
Salju turun dengan begitu lebat semalam. Taman dikerumuni orang-orang yang asik bermain. Ada yang membuat boneka salju, ada juga yang membentuknya menjadi bola untuk saling dilempar. Semua larut dalam sukacita.
Waktu terasa cepat saat bahagia dan terasa lambat ketika tengah berduka. Menjelang pergantian tahun, aku berharap benar-benar bisa membuka lembaran baru. Menutup buku lama rapat-rapat. Mulai menuliskan kisah yang tak terkontaminasi cerita masa lalu.
Aku menyusuri jalanan kota dengan memakai baju berlapis; kaos, kemeja, jaket, dan mantel. Ditambah pula syal yang disilangkan di leher. Namun, hawa dingin mampu merasuk dan menyapa tubuh. Aku pun memutuskan mampir ke sebuah minimarket untuk membeli segelas cokelat hangat.
Entah aku yang salah karena bengong, atau orang itu yang terburu-buru. Saat membuka pintu untuk keluar dari minimarket, dia menyenggolku. Akibat hal tersebut, cokelat panas yang kupegang tumpah menodai mantel yang aku kenakan.
“Sorry…” Orang tersebut meminta maaf sambil membersihkan noda di pakaianku.
Awalnya aku ingin memarahinya, tetapi tak baik menumpahkan kekesalan kepada orang yang sudah meminta maaf.
“It’s okay.”
Aku melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Ya, aku sedang ingin menikmati setiap langkah yang semoga jejaknya bisa menitipkan kenanganku di Indonesia. Aku pun ingin melihat dan merasakan kehidupan yang lebih luas. Mengamati sekitar dengan segala pergerakan dan interaksi. Manusia dengan manusia, maupun manusia dengan alam.
Sesampainya di rumah, aku langsung merebahkan badan. Baru saja hendak memejamkan mata, ponselku berdering.
“Halo, May.”
“Ken, sore ini aku pulang dari Tokyo.”
“Oke.”
“Kamu sedang apa, Ken?”
“Aku sedang rebahan saja.”
“Kalau kondisimu masih belum pulih, nanti aku bisa naik taksi. Kamu istirahat saja ya!”
“Tenang saja, aku sudah pulih. Landing jam berapa?”
“Aku sampai sana setengah enam.”
“Iya, aku akan tiba tepat waktu.”
“Terima kasih banyak, Ken.”
Aku menutup telepon, meski yang menelepon Mayumi. Jika tidak begitu, dia mungkin akan lama mengajakku berbincang. Mataku tak sanggup meladeninya.
Aku tidur selama tiga jam lebih. Badanku terasa lebih rileks. Kutengok jam di ponsel sudah jam 5 sore. Aku terkejut karena nyaris terlambat. Mayumi tiba di bandara setengah 6, perjalanan dari hotel ke bandara 20 menit. Aku pun bergegas mengendarai sepeda ke hotel untuk menukarnya dengan mobil Paman. Aku sudah berjanji kepada Mayumi akan tepat waktu.
Sesampainya di hotel, aku berlari mencari Paman. Namun, ketika di lobby aku menabrak seorang pengunjung.
“Sorry, I’m in rush.” Aku langsung meminta maaf.
Pengunjung tersebut hanya tersenyum. Aku seperti pernah melihatnya. Tapi ya sudahlah, aku tak punya waktu untuk mengingat kejadian tersebut kapan dan di mana bertemu.
Aku langsung bertanya ke resepsionis keberadaan Paman, ada di ruangannya atau tidak. Aku tak punya banyak waktu mencarinya.
“Where is uncle?” tanyaku sedikit terengah-engah.
Paman pun muncul dari balik pintu ruang staf.
“Paman, Ken pinjam mobil Paman ya,” ucapku sambil berusaha mengatur nafas.
“Kamu mau ke mana, Ken? Kok terlihat buru-buru sekali.”
“Jemput Mayumi, Paman.”
“Tunggu sebentar!” pinta Paman sambil berjalan cepat menuju ruangannya. Paman mengerti jika aku tengah berkejaran dengan waktu.
