
Hari sudah siang. Setelah tidur sebentar, aku merasa begitu lapar. Tak lama, bel berbunyi. Aku berharap ada orang yang mengantarkan makanan. Dave? Tidak mungkin. Aku masih saja terus berkhayal tentangnya. Ini sudah gila!
“Ken, udah makan siang?” tanya Tante Selly.
“Belum.”
“Ya udah, kita makan siang bareng yuk sekalian ngobrol-ngobrol. Tante sengaja masak banyak karena ada kamu.”
Entah kebetulan atau keberuntungan. Tetapi aku sedang tak bisa menolak rezeki ini, perutku sudah sangat lapar.
Aku, kemudian, ingat tadi pagi Tante Selly mengatakan ada teman-temanku yang datang mencariku kemari. Siapa mereka? Salah satunya jelas Dave, tetapi yang lainnya, aku tak punya bayangan dia siapa.
“Makanannya enak sekali, Tante. Tante memang dari dulu jago masak,” pujiku dengan rasa syukur. Sudah lama tak makan makanan khas Indonesia seperti Rendang, Terong Balado, Perkedel, dan Soto Betawi ini. Makanan yang memang mengandung kolestrol tinggi, tetapi Tante Selly sudah menyediakan juga lemon hangat untuk menetralisirnya.
“Kamu bisa saja. Ini karena kamu kebanyakan makan Sushi, Sashimi, dan Ramen di sana.”
“Itu betul, tapi masakan Tante memang tak tertandingi.”
“Kalau begitu, ayo tambah lagi. Yang banyak ya makannya, kalau bisa dihabiskan.”
Kalau makan yang banyak, itu aku bisa. Tetapi menghabiskan rendang yang sepertinya satu kilogram, aku tak sanggup. Meski itu makanan favoritku.
“Oya Ken, Tante mau nyambung cerita sama kamu tentang teman-temanmu yang cari kamu ke sini. Mereka datang di hari berbeda, laki-laki dan perempuan.”
Baru saja aku mau bertanya, Tante Selly lebih dulu menjelaskan.
“Perempuan?” Aku makin penasaran, sebab aku tak mempunyai teman dekat perempuan. Bahkan jumlah temanku saja bisa dihitung dengan jari.
“Iya. Intinya, mereka nanya-nanya kamu ke mana, kamu kapan pulang, kamu kapan perginya, karena apa perginya, banyak deh. Kalau sama yang perempuan, Tante sampai lama ngobrol-ngobrol di sini. Tante lihat dia sangat antusias menanyakan tentang kamu.”
Aku semakin ingin tahu dengan cepat siapa perempuan yang mencariku itu.
“Apa dia mantanmu?” lanjut Tante Selly.
“Ciri-cirinya seperti apa, Tante?”
“Dia cantik, tinggi semampai, ramah, pas ke sini dia sedang hamil muda.”
“Hamil?” Aku tak pernah menghamili perempuan.
“Iya, tapi bukan kamu yang menghamilinya, kan?!. Hehe…. Tante bercanda, Ken. Dia sudah punya suami. Bilangnya sih teman kamu. Tapi, Tante lupa tanya lebih detil. Cuma Tante ingat namanya itu…..”
“Siapa namanya, Tante?” Aku sangat penasaran.
“Fay?”
“Fay?” Aku mencoba memastikan.
“Iya.” Lalu Tante membuka ponselnya dan menunjukkan foto berdua dengan Fay. “Nih fotonya. Tante sempat selfie, soalnya dia orangnya ramah dan baik. Terus lagi hamil, jadi mengingatkan Tante sama menantu Tante yang di Amerika sana yang juga sedang hamil.”
Tante Selly tampak bersemangat mengenang perkenalannya dengan Fay. Ya, itu Fay. Lantas, ada apa dia mencariku? Mau melabrakku lagi? Atau memastikan aku sudah pergi?
“Kapan dia ke sini?”
“Dua hari yang lalu. Sayangnya, Tante lupa meminta nomor teleponnya. Kamu kabari saja dia kalau kamu ada si sini.”
“Heem….”
Dua hari yang lalu Fay ke sini. Apa Fay tahu jika Dave dan aku bertemu di Hokkaido? Rasanya tidak. Aku sudah berusaha menghindar saat dia menelepon Dave pas menonton festival itu. Selebihnya saat bersama Dave, aku tak melihat dia menelepon.
