Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 12 bagian 4: Kelabu


__ADS_3

Ayah memanggilku berkali-kali. Katanya ada tamu spesial yang ingin bertemu denganku. Siapa? Teman-temanku jika ingin berkunjung pasti akan memberi kabar terlebih dahulu.


Ken? Benarkah yang duduk di sofa itu dia? Apa dia ingin minta maaf? Ini bisa menjadi kesempatan untukku mengunci perhatiannya. Bagaimana jika skenario yang aku rangkai kembali nantinya hancur lagi? Lebih baik mencoba daripada menduga-duga.


“Hai, Ken. Ada apa ke sini?” tanyaku ketus.


Namun. ayah yang justru menjawab. Meskipun dia tidak mengerti ucapanku, tetapi dia mengatakan aku tak baik berbicara dengan nada seperti itu kepada Ken.


“Aku ingin mengobrol sebentar denganmu, boleh?” pinta Ken dengan halus.


Ken juga meminta izin kepada ayahku untuk berbicara denganku. Ayah kemudian membiarkan kami berdua. Sebelum pergi, Ayah menasehatiku agar bisa bersikap lebih dewasa. Katanya,  aku tak perlu membesar-besarkan masalah. Okay, aku memang tak bisa menutupi raut wajah yang sedang marah kepada Ken.


“May, kenapa kamu langsung pulang begitu saja? Aku telepon nomormu sibuk terus.”


Apa Ken ini benar-benar polos? Aku marah, karena dia tidak mempedulikanku tadi. Selain itu, dia memberikan masakan yang aku buat untuknya kepada Add dengan alasan tak menyukai olahan daging. Terus, nomorku sibuk ya karena tadi aku sedang menelepon Minako.


“Kamu pikir saja sendiri.” Aku ingin menguji seberapa tangguh dia menghadapi perempuan yang sedang marah. Jika dia berusaha mendinginkanku, itu berarti dia khawatir dan bisa jadi mulai ada rasa kepadaku.


“May, aku minta maaf jika ada sikapku yang salah. Tapi tolong katakan di mana letak kesalahanku itu, supaya nanti aku bisa memperbaikinya.”


Aku tak sanggup mengabaikannya lebih lama lagi. Ya sudah, semoga dia bisa memahami perasaanku dengan penjelasan ini.


“Baiklah.” Aku mengatur nafas sebentar agar lebih lancar dan tenang dalam mengungkapkan kekesalan. “Pertama, kemarin siang katanya kamu hanya keluar sebentar. Nyatanya kamu malah makan siang dengan orang lain. Padahal aku menunggumu, dan kamu tahu kan hal itu?”


Ken serius mendengarkan keluhanku, dia tak tampak ingin memotong ucapanku.


“Oke, kamu minta maaf. Aku terima. Lagi pula, aku bukan siapa-siapa kamu. Jadi, aku tak punya hak untuk marah secara berlebihan. Lalu yang kedua, aku pikir pagi ini bisa menggantikan kejadian yang kemarin. Aku berinisiatif untuk membuatkanmu sarapan. Lebih tepatnya untuk kita berdua.”


Ken masih hanya mendengarkan. Aku berusaha menahan emosi agar tak menjatuhkan air mata. “Tapi apa yang terjadi? Add datang. Bukan aku tidak senang dia ikut sarapan bersama kita, tetapi kedatangannya justru membuatku seakan-akan jadi pajangan. Kamu lebih fokus kepada Add, seolah tak ada aku ada di depanmu. Hal yang kemudian membuatku sangat kecewa, kamu mengatakan tidak suka olahan daging. Padahal….”


“May…” Kali ini Ken berusaha menyela.


Namun, aku ingin dia mendengar ceritaku sampai habis dahulu. “Aku mohon biarkan aku bercerita hingga selesai dulu.”


Ken mengangguk. Sementara air mataku semakin mendesak keluar.


“Aku tak masalah kamu memberikan makanan itu kepada orang lain. Hanya saja, kenapa kamu harus mengatakan kamu tidak suka olahan daging? Padahal kemarin aku melihatmu begitu nikmat menyantap Wagyu Beef Steak. Karena itulah, aku berusaha membuatkannya agar kamu terkesan kepadaku. Aku tahu, kamu mungkin masih belum sedikit pun membuka hati untukku. Namun, apa aku salah jika ingin menunjukkan perhatian sebagai teman?”


