Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 5: Resolusi


__ADS_3

Aku hanya bisa tertunduk lemas setelah terlibat perdebatan di telepon dengan Fay tadi. Aku bodoh! Aku memang bodoh. Tidak terpikir kemungkinan ponsel Dave dipegang oleh istrinya. Sekarang, sesal telah menyebarkan rasa sakit dan sedih ke setiap sel di tubuhku.


Mengapa perasaan ini begitu perih? Bahkan saat orang tuaku meninggal, aku tak merasakan seperih ini, tak sesedih yang sedang kuderita pagi ini. Apa aku terlalu menyikapi permasalahan ini dengan perasaan?


Sudah beberapa hari kubiarkan malam tak berganti di kamar. Tak mau kuizinkan cahaya matahari masuk melalui jendela. Aku ingin hari tetap malam, dan segala yang terjadi hanyalah sebatas mimpi. Mimpi di malam hari. Sebuah ilusi yang meratapi gelapnya kepenatan hidup.


Berkali kuyakinkan diri jika ini mimpi, nyatanya ini nyata. Berusaha kuat, namun aku membutuhkan pundak seseorang untuk bersandar.


Kali ini, aku beranikan membuka jendela. Cahaya matahari langsung menyengat. Pagi ibu kota! Kududuk di tepi balkon sambil memandang horizontal dan vertikal.


Saat melayangkan pandangan horizontal kulihat gedung-gedung pencakar langit nan megah kepunyaan Jakarta. Luas tak terbatas. Sejauh mata memandang, sejauh itu tak kulihat tepian bumi. Ketika kupandang secara veritkal, terlihat lalu lintas begitu ramai. Semua kendaraan mengantri panjang di persimpangan rambu lalu lintas, menunggu hijau kan datang. Kutengadahkan kepala ke atas, hanya ada langit biru yang luas. Awan-awan putih menghias gambar angkasa dengan apik. Hari yang cerah. Namun, hari yang suram di dalam pikiranku.


Haruskah aku pergi ke tempat terjauh di muka bumi ini? Atau pergi ke dunia lain yang mungkin lebih damai? Akan tetapi, benarkah kedamaian itu akan aku dapati setelah memutuskan untuk pergi? Akankah dia merindukanku? Bisa jadi dia hanya akan menangis sesaat, kemudian melupakan selamanya. Izinkan aku berteriak. Meneriakkan nama yang selalu kutunggu.


Kucoba atur nafas. Sesekali memejamkan mata. Berusaha tenang, mencari secercah ketenangan untuk menentukan langkah yang akan aku tapaki setelah ini.


Tiba-tiba terdengar seseorang seperti sedang menunggu di depan pintu apartemenku. Dia terus menekan bel lalu diikuti mengetuk pintu. Siapa tamu yang sepagi ini datang berkunjung? Saat nanti kubukakan pintu, maka akan kuberi dia hadiah sebuah pukulan. Beraninya menyuruhku untuk melangkah ke tempat yang sedang tidak kuinginkan.


Aku buka pintu, lalu seorang pria berkacamata berdiri di depanku. Aroma kejantanannya menyerbak, menusuk hidungku. Piyama yang tidak begitu tebal yang ia kenakan menempel di badan karena lem keringat. Membentuk bidang simetris dari dada hingga perut.


Tangannya mengepal. Wajahnya merah menyala. Tanpa aba-aba, dia mendorongku. Aku tersungkur ke belakang. Dorongannya memang tidak terlalu kuat, hanya saja aku tidak menduga dia akan mengucapkan salam seperti itu.


Setelah aku memperbaiki posisi berdiri, dia menatapku lalu berusaha mendorong lagi. Kali ini aku sudah siap dan berhasil menahanya sehingga dia tak mampu mengubah posisiku lagi.


Kenapa dia berkunjung dengan penuh amarah? Atau dia sedang menunjukkan kekhawatiran kepadaku? Sikapnya begitu ambigu.