Saat aku menunggu, pengunjung yang aku tabrak tadi sempat melirik ke arahku. Saat tertangkap mata dia memandangku, aku sedikit menurunkan kepala dan tersenyum.
“Ini. Hati-hati di jalan!” Dengan cepat Paman menyerahkan kunci mobilnya.
“Iya, Paman.”
Aku langsung menuju ke parkiran mencari mobil Paman. Kulihat lagi jam di ponsel, pukul 17.20. Pesawat yang ditumpangi Mayumi landing pada waktu tersebut. Ini jelas, aku akan terlambat.
Dari turun pesawat, mengambil bagasi, mungkin sekitar 10 menit. Sebisa mungkin aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, tetapi tetap berhati-hati.
Hubunganku dan Mayumi memang hanya sebatas teman. Namun, dia sudah banyak membantuku mengenalkan tempat ini. Setidaknya, aku harus tahu diri untuk membalas budi.
Setiba di bandara, aku lihat Mayumi sedang berdiri di area penjemputan. Dia terlihat memainkan ponselnya.
“Hai, maaf terlambat,” sapaku yang membuatnya sedikit terkejut.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Ken. Aku juga baru saja sampai,” senyumnya.
Seturun dari mobil, dengan sigap aku menaikkan koper Mayumi ke bagasi. Lalu, membuka pintu mobil untuknya. Dia tampak tersipu. Namun, sikap yang aku lakukan bukan untuk membuatnya salah paham. Aku merasa perlakuanku merupakan kewajaran sebagai penghormatan terhadap wanita.
“Terima kasih banyak Ken mau menjemputku,” ujarnya saat mobil mulai melaju.
“Iya, sama-sama.”
“Kamu tidak merasa direpotkan, kan?”
“Tentu tidak.” Aku selalu tak punya banyak kosakata saat berhadapan dengannya. “Katamu masih beberapa hari lagi di Tokyo.” Kucoba mencari topik pembicaraan.
“Aku majukan sehari, karena sudah tak tahan merindukanmu,” responnya dengan terus tersenyum memandangku.
“Oh.” Aku bingung harus bagaimana menanggapinya.
Mayumi sedikit menurunkan senyumannya. “Kamu tidak rindu kepadaku, Ken?”
“Iya?” Aku berpura tak mendengar. Kulihat Mayumi menurunkan lagi senyumannya. “Emmm, tiap hari kan kita masih berjumpa lewat suara dan chatting.”
Coba berpikir! Ya, aku harus bisa mengganti topik yang membuatnya tidak fokus bertanya tentang perasaanku terhadapnya. Memang, dia menanyakan hal tersebut secara implisit.
“Oh iya, bagaimana acaranya di Tokyo?”
Dia terdiam sejenak. “Menyenangkan.”
Melihatnya seperti enggan bercerita, aku menoleh ke arahnya. Lalu, dia pun terlihat bergairah untuk berkisah. “Aku sangat senang melihat sahabatku menikah. Rasanya seperti baru kemarin kami masih bercerita tentang pria-pria yang mendekati. Aku berharap segera menyusulnya. Mengenakan gaun yang indah dan mengikrarkan janji sehidup semati dengan pujaan hati. Itu akan sangat menyenangkan. Iya kan, Ken?” Mood-nya berubah hanya dengan satu tatapan.
Namun, aku hanya berusaha mengganti topik tanpa berpikir untuk menguasai substansinya. Huh! Tanggapan apa yang harus aku berikan?!
“Ya, semoga kamu cepat menyusul.” Aku berpikir keras lagi untuk mengganti topik. Aku sempat tak sadar bahwa Mayumi usai menghadiri pesta pernikahan. Jadi, memintanya menceritakan pengalaman di Tokyo akan terhubung dengan pertanyaan tentang perasaanku terhadapnya.
“May, tolong arahkan jalannya ya. Aku kan belum pernah ke rumahmu.” Beruntung, ada topik yang lebih netral.
“Iya. Tapi Ken, bagaimana kalau kita makan malam dulu di restoran arah jalan pulang? Nanti aku tunjukkan tempatnya,” ajaknya dengan memasang wajah agak memelas.
