Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 4 bagian 2: Kepastian


__ADS_3

Walau keadaan rumah tanggaku semakin membaik, tetapi tetap saja aku belum bisa move on dari cerita persahabatan suamiku dengan Ken. Aku masih berusaha melacak jejak komunikasi suamiku dengan pria itu. Entah kenapa aku merasa pria itu masih berusaha menghubungi atau menemui suamiku. Namun ketika aku periksa di ponsel suamiku, tak ada history terbaru dengan si menyebalkan itu lagi. Rekaman percakapan dan telepon yang tersimpan hanya yang terdahulu. Aku rasa suamiku sengaja tak menghapusnya.


Mungkin suamiku berpikir jika sewaktu-waktu aku memegang ponselnya, aku pasti akan membuka semua riwayat panggilan telepon dan isi chatting-nya. Ah, peristiwa itu meski sudah berlalu masih saja menggelayuti pikiranku. Wanita yang pernah dibohongi memang pikirannya menjadi lebih sensitif.


Aku berusaha menghilangkan semua prasangka terhadap suamiku. Namun, perubahan sikapnya yang mendadak justru menimbulkan kecurigaan. Ada ketakutan sikap romantisnya dikarenakan sedang menutupi sesuatu. Semoga suamiku tidak sedang terlibat dalam sandiwara. Terkadang laki-laki lebih pandai dalam berakting dibanding perempuan.


Aku terus berusaha memejamkan mata. Tidur mungkin akan melepaskan pikiran tentang hal itu. Tetapi, pada pukul 01.00 pagi aku baru bisa tertidur. Sementara suamiku sudah terlelap sedari pukul 22.00.


Ponsel suamiku terus bergetar. Aku pikir itu pengingat yang dia setel. Namun iramanya tidak seperti alarm di ponsel pada umumnya. Deringnya lebih terdengar seperti panggilan suara. Siapa yang menelepon sampai berkali-kali begini? Seketika ada kecemasan yang merobek ketenangan. Aku pun langsung meraih ponsel suamiku.


Aku sangat terkejut melihat ada 26 panggilan tak terjawab. Kulihat jam di ponsel, masih pukul 03.00 pagi. Siapa nomor yang tidak terdaftar di kontak suamiku yang berani menelepon sebanyak ini di hari gelap saat mayoritas orang tengah terlelap?!


Aku pun bersiap untuk menelepon balik nomor tersebut dan menanyakan maksudnya menghubungi suamiku berkali-kali di pagi buta. Seperti tidak ada waktu lain hingga harus menganggu kenyamanan istirahat orang lain. Seperti hari tidak akan siang dan suamiku tidak akan terbangun saja. Ada urusan sepenting apa dengan suamiku dan siapa sebenarnya yang menelepon? Aku menjadi geram.


Saat aku hendak menekan tombol dial, si penelepon itu lebih dahulu menghubungi lagi. Aku diam dengan maksud mencoba mengenali siapa yang menelepon, pria atau wanita, dan membiarkan dia menyampaikan keperluan, setelah itu akan aku nasehati.


“Halo…. Akhirnya kamu angkat juga. Maaf, aku meneleponmu sepagi ini.” Terdengar suara seperti habis menangis.


Tapi suara pria. Siapa? Pria itu? Aku berusaha diam agar suara di ujung telepon sana terus berbicara sehingga aku bisa mengenali siapa dia sebenarnya.


“Beberapa malam ini aku tidak bisa tidur. Aku selalu mengingatmu, memikirkanmu. Saat kamu memintaku untuk tidak menemuimu dan menghubungimu lagi, aku berusaha tegar. Kupenuhi semua itu jika memang itu membuatmu bahagia. Tapi, aku terus saja memikirkan sikapmu yang tiba-tiba berubah.” Tidakkah merasa jijik mendengar celotehan seperti itu dari seorang pria ke sesama pria.


Emosiku langsung mencair. Aku ingin segera memarahinya, namun aku tahan sebentar sambil berjalan keluar kamar. Aku melangkah dengan hati-hati agar suamiku tidak terbangun. Aku pun sudah bersiap dengan nada tinggi untuk menimpali ucapan pria itu.