Aku teringat kemarahan dia yang seperti ini saat kuliah dulu. Ketika itu aku pergi berlibur, padahal sedang masa ujian semester. Aku marah kepadanya karena membohongiku. Saat kuajak hangout, dia mengaku sedang sibuk mengerjakan tugas kelompok. Nyatanya, aku melihat dia keluar dari bioskop dengan seorang wanita. Dia menggandeng wanita itu dengan mesra. Aku marah, karena mata kuliah kelompok yang dia kerjakan rupanya berkencan. Aku pun berlibur untuk meredakan kekesalan.


Sepulang berlibur dari Lombok, tak kusangka dia sudah menunggu di apartemenku. Dia tidur di atas sofa. Aku memang sengaja memberikan card kunci cadangan apartemenku kepadannya. Tujuannya, karena hanya dia sahabatku. Jadi dia bisa masuk ke apartemenku tanpa perlu menekan bel, sama seperti ketika dia masuk dalam sejarah hidupku.


Kala terbangun, dia mendorongku. Tak ada kata yang terucap, tetapi dia seperti ingin memukulku. Aku menantangnya untuk melepaskan amarah. Dia malah diam dan kemudian justru memelukku. Dia menceritakan kekhawatirannya tentangku yang tiba-tiba saja menghilang. Semua teman sekelas katanya dia tanya, namun tak ada satu pun yang mengetahui aku ke mana. Padahal dia tahu, aku nyaris hanya memilikinya sebagai teman di kelas. Jadi, mana mungkin aku cerita kepada mereka. Berkomunikasi dengan mereka pun terbilang sangat jarang.


Dia begitu marah setelah aku jelaskan bahwa aku pulang dari liburan. Katanya mengapa berlibur saat ujian semester. Dia mengatakan aku tak punya pikiran. Namun entah mengapa saat dia mengatakannya, aku justru begitu tersentuh.


Dia juga menamparku sekali, memintaku untuk jujur atas hal yang melatarbelakangi liburanku. Aku pun mengatakan hal yang sebenarnya. Aku kecewa atas kebohongannya. Ternyata dia lebih memilih jalan dengan orang lain dan mengatakan kepadaku sedang kerja kelompok.


Aku yang kesal meminta dia untuk pergi saja dan tak usah lagi mengatakan aku sahabatnya jika ia masih akan membohongiku. Namun, dia malah berusaha memelukku sambil mengatakan kata maaf. Aku tetap mendorongnya keluar dari kamar apartemenku. Aku ingin dia merenungi akibat kebohongannya.


Esoknya, dia tiba-tiba sudah ada di apartemenku lagi. Aku kaget ketika terbangun dia sedang menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Aku tak mungkin bisa berlama-lama mendiamkannya. Jika dia meninggalkanku, maka aku akan sangat menyesal.


Pertengkaran yang terjadi membawa hikmah. Persahabatan kami terjalin dengan lebih erat. Di sisi lain, aku mulai memikirkan tentang rasa yang sebenarnya dia miliki untukku.


Mungkinkah kali ini sama seperti waktu itu? Dia tengah menunjukkan kekhawatirannya? Posisinya berdiri hanya sekira dua langkah di depanku. Aku mendekat dengan maju satu langkah. Tetapi, dia berusaha mendorongku lagi. Masih bisa kuantisipasi gerakannya. Kupeluk saja dia. Aroma khas dan lembap tubuhnya menyebrang ke tubuhku. Dia tak bergeming kala aku memeluknya.


Setelah beberapa saat tubuhnya berhasil kuraih, aku merasa semakin emosional. Aku seperti tengah berhasil menangkap buruan. Tentu tak mau dengan mudah melepaskannya.


Tiba-tiba dia mengeluarkan tenaga yang begitu kuat saat pelukanku semakin erat. Ia berhasil mendorong tubuhku hingga aku terjatuh dengan posisi duduk. Tenaganya berkali lipat lebih besar dariku. Wajar saja, dua hari terakhir ini tubuhku tak bersenggama dengan karbohidrat.


“Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak lagi menghubungiku, dan menggangu rumah tanggaku,” ucapnya membara sambil mengarahkan jari telunjuk ke wajahku.


Dia marah. Benar-benar marah. Kenapa? Istrinya bercerita tentang percakapan tadi pagi denganku. Kenapa dia tidak meminta penjelasanku dahulu? Mengapa langsung mendorongku?


Aku berusaha bangun. “Apa begini caramu memperlakukan sahabatmu?” tanyaku meminta penjelasan atas sapaan yang ia lemparkan.

__ADS_1


“Apa begini caramu memperlakukan sahabatmu? Hah? Jawab!” Dia malah membalikkan pertanyaanku disertai suara yang berkali lipat lebih keras. Dentumannya membuatku takut. Sikapnya membuat batinku kelimpungan.


“Apa salahku?”


“Kenapa kamu harus mengganggu istriku?” Suaranya masih sekencang yang tadi.


Apa? Mengganggu? “Aku tak pernah mengganggu istrimu. Aku berusaha menghubungimu, tetapi justru yang mengangkat istrimu.”


“Apa hutangku kepadamu sehingga kamu terus berusaha menghubungiku?”


“Hutang?” Satir apa yang dia maksud. “Aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku rindu persahabatan kita yang dulu. Setelah menikah kamu banyak berubah.”


Mendengar pernyataanku, dia lalu menarik kaos yang aku kenakan. Aku pun dipaksa berdiri.


“Berubah? Aku yang berubah? Atau kamu yang tidak mau berubah?”


Dia memberikan tatapan yang tajam. Aku berusaha melepaskan genggamannya di bajuku, namun energi yang kumiliki tak sanggup menandingi. “Apa maksudmu?”


“Kamu tahu aku sudah menikah. Seharusnya kamu bisa memahami keadaanku. Kita masih bisa bertemu seperti dulu. Tapi kamu juga harus tahu, aku punya prioritas lain. Bersikaplah lebih dewasa!”


“Lalu apa maksud dari istrimu yang menyuruhmu mengatakan kepadaku supaya aku tak lagi mencarimu?”


Akhirnya, dia melepaskan genggamannya. Aku pun terdorong mundur dua langkah. Aku mengerti dia sedang dalam amarah besar.


“Itu perintahku. Itu kemauanku,” suaranya menggaung dengan keras.


Aku diam, dia pun turut. Seketika hening. Entah berapa menit. Namun, aku merasa cukup lama suasana tanpa suara. Hanya bisa duduk di atas tempat tidur. Entah apa yang harus aku katakan. Sepertinya ini akan menjadi akhir kisah perjalanan panjang dua sahabat. Dia tampak mulai membenciku.


“Aku memintamu menjauh dariku, karena aku berharap dengan begitu istriku nantinya akan bisa menerimamu. Kalian berdua adalah orang-orang yang berharga dalam hidupku. Aku butuh waktu untuk kalian saling memahami posisi masing-masing. Meski mungkin akan terus ada perselisihan di antara kalian berdua, setidaknya aku dengan perlahan terus berusaha membagi waktu untukmu juga secara proporsional. Biarkan aku meredam kecurigaan istriku dahulu. Aku memintamu mengalah sejenak, tapi kamu justru bertindak dengan brutal.” Nada suaranya mulai enak didengar.


“Lalu?” selanya.


“Saat keadaan memisahkan kita, aku berpikir untuk menjalani hidup begitu adanya. Kembalinya aku ke Bali, aku anggap sebagai langkah kehidupan baru yang harus aku jalani. Aku selalu merindukanmu, tetapi aku sadar cepat atau lambat kita tidak bisa seperti dulu. Aku senang, perpisahan terjadi bukan disebabkan oleh hal yang tidak baik. Kemudian, aku mulai terbiasa untuk tidak setiap hari meneleponmu. Aku juga sadar jika setiap hari meneleponmu, kamu pasti merasa terganggu. Aku ingin kamu yang lebih dahulu menyampaikan rindu. Hanya saja, sepertinya kamu terlalu sibuk hingga seminggu sekali pun tak ada menanyakan kabarku. Sementara aku tak cukup kuat dalam menahan rindu. Aku tak bisa menjauhkan ponsel dari genggaman dan nomormu dari jangkauan. Kamu adalah memoriku yang paling indah.”