Kali ini aku harus menyeka air mata yang keluar dari kedua sudut mataku. Ada kepuasaan setelah berhasil mengeluarkan isi pikiranku.


“May, aku tak bermaksud sampai menyakitimu seperti ini.” Wajah Ken terlihat bersalah. “Soal makan siang kemarin, awalnya aku hanya mengantar Add untuk membeli tripod baru. Tak kusangka dia juga mengajakku makan siang. Katanya, sebagai ganti aku yang sudah menolak honor yang dia berikan untuk pemotretan. Aku tak enak jika menolak ajakannya.”


Ken tampak mengatur nafas sebentar. “Lalu, soal makanan yang kamu berikan untukku, tapi dimakan oleh Add. Awalnya Add mengajak aku makan malam di luar. Namun, aku ingat masih ada makanan darimu. Aku memang mengatakan tidak terlalu suka daging, itu benar. Lalu, kemarin aku juga banyak memakan daging dan aku sangat menyukai hidangan di restoran tersebut, itu juga benar. Tetapi kalau aku terlalu banyak memakan daging, malamnya aku menjadi  mual. Lalu soal sarapan pagi tadi…”


“Maaf aku memotong penjelasanmu.” Saat mendengar penjelasannya tentang Add yang mengajak makan malam di luar, aku merasa tak perlu mendengar penjelasannya lagi. “Aku mengerti, mungkin kamu lebih nyaman dengan Add.”


“Bukan begitu, May….” Wajah Ken tampak memerah, mungkin karena berusaha menahan emosi.


“Maaf, Ken! Aku mengantuk. Aku mau istirahat.”


Ken berdiri. Aku tak bermaksud mengusirnya secara halus. Namun mendengar dia bercerita tentang Add, aku merasa sakit. Seolah aku sedang dibandingkan dengan pria tersebut.


“Kamu duduk saja dulu. Nanti aku panggilkan Ayah untuk menemanimu mengobrol. Maaf ya, Ken!”


Baru saja berbalik badan, Ken memanggil.


“May….” Panggilannya yang lembut membuat langkahku terpaku. “Nanti malam, maukah dinner denganku?”


Dinner? Apa itu semacam kencan, Ken? Atau kamu hanya ingin menghiburku saja? Aku bimbang antara mengiyakan atau menolak.


“Silakan!” Aku merespon sambil membalikkan badan.


“Aku jemput kamu jam 7 ya.”


“Terserah, tetapi aku tidak mau berharap.”


“Aku serius!”


Aku melanjutkan langkah sambil memaanggil Ayah. Ayah langsung menghampiri. Kukatakan saja Ken ingin berbincang dengannya, sedangkan aku butuh istirahat.


Aku senang Ken sengaja datang ke rumah untuk memberi penjelasan dan meminta maaf. Namun dari pemaparan Ken, terpikir jika Ken dan Add mungkin setiap malam makan malam bersama. Terlebih Paman Yamada sedang tidak ada. Ken menginap di hotel, dan Add juga tidur di sana. Ah!!!


Aku jatuhkan badan di atas kasur, melupakan semua ketakutan. Semua dugaan Minako yang mengatakan Ken mungkin juga seorang gay atau biseksual coba kuhalangi agar tak merasuk terlalu jauh dalam pikiranku. Aku yakin Ken tidak tidur satu kamar dengan Add. Mereka punya kamar masing-masing, kan?!


Rasa kantuk akhirnya memaksaku berhenti memikirkan segala kemungkinan atas ketakutanku. Tak butuh waktu lama, mataku tertutup dengan rapat.

__ADS_1


Entah berapa lama aku tertidur. Rasanya cukup segar juga. Memang tidur bisa melepaskan gundah sejenak.


Kulihat jam di ponsel, menunjukkan pukul setengah 7. Lalu, ada chat dari Ken yang mengatakan dia sedang menuju ke rumahku. Aku senang dia serius dengan ucapannya. Meski ini mungkin hanya untuk mengurangi rasa bersalahnya terhadapku, tetapi biarlah. Jika dia tak menyukaiku sedikit pun, dia pasti tidak akan sejauh ini untuk meredakan kemarahanku.


