
Aku bangun dengan kepala yang terasa sangat sakit dan tubuh hanya berbalut selimut. Sepertinya semalam aku mabuk berat. Aku bahkan tak ingat bagaimana dan siapa yang membawaku pulang.
Di bagian tubuh lain, aku pun merasakan sakit yang tak biasa. Apa yang terjadi sebenarnya?
Kucoba ambil ****** ***** yang ada di bawah kasur. Aku cukup terkejut melihat bajuku berserakan. Apa mungkin aku tak sadar menanggalkan seluruh pakaian dan melemparnya sesuka hati semalam? Namun hal lain yang semakin mengejutkanku, di celana dalamku juga ada bercak darah dan cairan lain yang masih sedikit terasa lengket. Apa semalam aku mimpi basah? Tapi, ini tak wajar.
Aku benar-benar tak berdaya mengingat detil peristiwa yang menimpaku setelah pengaruh alkohol dengan hebat menidurkan kesadaranku.
Saat sedang menerawang kejadian semalam, aku mendengar suara seseorang di dapur. Paman? Namun, Paman katanya masih seminggu lagi di Seoul. Karena penasaran, aku merogoh handuk dan mengenakannya untuk menutupi bagian bawah tubuhku.
Saat membuka pintu kamar untuk menemui sumber suara yang kudengar, Add berada tepat di depanku. Aku kaget bukan main. Kenapa Add ada di sini? Sepertinya dia bukan baru saja datang.
“Ayo sarapan dulu, Ken,” ajaknya sambil membawa 2 potong sandwich dan segelas susu dalam nampan. “Maaf, aku hanya…,”
Aku memotong ucapannya dengan nada membentak, “Sejak kapan kamu ada di sini?”
“Semalam,” terangnya santai.
Mendengar jawabannya, aku langsung naik pitam. Berarti dia yang membawaku pulang. Pikiranku langsung tertuju kepadanya sebagai pelaku. Tidak ada orang lain di sini. Brengsek!!!
“Apa yang kamu lakuin kepada saya semalam?” Aku langsung mencengkram bagian kerah kaosnya.
“Ken, ada apa ini? Sebentar, kamu kenapa?” Add berusaha melawan cengkramanku.
Dengan satu tangan aku mendorong tubuhnya, hingga nampan yang berisi makanan jatuh berserakan. “Brengsek kamu, Add!”
“Ken, dengar dulu penjelasanku!” Dia berusaha mendekat dan memegang bahuku.
“Jangan sentuh aku!”
“Kamu semalam mabuk berat, dan aku yang membawamu pulang.”
Rasanya aku ingin mengambil pecahan gelas dan piring yang berserakan di lantai, lalu mennghujamkannya satu persatu di tubuh Add. Bisa-bisanya dia menikmati tubuhku saat aku tak berdaya. Sekarang malah memasang wajah polos.
“Aku pikir kita bisa menjadi teman. Tetapi, kamu ternyata sangat biadab!”
Bruuuk!!! Add terjatuh setelah aku meninju pipi kirinya.
“Apa maksudmu, Ken? Kenapa kamu tiba-tiba marah kepadaku?”
Aku mungkin belum bisa mengatakan aku ini straight. Namun, bukan berarti aku menerima seseorang menyetubuhiku begitu saja.
“Sekarang kamu pergi. Jangan pernah lagi menampakkan diri sedikit pun di depanku!” ancamku sambil menunjukkan jari telunjuk ke wajahnya sebagai penegasan. Amarahku meledak seketika.
“Tu…tunggu, Ken. Dengar dulu penjelasanku! Aaa…aku akan bertanggung jawab dengan semua ini.”
Apa katanya, akan bertanggung jawab? Dia pikir aku menyukainya. Selama ini aku menghargai dia sebagai tamu hotel dan sekadar teman. Beberapa hari terakhir aku memang merasa dia menyukaiku, tetapi aku tak berpikir dia akan sebegitu bejat.
Tak ingin terjadi hal-hal di luar kendali, aku menyeretnya keluar. Dia hanya bertahan tanpa berusaha melawan. Meskipun tak pandai dalam berkelahi, tetapi aku siap jika dia mengajakku hal seperti itu. Ucapannya sudah sangat menyulut kemarahanku.
Aku nyaris kesetanan. Melihat dia tak melawan, aku sempat ingin memberikan beberapa pukulan lagi, bahkan tendangan, lalu mencekiknya hingga mati. Namun aku sadar, itu bisa semakin menghancurkan kehidupanku. Jika hal tersebut aku lakukan, aku akan mendekam di penjara dengan diliputi rasa bersalah seumur hidup. Walau yang tengah diperjuangkan adalah kehormatanku.
“Jika kamu masih menunjukkan keberadaanmu di dekatku, aku tak akan pernah memaafkanmu lagi.”
Add memohon agar aku mau mendengar penjelasannya. Jangan harap! Atas kebiadaban yang dia sudah lakukan kepadaku, harusnya dia beruntung aku tak membabi buta menghajarnya.