Aku butuh menghela nafas sejenak setelah cerita panjang tersebut. Dia mengambil posisi duduk di sampingku. Mungkin untuk mendengar ceritaku lebih cermat atau sudah lelah berdiri. Entahlah. Aku melihatnya sudah tidak seganas seperti saat datang.


Maka, kulanjutkan lagi bercerita, “Lalu, kamu menjadi intim menelepon. Setiap hari bercerita tentang rencana pernikahanmu. Aku senang mendengarnya. Tak ada perasaan selain bahagia kala itu. Aku hanya berpikir kamu sudah memiliki teman hidup yang baru, yang kamu pilih untuk melengkapi kebahagiaanmu.”


Dia khidmat mendengarkanku.


“Aku tak merasa tergantikan, karena aku sadar kita belum tentu bertemu lagi. Aku belum tentu kembali ke Jakarta,” tegasku sambil layangkan pandangan sejenak mengingat moment tersebut.


“Tapi sejujurnya, ada sedikit kesedihan yang waktu itu aku rasakan. Bukan tentang pernikahanmu, namun aku seakan tidak pernah merasakan kamu juga merindukanku. Tapi sudahlah, aku bahagia mendengarmu bahagia, meski tak melihatmu secara langsung tampil dalam balutan jas. Karena di saat bersamaan, aku harus menemani ayahku yang menjalani pengobatan di Singapura.” Aku mulai menangis mengenang ayahku, sementara sahabatku tampak semakin tertunduk.


“Kemudian ayahku meninggal. Usaha keluarga bangkrut, karena tak terurus. Semua aset dijual untuk pengobatan ayah. Tak ada alasanku untuk tinggal lagi di Bali, tak ada lagi nasab di sana. Aku kemudian mencari pekerjaan di Jakarta. Aku pikir setidaknya jika bekerja di Jakarta sesekali bisa bertemu denganmu. Tuhan mengabulkan keinginanku. Sebuah perusahaan start up di kota ini menjadikan aku pegawainya. Lalu, kita bisa bertemu kembali. Kulihat kamu begitu bahagia saat bertemu lagi denganku. Atau mungkin aku terlalu berlebihan menafsirkannya. Kamu pun mencuri-curi waktu agar bisa bertemu denganku. Katamu, istrimu begitu pencemburu. Aku tak memaksamu untuk mengenalkanku kepadanya. Namun, kamu ingin aku dan istrimu juga bisa berkawan.”


Setelah begitu panjang aku bercerita, dia berujar dengan sedikit pilu, “Maaf jika aku yang salah. Tidak seharusnya aku menyuguhkan keadaan yang berat ini untukmu.”


“Tidak. Mungkin aku yang seharusnya tak muncul di sini. Aku yang tidak bisa mencegah hal ini terjadi lagi. Perasaan nyaman dan selalu ingin bersamamu. Ruang sosialisasiku yang terlalu sempit sehingga hanya kamu dan kamu lagi.” Kutatap wajahnya, dia seperti tengah berpikir keras.


“Aku bingung.” Ucapan itu keluar mewakili raut wajahnya.


“Maaf, aku sudah membuatmu bingung. Seperti katamu, aku tak pernah berubah. Aku masih mencintai dan menyayangimu seperti dulu. Kamu, sahabatku yang selalu berusaha mengajarkanku tentang kebaikan hidup, yang selalu menjadi pengingat saat aku tenggelam dalam kesalahan, yang menjadi penghibur kala aku dilanda keresahan. Tapi benar kata istrimu, mungkin aku telalu jauh menganggap rasa yang kamu berikan sebagai sahabat. Aku terlalu dalam merasakan ini semua. Aku mencintaimu!!!” Kalimat terakhir begitu saja berteriak dari bibirku.