Aku langsung mandi, berdandan, dan memoles wajah. Waktu setengah jam untuk perempuan menyiapkan penampilannya sangatlah singkat.


Ayah memanggilku. Katanya Ken sudah menunggu. Semoga Ayah tidak menginterogasi banyak hal kepada Ken. Aku takut Ken tidak nyaman. Terlebih jika ditanya perasaannya terhadapku. Semoga Ayah masih mengenal batasan.


Saat bercermin dan memastikan penampilanku sudah maksimal, aku teringat dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Mungkinkah makan romantis ini akan gagal seperti dua peristiwa sebelumnya? Ketakutan itu ada, tetapi keceriaan pun tak bisa disembunyikan. Beginilah perempuan, jika diberi perhatian lagi, hati cepat cerah kembali.


Intinya, aku berusaha tak berkhayal dan menulis skenario untuk kali ini. Aku coba jalani saja dengan harapan tak ada gangguan lagi. Add tidak ikut, kan? Jika ya, setidaknya aku merasa kencanku akan aman. Ya, aku anggap saja ini kencan.


Ayah tersenyum melihat penampilanku. Katanya aku sangat cantik malam ini. Sayangnya, aku tak terlalu senang pujian itu datang dari ayah. Tentu saja, aku berharap Ken mengucapkan hal tersebut.


“You’re so beautiful tonight.”


Jantungku seperti berhenti sejenak. Aku berusaha memastikan jika itu benar-benar keluar dari mulut Ken. Itu bukan halusinasiku. Itu bukan suara angin yang aku dubbing kan?


Kulihat Ken tersenyum kepadaku. Dia menjulurkan tangannya pertanda mengajakku segera pergi. Lalu, kulihat Ayah pun tampak sumringah. Ken memuji aku di depan Ayahku. Apakah ini ini sebuah sinyal Ken mulai membuka hati untukku? Tidak, tadi aku sudah berjanji untuk tak membuat skenario khayalan lagi.


Kemudian, dengan santun Ken pamit kepada Ayah. Aku lihat wajah Ayah tak pernah seceria ini melihat aku pergi dengan laki-laki.


“Take care!” ucap Ayah sambil menepuk lengan Ken. Ken pun membalas dengan senyum yang sangat manis.


Namun begitu siap berangkat, tiba-tiba mobil Ken tidak mau menyala. Kemudian, Ken turun dari mobilnya dan mengecek kondisi mesin. Tak ingin rencana malam ini gagal, aku pun turun mengambil kunci mobilku. Tetapi, Ayah ternyata sudah berdiri di depan pintu memperhatikan kami sedari tadi. Dia langsung menyodorkan kunci mobilnya.


Ken awalnya ragu menerima kunci mobil Ayahku. Dia meminta waktu untuk memeriksa kondisi mobilnya. Ayah menyarankan agar kami segera pergi sebelum malam semakin larut.


Akhirnya, Ken mengganti mobilnya dengan mobil Ayahku. Ayah juga mengatakan akan memanggil montir untuk memperbaiki mobil Ken yang sepertinya ada kendala di mesin.


Aku tak tahu ke mana Ken akan mengajakku pergi. Setiap berdua dengannya, aku tak ingin tahu tujuan dan jalan pulang.


Biasanya Ken aka meminta rekomendasi tempat kepadaku. Namun kali ini, dia mengendarai mobil tanpa bertanya tujuan. Dia sudah tahu akan pergi ke mana. Itu berarti dia juga sudah mempersiapkan tempat yang spesial.


Aku teringat ucapan saran Yuriko, yaitu buat Ken mabuk lalu berakting seolah aku disetubuhi Ken sewaktu dia mabuk berat. Sepertinya ini waktu yang pas. Ditambah Ken sedang merasa bersalah kepadaku. Jika aku tambah kadar bersalahnya, bisa jadi dia akan langsung menjadi milikku.


