
Add merasa puas dengan hasil foto yang mana aku menjadi modelnya. Padahal aku belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Berswafoto pun bisa dihitung jari dalam setahun.
Banyak hal yang aku pelajari dari alam selama pemotretan. Alam tak pernah meminta untuk dikenang, ia hanya ingin dijaga. Menjaga alam berarti menjaga masa depan kehidupan manusia. Di balik kecanggihan teknologi yang setiap hari berkembang, alam memberikan segala hal yang dibutuhkan manusia. Sumber penghidupan, ketenangan, dan kedamaian, semua tersedia. Aku cukup senang kegiatan pemotretan outdoor ini membuat pikiranku tak begitu menyisakan space besar untuk masa lalu.
Tetapi di balik pengalaman menyatu dengan alam yang membuatku bisa menghirup ketenangan, ada hal yang aku rasa agak kurang nyaman. Aku dan Add menjadi akrab. Namun, keakraban yang membuat aku terkadang merasa bimbang. Beberapa hari menghabiskan waktu dengannya, aku menyadari jika dia berusaha intim denganku.
Saat pemotretan pertama di taman kota, aku merasa wajar dia merangkulku tiba-tiba. Itu mungkin pertanda sinyal keakraban biasa. Lanjut di hari berikutnya saat pemotretan di atas bukit, dia tanpa segan memegang wajah hingga dadaku. Aku ingin mengatakan jika aku kurang nyaman tangannya menyentuh area depan tubuhku. Namun, sekali lagi, aku berusaha berpikir jika dia hanya ingin membuatku poseku lebih photogenic. Untungnya, ini hanya sementara. Jika menjadi model harus merelakan tubuh disentuh tanpa ada kesungkanan, aku tak akan pernah memilih pekerjaan tersebut. Aku hanya ingin tubuhku bersandar dengan orang yang ada atau pernah ada dalam fantasiku.
Mungkin aku terlalu naif, tetapi aku memang tak mudah untuk mengatakan nyaman dengan seseorang hanya dalam beberapa kali pertemuan. Tak mudah pula untuk membiarkan tangan-tangan asing menggerayangi area sensitif tubuhku.
Ada lagi hal yang membuatku risih dengan Add. Dia sering tiba-tiba memelukku. Mengaitkan kedua tangannya di pinggangku tanpa meminta persetujuan. Memang ini tidak terjadi di tempat umum, tetapi ini bukan tentang malu dengan pandangan orang. Aku merasa dia memelukku seperti dia memeluk kekasihnya. Apa ini artinya aku normal? Atau aku hanya belum bisa move on dari segala kenyamanan yang pernah Dave berikan? Atau aku tak bisa menerima orang lain menggantikan peran yang Dave mainkan bersamaku? Aku tak tahu bagaimana harus menamainya.
Aku terkadang juga berpikir kenapa merasa risih dengan Add. Jika aku tidak normal, Add bukan pilihan yang salah. Secara fisik dia bahkan sedikit lebih tampan dari Dave. Ah, bedebah!
Aku mencoba menghubungi Mayumi, karena staf resepsionis mengatakan dia dalam sehari bisa tiga kali ke hotel mencariku. Kenapa dia tidak meneleponku saja? Pikirku.
Saat aku menghubunginya, dia tak banyak mengumbar kata. Sungguh tidak seperti biasa. Ia hanya menanyakan kabarku, aku ke mana, dan dengan siapa. Aku pun menjawab sejujurnya. Beberapa hari ini Add memintaku menjadi model pemotretannya. Kami bisa pergi seharian dan pulang saat matahari sudah pindah ke belahan bumi yang lain.
Apa Mayumi marah, karena aku tak bisa lagi pergi dengannya? Mengapa tidak kutanya langsung saja kepadanya? Ah, seakan masih ada keraguan untuk mengajukan pertanyaan yang bermuara pada perhatian.
Pikiranku berkecamuk. Nurani mengajak hati kecil berdiskusi.
Walaupun aku sudah secara tegas mengatakan tak bisa membalas perasaannya, namun aku berpikir tidak pernah ada salahnya untuk selanjutnya kami menjadi teman saja. Aku tak boleh terlalu memikirkan untuk menjaga jarak yang justru akan menyakitinya lagi.
Jika pemotretatn ini selesai, aku akan mengikuti perintah Paman untuk berkunjung ke rumah Mayumi. Memastikan dia tidak marah kepadaku dan mengenal orang tuanya.
Kata Paman, ayah Mayumi pebisnis yang handal. Aku bisa meminta ilmunya sambil berbincang. Walau aku belum berpikir untuk memulai bisnis, tapi suatu hari nanti bisa saja aku tiba-tiba berminat berwirausaha. Selain itu, ilmu dan pengalaman bisa diterapkan tidak hanya pada satu bidang.
Sekarang, aku merasa kurang nyaman dengan Add. Hanya saja belum menemukan cara jitu untuk menghindar darinya. Apa aku ini memang sulit berkawan dengan seseorang, terlebih jika orang tersebut menyukaiku dan aku tidak suka kepadanya? Namun, Add kan belum atau tidak menyatakan perasaannya kepadaku.
