Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 12 bagian 1: Ragu


__ADS_3

Aku tidak mengerti dengan sikap Ken. Ia bisa berubah dengan sangat tiba-tiba. Terkadang ia menunjukkan sikap yang seolah membalas perasaanku. Akan tetapi, belakangan ini ia lebih sering menghindar. Apa ada kaitannya dengan Add?!


Dari awal melihat Add menatap Ken di parkiran pagi itu, aku bisa merasakan dia menaruh hati kepada pujaanku. Ini tak boleh terjadi. Aku tak mau Ken terpengaruh oleh perasaan Add.


Aku memutuskan untuk ke hotel Paman Yamada menemui Ken. Aku berharap dia ada di tempat. Beberapa hari ini pegawai di hotel mengatakan Ken selalu keluar dengan teman prianya. Tidak salah lagi, itu pasti Add.


Jika Ken jalan dengan seorang wanita apalagi wanita itu lebih cantik dariku, aku mungkin bisa mundur. Tapi ini dengan seorang pria. Pria yang dari awal sudah aku curigai memiliki ketertarikan kepada Ken.


Perasaan wanita tidak mudah ditipu. Ia memiliki kepekaan yang tinggi dalam mengidentifikasi perasaan. Aku tahu si “Pengganggu” itu menaruh hati kepada Ken.


Saat tiba di hotel Paman Yamada, aku melihat Ken sedang mengobrol dengan Add. Seketika aku mempercepat langkahku. Paling tidak, aku mendapat penjelasan sejauh apa kedekatan dia dengan Add.


Baru saja menyapa, Ken langsung menarikku dan mengajak pergi. Di hadapan Add, dia mengatakan ada janji denganku. Aku sangat terkejut sekaligus bahagia. Ken mengajak aku makan siang di luar, ini seperti mimpi. Ia pun memegang erat tangaanku. Aku ingin waktu berhenti agar bisa mengabadikan moment ini lebih lama.


Awalnya, aku ingin memberi respon dengan mengatakan kapan Ken memiliki janji denganku, namun dia memberi tatapan yang seolah sinyal agar aku mengiyakan ucapannya kepada Add.  Padahal beberapa hari ini dia sangat dingin. Dia selalu bersama Add, dan ketika berbicara di telepon hanya berucap seperlunya.


Apa sebenarnya Ken memang sedang menutupi perasaannya saja? Terkadang aku merasa dia seperti sedang terikat masa lalu. Paman Yamada pun mengatakan hal yang sama. Katanya, ini pertama kalinya Ken mau tinggal di Jepang selama beberapa hari bahkan sampai waktu yang tidak dia tentukan. Sebelumnya, diminta untuk berlibur selama satu atau dua hari saja, dia selalu menyampaikan seribu alasan. Paman juga mengatakan sering melihat Ken melamun seperti tengah memikirkan seseorang.


Ketika pertama kali Paman Yamada meminta aku untuk dikenalkan dengan anaknya yang ternyata keponakannya, aku merasa ragu. Bukan karena takut dia tidak sesuai dengan harapanku, tetapi khawatir aku yang tak sesuai dengan ekspetasi dia.


Aku nyaris tak percaya bahwa pria yang ada dalam imajinasiku ada dalam dunia nyata ketika Paman Yamada mengirimkan foto Ken. Sebelumnya Ayah dan Ibu sudah mengenalkan aku kepada beberapa pria yang merupakan anak dari kolega atau teman mereka, tetapi tak ada yang sesuai. Ada yang sudah memiliki kekasih, ada juga yang justru meminta aku melayani nafsunya di kencan pertama. Dasar laki-laki, kata temanku kalau dia tidak kurang ajar, ya dia gay. Namun, aku yakin Ken pengecualian di antara dua kategori itu.


Aku sudah jatuh cinta saat bertemu dengannya pertama kali. Ia lebih tampan dari pada yang terpotret oleh kamera. Dia juga baik, sopan, dan cerdas. Meski memang terlihat kaku. Tapi bukankah itu bagus? Beberapa pria yang dikenalkan orang tuaku begitu agresif, dan ternyata mereka rata-rata playboy. Jadi, kekakuan Ken bagiku pertanda dia orang yang setia.


Aku sampai tidak sadar sudah duduk di dalam mobil. Ini saking aku bahagianya sambil mengingat kesan pertama bertemu dengan Ken.


“Ken, kenapa tidak pakai mobilku saja?” Aku kaget saat mobil yang kutumpangi bukan mobilku.


“Kamu tak memberikan kuncinya. Ya sudah, pakai sabuk pengamannya”, ucapnya tersenyum sambil menyilangkan seatbelt di badanku.


Ken sudah lebih aktif berbicara. Ia bahkan lebih perhatian. Aku semakin tak dapat menahan rasa cinta dan bahagia.


Di tengah perjalanan, aku yang biasanya banyak berbicara justru jadi bingung harus menghadirkan topik apa. Aku bahkan tak peduli ke mana Ken membawaku pergi. Mau menempuh waktu perjalanan seumur hidup pun, asal bersamanya, aku siap. Bahkan, aku tak ingin tiba di tujuan selain bersanding dengannya di altar pernikahan.

__ADS_1


“May, mau makan apa dan di mana?”


Aku masih dibuat tak percaya dia menjadi lebih perhatian siang ini. Apa aku yang sedang bermimpi? Jika memang ini mimpi, aku mohon jangan ada yang membangunkanku dulu.