Rencana tersebut memang terdengar sangat dramatis dan tak baik. Namun, itu cara untuk mengusir Add dari sisi Ken juga. Minako mengatakan aku harus bisa membuat Ken menjauh dari Add. Jangan sampai Ken hanyut dalam kenyamanan yang diberikan oleh Add, kemudian ia tak bisa untuk tak bersama pria pengacau tersebut.


Restoran yang kami datangi letaknya di Susukino. Kawasan yang memang dipenuhi restoran, bar, dan hotel. Namun, aku belum familiar dengan restoran ini. Entah bagaimana Ken tahu tempat ini, sedangkan dia sendiri jarang berkeliling Kota Sapporo.


Setelah merasa cukup menyantap hidangan makan malam, aku langsung memesan bir. Aku sengaja hanya makan sedikit, karena jika kebanyakan akan membuat perutku penuh sehingga tak mampu minum sebanyak yang aku rencanakan.


Setelah pesananku datang, Ken tampak kaget.


“Kamu tak bermaksud menghabiskannya sendiri kan, May?” tanya Ken seusai melihat 12 gelas besar bir tersaji di meja makan kami.


“Tenang saja. Jika kamu mau, kamu boleh mengambilnya.” Sejujurnya, aku agak bingung dari mana harus memulai drama ini.


Dengan cepat dua gelas bir melewati kerongkonganku. Aku berusaha memancingnya, namun sedikit pun belum melihat dia bereaksi. Jangan sampai justru aku yang mabuk!


“Mabuk adalah cara untuk melepaskan masalah,” ujarku seolah sudah mulai hilang kesadaran. Padahal hingga 5 gelas pun aku masih tidak akan merasakan mabuk.


Begitu memasuki gelas ketiga, saat bibir gelas sudah menyentuh Bibirku, Ken merebutnya. Dia sedikit menghentakkan gelas tersebut sehingga isinya tumpah sebagian. Kemudian, Ken melambaikan tangan kepada pelayan restoran. Gesturenya menunjukkan agar si pelayanan membawa bir yang tersisa.


Apa Ken tidak suka minum alkohol? Kalau begitu Ken tidak akan suka dengan wanita yang minum alkohol juga, kan? Ini gawat. Rencanaku terancam gagal. Aku terlalu ceroboh, tak berusaha mencari tahu Ken suka minum alkohol atau tidak.


Ken terus menghalau tanganku yang berusaha meraih gelas-gelas bir. Bahkan dengan tangan kirinya dia bisa mengunci kedua tanganku. Matanya pun menatap tajam kepadaku. Tidak, rencanaku berantakan. Aku merasa sangat bodoh, karena menjalankan rencana tanpa persiapan matang. Aku hanya melihat situasi tanpa memikirkan kondisi yang akan terjadi.


“Malam ini, aku ingin membuat pikiranku melayang.” Aku kembali berusaha melepaskan tanganku yang tekunci. Ini sudah terlanjur. Sekalian saja aku yang mabuk. Apa yang akan terjadi nanti, biarlah terjadi.


Namun saat pelayan menghampiri, Ken malah memintanya pergi. Ada apa dengan Ken?


Aku sangat terkejut saat Ken meraih satu gelas bir dan langsung meneguknya. Tangan kirinya begitu kokoh memegangi kedua tanganku. Sementara tangan kanannya tak kalah kokoh mengangkat gelas-gelas bir. Ya, dengan cepat tiga gelas bir dia habiskan walau sebagiannya mengalir dari mulut hingga dada. Terlihat jelas kemeja putihnya basah dan menimbulkan noda.


“Ken, sudah!” Aku berusaha menghentikannya di gelas ke-4.


Ken terbatuk-batuk selepas menurunkan gelas ketiga, tetapi tetap memaksa menghabiskan semua bir yang tersisa di meja. Sangat jelas Ken bukan seorang peminum. Sekarang aku jadi khawatir terjadi sesuatu terhadapnya.


Aku terus memohon agar dia berhenti minum bir. Sayangnya, ia tetap melanjutkan hingga gelas ke-6. Aku hanya bisa berbicara tanpa mampu menggerakkan tangan untuk menghentikan tindakan konyolnya.


Ken meraih gelas ke-7. Tinggal dua gelas bir tersisa di hadapan kami.


