Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 29: Usai


__ADS_3

Banyak calon pembeli menghubungi untuk membeli apartemenku. Namun, tidak semuanya tampak serius. Ada yang menawar secara sadis, meminta pengurangan harga hampir 50%, hingga ada yang mengajak untuk berkenalan. Aku jengkel oleh ulah para calon pembeli tersebut. Aku pun sempat berpikir untuk mengurungkan niat menjual apartemen.


Sempat dilanda putusa asa, akhirnya, apartemenku terjual kepada Pak Andy. Tak ada negosiasi dengannya, setelah malamnya berbincang, dia mentransfer uang sejumlah harga apartemenku.


Aku meminta Tante Selly untuk berfoto dengan Pak Andy ketika dia datang untuk mengambil kunci dan surat-surat kepemilikan apartemen. Namun kata Tante Selly yang datang menemuinya bukan Pak Andy sendiri, melainkan asistennya. Padahal, aku penasaran ingin melihat rupa pembeli apartemenku.


Paska apartemenku berpindah tangan, aku seperti kehilangan seseorang. Seperti ada bagian yang hilang dalam hidupku. Meskipun keputusan untuk menjual aparteman sudah dipikir secara matang, tetapi tetap saja ada kesedihan. Ada rasa bersalah yang teramat dalam kepada Ayah. Semoga Ayah, di surga, mengerti keputusanku ini.


Paman Yamada, Bibi Ayane, orang tua Mayumi, semakin sibuk mempersiapkan pernikahanku. Malam ini akan digelar pertemuan dua keluarga untuk membahas keseriusan acara resepsi. Belakangan ini mereka tampak sibuk menyusun konsep yang meriah.


Kesalahpahaman sudah menjelma menjadi pernyataan resmi. Bahkan, Paman tak mau lagi mendengar aku berkata jika ucapanku ingin menikahi Mayumi waktu itu tidak serius.


Aku tak mau menyakiti perasaan Mayumi, pun dengan keluarganya dan keluargaku. Namun, haruskan aku memaksakan agar pernikahan terjadi hanya untuk menjaga perasaan mereka? Apakah mungkin aku dan Mayumi akan hidup bahagia dalam bahtera satu atap? Sementara hatiku sudah kupastikan tak akan untuknya. Entahlah! Aku berharap bisa kembali ke masa lalu untuk menarik semua kata akibat.


Acara makan malam dimulai pukul 19.00, tetapi aku diminta stand by di hotel dari pukul 18.00. Katanya sebagai tuan rumah harus menunjukkan keseriusan, apalagi acara ini bukan hanya makan malam biasa, tetapi juga mendiskusikan tanggal dan kesiapan pernikahan aku dan Mayumi.


Ruang meeting di hotel Paman dihias seperti pelaminan, padahal ini baru jamuan makan malam. Hem, aku sudah hanyut ke tengah laut. Sudah sulit untukku berenang ke tepi pantai. Hanya bisa bertahan dengan mengikuti arus samudera.


Tiba-tiba Keigo datang menghampiri. “Uncle, here is your phone.”


Katanya, ponselku dari tadi bergetar karena ada panggilan telepon. Aku malah tidak ingat di mana menaruh ponselku.


“Paman, Ken jawab telepon dulu ya!”


“Jangan lama-lama, Mayumi dan keluarganya sebentar lagi datang.”


“Iya, Paman.”


Aku lihat ternyata panggilan video dari nomor di Indonesia. Aku sempat ragu untuk menelepon, karena tak ada teman di Indonesia yang tahu nomorku. Bahkan, Dave pun tak aku beritahu.


Aku hanya memberikan nomor teleponku kepada Tante Selly dan Om Syakir. Tetapi nomor mereka tersimpan di kontakku, sedangkan si penelepon tampak misterius.


Tak lama aku sadar, mungkin Pak Andy yang menelepon. Dari dua hari yang lalu, aku menunggu responnya setelah deal membeli apartemenku. Bisa jadi dia baru sempat menelepon sekarang.


Namun, mengapa Pak Andy melakukan panggilan video? Ingin salam mengenal wajah juga, kah? Ah, terasa sedikit janggal.


Aku masuk ke kamarku agar lebih nyaman mengobrol nantinya. Di sekitar meeting room cukup berisik, dan aku takut terdengar Paman atau Bibi. Aku tak bercerita kepada mereka perihal menjual apartemenku. Mereka pasti marah jika tahu. Rencananya, aku akan memberi tahu mereka ketika aku sudah memiliki tempat tinggal yang baru.