Aku sudah mengusir Add. Namun, dia masih menggedor pintu yang sudah ku kunci rapat. Jika dia masih berusaha ingin masuk. Aku yang akan pergi.
Dalam kamar, aku tak kuasa menahan tangis. Sementara kepalaku masih terasa sangat pusing. Ini pertama kalinya aku menenggak bir lebih dari setengah liter dalam satu sesi. Tentu saja efeknya masih terlalu kuat menjalar di perut hingga kepala.
Melihat Mayumi yang semalam hendak menghabiskan 12 gelas bir sendirian, aku tak bisa berdiam diri. Ia bahkan mengatakan itu cara untuk melepaskan masalah. Tak terlintas di benakku bahwa Mayumi sekecewa itu kepadaku.
Pertanyaanku, mengapa aku bisa pulang dengan Add? Ini masih menjadi misteri yang belum bisa kuingat.
Kamarku begitu berantakan. Sama seperti pikiranku. Ada baiknya aku cuci muka dahulu agar lebih segar. Entah bagaimana cara untuk bisa menenangkan diri atas nestapa yang barusan kudapat.
Di sofa kamar, kulihat ada barang-barang milik Add, yaitu kemeja, ponsel, dan dompetnya. Ah, aku tak mau melihatnya lagi.
Tadi kudengar dia masih ada di depan rumah. Mungkin dia juga masih menunggu barang-barangnya ini.
Saat kubuka pintu, Add tanpak berjalan meninggalkan rumah. Bedebah, aku tak mau menyebut namanya. Kucoba kosongkan pikiran sejenak untuk mengendalikan emosi.
“Tunggu!!!” Aku terpaksa memanggilnya.
Aku tak menyangka akan mendapat respon agresif. Dia membalikkan badan, lalu berlari ke arahku.
__ADS_1
“Aku tahu kamu hanya terbawa emosi. Semalam kamu mabuk, dan mengatakan kedinginan. Lalu, aku hanya berusaha menghangatkan dengan memeluknya. Aaa….aku….”
“Cukup!” Aku tak mau mendengar penjelasan apa pun darinya. “Aku hanya ingin mengembalikan barang-barang kamu. Silakan kembali pergi, dan ingat, jangan pernah mencoba menemuiku lagi!”
“Ken….”
Dia berusaha memelukku. Untung saja aku sudah menduga gerakannya sehingga bisa lebih dulu menutup pintu. Ah, kepalaku semakin terasa sakit. Tak ada yang boleh tahu kejadian ini.
Air mata terus mengalir tak terbendung mengingat nasib yang begitu naas. Tak pernah terbayangkan jika aku kehilangan kehormatan dalam kondisi tak berdaya. Jelas ada perasaaan menyesal yang teramat mendalam. Seharusnya, semalam, aku tak menuruti emosi dengan menenggak bir secara berlebihan. Bahkan, semestinya aku mencegah Mayumi minum bir terlalu banyak dengan mengajak pulang atau pindah ke tempat yang mampu membuatnya lebih tenang. Bukan malah aku yang terpancing. Ini tak akan terjadi seandainya aku bisa berpikir secara dewasa.
Aku bukan lagi remaja. Bukan pula seorang yang baru mengganti status tersebut dengan dewasa. Usiaku sudah cukup matang, namun aku tak bisa menjaga diriku sendiri. Seseorang dengan mudah melecehkanku. Pantas saja Dave mengatakan aku seharusnya bisa bersikap sesuai usaiku.
Bangsat! Ketenangan yang aku cari justru berbuah petaka. Hidupku menjadi tak terarah. Semua karena Add, kesalahan Dave. Namun, pantaskah semua kesalahan aku tujukan kepada mereka? Sementara hidupku menjadi seperti ini, karena aku sendiri tak pandai beradaptasi dengan umurku.
Aku terus berusaha mengatur nafas. Sesekali aku menjerit sekuat tenaga, menghilangkan segala perasaan gagal dalam hidup. Ada pula umpatan kepada nasib. Apa di mata orang lain aku terlihat seperti gay? Tidak, aku bukan gay.
Sesaat terlintas dalam benakku jika Dave yang meniduriku semalam, aku mungkin tidak akan semarah ini. Aku selalu merasa nyaman dalam pelukannya. Pun, aku pernah berpikir berciuman dengannya. Ah, apa aku sudah gila?
Di sisi lain, sebelum usia 30 tahun, aku berharap bisa berumah tangga. Tentu dengan seorang wanita. Lalu, memiliki anak, hidup normal dan bahagia. Membina keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak.
Kulemparkan jam tangan hadiah dari Dave ke dinding dengan sekuat tenaga hingga hancur tak berbentuk. Aku kesal, kecewa, dan marah kepada diri sendiri. Aku tak bisa mengidentifikasi semua rasa yang tengah kuderita.
Dalam kekalutan, aku rebahkan badan di atas kasur. Kucoba tutup mata dan kosongkan pikiran. Aku memaksa diri agar tertidur. Ini cara untuk bisa meredam emosi yang membludak. Jika tertumpah semua, akan menimbulkan banyak penyesalan.