Melihat wajahnya, aku tak tega untuk menolak. Namun jika menuruti, aku khawatir akan mengulang suasana seperti di Jewel Restaurant waktu ini.
“Maaf, May. Paman sedang menungguku. Lain waktu saja ya. Tidak apa-apa, kan?”
Dia menjawab menggunakan bahasa dua bibir yang dirapatkan, lalu digoyangkan sedikit. Aku mengerti ada segurat kekecewaan dalam dirinya saat ajakan tersebut aku tolak. Tetapi sekali lagi, aku tak mau membuatnya berharap. Merasakan yang pernah aku rasakan terhadap Dave.
Setelah kutolak ajakannya, kami tak terlibat percakapan lagi hingga tiba di rumah Mayumi. Aku memang bukan tipikal yang mudah menghidupkan suasana. Aku lebih memilih fokus mengendarai mobil agar selamat sampai ke tujuan.
Aku takjub melihat rumah Mayumi yang cukup megah. Lebih takjub melihat interior luar yang disajikan menyuguhkan desain tradisional Jepang dan gaya Eropa klasik. Cukup mengagumkan. Namun, aku menyimpan kekaguman itu dalam hati.
Mendengar kami tiba, ayah Mayumi langsung menyambut. Beliau menawarkan aku untuk mampir sebentar, tetapi aku tolak dengan alasan yang sama kepada Mayumi. Agar tak menyinggungnya, aku berjanji lain waktu akan mampir.
Ayah Mayumi berpostur tinggi. Penampilannya memperlihatkan dia seorang pebisnis, semua yang dikenakan barang yang branded. Sama-sama bergelut di bisnis perhotelan, penampilan Paman kalah jauh dengan ayah Mayumi. Namun, aku bangga Paman cukup bersahaja. Aku juga senang melihat ayah Mayumi, di balik penampilannya yang mewah, beliau sangat ramah.
Aku memacu mobil ke hotel dengan lebih santai. Aku lebih bisa menikmati perjalanan pulang. Mungkin karena sendiri dan tidak dikejar waktu seperti tadi.
Aku langsung mencari Paman ke ruangannya. Dia tak ada di tempat. Lalu salah satu staf resepsionis mengatakan Paman sedang keluar dengan rekannya. Aku putuskan menelepon Paman saja sambil duduk di kursi empuk yang disediakan untuk pengunjung di lobby.
“Hello, Paman di mana?”
“Hello Ken, Paman sedang makan malam bersama teman Paman.” Suara Paman memang terdengar sedang mengunyah makanan.
“Paman kok tidak memberitahu Ken? Ini Ken buru-buru pulang, karena khawatir Paman sudah lapar.” Aku sedikit kesal.
“Maaf, Paman kira kamu akan makan malam dengan Mayumi.”
“Ya sudah. Ken mau cari makan dulu ya, Paman. Kabari Ken kalau Paman sudah mau pulang, nanti Ken jemput.”
“Iya. Hati-hati bawa mobilnya.”
Saat aku menutup telepon dan beranjak dari tempat duduk, aku melihat orang yang tadi aku tabrak saat hendak mengambil kunci mobil Paman. Aku berusaha mengingat lagi. Ya, dia yang tadi siang menabrakku lebih dulu di minimarket. Aku sudah meminta maaf, dia pun sama. Tak perlu menghampirinya.
Namun, dia terus memandangku. Jarak tempat duduk kami sekitar 5 meter, dan sepertinya dia juga memperhatikan obrolanku dengan Paman tadi di telepon. Tapi ya sudahlah, dia tidak akan mengerti yang aku bicarakan.
Meskipun aku belum tahu akan makan di mana, tetapi di bawah atau di pusat kota akan ada banyak pilihan. Mungkin aku bisa bertanya kepada pegawai di sini letak ramen favorit di kota ini. Ya, aku sedang ingin makan makanan yang menjadi salah satu ikon Jepang itu. Daripada nanti berputar-putar, lebih baik sudah memiliki tujuan dari awal.