“Halo Pak Andy, mohon maaf saya sedang ada acara jadi baru sempat merespon telepon Bapak.”


Latar video Pak Andy yaitu di apartemenku. Ah, seketika aku merindukan tempat yang bertahun-tahun telah menjadi saksi saat aku jatuh dan bangkit.


“Hello, Pak Andy.” Tak ada respon darinya. Dia pun tak menghadapkan kamera ke wajahnya.


Aku menunggu Pak Andy menyapaku cukup lama. Namun, dia justru membuatku bingung. Dia men-shoot setiap ruangan di apartemenku. Dari mulai tempat tidur, dapur, hingga kamar mandi.


“Maaf, Pak. Saya sedang ada acara. Bagaimana kalau nanti saya telepon balik?”


Aku tak mau membuang-buang waktu untuk hal yang tidak jelas. Tadinya, aku pikir Pak Andy ingin memberikan testimoni. Jika hanya ingin memperlihatkan setiap sudut apartemenku, aku masih sangat mengingatnya.


“Selamat malam, Pak Ken!”


Baru saja hendak mengakhir video call, Pak Andy menyapaku.


Saat aku tatap layar ponselku untuk melihat wajah Pak Andy. Ternyata dia orang yang sangat kukenal.


“Dave?!!!” Aku terperangah melihat wajahnya terpampang di ponselku.


“Kenapa? Kaget? Atau bahagia?” tanyanya sinis.


“Apa maksudmu melakukan ini? Ini sangat tidak lucu, Dave?”


“Harusnya aku yang bertanya seperi itu.”

__ADS_1


“Dari mana kamu tahu aku menjual apartemenku?”


“Ya dari iklan yang kamu posted di aplikasi jual beli.”


Bodoh. Pertanyaanku bukan sebuah pertanyaan yang harus diajukan. Aku mengiklankannya di aplikasi, sudah pasti bisa dilihat oleh umum. Tetapi Dave sudah memiliki rumah, untuk apa dia membeli apartemenku?


“Jadi kamu yang membeli apartemenku dan berpura menjadi orang lain, untuk apa?”


“Untukmu,” jawabnya santai.


“Untukku? Maksudmu apa? Oh, sebelumnya aku ucapkan sandiwaramu sangat bagus. Tetapi aku sekarang berubah pikiran, aku ingin apartemenku kembali.”


“Ya, memang ini untukmu.”


“Maksudku, aku akan mengembalikan uangmu.”


“Aku tidak mau. Apartemen ini sudah sah menjadi milikku. Jika kamu mau, kamu tinggal menerimanya kembali. Tetapi jika ingin kembali melakukan pembelian, em….harganya aku naikkan jadi 10 milyar.”


“Jangan gila, Dave!”


Dave tertawa setelah aku menyampaikan kalimat itu. Tawa yang menyiratkan sebuah kekesalan.


“Kalau aku benar menjadi gila, bagaimana? Oya, tadi kamu memberiku selamat karena aktingku yang katanya bagus. Tapi, aku rasa aktingmu jauh lebih bagus. Pergi begitu saja seolah tak ada yang akan tersakiti, seperti tak akan ada yang merindukan.”


Kata-kata Dave memicu pergerakan air mataku.


“Dave, aku hanya ingin kamu bahagia,” tuturku halus.


“Lihat! Lihat dan perhatikan wajahku di ponselmu! Apa aku terlihat bahagia? Atau mungkin sedang sangat bahagia?” bentak Dave.


“Aku tak mau kamu mengkhianati istrimu.” Aku mencoba menyampaikan keresahanku.


“Yakin itu alasannya? Padahal aku tak memilihmu.”


“Karena itu aku tak ingin kamu berada pada titik yang sulit.”


Kebohongan? Aku pergi demi keutuhan rumah tanggganya, agar tak lagi menjadi kerikil tajam yang Fay anggap begitu melukainya. “Apa maksudmu?”


“Tadi kamu mengatakan kamu sedang ada acara. Oke, aku tahu acara itu apa. Kamu pakai kemeja putih dengan jas hitam dan dasi kupu-kupu. Mau mendengar tebakanku atau kamu memilih untuk menjelaskan?” suaranya penuh sindiran.


Jika dia mengira aku meninggalkannya karena rencana pernikahan ini, itu jelas salah. Aku sudah mengatakan yang sejujurnya tadi. Namun. terlalu panjang untuk diceritakan saat ini. Belum tentu juga Dave mengerti dalam kondisinya yang tengah emosi.