Apa Dave bercerita dia bertemu denganku? Sepertinya tidak mungkin juga. Apa namaku masih menggaung dan memicu masalah di rumah tangga mereka? Ah, aku sudah tidak lagi terikat kontak dengan Fay. Kecuali, dia yang masih mengkambinghitamkan semua prahara kepadaku. Ini semakin membuat kehidupanku tidak jelas.
“Ken, Tante sarankan kalau pergi kabari teman-teman kamu, biar mereka nggak bingung mencari kamu. Dulu yang laki-laki juga tampak khawatir banget pas Tante bilang kamu ke Jerman dan mungkin nggak balik lagi. Tahunya Tante salah dengar, kamu ke Jepang bukan ke Jerman.”
“I...iya, Tante.”
“Ayo, lanjut lagi makannya!”
Aku masih belum bisa menemukan petunjuk yang membuat Fay sampai mencariku ke sini. Jika masih terkait masalah yang dulu, aku sudah menuruti permintaan dia dan juga suaminya. Aku sudah menjauh dari rumah tangga mereka. Aku tak pernah menghubungi Dave. Kami bertemu di Hokkaido pun di luar kendaliku.
Keesokan harinya, aku masih terus dihantui teka-teki mengenai Fay yang datang ke apartemenku. Ini pasti terkait dengan Dave. Padahal, aku sudah tidak lagi mengambil waktu suaminya. Aku masih punya perasaan untuk tak menyakiti dan merampas kebahagiaan orang lain.
Dave! Aku harus menemuinya. Aku tidak bisa terus dilabeli sebagai pengganggu.
Sekarang lebih baik aku siapkan hati dan mental. Aku akan menemui Dave di jam pulang kantor.
Setelah bersabar menunggu sore, aku memesan taksi menuju kantor Dave.
Kacau! Aku melanggar janjiku sendiri dengan berharap bisa bercumbu. Padahal sebelum pergi, aku meneguhkan hatiku jika ini bukan untuk mencairkan rindu, tetapi untuk memastikan agar aku tak lagi dibawa dalam rumah tangganya.
“Lupakan hasrat tersebut! Fokus pada tujuan utama!” ujarku mengingatkan diri sendiri.
Setiba di depan kantor Dave, aku tetap berada di dalam taksi. Aku meminta tolong kepada sang supir jika melihat mobil Dave keluar untuk memberhentikannya. Kuberi tahu ciri yang pasti yaitu nomor plat. Semoga Dave masih menggunakan mobil yang sama.
Hampir satu jam menunggu, tetapi mobil Dave tak terlihat keluar. Aku nyaris putus asa, karena jam kantor sudah berlalu dari tadi.
Kemudian, Pak Supir berjalan menghampiriku. Terlihat jelas dia bersama Dave. Aku pun membuka kaca mobil.
“Ken?” Dave memastikan ketika wajah kami berhadapan.
“Bisa mengobrol sebentar di tempat biasa?”
“Tentu. Ayo pindah ke mobilku!”
Dave berusaha membuka pintu taksi dan mengajakku ke mobilnya.
__ADS_1
“Tak perlu. Bisa kita berangkat sekarang? Aku janji tak akan menyita waktumu lama.”
Namun, dia memaksaku untuk pindah ke mobilnya.
“Ayo Pak, kita berangkat!” perintahku kepada Pak Supir sambil menutup kaca. Dengan sigap dia ke posisi kemudi. Dave pun berlari menuju mobilnya.
Aku tidak mau pindah ke mobil Dave, karena khawatir tak bisa menahan rasa. Terlebih melihat sikapnya yang menurutku aneh.
Setelah terlibat pertengkaran kala itu, dia tak pernah menunjukkan sikap memaksa seperti tadi. Apa karena dia merindukanku? Hah, tampaknya aku yang tak bisa menepis harapan itu dari pikiranku. Ayo Ken, jangan terbawa perasaan!
“Ken, ini beneran kamu?” tanya Dave ketika kami sudah duduk berhadapan di sebuah kafe di kawasan Menteng tempat kami biasa hangout. Ekspresinya perpaduan antara tak percaya dan rindu. Ya, semoga aku tidak salah menafsirkannya.
