Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 6: Harapan


__ADS_3

Aku ingin menghubungi Dave. Ini mungkin untuk terakhir kalinya. Ya, aku mantap untuk pergi dan menetap di Jepang. Melupakan semua kenangan, meninggalkan segala kepahitan. Tak ada pilihan lain. Aku tak ingin menjadi perusak rumah tangga sahabatku sendiri.


Setengah jam lebih aku berkutat dengan layar ponselku. Tidak. Dave sudah beberapa kali mengatakan supaya aku tak menghubunginya lagi. Aku pun memasukkan ponselku ke dalam saku celana.


Tak pernah terpikir bahwa persahabatan aku dan Dave akan seperti ini. Aku harus rela melupakan dia. Ini semua mungkin karena salahku juga. Aku yang terlalu naif menganggapnya masih akan sama seperti dulu. Nyatanya, setiap orang akan mengalami perubahan ketika menemukan sesuatu yang baru. Entah itu perubahan sikap maupun perilaku. Aku harus menerima.


Fay juga benar, aku tidak boleh egois. Aku tak mungkin bisa berada dalam lingkaran ini, karena dia terlihat sangat membenciku. Dia bahkan mengatakan aku ini pria tidak normal.


Sudahlah. Aku tak mau terlalu memikirkan hal itu lagi. Hal yang memang sulit untuk begitu saja dilakukan, melepaskan kebiasaan yang pernah dilalui bersama. Namun, aku harus move on dan melanjutkan hidup dengan lebih baik. Melupakan Dave, meski akan lebih sulit dari sebelumnya.


Langkah pertamaku untuk move on yaitu keluar dari apartemen. Berhari-hari mengurung diri dalam kegelapan dan harapan. Ini seperti keluar dari gua. Melihat ramainya kota sambil disengat cahaya matahari. Mungkin ini sinyal untuk aku memulai hidup yang baru.


Aku pun memutuskan ke restoran ayam cepat saji yang berada sekitar 100 meter dari apartemenku. Langkah kaki terasa lebih ringan. Semua pergulatan batin terendam oleh rasa lapar.


Dua potong ayam crispy dengan satu porsi nasi menggoda indera pengecapku. Minumnya, satu cup Pepsi ukuran large.  Ini menu favoritku, begitu pun Dave.


Hah, kenapa dia muncul lagi dalam pikiranku?! Seketika perutku seperti sudah terisi setengahnya. Makanan yang semula menggiurkan, seakan berubah jadi pajangan.


Aku terus menghela nafas dalam-dalam. Mengeluarkan udara tentang Dave agar aku bisa merasakan nikmatnya bersantap. Namun, tiba-tiba bunyi ponsel mengagetkanku.


Aku pikir Dave yang menelepon. Lagi, sangat sulit untuk tidak mengharapkan kehadirannya.


Ternyata Bibi di Tokyo yang menelepon.


“Halo, Ken. Apa kabar?” Suaranya terdengar sangat antusias.


“Kabar baik, Bibi,” jawabku.


Terkadang aku memanggilnya Auntie, terkadang pula dengan istilah Bahasa Jepang untuk bibi yaitu Obasan. Tetapi memang lebih terbiasa memanggil Bibi semenjak aku beranjak dewasa.


Bibi cukup fasih berbahasa Indonesia, karena dulu sempat tinggal di Indonesia selama beberapa tahun. Pamanku yang di Hokkaido pun demikian.


“Ken, katanya kamu akan Hokkaido ya?”


Awalnya, aku kaget Bibi bisa tahu rencanaku. Oh iya, pasti Paman langsung memberitahu Bibi setelah aku mengirimkan pesan kepadanya.


“Iya, Bi. Rencananya Ken minggu ini ke tempat Paman.” Aku sedikit bingung untuk menjawab.


“Kenapa Ken tidak memberitahu Bibi?” Suara Bibi agak meningkat lebih kencang. “Apa Ken tidak mau ke tempat Bibi?”


Aku yakin Bibi akan mengatakan hal tersebut. Dari nada suaranya, Bibi tampak kecewa. Ah, aku tak ingin Bibi salah paham.


