Winter di Hokkaido

Winter di Hokkaido
Bab 22 bagian 1: Lagi


__ADS_3

Aku memutuskan akan pulang ke Indonesia selama beberapa hari. Transit dulu di Jakarta dua malam, lalu pergi ke Bali untuk mengunjungi makam kedua orang tuaku. Andai mereka masih ada, aku tidak akan merasa terlunta begini. Aku akan punya tujuan yang jelas di saat mengidamkan ketenangan dan kenyamanan.


Paman mempersilakan aku untuk pulang, tetapi dia meminta aku segera kembali dan menetap bersamanya saja. Sebelumnya, aku tak berpikir untuk menjejakkan kaki lagi ke Ibu Pertiwi dalam waktu dekat. Namun, masalah datang bertubi-tubi tanpa memberi jeda untuk menarik nafas.


Setiba di Indonesia nanti, aku janji tak akan menemui Dave. Tujuanku bukan ingin meneruskan nafsu yang sudah dikobarkannya. Aku ingin mencari ketenangan hidup yang mungkin berserakan di antara Jepang dan Indonesia. Walau aku sendiri tak tahu bentuk dari kepingan-kepingan ketenangan itu.


Alasan lain aku ke Tanah Air yaitu aku sangat yakin Add akan mendatangiku dalam waktu dekat. Terornya sudah memberikan sinyal tersebut.


Hah! Terkadang aku rindu kehidupan masa anak-anak. Masa di mana mendapatkan cinta tanpa mempertanyakan cinta itu sendiri. Tak ada tangis yang memakan waktu berhari-hari. Tak ada pikiran yang terbelenggu berminggu-minggu. Setiap hari merupakan hari baru.


“Ken pamit ya, Paman,” ucapku sambil menahan air mata.


Paman kemudian memelukku. “Paman tahu kamu sedang menyimpan masalah yang besar. Paman tidak akan memaksamu cerita jika kamu belum mau cerita. Paman hanya berharap kamu tidak lupa bahwa kamu masih mempunyai keluarga yang akan selalu ada untukmu. Masih ada kami. Ada Bibi Ayane, Paman Yamamoto, ada Keigo juga.”


Suasana menjadi haru, terlebih saat aku lihat Paman menyeka air matanya.


“It’s okay, Paman. Ken hanya sedang rindu sama Ayah dan Ibu saja. Ken ingin berkunjung ke makam mereka. Sudah cukup lama Ken tidak mengunjungi mereka.”


Tak tertahan, air mataku pun jatuh. Semua rasa sedang bercampur dalam satu wadah. Rasa rindu terhadap orang tua, rasa kesal terhadap diri sendiri, dan rasa getir akan masalah hati yang tak kunjung redam. Aku tak pernah se-emosional ini di hadapan Paman.


“Ken, bagi Paman, Ken itu sudah seperti anak kandung Paman sendiri. Sayangnya, Paman tak bisa menjalankan amanah orang tuamu untuk merawatmu.” Paman menangis sambil terus memelukku.


“Paman, jangan berbicara seperti itu. Sekarang saatnya Ken yang merawat dan menjaga Paman. Ken juga pergi hanya seminggu.”


Paman semakin erat memelukku. Seolah dia tak mau aku pergi. Aku pun tak pernah merasakan Paman sesedih ini sebelumnya.


“Hati-hati di jalan ya, Ken. Jangan lupa menelepon Paman jika sudah tiba di Jakarta!”


“Pasti, Paman.”


Tak banyak kata yang bisa aku ucapkan lagi. Aku berharap semoga masalah yang terjadi kepadaku dapat terselesaikan dengan baik.


Sepanjang jalan menuju bandara aku menelepon Bibi untuk mengabarkan aku pulang dulu ke Indonesia. Bibi bertanya alasanku pulang. Sama dengan jawaban ke Paman, aku sedang ingin berkunjung ke makam Ayah dan Ibu, begitu tuturku.


Namun, Bibi terdengar tidak puas dengan pernyataanku itu. Ia terus bertanya. Katanya, apakah ada kaitannya dengan masalah asmara atau dengan Mayumi. Setelah aku tegaskan tidak. Barulah Bibi berkenan aku menutup teleponnya.

