti hal itu kan, Ken?”


“Dan aku sudah mengerti. Terus, apa lagi?”


Ken menundukkan kepala di atas setir mobil.


“Ken, saat itu aku sedang terbawa emosi. Fay sedang hamil. Aku tak ingin kamu ribut dengannya. Jadi….”


Ken menyela penjelasanku. “Aku tak pernah punya maksud untuk membuat keributan. Jika kamu sekarang ingin menyalahkanku lagi. Baik, aku minta maaf.” Ken mengangkat kepalanya dan menatapku. Di matanya tampak ada air yang tak kuasa lagi ia bendung.


Namun, maksudku juga bukan seperti itu. Aku justru ingin menjelaskan kondisi Fay yang sensitif karena sedang hamil. Aku hanya ingin mengatakan kepada Ken untuk bisa mengerti situasi saat itu.


“Ken, aku masih berharap kita bersahabat seperti dulu.” Point itu yang ingin aku sampaikan kepadanya.


“Aku tak pernah menginginkan ini terjadi. Tetapi, sekarang aku sudah bisa menjalaninya.” Ken kembali menundukkan kepala.


“Apa kamu benar-benar ingin melupakanku?”


“Apa pun yang membuatmu bahagia, akan aku lakukan. Sekalipun menyakitkan untukku.”


Ken menangis. Perlahan aku pegang pundaknya.

__ADS_1


“Ken….” Aku mencoba menenangkannya.


Ken melepaskan tanganku. Dia hidupkan kembali mobil, lalu menginjak gas. Mataku tak bisa melepaskan pandangan darinya. Andai dia tahu, hatiku bak teriris melihat dia seperti ini.


__ADS_2