“Sorry Dave, aku ganggu waktu pulang kamu.”
“Kapan kamu tiba di Jakarta?”
“Kemarin.”
“Kenapa tidak mengabariku?”
Dave antusias melihatku? Ini mungkin hanya perasaanku saja. Aku bahagia bisa sedekat ini lagi dengan dia. Namun, aku berjanji untuk tidak membawa perasaanku ke dalam pertemuan ini.
“Kamu makan pesan apa? Seperti biasa atau mau yang lain?” tanya lagi Dave.
Aku tak bisa melepaskan tatapanku darinya. Hal yang membuatku tersentuh, dia terus mengembangkan senyum memancing kediamanku.
Lalu, dia melambaikan tangan untuk meminta pelayanan datang.
“Fruit Tea 2, terus Pan-Seared Salmon juga 2,” ucap Dave kepada pramusaji.
Namun aku kurang setuju dengan pesanan Dave, “Aku pesan Fruit Tea saja.”
“Yakin?” Kali ini Dave balas menatapku. “Aku tahu kamu belum makan, kan?”
Aku hanya bisa sedikit menggerakkan bibir dan mengalihkan pandangan, karena dia juga memegang tanganku.
“Pesanannya sesuai yang tadi saya pesan saja ya, Mbak,” tegas Dave.
“Baik, Pak. Mohon menunggu sebentar ya!”
Setelah pelayan pergi, aku semakin dibuat tidak mengerti dengan sikap Dave. Apa alasannya tiba-tiba kembali menjadi perhatian kepadaku? Aku mohon, jangan membuatku salah paham!
“Dave, aku di sini cuma sebentar.”
“Iya aku tahu, tadi kan kamu sudah mengatakan itu.”
Dia juga membuatku bingung harus memulai dari mana untuk bertanya terkait kondisi rumah tangganya.
“Apa yang membuatmu kembali ke sini? Apa karena aku?”
“Dave, jangan salah paham! Aku ke sini bukan bermaksud untuk….”
Ketika aku mulai menjelaskan, pesanan datang.
“Kita makan saja dulu, baru mengobrol.”
Ini pertama kalinya aku tak begitu berselera makan di hadapan Dave. Tetapi, aku harus cepat menghabiskan makanan ini agar pertemuannya pun cepat diakhiri.
“Sebelumnya aku minta maaf, aku tak bermaksud ingin ikut campur dalam urusan rumah tanggamu.” Kata-kata ini sudah aku rancang dari semalam. “Apa ada masalah dalam rumah tanggamu?”
“Masalah? Maksudnya?” Dave terkejut. Aku sudah menduga ekspresi itu akan keluar.
“Em… Maksudku begini. Hubungan kamu dan Fay baik-baik saja, kan? Nggak lagi ada masalah yang….” Ah, semoga penyampaianku tak menyinggungnya, “Yang membuat kamu telat pulang ke rumah misalnya. So…sorry… Sekali lagi, aku bukan ingin….”
“Hubungan kami baik-baik saja. Memangnya kenapa, Ken?”
“Syukurlah kalau begitu.”
Jelas itu tak menjawab misteri di kepalaku. Tetapi mungkin karena penyampaianku juga kurang baik, Dave balik membrondongku pertanyaan.
“Apa Fay menghubungimu? Kapan? Apa yang dia katakan?” Wajah Dave mendadak berubah serius.
“Nggak, Dave. Maksudku bukan ke arah situ.”
Nyaris saja. Jika aku berbicara yang sebenarnya, Dave pasti akan membicarakannya juga kepada Fay.
Aku tak mungkin bertanya langsung kepada Fay alasannya datang ke tempatku kemarin lusa. Satu-satunya titik terang yaitu mencoba bertanya kepada Dave tentang kondisi rumah tangganya. Sayangnya, aku memang tak berbakat menjadi wartawan.
“Lalu apa yang membuatmu bertanya seperti itu?”
Pelan-pelan aku menjelaskan, “Begini Dave. Aku tahu aku sudah membuat kegaduhan dalam rumah tanggamu beberapa bulan yang lalu. Tetapi sejak kejadian itu, aku juga sudah bertekad tak akan menemuimu lagi. Aku memutuskan untuk pergi dan tak akan kembali, melupakanmu selamanya. Melupakan pengkhianatan perasaanku terhadapmu yang ternyata menginginkanmu lebih dari sahabat. Maka dari itu, aku juga mohon lupakan aku yang pernah dianggap sebagai pengganggu dalam rumah tanggamu. Aku tak mau terus dicap sebagai penyebab masalah.”