__ADS_1


Mayumi sangat baik. Tak heran jika Paman Yamada dan Bibi Ayane sangat berharap aku berjodoh dengannya. Dalam pikiran normal, aku mengamini kebaikan dan kecantikan Mayumi. Hanya saja, hatiku belum terbiasa menerima orang lain. Belum terbiasa atau belum bisa. Entahlah!


Sejatinya, aku tak ingin terbelenggu oleh rasa seperti ini kepada Dave. Rasa mendalam yang begitu kuat. Rasa yang ingin selalu berada dalam dekapannya.


Sayangnya, aku juga tak bisa meminta kepastian apa pun darinya. Dia menginginkan untuk kembali bersahabat seperti dulu. Jelas aku tidak bisa. Aku ingin lebih dari itu. Aku ingin dia mencintaiku seperti dia mencintai istrinya.


Bodoh! Sangat tidak mungkin itu terjadi. Dave membaginya cintanya atau memilih antara aku dan Fay. Plaaak!!! Aku menampar pipiku dengan keras. Berusaha menyadarkan diriku sendiri agar bisa realistis dan menerima jalan yang sudah Dave pilih. Aku sepatutnya mendukung dia jika aku benar-benar mencintainya.


Lalu, seorang pria petugas bandara mendekat. Awalnya aku kaget melihat dia tiba-tiba ada di depanku, ternyata dia hanya bertanya apa kondisiku baik-baik saja. Aku segera sadar bahwa mungkin dia melihat waktu  kutampar pipiku tadi. Aku pun berkilah bahwa tadi sedang menepuk nyamuk.


Waktu perjalanan yang lama dari Jepang ke Indonesia kali ini tak terasa membosankan. Ya, karena aku tidur dengan nyenyak selama di pesawat. Setidaknya, itu membuatku beruntung. Karena ketika mata terbuka, maka pikiran pun kembali dipenuhi beban.


Setelah berjam-jam di angkasa, akhirnya mendarat juga di bumi. Mendung menyambut kedatanganku kembali ke Indonesia. Ia seolah menyindir suasana hatiku.


Hah, menginjakkan kaki lagi di Jakarta. Namun entah mengapa terasa sedikit asing, padahal tak ada yang berubah dari kota ini. Semua masih sama, kecuali tentang hatiku..


Aku ingin segera cepat sampai di apartemen. Aku juga rindu pada kasurku di sana. Paman dan Bibi menyarankan aku untuk menyewakan atau sekalian menjual saja apartamenku. Namun, aku tidak mau. Aku masih butuh tempat untuk pulang, meski aku tak ingin mengungkit kenangan.


Apartemen yang aku tempati hingga kini merupakan hadiah dari Ayah ketika masuk kuliah. Tempat yang sudah menyimpan memori indah selama bertahun-tahun yang sebagiannya harus aku lupakan. Sulit jika harus mengubur riwayat dengan mengalihkan apartemenku kepada orang lain.


“Ken… Selamat pagi, apa kabar?” Jantungku berdebar kencang. Aku terkejut saat hendak membuka pintu apartemen, seseorang menyapaku.


“Oh… Pagi, Tante Selly! Pagi juga, Om Syakir!”  Mereka langsung memelukku setelah aku balik menyapa.


Tante Selly dan Om Syakir teman kuliah Ayahku dulu. Apartemenku ini dibeli bersamaan dengan milik mereka. Kata Ayah, Tante Selly yang merekomendasikannya. Namun setelah siap huni, justru Tante Selly ikut Om Syakir ke Beijing, China. Kemudian, apartemennya disewakan ke orang lain. Setiap tahun selalu berganti penghuni, baru setengah tahun ini mereka tempati.


“Ke mana saja Ken, lama sekali Om tak melihat kamu?”


“Dua bulan ini Ken ke tempat Paman Yamada. Ini juga Ken pulang sebentar saja, setelah itu balik lagi ke sana.”


“Oh, ya ampun…” Tante Selly tampak terkejut. Aku menjadi heran melihat responnya. “Paman Yamada? Adik Ibumu yang di Jepang itu?”


“Iya.”


“Kok Tante dengarnya waktu di lobby kamu mau ke Jerman?”

__ADS_1


“Bukannya waktu itu Ken jawab dengan jelas ya kalau Ken mau ke Jepang.” Aku mengingatkan sembari tersenyum.