Sementara, pria itu terus mengoceh layaknya meminta belas kasih. “Aku tidak membenci istrimu, tetapi mengapa dia begitu membenciku. Kamu masih ingat kan kamu pernah berjanji akan menjadi sahabatku selamanya? Bahkan setelah menikah, kamu mengatakan akan selalu ada untukku. Tapi ternyata, istrimu berhasil menjauhkan kita. Merusak persahabatan yang begitu lama terjalin. Bahkan sekarang kamu sudah tidak peduli lagi aku bagaimana dan kenapa. Kamu meninggalkanku saat aku sedang membutuhkanmu.”


Aku merasakan rintihan kesedihan dari nada bicaranya. Hanya saja ini tak wajar. Dia mengungkapkannya kepada suamiku. Sangat memuakkan dan memalukan. Bahkan dia mengatakan aku perusak persahabatannya. Aku tak bisa lagi bersabar.


“Bisakah kamu untuk tidak mencampuri kebahagiaan sahabatmu lagi? Sebagai sahabat, kamu harusnya bahagia melihat sahabatmu lebih bahagia dengan kehidupan barunya. Setiap orang punya hak untuk memilih dengan siapa akan menghabiskan sisa hidupnya. Ketika pilihan itu sudah dia buat, kenapa kamu berusaha mengusik ketentraman hidup kami? Apa benar kamu sahabatnya? Hanya jika benar kamu sahabatnya, sepatutnya tidak perlu menelepon sepagi ini hanya untuk menjelekkan istri sahabatmu”, paparku dengan suara lantang. Sementara dia diam mendengarkan, karena aku sendiri berusaha tidak memberikan jarak antar kata agar dia tidak bisa menyela.


“Mana suamimu?” suaranya meninggi.


“Suamiku sedang istirahat,” balasku.


“Mana suamimu?” Suaranya malah semakin berteriak.


“Apa begitu sulit untukmu mendengar dan memahami yang aku katakan.” Kali ini aku berusaha tak meladeni teriakannya. Aku takut suamiku terbangun mendengar suaraku.


“Aku tidak punya urusan denganmu. Apa pun yang kamu katakan dan tuduhkan kepadaku, aku hanya ingin berbicara dengan suamimu.” Dia semakin menyebalkan.


“Jadi benar kan kamu ada hati dengan suamiku?”


“Ya, aku mencintainya. Jelas?” Aku tersentak mendengar jawabannya. Rasanya ingin kurobek mulutnya jika dia ada di hadapanku. Beraninya dia berkata seperti itu.


“Sahabat macam apa kamu ini? Menggunakan jalinan pertemanan untuk mengekang seseorang. Menggunakan istilah sahabat hanya agar bisa selalu dekat tanpa dicurigai. Dari awal melihatmu, aku sudah curiga.” Aku berusaha tegar meladeni pria itu. Hatiku sebenarnya menjerit mendengar setiap ucapannya hingga tak terasa air mata semakin deras mengalir.


“Aku tak peduli kamu mau berkata seperti apa pun. Ini ponsel suamimu. Jadi tolong berikan kepada suamimu, karena aku ingin berbicara dengannya bukan dengan kamu.” Bisa-bisanya dia menyuruh dengan nada menggertak.


“Aku istrinya, maka aku berhak menentukan untuk tidak memberikan panggilan ini kepadanya.”


Langsung kumatikan sambungan telepon. Jika aku terus mendengar ocehannya, aku bisa saja mati berdiri. Kublokir nomornya sekalian, karena aku yakin dia masih akan terus menelepon sekalipun sudah tahu ponsel suamiku sedang ada padaku. Pria itu sungguh tak punya malu.


Satu sisi, aku ingin membangunkan suamiku dan memukulinya. Namun, pria itulah yang menyebalkan. Dia yang mengejar-ngejar suamiku, mengatasnamakan sahabat hanya untuk bisa selalu bersama suamiku. Sungguh darahku dibuat mendidih oleh si Pria dengan topeng persahabatan palsu itu.