Tiba-tiba saja Dave mencengkram tanganku dengan kencang, “Jadi itu yang membuatmu jauh-jauh kembali ke sini. Apa yang Fay katakan?”
“Dave. Ini bukan karena Fay menghubungiku atau yang lainnya. Ini hanya uneg-uneg yang ingin aku sampaikan saja.”
“Jadi itu uneg-unegnya? Lalu, kenapa kamu ke sini? Bukannya kamu sudah bisa melupakanku dengan tinggal di Jepang? Kamu bahkan bisa berakting dengan sangat menyakinkan di depan Pamanmu jika kita baru pertama bertemu. Padahal aku berharap kamu memperkenalkan aku sebagai sahabatmu.”
Pikiranku sudah buntu. Aku tak mau menjadi pusat perhatian, karena berdebat di tempat umum seperti ini.
“Oke. Aku yang salah dari awal. Apa itu yang membuatmu dendam?” lanjut Dave sembari bangkit dari kursinya.
“Dendam? Terlintas pun tidak.” Aku turut berdiri. “Terima kasih sudah mau aku temui. Aku pulang.” Suasana mulai tidak kondusif. Aku tak ingin terbawa ke masa lalu lagi.
Setelah membungkukkan badan, aku berjalan keluar. Setidaknya, aku puas sudah bisa mengontrol diriku di hadapan Dave. Tak ada kata-kata pengharapan yang keluar dari mulutku yang sebenarnya masih ada di lubuk hati terdalam.
__ADS_1
“Akh…” Terdengar suara Dave sedikit menggebrak meja sehingga menghasilkan bunyi peralatan makan beradu. Namun, aku tak mau menoleh ke belakang untuk memastikan kekesalannya.
Jalanan tampak begitu macet. Aku mencoba memesan ojek online agar lebih cepat sampai ke apartemen. Entah kapan lagi aku menginjakkan kaki di Jakarta. Ini menjadi malam perpisahan yang berat, karena sekaligus menghapus kembali segala kenangan di masa lalu bersama Dave.
Besok pagi aku berangkat ke Bali. Menginap beberapa malam di sana, lalu langsung terbang kembali ke Tokyo. Ke tempat Bibi sebentar, kemudian baru ke Hokkaido. Jika Bibi memaksa aku menginap, aku akan menginap semalam. Begitulah rencana perjalananku.
“Ken….” Terdengar suara Dave memanggil. Aku berbalik untuk memastikan. “Aku antar kamu pulang.”
“Nggak usah, Dave. Aku nggak mau istrimu lama menunggumu pulang. Lagi pula, aku sudah order ojek online.”
Tanpa disangka, Dave merampas ponselku. Dia membatalkan ojek online yang aku pesan.
“Ayo!” ajaknya memaksa dengan menjadikan ponselku sebagai sandera.
Aku tak berdaya. Aku ikuti kemauannya atau mungkin lebih tepat tawarannya.
“Aku heran ada seseorang yang jatuh cinta, tetapi dia tidak mau memperjuangkan cintanya.” Dave membuka topik saat laju mobil tertahan oleh lampu merah.
“Siapa yang kamu maksud?”
“Ah, sudahlah.”
Dave menyindirku? Jika iya, mengapa dia melakukan itu? Apa maksudnya? Biarlah. Dia memang sedang sangat sulit ditebak.
Sepanjang jalan kami lebih banyak diam. Sesekali saling mencuri pandang, namun tetap tak ada paragraf yang keluar dari mulut kami.
“Aku turun di sini,” pintaku ketika sudah sampai di depan gedung apartemen.
Namun, Dave tak mau menghentikan mobilnya. “Aku bilang akan mengantarmu pulang. Jadi aku akan memastikan hingga kamu masuk ke kamar.”
Benar-benar sangat sulit menebak isi pikiran Dave.
Dia pun mengantarku sampai di parkiran basement. Ketika mobil berhenti, aku bergegas untuk. “Thank you, Dave.”