Baru beberapa langkah berjalan, terdengar ada yang memanggil.
“Permisi!” Suaranya cukup kencang dan membuat beberapa orang sekitar melihat ke arahnya. Aku yakin dia menyasarku, karena saat membalikkan badan pandangannya lurus ke arahku. Aku langsung bergegas menghampiri.
“Iya, ada yang bisa saya bantu?”
__ADS_1
“Saya mau tanya, di mana ya restoran Ramen terbaik dan terfavorit di dekat sini?”
Aku cukup kaget orang yang duduk depanku tadi menyapa dalam Bahasa Indonesia. Dari perawakan dan wajahnya, dia tidak tampak seperti orang asli Indonesia. Aku memang tak banyak bergaul, tetapi aku cukup bisa mengenali asal negara seseorang dari appearance-nya. Hal itu aku dapatkan dari banyak menonton film.
Aku kadang tidak terlalu percaya dengan yang namanya kebetulan. Pria ini siangnya aku jumpai di minimarket. Sore bertemu di hotel. Lalu, kita sedang mencari menu makan malam yang sama.
“Sebentar ya!” Aku memintanya menunggu, karena aku pun belum mendapat jawaban dari pegawai yang kutanya.
Setelah mendapat penjelasan mengenai tempat ramen yang diinginkan, aku berpikir untuk mengajak orang itu sekalian. “Bagaimana kalau kita bareng saja? Kebetulan tujuan kita sama.” Dia tamu hotel ini. Jiwa service-ku muncul begitu saja.
“Kamu serius?”
Aku meyakinkannya dengan mengangguk.
Selama di mobil dia banyak bercerita tentang kejadian hari ini. Spesifiknya, kejadian awal bertemu denganku di minimarket. Dia mengatakan masih merasa bersalah menumpahkan cokelat ke jaketku. Dia juga merasa beruntung bertemu aku kembali untuk meminta maaf lagi. Bahkan saat kejadian itu, dia ingin mengganti minumanku itu, namun aku pergi dengan cepat.
Aku mengatakan kepadanya untuk melupakan kejadian tersebut. Aku juga tak sengaja sudah membalas perbuatannya sore tadi.
“Oke, kita sudah sampai.” Aku mengerem tangan mobil dan mengajak pria itu turun.
“Nama saya, Add.” Dia menyodorkan tangan untuk berkenalan.
Aku tak bisa menghindari perkenalan ini. “Saya, Ken.”
Restoran yang direkomendasikan cukup ramai. Kami sempat sedikit kebingungan mencari tempat duduk. Aku menjadi yakin restoran Ramen yang kami datangi tidak akan mengecewakan. Meskipun Jepang negara yang penduduk sangat totalitas dalam hal apa pun, namun terkadang setiap orang punya ekspektasi yang berbeda. Terlebih soal makanan, yang sangat tendensius pada selera.
“Bagaimana kalau di sebelah sana saja, Ke...n.” Suaranya masih agak ragu menyebut namaku.
“Oke.” Aku menyetujui tempat yang dia tunjuk, karena sejauh mata memandang tak terlihat ada meja yang kosong.
Sambil menunggu pesanan datang, aku berusaha bertanya. Ini memang bukan hal yang biasa aku lakukan.
“Di Indonesia kamu tinggal di mana?” Prediksiku dia memang bukan orang Indonesia. Meskipun begitu, bisa jadi dia warga keturunan yang menetap di negera dengan populasi terbanyak ke-4 di dunia. Kefasihannya ber-Bahasa membuatku penasaran.
“Aku tinggal di Pattaya,” jawabnya dikuti lemparan senyum.
“Pattaya?” tanyaku memastikan. Aku belum pernah mendengar daerah itu di Indonesia.
“Emmm, Thailand. Aku dari Thailand.”
“Oh.” Meskipun aku juga tidak tahu di bagian mana Pattaya itu, namun ketika dia mengatakan dari Thailand, aku sangat terkejut. Penguasaan Bahasa Indonesia dia seperi native. Dari aksen dan logatnya, seperti orang Jakarta.