__ADS_1
Apa aku terlalu percaya diri menduga Add menyukaiku? Tetapi jika tidak, kenapa dia selalu berusaha memelukku? Bahkan saat di mobil sepulang dari pemotretan di taman kota di hari pertama, dia mencium pipiku dengan mengatakan terima kasih sudah membantunya. Aku ingin marah, namun aku sedang fokus mengendarai mobil. Atau itu hanya simbol keakraban seperti aku dan Dave?
Aku butuh waktu tahunan untuk bisa bercengkrama dengan Dave secara intim. Sementara Add menunjukkan agresivitasnya hanya dalam hitungan hari. Bahkan, aku sudah merasa dia memiliki ketertarikan kepadaku ketika saling memperkenalkan diri. Ah!!!
Aku senang memiliki teman di sini. Itu artinya porsi waktuku akan disibukkan dengan mereka. Sebagian waktu lainnya digunakan untuk membantu Paman mengelola hotelnya hingga aku mendapat pekerjaan di negara ini.
Sayang, masih ada saja penyangkalan terpatri di jiwa. Pelarianku bukan kepada orang lain, melainkan bagaimana bisa melupakan. Maka dari itu, walau sudah terpisah ribuan mil dan tak ada kontak, namun aku masih berharap bisa bersama Dave. Harapan yang bersembunyi saat aku tengah dengan orang lain. Kemudian, ia menjelma dalam kesendirianku. Memperkuat ketidakberdayaanku dalam mengubur memori.
Ah, ternyata aku cukup lama melamun. Layar komputer yang di-setting untuk tidur dalam waktu 15 menit jika tidak digunakan sudah sedari tadi terlelap.
“Permisi! Saya mau memesan satu buah kamar untuk satu malam, apa masih ada yang ada kosong?” Suara tamu hotel membuat aku terkejut.
Aku pun langsung berdiri dan menjawab. “Mohon maaf Pak, kamar di hotel ini sudah penuh hingga akhir Pebruari.”
Tamu ini datang dari Indonesia kah? Karena biasanya tamu yang datang ke hotel ini akan mengucapkan salam dalam Bahasa Jepang atau Bahasa Inggris terlebih dahulu. Kuangkat wajah dan menghadapkannya kepada tamu hotel tersebut. Sialan, rupanya Add. Dia menjahiliku.
“Staf resepsionis dilarang melamun,” ucapnya sambil terus tertawa. Ia tampak puas berhasil membuatku kaget.
Add lantas menghentikan tawanya. “Nggak lucu, Ken. Aku sudah booking kamar ini untuk dua minggu, dan mungkin akan memperpanjangnya hingga batas waktu yang belum ditentukan.”
“Kenapa tidak menyewa rumah atau apartemen di kota saja?” Aku menanggapi ketus.
“Ken, aku itu sengaja….”
Aku tak mau memainkan sandiwara antara resepsionis dan tamu seperti ini lagi, maka aku langsung memotong ucapannya. “Ada apa, Add?”
Dia pun langsung mengutarakan maksudnya. “Aku minta nomor rekeningmu, Ken.”
“Untuk?”
__ADS_1
“Ya transfer honormu lah. Kan beberapa hari ini kamu mau jadi modelku.”
“Oh itu seriusan untuk pemotretan komersil ya? Aku kira untuk keperluan pribadi saja.” Tiba-tiba saja aku terpikir untuk mencandainya sedikit.
“Kan dari awal aku sudah bilang ini untuk pemotretan. Mana nomor rekeningmu?”
“Apa secepat itu aku mendapatkan honor. Padahal aku saja belum melihat foto-foto tersebut bertebaran secara masif di platform media massa atau media cetak?”
“Iya. Mana nomor rekeningmu. Kenapa tiba-tiba kamu jadi cerewet begini, Ken?” Add mencubit kedua pipiku. Seketika aku merasa terganggu. Aku pun melirik ke sekeliling. Untungnya, semua sedang fokus pada urusannya masing-masing. Jika tidak, mungkin mereka akan salah paham. Terutama pegawai di sini.
“Aku ikhlas membantumu.”
“Ken, ini pekerjaan jadi aku harus professional.”
“Iya. Tapi aku benar-benar ikhlas membantumu.”
“Ya sudah, kita makan siang di luar yuk. Jangan menolak!”
Aku memang tak bisa menolak. Tidak ada alasan yang bisa aku gunakan untuk menolak lagi.
Ternyata, Tuhan mengirimkanku alasan. Dari pintu masuk aku melihat Mayumi berjalan ke arahku. Ya, aku yakin dia datang untuk menemuiku. Aku berusaha mengulur jawaban hingga Mayumi menghampiri.
Benar saja, Mayumi langsung menyapaku. “Halo, Ken!”
“Sorry, Add! Aku sudah ada janji dengan Mayumi.” Aku balas menyapa Mayumi sekaligus menjawab permintaan Add.
Mayumi tampak bingung. Namun, aku langsung saja mengajaknya pergi agar Add tak curiga jika aku sedang menghindar. Seolah mengerti, Mayumi mengikuti langkahku begitu saja.
“Kami pergi dulu, Add,” ujarku.
__ADS_1
Add tampak kesal. Namun, aku memilih tak mempedulikan guratan wajahnya.