__ADS_1


Aku pikir, godaan terbesar dalam pernikahanku akan datang dari banyaknya wanita yang mendekati dan berusaha merayu suamiku. Suamiku baik kepada setiap orang. Hal tersebut mempermanis tampilannya yang tampan, gagah, tinggi, atletis, dan berkulit putih bersih. Dia pun selalu memoles diri dengan cukup modis. Penggunaan kacamata juga menciptakan kesan cerdas dan harmonis tampilannya. Aku jatuh cinta saat pertama melihatnya. Selama hampir setengah tahun aku berusaha mengenalinya lewat pandangan, tetapi dia tak merespon. Aku memang kurang agresif. Karena wanita seharusnya dikejar, kan?! Bukan malah yang lebih dulu mengejar pria.


Hingga suatu hari dia mendekatiku di saat aku merasa lelah menarik perhatiannya. Seperti mimpi jadi nyata, dia mengajak aku berkencan. Dalam durasi pendekatan 4 bulan, dia melamarku. Aku pun merasa jadi wanita paling bahagia ketika itu.


Setelah menikah, aku berhenti kerja. Suamiku meminta aku fokus di rumah saja sambil menjalani program kehamilan. Aturan kantor pun tidak memperkenankan ada karyawan yang berstatus suami-istri atau sedarah, karena dikhawatirkan akan timbul pola kerja yang tidak kompetitif dan nepotisme.


Ketika suamiku mengatakan sudah menaksirku sejak pertama berjumpa, aku berpikir dia gombal. Jika demikian, mengapa tak mengatakannya dari awal. Dia justru berkata menunggu aku lebih dahulu menunjukkan tanda-tanda ketertarikan kepadanya. Aku katakan bahwa dia terlalu polos.. Aku ini seorang wanita. Meski zaman sudah banyak berubah, kesetaraan gender sudah jadi isu yang lumrah, namun mengatakan suka lebih dulu kepada pria, bagiku masih tabu.


Beruntung, Tuhan menakdirkan kami untuk terikat dalam pernikahan. Selama tiga hari aku menangis bahagia setelah menikah. Ada rasa tidak percaya bahwa Tuhan memberikan keajaiban ini. Memberiku jodoh yang diidamkan. Dengan parasnya, ketampanannya, suamiku tak pernah berusaha membagi pesona kasihnya kepada wanita lain. Ia hanya memberikannya kepadaku. Tapi tentang pria itu?


Justru seorang pria mencoba masuk dalam rumah tangga ini dan berusaha menguasai suamiku. Pria dengan tameng kisah masa lalu yang melekat.


Aku hanya bisa duduk terdiam sambil menggenggam erat ponsel suamiku. Air mata semakin mengalir tak tertahan. Tak terasa matahari mulai terangkat. Rasa kesal, sedih, dan kecewa semakin membara. Ada luka yang kembali menganga dalam hati.


Kemudian, terdengar langkah suamiku menuruni tangga. Aku tak akan menyambutnya. Aku biarkan dia menghampiriku lalu meminta penjelasan darinya atas tabir Subuh ini.


“Kamu belum masak? Kesiangan? Ya sudah nanti kita sarapan di luar saja ya. Sudah lama juga nggak sarapan di luar,” ucapnya sambil membelai tubuhku dari belakang.


Aku diam, menahan amarah. Aku berusaha untuk sepenuhnya kesal kepada pria itu saja. Tetapi, suamiku juga harus bertanggung jawab. Dia tidak bisa tegas memberikan pengertian kepada sahabatnya itu hingga kejadiannya berlanjut sampai sejauh ini. Padahal baru saja cahaya kebahagiaan menyala kembali.


“Kamu lagi sakit?” Dia kemudian membuka jendela. Mungkin agar lebih jelas melihat wajahku dengan bantuan sinar pagi mentari. “Kamu menangis? Kenapa?” Dia memang tampak khawatir ketika melihat wajahku dipenuhi sisa luapan air mata.


Aku menghelas nafas dalam-dalam. Kemudian, dia merangkul kepalaku dan disandarkan di dadanya.


“Ada apa? Apa yang sudah terjadi sepagi ini hingga kamu menangis?”