“Bibi, Ken pasti ke tempat Bibi. Hanya saja, mungkin Ken ke tempat Paman dulu ya, Bi.”


Rencanaku dari awal ingin ke tempat Paman dahulu. Suasana di tempat Paman lebih cocok untuk menenangkan diri. Meski terakhir kali ke sana saat umurku 7 tahun, tapi setiap tahun Paman selalu rutin mengirimkan foto suasana di sana. Paman tak pernah bosan menggodaku dengan paket liburan di hotel miliknya. Namun, aku juga tak pernah kehabisan kalimat untuk menolak tawaran Paman.


Sementara mengunjungi Bibi di Tokyo, hampir setiap tahun aku lakukan. Hanya dua tahun terakhir ini tak ke sana seiring musibah yang menimpaku.


“Ken, Bibi rindu sekali sama Ken. Sebelum ke tempat Paman, Ken kan transit dulu di Tokyo. Menginaplah beberapa malam dulu di sini ya.”


“Emmm… Iya, Bi.” Aku sepertinya harus mengikuti saran Bibi.


“Tanggal berapa Ken ke sini? Biar Bibi saja yang pesankan tiketnya ya!” Suara Bibi terdengar kembali antusias. Syukurlah!


“Ken masih belum memutuskan tanggalnya, Bi. Mungkin minggu ini atau secepatnya jika persiapan ke sana sudah selesai.” Meski mantap ke Jepang, namun aku memang belum menentukan tanggal keberangkatan. Baru berencana mengurus visanya besok pagi. “Nanti Ken pesan sendiri saja, Bi.”


“Ken…” Nada panggilannya membuatku pasrah.


“Baik, Bi. Terima kasih banyak.”


“Ken tak perlu berbicara terima kasih. Bibi selalu menanti Ken ke sini. Secepatnya Bibi tunggu tanggal pastinya ya, Ken.”


“Iya, Bi.”


Pembicaraan singkat dengan Bibi melalui telepon justru membuatku sedikit bingung. Aku harus datang ke tempat Bibi dengan kondisi prima. Jika tidak, Bibi seperti Ibu, akan terus mengulik kehidupanku. Aku bukannya tak mau bercerita kepada Bibi, aku hanya tak ingin dia khawatir. Aku sudah dewasa. Sudah sepatutnya aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri.


Tak terasa makananku sudah tak hangat. Hembusan AC membuatnya lebih cepat dingin. Aku pun kehilangan nafsu makan.


“Maaf Mbak, makanannya boleh dibungkus saja.” Aku memutuskan pulang dan meminta makanan dibungkus.


“Tentu bisa, Pak. Tunggu sebentar!” Dengan sigap pramusaji memenuhi permintaanku. Aku merasa malu dibuatnya.


Semula, aku ingin meninggalkan makanan yang belum digigit sedikit pun itu. Namun, aku khawatir makanan itu dibuang oleh pelayan yang bertugas membersihkan. Bukankah lebih baik untuk dibawa pulang saja?! Jika aku lapar, makanannya bisa kuhangatkan di microwave.

__ADS_1


***


Semua pakaian yang aku butuhkan sudah dikemas ke dalam koper. Aku tidak membawa semua pakaianku, seperlunya saja. Meski berusaha meninggalkan segala kenangan di sini, namun masa depan siapa yang tahu. Kemarin aku mungkin hanya terlalu larut dalam emosi. Hasrat bisa berubah setiap saat.


Tujuan utamaku ke Jepang bukan untuk menjadi warga negara di sana, tetapi untuk melupakan Dave. Jadi, aku masih perlu tempat untuk nanti pulang, bukan?! Biarlah waktu dan keadaan membawaku ke tempat seharusnya aku menghabiskan sisa hidup ini.


Baru saja menaiki taksi menuju bandara, Bibi menelepon. Awalnya aku berharap Dave. Pikiranku masih saja konyol.


“Ken, sudah menuju bandara kah?”


“Iya, Bi. Ken baru saja naik taksi.”