“Aduuuuh…” Tante Selly menepuk keningnya. “Beginilah kalau penyakit orang tua. Gampang lupa, terus pendengarannya entah kurang baik atau kurang fokus. Tante dengarnya Jerman. Tante nggak ingat kalau kamu masih ada family di Jepang. Tante jadi ngerasa bersalah.”


“Ngerasa bersalah kenapa Tante?”


“Ada teman-temanmu yang mencari kamu ke sini, Tante bilang kamu ke Jerman.”


Aku menggangguk, tanda bahwa aku tak mempermasalahkan hal tersebut.


“Mah, ayo pergi! Jangan ajak Ken ngobrol dulu! Dia baru tiba, dia masih capek. Biarkan Ken istirihat!” Om Syakir tampak gemas melihat istrinya yang mengajakku mengobrol.


“Iya…iya… Maaf ya, Ken. Biasa nih orang tua mau kerja saja harus ditemani sampai bawah”, ungkap Tante Selly yang tampak menggoda suaminya.


“Om kerja dulu ya, Ken. Nanti kita ngobrol-ngobrol ya. Lama tak berbincang dengan anak muda.”


“Iya, Om. Hati-hati!”


Melihat mereka berdua, mengingatku kepada Ayah dan Ibu. Seandainya mereka masih ada, mungkin akan tetap seromantis Om Syakir dan Tante Selly.


Om Syakir dan Tante Selly memiliki dua orang anak, semuanya laki-laki. Anak pertama bernama Prada dan yang kedua bernama Praja. Dulu aku kira mereka kembar karena namanya mirip. Padahal usia Prada tiga tahun di atasku, sementara Praja hanya lebih tua tiga bulan dariku.


Aku sempat satu sekolah dengan mereka sewaktu SD, dan satu kelas dengan Praja. Namun hanya satu tahun, karena mereka terus berpindah ke berbagai negara mengikuti pekerjaan orang tuanya. Sekarang Prada menetap di Washington DC dan sudah menikah. Sementara Praja sedang menempuh studi doktoral di London.


Dulu, Ayah dan Ibu juga memintaku melanjutkan kuliah magister di luar negeri. Mereka tiba-tiba menyodorkan tiket ke London untukku melakukan survei kampus dan tempat tinggal. Aku pun terbang ke sana.


Selama di London aku ditemani Praja. Dia pun membantuku mendaftar di kampusnya. Namun saat hendak ujian masuk, Ayah mengabari kondisi kesehatan Ibu drop. Aku langsung pulang ke Indonesia. Tak lama, Ibu meninggal dunia setelah berjuang dengan kanker paru-paru. Padahal sebelum aku ke Inggris, kondisi Ibu sudah membaik, dan tengah menjalani perawatan di rumah.


Bertahun-tahun Ibu digerogoti kanker paru-paru. Aku dan Ayah baru mengetahuinya setelah Ibu sering muntah darah yang ternyata kondisinya sudah parah.


Setelah Ibu tiada, Ayah sangat terpukul. Ayah jadi sering melamun, dan tak fokus dalam bekerja. Lambat laun Ayah mulai sakit-sakitan. Aku urungkan niatku melanjutkan studi. Merawat Ayah lebih penting waktu itu. Terlebih, sebelumnya aku lalai dalam merawat Ibu. Aku terlalu sibuk dalam duniaku, dan baru ada saat Ibu menjalani pengobatan.


Sekarang, meski bukan di London seperti keinginan Ayah dan Ibu, aku akan melanjutkan studi di Jepang. Aku juga akan mencari pekerjaan di sana untuk membiayai hidupku. Walaupun Paman dan Bibi terus menawari untuk membiayai studi dan hidupku di mana pun aku mau, tetapi aku sudah dewasa – aku tak mau merepotkan siapa pun.


Selain aku melanjutkan kuliah, Ayah dan Ibu juga ingin aku segera menikah. Mereka takut aku hidup dalam kesepian.

__ADS_1


Rasa sepi memang kerap menyelinap dalam hidupku. Namun justru karena saking seringnya dilanda perasaan tersebut, aku menjadi terbiasa. Aku terkadang tak membutuhkan kehadiran orang lain sebab trauma ditinggalkan. Maaf Ayah dan Ibu, belum terpikirkan bagiku untuk menikah.


__ADS_2