Sejak gelas ke-3, gerakan Ken mulai melambat. Sepertinya pengaruh alkohol cepat mengalir ke tubuhnya. Aku berencana membuat dia mabuk, namun bukan dengan memancing emosinya juga.


Ken terlihat mulai tak berdaya. Cengkramannya mulai terlepas. Kepalanya perlahan jatuh ke meja diiringi mual dan nyaris muntah.

__ADS_1


Aku memastikan kondisi Ken dengan mengoyang-goyangkan badannya. Ia pun masih merespon jika dia baik-baik saja. Bahkan ia masih berusaha mengambil kembali bir yang masih tersisa. Aku pun meminta pelayanan untuk membersihkan meja kami.


Aku gerakkan lagi tubuh Ken, dia tidak merespon. Aku menjadi ketakutan. Dia mabuk atau terjadi sesuatu kepadanya.


Tentang rencanaku, aku pikirkan nanti. Lebih baik aku bawa Ken pulang ke rumah Paman Yamada terlebih dahulu. Aku harus memastikan dia hanya mabuk sementara.


Aku berusaha mengangkat tubuh Ken. Terdengar dia berbicara, namun tidak jelas, seperti bergumam.


Ini pertama kalinya aku bisa menyentuh tubuh Ken. Menempatkan tangannya di bahuku. Andai saja ini terjadi saat Ken sedang sadar.


Baru saja melangkah untuk membawa Ken, seseorang datang merampasnya. Aku kaget, karena dia muncul dengan tiba-tiba.


“Biar aku saja yang bawa dia pulang,” ucap Add.


Bagaimana dia bisa tahu kami di sini? Apa dia mengikutiku? Aku berusaha merampas tubuh Ken kembali. Namun pelayanan justru lebih membantu Add, karena dia mengaku sebagai teman baik Ken.


“Tunggu di depan. Aku akan segera ke sana,” perintahku kepada Add. Namun dia terus melangkah membawa Ken, tanpa menghiraukan kalimat yang aku lontarkan.


Aku sempat mengambil kunci mobil di saku kemeja Ken tadi. Kemudian, aku berlari menuju tempat parkir. Aku harus segera membawa Ken pulang. Namun saat berada di dalam mobil, aku ingat ponsel dan jas Ken masih di dalam restoran. Aku masuk kembali ke restoran untuk mengambilnya.


Setelah itu, aku tunggu Add dan Ken di depan lobby restoran. Beberapa menit berlalu, tetapi mereka tak tampak di hadapanku. Apa mereka masih di dalam? Aku mulai gelisah dan panik.


Kemudian, salah seorang security menghampiriku. Aku jelaskan saja sedang menunggu dua orang teman, dan menyampaikan ciri-ciri Ken dan Add. Petugas tersebut menjelaskan jika orang yang aku maksud sudah pergi dengan menaiki taksi. Menyebalkan! Add benar-benar tak mendengarkan ucapanku.


Tanpa pikir panjang, aku langsung menginjak gas dengan kencang. Aku harus bisa mengejar Add. Ke mana dia akan membawa Ken? Kenapa juga dia bisa tiba-tiba muncul seperti dalam sebuah drama? Aku tak akan membiarkan pencuri itu lolos membawa kabur tubuh Ken.


Ken tak ada di hotel. Aku sudah mencari ke kamarnya, begitu pun kamar Add. Bahkan pegawai resepsionis tak ada yang melihat mereka pulang ke hotel. Jika tidak ke sini, ke mana Add membawa Ken?


Perasaanku begitu cemas bercampur kesal. Kemudian, rasa curiga menyebar ke seluruh sel otakku. Aku khawatir jika Add melakukan sesuatu yang ada di dalam ketakutanku.


Aku tak bisa menerawang keberadaan mereka sekarang. Jika bukan kembali ke hotel, ke mana Add mengantar Ken pulang? Ke rumah Paman Yamada? Aku tak yakin Add tahu di mana Ken tinggal, selain di hotel. Namun, tak ada salahnya mencoba pergi ke sana.


Aku pun langsung mengemudikan mobil ke rumah Paman Yamada. Sesampainya di sana aku melihat pintu rumah terbuka. Apa Paman sudah pulang? Bukankah masih seminggu lagi Paman di Seoul? Tanpa bersuara, aku langsung masuk ke dalam rumah.