Kami melanjutkan perbincangan sembari menyantap Ramen yang memang juara kelezatannya. Add menjelaskan dia kuliah di Indonesia, bahkan kita satu kampus, satu angkatan, hanya berbeda fakultas. Aku cukup salut dan bangga dia fasih berbahasa Indonesia.
Dia juga menceritakan profesinya sebagai fotografer. Kunjungannya ke Pulau Hokkaido ini untuk berlibur sekaligus berburu foto pemandangan alam saat winter. Ya, karena di negara kami tidak ada musim salju.
Aku sudah bisa menduga dia seorang fotografer ketika bertabrakan di minimarket. Terlihat jelas dari kamera yang menggantung di lehernya. Kamera yang dibawanya bukan kamera yang lumrah dibawa turis untuk berlibur. Itu kamera profesional yang harganya mahal.
Add menjelaskan lebih detil tentang dirinya. Sebelumnya, dia bekerja sebagai fotografer untuk acara penikahan atau acara resmi perkantoran. Namun karena hobinya juga berpetualang, setahun ini, ia memulai perjalanan keliling ke berbagai negara untuk memotret keindahan dari seluruh dunia.
Cakupan negara yang dia kunjungi saat ini barus sebatas di Asia, yaitu Filipina, Korea Selatan, India, Kazakstan, Mongolia, dan sekarang Jepang. Namun, di pertengahan tahun depan dia sudah memiliki rencana tour ke Eropa dan Amerika. Mendengar ceritanya, aku merasa profesinya cukup menyenangkan. Fotografer terdengar profesi yang bisa dilakukan semua kalangan, padahal secara professional butuh ketekunan dan waktu yang panjang.
Add juga menuturkan dia mengambil jurusan Teknik Sipil. Cukup bertentangan dengan hobinya dari SMP yaitu menangkap gambar.
Setelah lulus kuliah, dia memilih bekerja sesuai bidang yang disukai. Katanya, hobi yang dibayar itulah yang namanya pekerjaan terbaik dalam hidup seseorang. Butuh proses yang lama untuk bisa dikatakan sebagai fotografer professional, lanjutnya. Kenapa? Karena memotret bukan hanya mengabadikan momen, tetapi harus bisa menciptakan momen pada foto itu sendiri. Agar foto yang dilihat serasa hidup, dan membawa kita kembali pada masa itu atau berada di tempat yang kita lihat.
Add cukup bersemangat bercerita. Itu membuatku antusias mendengarkan pengalamannya.
Tiba-tiba Paman menelepon. Obrolan kami pun terhenti.
“Halo, Paman.”
“Ken, kalau sudah selesai makannya jemput Paman ya. Nanti Paman share lokasinya.”
“Iya, Paman.”
Aku langsung mengajak Add beranjak dari restoran. Aku menawarkannya untuk diantar pulang ke hotel.
“Add, maaf, aku harus jemput Pamanku. Aku antar kamu ke hotel sekarang ya?”
“Tidak usah, Ken. Nanti aku pulang sendiri saja. Aku nggak mau merepotkanmu untuk kedua kali.” Dia menolak, mungkin karena sungkan.
Aku coba menawarkan sekali lagi. “Tidak apa-apa, Add. Aku antar kamu dulu, baru aku jemput pamanku.”
“Aku masih mau keliling di sini. Aku bisa naik taksi untuk pulang ke hotel.” Dia menepuk bahuku. Aku merasa agak terkejut. Namun, ini mungkin bentuk keakraban.
“Baiklah, kalau begitu. Aku pergi dulu.”
__ADS_1
“Hati-hati, Ken!”
Aku memutar badan, lalu memberikan dia simbol okay dengan tangan. Padahal kami baru berkenalan dalam hitungan menit, tapi terasa seperti teman lama. Aku bahkan bisa menimpali obrolan, walau hanya menggali supaya dia mau bercerita. Namun ini tidak terjadi saat berhadapan dengan Mayumi, aku butuh waktu lama hanya untuk sekadar membuat kalimat tanya. Tidak, aku hanya sedang melayani costumer agar dia nyaman berada di hotel milik Paman.