“Kenapa diam? Ayo jelaskan!” Dave menambah power suaranya. “Oke. Jadi, kamu kembali ke Indonesia untuk menjual apartemen, kan? Bukan semata untuk menemuiku? Lalu untuk apa memberikanku harapan, sementara kamu mau menikah? Apa ini balas dendam darimu untukku?” Mata Dave tampak berkaca-kaca.


Apa lagi ini? Tujuanku ke Indonesia memang bukan untuk menemuinya. Waktu ini aku sedang butuh ketenangan dari teror Add, dan rindu kepada orang tuaku. Semakin rumit. Aku tak tahu harus mulai dari mana untuk memberinya penjelasan.


“Dave, aku sama sekali nggak mengerti dari mana kamu berpikir bahwa aku dendam terhadapmu. Kenapa kamu selalu menuduhku seperti itu? Padahal selama ini aku yang selalu berusaha bisa dekat denganmu. Aku yang selalu memohon agar kamu tak meninggalkanku. Aku yang ribuan kali mengatakan aku mencintaimu.”


Aku berusaha menahan tangis mengingat semua yang sudah aku lewati bersama Dave.


“Lalu, di mana semua itu sekarang? Apa artinya meminta untuk tidak ditinggalkan jika meninggalkan, dan untuk apa ribuan kata cinta jika semuanya omong kosong? Sekarang aku menanggung perasaan ini sendiri. Kamu bilang aku sudah mempermainkanmu. Apa kamu sadar jika saat ini kalimat itu seharusnya kamu ucapkan kepada dirimu sendiri?”


Sebesar itukah perasaan Dave kepadaku? Aku kesulitan menyusun kata untuk membalas ucapannya.


“Dave…. Aku bingung menjelaskannya. Pernikahan ini bukan kemauanku.”


“Lantas kemauan siapa? Aku bisa menerimanya, tetapi aku sulit memahami kebohonganmu.”


“Kebohongan apa lagi? Di matamu aku seorang pembohong?” Aku berbalik kesal karena terus disudutkan oleh Dave.


“Kamu akan menikah dengan perempuan bernama Mayumi itu, kan?” Aku tak bisa menjawab pertanyaanya. “Aku pernah bertanya apa dia kekasihmu, kamu jawab bukan. Apa kamu mencintainya, kamu jawab tidak. Sekarang kamu akan menikah dengannya, apa itu bukan sebuah kebohongan? Aku tak suka caramu menyakitiku dengan kebohongan seperti ini.”


Seakan semua salahku. Seakan aku ini seorang pembohong besar.

__ADS_1


“Aku memang tidak mencintainya. Apa yang aku katakan semuanya itu jujur.” Aku tak bisa lagi membendung air mataku.


“Lantas, jika bukan atas dasar cinta, mengapa kamu memilih untuk menikahinya? Dijodohkan? Jangan berusaha membuat lelucon seperti itu di zaman sekarang, Ken!”


Percakapan ini semakin melebar. Aku tak bisa jika harus menjelaskan dengan cara tidak terstruktur. Baru saja aku mau menjelaskan, Dave sudah melemparkan pertanyaan yang lain.


“Dave, aku tidak bisa menjelaskan jika kamu terus melemparkan sarkasme begini.”


“Oke, aku akan diam. Silakan bercerita!”


Haruskah aku memulai dengan bercerita tentang Add? Dia yang telah membawaku dalam situasi dilematis seperti ini.


  “Selama ini aku berusaha menerka perasaanmu. Apa hanya sebatas sahabat atau lebih seperti yang aku rasakan. Aku selalu dihadapkan ketakutan kamu akan meninggalkanku. Cepat atau lambat, kamu pasti akan memilih untuk berkeluarga. Sekarang itu sudah terjadi.” Aku menghela nafas sejenak, “Awalnya aku kira ini hanya perasaan kesepian, karena aku tak memiliki banyak teman untuk menggantikan kehadiranmu. Ternyata apa yang aku rasakan lebih dari itu. Aku ingin menjadi bagian paling berharga di hidupmu. Tetapi sayang, aku terlambat. Atau aku terlalu jauh berharap. Sekarang, hidupmu sudah lengkap. Maka dari itu, aku tidak mau menghancurkan jalan hidup yang sudah kamu rancang dan putuskan.”