Lagi, dia menghalangiku. Aku kembali ke posisi duduk semula.
“Kamu yakin mau pergi lagi?” tanyanya.
“Iya.”
“Kamu yakin tak akan merindukanku lagi?”
“Aku akan berusaha menahannya,” jawabku mantap.
Tetapi sejurus kemudian, Dave merangkul leherku. Dengan cepat dia memposisikan bibirnya tepat di bibirku. Sementara tangannya yang kiri merangkul leherku, tangan kanannya menekan daguku.
Awalnya, aku terpancing untuk mengimbangi gerakan bibirnya. Tidak! Ini utopia. Hanya akan membuat hidupku semakin berat di kemudian hari.
Dengan mendorong Dave agak kenceng, aku berhasil melepaskannya. Lalu, mengatur nafas yang terengah-engah.
“Dulu kamu memintaku untuk tidak meninggalkanmu. Sekarang aku minta kamu untuk tidak meninggalkanku. Adil, kan?” Perkataan Dave membuat suasana serius nan haru.
“Tidak. Sorry, Dave!”
“Kenapa?”
“Sudah beberapa kali aku mengatakan aku mencintaimu. Perasaanku bukan lagi sebagai sahabat kepadamu. Aku juga sebenarnya tidak menginginkan perasaan itu terus tumbuh secara liar. Tidak, Dave. Aku bahkan berharap kita seperti pertama bertemu agar bisa seperti biasa. Tapi, aku sudah tidak bisa. Aku sudah terlalu dalam terjebak dalam perasaan ini. Jika aku biarkan, aku akan terkubur bersamanya.”
Dave membentakku, “Coba katakan sekali lagi bahwa kamu mencintaiku.”
“Aku sudah terlalu banyak mengatakannya.”
Kemudian, dia menutup wajah dengan kedua tangannya. “Andai saja aku bisa memilih.”
“Sekarang kita sudah sampai di titik untuk menjalani hidup masing-masing, bukan?!”
“Aku masih ingin bertemu denganmu besok?”
Ucapan Dave menjadi sangat random.
“Besok pagi aku ke Bali untuk mengunjungi makam kedua orang tuaku. Setelah itu aku kembali ke Jepang.”
“Kalau begitu besok pagi aku akan mengantarmu ke bandara.”
“Tak perlu. Aku berangkat Subuh.”
“Aku bisa datang tepat waktu.”
“Aku sedang ingin berangkat sendiri.”
“Maumu apa sih, Ken?” Dave kembali membentakku. Kali ini bahkan ia menarik kerah kemejaku.
Aku berusaha mengalihkan pendangan dari wajahnya. Wajah yang menggerayangi setiap sel di otakku. Wajah yang kini hanya beberapa centimeter di depanku. Bahkan, hembusan nafasnya terasa menyebar hangat di wajahku. Aku tidak tahu kali ini dia akan melakukan apa lagi.
Dalam ruang yang sempit, aku menjatuhkan badan di atas Dave. Sempat ragu, aku menutup mata. Kemudian, bibirku dengan cekatan langsung menerkam bibirnya. Dia tak mau kalah beringas. Dia berusaha melucuti kancing kemejaku.
Maaf, kamu yang memancing nafsuku lebih dulu. Ucapku dalam hati.
Tiba-tiba ponsel Dave berdering. Dia meminta izin untuk menjawab panggilan istrinya. Saat itulah aku sadar perbuatan kami mungkin sudah terlalu berlebihan. Aku segera kembali ke posisi duduk dan merapikan pakaian. Dave menatapku. Aku mengerti, aku tak boleh bersuara.
Fay khawatir, karena Dave belum juga pulang. Dave pun beralasan dia sedang dalam perjalanan dan terjebak macet.
“Sorry.” Kata itu kemudian dia ucapkan kepadaku setelah menutup telepon.
Aku hanya bisa diam sambil menahan kesedihan. Terjadi lagi. Sekarang, aku menginginkan Dave untuk tidak pulang.
__ADS_1
Saat air mataku jatuh, tangan Dave dengan cekatan membendungnya. Lalu, dia memelukku. Aku pejamkan mata dan menyandarkan kepala dengan lembut di bahunya. Kehangatan tubuhnya tak pernah berubah dari dulu.