__ADS_1


Aku memang dari tadi ingin berteriak. Menyuarakan isi hati langsung di hadapannya tanpa ada pembatas rasa. Hah!!! Aku juga bingung tentang perasaan ini.


Melihat aku yang berteriak sambil berderai air mata, dia menepuk-nepuk pundakku. Ada rasa lega saat berhasil menggungkapkan semua keluh kesah kepadanya. Tetapi, aku pun merasa begitu berdosa melihat wajahnya tampak begitu lelah dengan masalah ini.


“Kita masih bisa bersahabat seperti dulu.” Dia berusaha memelukku. Sentuhan yang dia berikan semakin getir untuk ditafsir. Pikiranku tak berhenti berkecamuk.


Dua minggu ini dia mengatakan tengah berupaya membagi waktunya denganku juga, tetapi mengapa dia selalu mengabaikan telepon dan pesan singkatku. Dia juga menolak aku temui di kantornya. Mungkinkah saat ini dia hanya sedang berusaha menghiburku saja? Aku rasakan ada kebohongan dalam ketenangan yang dia berikan kepadaku. Aku tahu dia hanya tidak bisa melihat seseorang menangis di depannya.


Kuputuskan untuk menarik tangannya. Dia tidak menghardik, hanya sedikit terkejut. Tenang saja!


Aku mendorongnya keluar dari apartemenku. Dia berusaha menahan. “Ada apa ini? Ada apa, Ken?”


Aku abaikan pertanyaannya. Aku terus dorong dia sekuat tenaga. Dia pun terlihat pasrah saat aku memintanya keluar dari apartemenku.


Kusandarkan tubuh di pintu. Terdengar dia memanggil namaku sembari terus mengetuk dan meminta penjelasan. Aku ingin tahu sejauh mana dia serius dengan ucapannya tadi. Namun tak lama, suaranya tak terdengar lagi. Aku seperti berada di ujung harapan.


Ada kelegaan dalam diri saat dia sudah mau mendengarkan perkataanku yang begitu panjang. Meski ini bukan yang aku harapkan, tetapi aku harus bijak memutuskan.


Aku beranjak menyusuri setiap sudut apartemenku. Merapikan baju dan bekas makanan yang berhari-hari dibiarkan berserakan.


Kemudian, aku mengambil ponselku. Aku sudah lebih tenang. Mungkin seperti ini seharusnya aku menjatuhkan pilihan untuk memberi ketenangan dalam hidup. Kutelesuri aplikasi WhatsApp. Setelah menemukan kontak yang dicari, aku kirim sebuah pesan singkat.


[Uncle, I will go to Hokkaido soon.]


Balasan pun datang dengan cepat.


[Are you serious? Oh, I am so happy to hear that.]


Ibuku berasal dari Jepang. Beliau tiga bersaudara. Ibuku yang tertua. Pamanku yang di Hokkaido nomor 2 dan Bibi yang di Tokyo nomor 3 atau bungsu.


Sebelum meninggal, baik Ibu maupun Ayah sempat meminta aku tinggal bersama Paman atau Bibi. Katanya biar ada yang membantu merawatku. Ayah, bahkan, selalu mengatakan hal itu kepada Paman dan Bibi semasa beliau sakit.


Ayah meninggal setahun yang lalu akibat meningitis, sedangkan Ibu setahun sebelumnya. Ibu menderita kanker paru-paru yang baru kami ketahui setelah memasuki fase stadium 4 atau sudah sangat parah.


Keluarga dari ayah entah sekarang berada di mana. Beliau hanya bercerita semasa kecil tinggal di panti asuhan. Setelah beranjak remaja, beliau meninggalkan panti tersebut untuk memperjuangkan hidup ke Jakarta.