“Aku bosan mendengar penjelasan itu. Sekarang, jika aku memang benar menjadi orang yang selalu kamu inginkan berada di sisimu, katakan kepada semuanya kamu tidak akan menikah dengan Mayumi!”


“Tidak bisa. Aku tidak bisa melakukan itu, Dave.”


“Kenapa?” Dave kembali membentakku.


“Aku tak bisa menyakiti Mayumi dan keluarganya, juga Paman dan Bibiku, orang-orang yang sangat aku sayangi.”


“Dan aku bukan salah satu dari orang-orang yang sangat kamu sayangi itu?”


“Dave, aku juga merasa berhutang budi kepada Mayumi.”


Akhirnya, aku cerita jika aku dan Mayumi sebelumnya hanya berteman. Mayumi sudah menyatakan perasaannya kepadaku, dan aku menolaknya.


Mayumi merupakan sosok wanita yang sangat baik. Dia tidak dendam sedikit pun kala pernyataan cintanya aku kandaskan. Aku yang salah, aku tak bisa menyakiti Mayumi lebih dalam.


Lalu, aku jelaskan kepada Dave bahwa seseorang sudah lebih dulu menggagahiku. Orang yang aku pikir bisa menjadi temanku, tetapi justru memanfaatkan kesempatan untuk menikmati tubuhku ketika aku tengah mabuk. Dave terlihat sangat marah mendengar penuturanku tentang perbuatan Add.


Dave semakin marah ketika aku ceritakan bahwa Add sudah membuatku koma selama seminggu. Dia berujar akan memberikan Add pelajaran. Aku menunjukkan bekas luka di kepala akibat dibentur-benturkan ke dinding oleh Add. Rasa sakit dan trauma, bahkan, masih terngiang di otakku.


Aku tak menceritakan aku pernah mencium Mayumi. Aku hanya mengatakan akan menikahi Mayumi di depan Add hanya agar si Keparat itu pergi dari hidupku. Namun, aku tak sempat mengklarifikasi omonganku. Mayumi sudah lebih dulu bercerita kepada keluargaku dan keluarganya bahwa aku akan segera menikahinya. Saat ini, acara keluarga sedang digelar untuk mempersiapkan pernikahan tersebut.


“Aku akan datang ke sana dan membawamu kembali ke Jakarta. Aku tak mau mendengar cerita seperti ini lagi. Aku yang akan menjelaskan kepada Mayumi dan keluargamu kalau kamu tak serius mengatakan itu.” Emosi Dave tampak semakin membara.


“Jangan Dave! Ini masalahku.”


“Jadi kamu akan tetap menikah dengan Mayumi?”


Aku hanya bisa menarik nafas.


“Percayalah, aku akan menjagamu di sini,” sambungnya sendu.


“Dave. Aku tahu kamu sangat mencintai, Fay. Aku merasakan itu dari awal kamu bercerita akan menikahinya, dan dari caramu bercerita tentangnya. Sudahlah, Dave! Biarkan ini….”


Kepala terasa seperti dibenturkan ke dinding lagi.


“Ken, jangan mengalihkan pembicaraan! Aku akui bahwa aku salah. Tetapi sejak kamu pergi begitu saja ke Jepang, aku sadar bahwa kebahagiaanku hilang sebagian. Aku mohon kamu katakan yang sejujurnya bahwa kamu tidak ingin menikah dengan Mayumi. Jangan menyakiti dirimu sendiri!”


Kali ini aku tak bisa menanggapi ucapan Dave, karena kepalaku semakin sakit.


Aku berusaha memijat kepalaku, namun itu tak membantu sedikit pun meredakan rasa nyeri.


“Ken… Kamu tidak apa-apa? Ken….Ken….”


Aku terpaksa menutup teleponnya, lalu menuju kamar mandi. Pandanganku agak samar. Nyeri di kepala semakin tak tertahankan. Rasanya seperti kejadian waktu itu.


Terdengar ponselku kembali berdering, aku pun membiarkannya. Aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Aku ingin sendiri. Suara-suara yang berkumandang laksana jarum yang menghujam ke dasar kepalaku.


Aku lihat wajah pucatku di dalam cermin. Aku telah terjebak dalam perasaanku sendiri. Sadar, tetapi hanya bisa meratapi sengsara. Ibarat menyelam di dalam salju, semua rasa kini telah beku.

__ADS_1


***


Winter sudah berakhir. Sakura bersemi menyambut kegembiraan pergantian musim. Hokkaido menyuguhkan pemandangan yang baru.


__ADS_2