“Kamu hati-hati ya. Kabari Bibi pas mau boarding. Jangan lupa makan! Terus saat di pesawat, kamu tidur dan minta selimut tambahan ke pramugarinya.” Bibi sangat mengkhawatirkanku. Sama seperti Ibu, aku terkadang berpikir mereka lupa aku sudah dewasa. Situasi ini membuatku rindu Ibu.


“Iya, Bi. Terima kasih.” Aku tak  tahu harus mengatakan hal lain apa lagi selain kalimat tersebut.


“Bibi sudah mendekorasi kamar untukmu. Kamu mau disiapkan makanan apa, Ken?” Bibi terdengar bersemangat menyiapkan kedatangaku.


“Bibi, Ken ini bukan presiden yang perlu disambut dengan berlebihan. Ken bahkan tidak membawa apa-apa sebagai buah tangan untuk Bibi.”


“Ken mau datang ke sini saja sudah menjadi buah tangan yang berharga buat Bibi. Nanti Bibi jemput kamu di airport.”


“Bibi, Ken bisa naik taksi ke tempat Bibi. Ken masih hafal kok jalannya.” Aku tak mau merepotkan Bibi.


“Ya sudah kalau begitu. Bibi tunggu ya, Ken. Have a safe flight!” Bibi pun menutup telepon.


Sepanjang jalan menuju bandara, aku terus berpikir. Perlukah memberitahu Dave jika aku pergi? Seandainya Fay tahu pun, ini kan penegasan atas keinginan mereka agar aku tidak lagi hadir dalam rumah tangga mereka.


Kubuka aplikasi WhatsApp, lalu mencari nama Dave di kontak. Saat hendak menulis pesan, aku sangat kesulitan merangkai kata perpisahan. Ketika sudah bisa, aku ragu kata-kata tersebut bisa diterima Dave. Aku hapus, lalu merangkai ulang kata per kata. Terus seperti itu. Hingga supir taksi mengatakan aku sudah tiba di terminal 2F Bandara Soekarno Hatta Tangerang, Banten. Perjalananku dimulai.


Setelah check in, aku berusaha kembali mengetik huruf demi huruf yang ditujukan untuk Dave. Namun seseorang menyenggolku hingga ponselku terjatuh.


“Aduh maaf Mas, saya tidak sengaja. Maaf Mas, maaf!” ucap seorang Ibu sambil berusaha mengambil ponselku yang terlempar cukup jauh dan nyaris dilindas troli pengunjung bandara lain.


“Iya. Tidak apa-apa, Bu.”


Ibu itu terus memegang tanganku sambil minta maaf. Aku pun mengatakan tidak apa-apa, ponselku baik-baik saja. Padahal aku belum memeriksanya.


Ini salahku juga yang berdiri di antara lalu lalang orang-orang yang hendak menuju loket check ini. Hal seperti ini tak perlu dijadikan bahan keributan.


Aku berusaha ikhlas jika ponselku rusak. Namun, kemudian, ponselku menyala seperti biasa. Aku pun cukup lega.


Kejadian terjatuhnya ponselku membuatku kehilangan hasrat mengirim pesan kepada Dave. Aku sudah lupa dan menjadi malas untuk merangkai kata kembali. Mungkin ini hikmah di balik kejadian tadi. Biarlah, jika Dave peduli seharusnya dia berusaha menghubungiku. Aku sadar posisiku saat ini.


Aku menumpang pesawat Garuda Indonesia dengan penerbangan langsung menuju Tokyo. Jam yang dipilih pun di waktu malam, agar aku bisa tidur selama di pesawat. Waktu tempuh dari Seokarno Hatta ke Tokyo 7 jam 5 menit. Aku terbang pukul 21.45 WIB dan akan landing di sana sekitar pukul 06.50 JST (Japan Standard Time). Ada perbedaan waktu 2 jam lebih cepat JST dibanding WIB. Ya, waktu di Jepang sama dengan waktu di Wilayah Indonesia Timur atau WIT (GMT +9).


Selama berada di udara, pesawat beberapa kali mengalami guncangan. Awalnya aku takut terjadi turbulensi. Namun untungnya, hanya guncangan biasa akibat pergerakan angin dan cuaca. Meski begitu, aku jadi kesulitan tidur. Padahal aku berharap sepanjang perjalanan bisa tidur dan terbangun saat pilot menginformasikan pesawat ini sudah akan mendarat.