Di Jakarta, Ayah bekerja sebagai pelayan dari satu rumah makan ke rumah makan lainnya. Lalu, ada majikan yang begitu baik kepadanya. Kebetulan mereka tak memiliki anak. Ayah diangkat sebagai anak dan disekolahkan hingga perguruan tinggi. Sayangnya, ketika Ayah sukses, mereka meninggal akibat musibah kebakaran yang menimpa rumah sekaligus tempat usaha mereka. Saat itu Ayah sedang magang di sebuah hotel di Bali.


Kisah hidup Ayah membuatku bangga kepadanya.


Ayah dulu kuliah di jurusan Manajemen Perhotelan. Beliau sangat suka dunia pariwisata dan bisnis. Beliau senang bertemu dengan banyak orang, karena itu memberikannya banyak pengalaman dan ilmu. Berbeda sekali dengan aku yang sering gugup bertemu orang baru.


Dengan tekad yang kuat, Ayah berhasil membangun resort di Bali. Bisnis yang juga mempertemukannya dengan seseorang yang telah melahirkanku. Kala itu Ibu sedang berlibur bersama keluarganya dan menginap di resort Ayah. Dua hati saling kepincut sejak pandangan pertama, hingga Ibu enggan untuk pulang ke Jepang. Begitu penuturan Ayah.


Dibanding dengan Ibu, aku lebih dekat dengan Ayah. Meskipun begitu, kehilangan mereka sama menyakitkannya. Hidupku terasa semakin sepi nan sunyi.


Ayah dan Ibu selalu menganggapku masih anak kecil. Ayah selalu khawatir tak ada yang menemaniku saat dia sudah tak ada di dunia ini lagi. Ibu pun sebelum meninggal pernah berpesan kepada saudara-saudaranya supaya merawatku seperti anak kandung mereka sendiri. Malah mereka sudah menyiapkan tempat tinggal dan pekerjaan untukku di Jepang. Namun, aku merasa sudah dewasa. Aku tak boleh menggantungkan nasib kepada orang lain. Di usiaku yang saat ini menginjak 27 tahun, sudah sepatutnya aku berjuang atas hidupku sendiri.


Sekarang, keadaan membawaku ingin bertemu Paman dan Bibi.  Aku ingin membekukan masalah dengan musim salju yang sedang berlangsung di Jepang. Niatan meninggalkan Indonesia muncul ketika bercerita panjang kepada sahabatku tadi. Sepertinya ini yang terbaik. Nanti aku tinggal memutuskan untuk menetap dengan tenangnya suasana alam bersama Paman, atau kembali menikmati ramainya kehidupan kota dengan tinggal bersama Bibi.


Hal terpenting saat ini, aku sudah menemukan sebuah kepercayaan diri untuk mengambil keputusan. Aku tak mau bergulat dengan kisah ini lagi. Aku tak mau terus memikirkannya tanpa kepastian. Aku takut jika memaksakan tinggal di sini justru akan semakin membuatku diliputi kegelapan. Kesempatan untuk hidup yang lebih baik, itu pilihan yang harus aku ciptakan sendiri. Lagi pula, dia tak akan benar-benar merasakan kehilangan lagi jika aku jauh dari pandangan matanya.


Rasa yang terlalu dalam terhadap sahabatku, aku sendiri tak tahu apa namanya dan sejauh apa batasannya. Terkadang aku berpikir, mungkin rasa ini hanya sebatas karena seringnya kesepian yang aku alami. Namun di sisi lain, aku merasakan ketenangan dan kenyamanan yang tak bisa dijabarkan saat bersamanya. Tadinya aku ingin memarahi sahabatku itu, karena dia juga membalas rasa yang aku rasakan kepadanya. Padahal jika kita awalnya biasa, aku tak mungkin berharap sekeras ini.

__ADS_1


Semoga waktu lebih cepat menghapuskan anganku tentangnya. Sejujurnya, aku pernah bermimpi mencium bibirmu, Dave.


__ADS_2