Kudengar suara seseorang terbatuk. Itu jelas suara Ken. Seketika kudekati sumber suara tersebut. Melalui pintu kamar yang sedikit terbuka, aku mencoba mengintai dahulu.


Namun, aku sangat terkejut melihat Add sedang melepaskan pakaian Ken. Ada perasaan bimbang, aku masuk atau menonton dulu di luar seperti ini.


Kemudian, aku perhatikan lagi yang dilakukan Add. Aku nyaris menjerit. Setelah melucuti semua pakaian Ken, Add menciumi tubuh yang tampak tak berdaya tersebut.


Sesekali terdengar Ken merintih. Tidak. Ketakutanku menjadi nyata. Kemudian, Add membalikkan tubuh Ken. Pujaan hatiku pun terlihat pasrah. Add berusaha menikmati ketidakberdayaan Ken demi melampiaskan nafsu.


Air mata dengan deras membanjiri kedua pipiku. Aku bahkan tak mengerti dengan diriku sendiri. Kenapa aku hanya diam terpatung begini? Aku hanya bisa menonton perbuatan menjijikan Add terhadap Ken.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tiba-tiba Add sudah ada di depanku. Jelas kehadirannya membuatku begitu terkejut.


“Ada apa, May?” tanyanya polos.


Kuperhatikan tubuhnya yang hanya diselimuti handuk. Sisa-sisa keringat masih tergambar dengan jelas dari wajah hingga dada.


Plaaaaak!!! Tangan kananku begitu saja terbang dan mendarat dengan keras di pipi Add. Sedikit pun dia tak bergerak.


Aku semakin geram. Ingin rasanya mencabik-cabik wajahnya yang seperti tak ada dosa. Emosiku begitu membara.


“Kamu memang brengsek”, umpatku dengan hati berdebar.


Add menatapku. Aku tak mau kalah balas menatapnya dengan lebih tajam. Aku tidak takut, sekalipun dia mungkin akan memukulku balik.


“Asal kamu tahu, kami saling mencintai. Kami melakukannya dengan cinta.”


Benar-benar brengsek. Dengan percaya diri dia mengatakan hal tersebut. Aku ingin menamparnya sekali lagi, atau kalau bisa beberapa kali lagi hingga ia sadar ucapan dan perilakunya begitu bejat.


Saat aku sudah mengayunkan tangan ke bagian pipi yang tadi kutampar, dia lebih dulu menangkisnya. Tanganku dicengkramnnya dengan cukup kencang hingga aku harus berusaha susah payah melepaskan.


Kemudian, terdengar suara Ken yang sepertinya masih kesakitan. Add melepaskan tanganku, lalu dia bergegas menuju Ken.


Lagi, aku hanya bisa terdiam. Tak ada lagi skenario yang bisa aku mainkan. Tubuhku mendadak kaku. Ini bahkan lebih buruk dari semua ketakutan yang pernah aku bayangkan.


Add tak menyuruhku pulang. Namun, kejadian tadi sudah mengisyaratkan hal tersebut. Bertahan di sini pun hanya membuat batinku semakin sakit. Biar nanti kuminta penjelasan langsung dari Ken atas kejadian yang barusan merobek penglihatanku.


Hatiku seperti teriris saat Add mengatakan dia dan Ken saling mencintai. Aku tak percaya perkataannya. Aku yakin itu hanya cara agar aku memaklumi perbuatan mesumnya.


Bisa-bisanya Add memanfaatkan moment ini untuk menyetubuhi Ken. Bodohnya, aku hanya menjadi penonton.  Tangisku semakin tak terbendung.


Tetapi, kenapa Ken begitu pasrah saat Add melancarkan nafsunya? Ia hanya mengerang kesakitan tanpa melakukan perlawanan. Meskipun dalam kondisi mabuk berat, namun Ken masih bisa memberi respon. Itu berarti kesadarannya belum sepenuhnya hilang, kan?

__ADS_1


Sakit dan pedih dengan cepat bercampur menjadi luka di tubuh. Secepat aku mengendarai mobil ini di 100 km/jam.


__ADS_2