Akhirnya, pesawat mendarat di Haneda International Airport. Cuaca dingin langsung menyergap saat menuruni tangga pesawat. Salju yang jarang menyambut kedatanganku.


Aku bergegas menuju tempat pemesanan taksi. Namun, sayup-sayup terdengar suara seseorang memanggilku. Aku berusaha memastikan suara itu sambil mencari arah sumbernya. Sesuai deugaan, Bibi datang menjemputku.


Padahal aku sudah mengatakan tak perlu dijemput. Tetapi, Bibi malah datang dengan seorang pria.


Kuamati, pria itu bukan suami Bibi. Bukan pula putra Bibi, Keigo.


Bibi langsung memelukku erat begitu aku di dekatnya. “Bibi kangen sekali sama kamu”, ujarnya haru.


Aku merasa sedikit canggung dipeluk Bibi. Dengan halus aku berusaha melepaskan. “Bibi, Ken kan sudah bilang tak perlu dijemput.”


“Ayo cepat naik ke mobil. Kamu pasti lelah.”


Aku berusaha memperhatikan pria yang bersama Bibi. Saat aku melihat ke arah pria itu, dia membungkukkan badan sambil mengucapkan salam dalam Bahasa Jepang. Aku pun hanya membalas salam dengan membungkukkan badan. Di Jepang, saat bertemu dengan orang lain atau teman, maka akan saling membungkukkan badan sebagai salam.


“Ini Pak Takuma, supir Bibi.” Bibi mengerti gelagatku yang penasaran.


Sepanjang jalan, Bibi tak berhenti bercerita. Dia sangat bersemangat menyambut kedatanganku. Hal yang memang wajar karena Bibi lebih sering tinggal sendiri. Paman Yamamoto, suami Bibi, seorang nakhoda. Dia hanya pulang saat tahun baru. Sementara Keigo, sepupuku, putra satu-satunya Bibi, sedang menempuh pendidikan menengah di SMA Todaiji Gakuen di Nara.


Kata Bibi, SMA tersebut merupakan salah satu SMA terbaik di Jepang. Dengan bersekolah di sana, Bibi berharap Keigo bisa melanjutkan Pendidikan ke universitas terbaik di Jepang pula. Meski taruhannya, Bibi harus rela tinggal berjauhan dengan buah hatinya tersebut. Namun setiap dua minggu atau sebulan sekali, Bibi elalu menyempatkan waktu menengok Keigo yang tinggal di asrama.


Kata Bibi, Nara merupakan ibukota Perfektur Nara yang berbatasan dengan Perfektur Kyoto. Kota yang sekarang disebut Nara berada di sebelah Utara Perfektur Nara, atau tepat berada di ujung Utara Lembah Sungai Nara.  Perfektur sendiri berarti wilayah administrasi dan yurisdiksi tingkat satu. Sederhananya istilah tersebut sama dengan Provinsi di Indonesia. Di Jepang ada 47 perfektur. Lebih banyak dari pada di Indonesia yang saat ini memiliki 34 provinsi.


Sementara jarak tempuh dari Tokyo ke Nara sekitar 5 jam lebih menggunakan transportasi mobil. Ah, seperti apa pun Bibi menjelaskan tentang geografis negara Jepang, saat ini aku hanya bisa mengangguk, karena belum begitu mengenal negara dengan tingkat kedispilinan warganya yang sangat tinggi.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan setengah jam akhirnya sampai juga di rumah Bibi.


“Ken, Bibi sudah siapkan makanan untukmu”.


“Terima kasih, Bi.”


Selesai makan, Bibi meminta aku untuk beristirahat saja. Tetapi, aku lebih memilih membantu membuka toko bunga yang dia kelola sejak 5 tahun yang lalu.


“Biar Ken saja yang membawa bunga-bunga ini ke luar,” ucapku.


“Ken tidak merasa jet-lagged menempuh perjalanan lama?”


“Justru Ken perlu beraktivitas agar pengaruh itu hilang.”