Aku merasakan sedikit ketenangan dari pelukannya. Namun, I wanna make it clear. Aku tak ingin ada lagi yang berusaha menyelinap untuk merebut pengeranku ini.


“Duduk Mas!” Aku sudah siap berkicau.


Baru beberapa detik rekaman diputar, dia sudah tampak kaget. “Apa maksudnya ini?”


“Mohon jangan berkata atau bertanya apa pun dulu. Mas dengarkan saja sampai habis!” Pintaku sambil mengusap sisa air mata yang masih tersangkut di kedua sudut mata.


Saat terdengar percecokan di rekaman itu, suamiku terlihat ingin bersuara. Sementara aku terus memberikan sinyal diam lewat tatapan mata kepadanya.


Aku terpikir untuk merekam percakapan di telepon dengan pria itu saat suara sapaan “halo” mulai mengingatkan kepada rivalku itu. Jika nanti dia mengadu kepada suamiku, ada bukti otentik yang menjelaskan kata-kata yang aku ucapkan kepadanya.


Rekaman tersebut selesai didengar oleh suamiku. Lalu, air mataku yang  sudah surut kembali mendesak untuk keluar.


“Kenapa kamu tidak membangunkan Mas dan memberikan telepon itu kepada Mas?” tanyanya yang justru tampak mulai marah.


Aku tak menyangka kalimat pertama yang keluar setelah mendengarkan rekaman tersebut seperti itu. Terkesan aku yang salah.


“Oh, jadi Mas marah karena aku yang menjawab panggilan dari selingkuhan Mas itu? Sudah berapa pagi dia menelepon saat aku tertidur nyenyak?” Aku terbawa emosi.


“Bukan begitu, Fay. Maksud Mas…” Suamiku berusaha menyangkal.


“Mungkin jika tidak begini, aku masih akan terus tertipu oleh kalian. Mas yang dengan yakin tidak akan berhubungan lagi dengan pria itu, sekarang kenapa marah saat aku yang menjawab panggilannya? Padahal aku sudah begitu percaya padamu, Mas.” Ucapanku membuatnya tertunduk. Ia terlihat memijat kening dengan tangan kanan.


Kemudian, dia memelukku seperti tadi. Dia juga mengusap-usap rambutku sebagai penenang. Seakan dia tahu jika kepalaku perlu didinginkan.


Aku tak bisa menolak pelukannya meski tengah marah. Pelukannya tak pernah gagal meleburkan sedikit demi sedikit rasa kesal dan amarah.

__ADS_1


“Maksud Mas, biar Mas saja yang meladeni dia. Mas tidak mau kamu jadi begini. Mas tidak suka melihatmu menangis. Bukan karena hal lain”, ujarnya dengan suara damai. Ternyata cukup cepat api di kepalanya padam.


“Mas, sekali lagi aku tidak melarangmu berteman dengan siapa pun. Tapi apa aku salah mencegahmu supaya tidak direbut orang lain?”


“Mas tidak menyalahkanmu. Lagi pula, tidak ada yang sedang berusaha merebut Mas dari kamu.”


“Tidak ada?” Aku kesal mendengar pernyataan suamiku tersebut. “Lalu bagaimana dengan pria itu? Begini deh Mas, tolong jelaskan dan jawab dengan jujur! Apa hubungan Mas dengan pria itu sebelum Mas mengenal aku atau sebelum Mas menikahi aku?” Aku melepaskan pelukannya sambil menanyakan hal tersebut.


“Kita cuma berteman. Cuma sahabat. Tidak lebih. Tidak seperti yang kamu pikirkan. Mungkin dia jadi seperti ini, karena memang sedang butuh teman saja. Tapi Mas tidak pernah berhubungan lagi dengannya semenjak Mas mengatakan janji itu kepadamu, Fay.”


Aku merasa penjelasan suamiku justru sebuah pembelaan untuk pria itu. Apa sulitnya bercerita yang sebenarnya?! Masih saja membiarkan situasi menjadi liar kembali.


“Kenapa begitu sulit untuk Mas mengatakan yang sesungguhnya pada bagian ini? Jika hanya sahabat, jika Mas tak merespon perasaannya dahulu, jika kalian tidak ada hubungan di luar persahabatan, mengapa dia begitu seagresif ini?”