“May…” Ia mengayunkan tangannya di depan wajahku.


“Di mana saja aku mau. Terserah kamu!” Jantung berdebar nyaris dua kali lebih kencang dari normalnya. Kucoba mencubit pipiku. Terasa sakit hingga tak sadar menjerit.


“May, kamu kenapa?”


“Nggak apa-apa.” Aku benar-benar salah tingkah.


“Jadi, kita ke mana?”


“Ke mana pun.” Aku tak bisa berhenti tersenyum.


“Aku kan belum mengenal tempat ini. Kamu bisa memberikan rekomendasi?”


Ken terlihat berpikir. Aku pun mendadak bingung untuk memberikan rekomendasi makan siang.


“Aku ingin mencoba Wagyu Beef Steak. Aku pernah coba di restoran Jepang di Jakarta dan rasanya itu enak. Mungkin di tempat asalnya rasanya akan enak sekali.”


Makan apa pun asal bersamamu tak ada yang tak enak, Ken. Karena aku percaya, makan yang enak itu bukan hanya dari makanannya, tetapi dari pikiran yang bahagia. Pikiran tersebut tentu hadir dengan siapa kita menikmati makanan tersebut.


“Di pusat kota, di samping mall. Di situ ada menu Wagyu Beef yang enak.”


“Oke.”


Lagu romantis dari penyanyi Ayumi Hamasaki berjudul “Dearest” mengalun dari radio yang diputar Ken. Ini sangat sempurna. Mungkin ini juga jawaban dari kegigihanku untuk mendapatkan hatinya.


Setiba di restoran, Ken langsung memesan steak, seperti keinginannya, ditambah Shabu-Shabu, dan Gochujang Beef. Melihat dia bersemangat memesan makanannya, kebahagiaanku bertambah menjadi fully-charged.


“Aku pesan itu semua ya, May. Kamu pesan apa?”

__ADS_1


Aku pesan jaga selalu hatimu untukku. Bisa kan, Ken? Mendadak jadi ingin merayunya, tapi tentu ini bukan waktu yang tepat. Aku harus bisa, setidaknya, mempertahankan kemesraan ini. Aku tidak boleh membuat mood Ken hancur.


“Aku pesan Yakiniku saja.” Pelayan pun pergi setelah aku menyampaikan semua pesanan kami.


Ketika menunggu pesanan, telepon Ken terus berdering. Namun dia membiarkannya, lalu mematikan ponselnya. Menyadari aku memperhatikan hal tersebut, Ken hanya tersenyum. Aku sebenarnya ingin bertanya siapa yang meneleponnya sampai berkali-kali begitu. Dugaannku itu panggilan dari Add. Karena kalau Paman Yamada atau Bibinya yang di Tokyo, Ken tak mungkin mengabaikan panggilan tersebut. Syukurlah, itu berarti Ken tidak memiliki ketertarikan terhadap Add.


Melihatnya makan dengan lahap, aku menjadi ikut merasakan kenyang. Begitulah wanita, sangat berperasaan. Ia bisa merasakan makanan memenuhi perutnya hanya dengan melihat yang tercinta makan dengan begitu nikmat. Apalagi jika makanan yang disantap itu hasil masakan sendiri. Baiklah, aku tahu makanan kesukaan Ken. Mulai besok aku akan belajar memasak menu ini agar bisa menyajikan untuknya setiap hari atau kapan pun dia mau.


Daging sapi Wagyu memang dikenal sebagai daging sapi terlezat dengan kualitas premium. Harganya lebih mahal dari daging sapi biasa, dan rasanya sangat sesuai dengan harganya tersebut. Ciri khusus Wagyu Beef ada pada kandungan marbling yang jumlahnya tinggi. Itulah yang memberikan rasanya juicy dan melting ketika masuk ke dalam mulut. Marbling merupakan guratan halus lemak putih di dalam daging yang memberikan cita rasa lezat, manis, dan membuat tekstur daging lunak.


“Ini enak sekali.” Ken menunjukkan wajah yang begitu puas dengan sajian di restoran ini.


“Mau nambah, Ken?”


“Aku sudah makan sangat banyak. Lain kali saja kita kemari lagi.”


Ken sempat menunjuk makananku yang masih setengahnya. Aku mengerti maksudnya. Sebentar lagi aku akan menghabiskannya, setelah puas memandangi ketampanan Ken yang setiap hari tak berhenti bertambah.


“May, aku minta maaf beberapa hari kemarin agak cuek kepadamu.”


Aku terkejut mendengar ucapan Ken. Jadi, dia sebenarnya menyadari sikapnya kepadaku.


“Ken, tak perlu minta maaf. Aku paham kok ketika kamu menjelaskan sedang membantu temanmu untuk menjadi model dalam pemotretannya.”


“Syukurlah kalau begitu.”


“Oya, memang hari ini tidak ada pemotretan.” Sejujurnya aku ingin menanyakan itu di perjalanan.


“Sudah selesai. Aku kan hanya membantu. Lagi pula, aku merasa kurang cocok dengan pekerjaan sebagai model.” Ken sudah mulai bisa bercerita dengan luwes.


“Kenapa? Kamu tampan, manis, tinggi, fisikmu sangat menunjang untuk pekerjaan itu. Bahkan, aku pikir awalnya kamu model.”


Dia tertawa kecil menanggapi ucapanku. Responnya tersebut membuatku sangat gemas ingin memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2