“Ken, Bibi masih merasa seperti mimpi kamu di sini.”


“Bibi…” Aku berusaha menahan keharuannya.


***


Sudah tiga hari aku menginap di rumah Bibi. Awalnya hanya ingin transit saja, lalu berangkat ke Hokkaido. Aku butuh suasana alam yang tenang segera.


“Bibi, berapa jam naik kereta dari sini ke tempat Paman? Rencananya besok Ken ke sana,” tanyaku sambil menyortir bunga yang layu dan yang masih segar.


“Kamu tidak mau lebih lama lagi di tempat Bibi?”


“Ken juga rindu juga sama Paman, Bi,” jawabku sekenanya.


Bibi melihatku seolah tak percaya dengan pernyataan yang barusan aku ungkapkan. Ya, selama ini aku memang nyaris tak pernah mengatakan aku merindukan mereka. Jika aku mengatakan tujuan utamaku melihat pemandangan di Hokkaido untuk menenangkan diri, Bibi akan menginterogasiku.


“Bagaimana jika beberapa hari lagi tinggal di sini, Ken? Naik kereta ke sana itu lama sekali. Nanti Bibi pesankan tiket pesawat saja.”


“Bibi, Ken tak mau merepotkan Bibi terus,” tolakku dengan halus.


“Ken...” Bibi memandangku sambil tersenyum.


“Bibi, Ken akan lama di Jepang. Nanti Ken bisa kembali lagi ke sini.”


“Syukurlah, Bibi senang mendengarnya,” ucap Bibi dengan mengelus dada, seolah ada kelegaan. “Tapi Ken sedang baik-baik saja, kan?’


Sepertinya pernyataanku tadi membuat Bibi cukup curiga. Aku pun berusaha menetralisir dengan tertawa kecil.


“Sepertinya di luar ada pengunjung, Bi.” Untunglah ada pengunjung yang menggagalkan misi Bibi untuk meninterogasiku.


“Sebentar Bibi lihat, Ken.” Bibi bergegas menemui pengunjung tersebut.


Tak berapa lama, Bibi pun memanggil. “Ken, bisa tolong bawakan bucket mawar.”


“Baik, Bi.”


Sepagi ini sudah ada 3 orang pengunjung. Dari penampilannya, mereka seperti anak SMA. Terdengar Bibi berbincang dengan mereka menggunakan bahasa lokal yang belum aku mengerti.


Beberapa kali Bibi dan tiga siswa perempuan itu melihatku. Aku merasa sedikit canggung. Terlebih ketika tiba-tiba saja seorang dari mereka menghampiri.


“O niichan, watashi wa anato to issho ni shashin o toru koto ga dekimasu ka?”


Aku menoleh ke arah Bibi, karena tak mengerti yang dikatakan gadis itu kepadaku. Namun, Bibi malah mengangguk. Aku semakin tak mengerti.


Bibi tak mengerti kode yang aku lemparkan. “Apa yang dia katakan, Bi?”


“Oh…” Bibi tertawa sebentar, lalu menerjemahkan perkataan gadis itu. “Dia ingin berfoto berasamamu, Ken.”


Terang hal itu membuatku kaget. Aku sempat menolak halus, karena aku pikir gadis-gadis itu salah mengira. Aku bukan artis. Bibi pun menjelaskan mereka tahu jika aku bukan artis, tapi mereka tetap ingin berfoto denganku. Setelah jelas, aku pun melayani keinginan pelanggan Bibi.


Bibi terus tersenyum melihatku setelah para gadis itu pergi.


“Kamu sudah punya pacar, Ken?”


Aku hanya bisa menjawab dengan wajah bingung. Pertanyaan Bibi cukup mengagetkanku.


“Kalau saja kamu tinggal di sini pasti toko bunga Bibi semakin laris,” sambungnya.


“Nanti Ken akan bantu mengembangkan toko Bibi,” ucapku tersenyum.

__ADS_1


“Bibi beruntung memiliki keponakan yang tampan sepertimu, Ken.” Bibi melontarkan pujian sembari mencubit kedua pipiku. Aku senang melihat Bibi ceria.


__ADS_2