Aku beranjak dari tempat duduk dan belari menaiki tangga menuju tempat tidur. Ini sungguh tidak masuk di akalku.


“Fay, tunggu Fay!” teriaknya sambil berusaha mengejar. Namun aku mantap untuk tak menghiraukannya.


Kujatuhkan tubuh di kasur. Kupeluk guling, kutarik juga selimut untuk menutupi seluruh bagian tubuhku. Begitu menyakitkan. Sakit yang semula tak kusangka akan seperih ini. Sakit yang tak berdarah.


“Fay, dengarkan Mas dulu!” Suamiku terus saja mengatakan kalimat tersebut. Aku semakin rapat menutupi kedua telinga. Aku takut dengan kata-kata yang akan dia ucapkan. Aku tak mau mendengar dia membela pria itu terus menerus.


“Fay, coba katakan apa yang harus Mas lakukan sekarang!”


Aku atur nafas sesaat. Kemudian, aku tatap wajahnya yang selalu menawan. Semoga kali ini dia benar-benar bisa memegang pernyataannya. “Aku ingin hal ini tidak pernah terjadi lagi jika memang Mas benar memilih aku.”


“Fay, jangan mengatakan hal seperti itu terus!”


“Kenapa?” Suamiku jadi menyebalkan begini dan malah terus menyulut emosiku.


“Mas bosan mendengar kalimat itu. Apakah yang Mas lakukan tak cukup menunjukkan betapa Mas mencintaimu? Jika kamu menyuruh Mas memilih antara kamu dan Ken, Mas tidak bisa, karena kalian berada dalam posisi berbeda. Tetapi jika kamu meminta Mas tak lagi berhubungan dengan Ken, Mas sudah coba lakukan itu.”


Lagi, suamiku selalu memberikan jawaban yang diplomatis. Tinggal menyebutkan aku atau dia saja begitu sulit.


“Oke, aku perbaiki redaksi pertanyaannya. Mas pilih dia atau kami?”


“Kami?” Suamiku tampak sangat terkejut saat aku ucapkan kata itu.


“Ya, aku dan calon bayi kita di dalam perutku”, jelasku. “Jadi pilih siapa?”


“Kamu hamil?” tanyanya untuk meyakinkan dengan lembut.


“Ya. Mas tahu kan aku sudah telat beberapa minggu. Kemarin aku coba periksa ke dokter, hasilnya positif. Namun aku tak lantas memberitahu Mas, karena semalam Mas tampak kelelahan. Setelah makan malam Mas sibuk dengan laptop, lalu tidur. Aku pikir cukup pas jika aku memberikan kejutannya di pagi ini saja. Sayangnya, justru aku yang lebih dulu diberikan kejutan.”


“Kamu serius?” Suamiku terlihat tak percaya.


“Kenapa? Apa aku tampak sedang berbohong agar kamu semakin yakin memilihku?” Aku bukan pria itu yang menggunakan tameng kesedihan untuk meraih simpati suamiku.


Dia kemudian memelukku dengan erat. Menciumi kening dan perutku. Aku tak bisa menghentikan sentuhannya kasihnya,  meski sedang marah kepadanya. Bagaimana pun janin yang aku kandung adalah hasil buah cinta kami.


Setelah dirasa puas menciumi calon buah hati di dalam perutku, dia kemudian berdiri seperti tengah bersiap menuju suatu tempat. Bekerja? Tidak mungkin dengan pakaian tidur seperti itu. Pasti menemui pria itu.


“Mas seperti tengah bersiap, mau ke mana?” tanyaku.

__ADS_1


“Mas pergi sebentar. Kamu tunggu di sini! Mas kan sudah janji tidak akan ada lagi yang mengganggu ketentraman rumah tangga kita,” jawabnya mantap. Diiringi langkah kaki yang tergesa-gesa.


Aku pun hanya bisa diam, menurut, dan percaya pada kata-katanya. Sebelum pergi, dia mencium bibirku dengan cukup lama. Sepertinya dia berusaha meyakinkan jika ucapannya bukan cuma rangkaian kata tanpa tindakan.


__ADS_2