***
Aku berhasil meredakan emosiku. Dari yang sulit tertidur, aku justru sudah tidur selama seharian. Meskipun belum sepenuhnya pulih, tetapi aku sudah merasa lebih baik.
Kulihat dari jendela kamar, langit sudah gelap. Perutku terasa lapar. Maklum saja, dari pagi hingga malam, aku hanya menelan amarah dan kekesalan.
Semut memenuhi lantai, memakan tumpahan makanan tadi pagi. Sayangnya, aku sedang tak berhasrat membersihkan segala kekacauan di kamarku. Mungkin setelah mengisi perut aku akan memiliki semangat. Untung saja Paman tidak ada. Tetapi justru jika ada Paman, semua ini tidak akan terjadi. Penyelasan selalu berdampingan dengan pengandaian.
Hanya Ramen Cup yang tersedia di dapur. Ya, setidaknya lebih baik dari pada tidak ada makanan sama sekali. Kulihat jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul 8 malam kurang 13 menit. Sempat terpikir untuk mencari makan di luar. Namun niat itu aku urungkan, karena kaki tak ingin melangkah ke luar rumah.
Aku berusaha untuk berpikir tidak terjadi apa-apa. Seolah semua baik-baik saja. Lalu, aku teringat untuk menelepon Bibi. Jelas bukan untuk bercerita tentang kejadian semalam. Aku ingin mendengar ocehannya. Aku sedang mebutuhkan banyak topik untuk menutup pikiranku dari kesialan nasib ini.
Setelah perut terisi dengan ramen, aku mencari ponselku. Namun, tak kudapati di dalam saku celana yang semalam kukenakan. Di kasur, di meja kamar, di ruang tamu pun tidak ada. Tertinggal di restoran kah? Akhirnya, aku harus memaksakan diri untuk keluar mencari ponselku. Masalahnya, ponsel itu pemberian Paman. Jika hilang, aku bisa saja membeli dengan merek dan tipe yang sama. Namun aku tetap saja merasa bersalah, karena tak bisa menjaga hadiah tersebut.
Hanya dengan cuci muka, menggunakan celana jogger, kaos oblong, dan jaket, aku bersiap menuju restoran tempat aku terkapar semalam. Tak ada kemungkinan lain, selain ponselku tertinggal di tempat itu. Terakhir kali aku memang meletakkan ponselku di samping gelas-gelas bir.
Aku harus berjalan beberapa meter ke jalan besar untuk mencari taksi, karena mobil Paman ada di rumah Mayumi. Besok pagi saja aku ke sana untuk mengambilnya. Sebenarnya aku tak enak hati membiarkan mobil tersebut diperbaiki oleh ayah Mayumi. Aku merasa malu, karena sudah lalai dalam memeriksa kondisi mobil sebelum pergi.
“Mmm…May…” sapaku dengan jantung berdegup kencang karena kaget.
“Kamu mau pergi ke mana, Ken?” Wajahnya tampak bersedih saat bertanya.
Cara Mayumi berdiri sepertinya dia sudah lama berada di depan pintu. Itu terlihat dari kakinya yang diputar sedikit demi sedikit secara bergantian untuk membagi rasa lelah yang bertumpu.
“A…ku tidak ke mana-mana. Ayo masuk!”
Aku terpaksa berbohong dan menunda kepergianku. Mayumi yang datang dengan wajah sendu pasti ada kaitannya dengannku. Entah apa yang sudah aku lakukan kepadanya? Aku benar-benar sulit mengingat rangkaian kejadian semalam setelah aku mabuk.
Tak disangka, Mayumi menolak ajakanku untuk duduk di dalam rumah.
“Aku cuma mau mengembalikan ini.” Dia mengeluarkan jas dan ponsel dari dalam tasnya. Ya, itu punyaku.
“Ooh, aku kira tertinggal di restoran.”
Suasana menjadi hening saat aku menerima jas dan ponselku dari Mayumi. Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi. Satu hal yang masih mengganjal, bagaimana aku bisa pulang dengan Add? Apa mungkin Mayumi menelepon Add, karena tak sanggup membopong badanku. Tetapi, Mayumi terlihat tak begitu bersahabat dengan Add. Jadi, rasanya mustahil Add datang atas undangan Mayumi.
“Oh iya, aku minta maaf Ken jika selama ini masih salah mengartikan perhatianmu.” Dia besuara setelah sekitar 5 menit kami terdiam. Matanya berderai. Aku semakin bingung.
Aku juga betul-betul tak mengerti maksud pernyataannya. “May, bisa ceritakan apa yang sudah terjadi semalam? Aku benar-benar tak ingat kejadian setelah aku mabuk. Jika aku sudah melakukan kesalahan yang menyakitimu, aku minta maaf.”
Mayumi kembali terdiam. Aku memakluminya. Mungkin dia butuh waktu untuk bercerita. Semoga aku mendapatkan pencerahan tentang kejadian semalam.
Tiba-tiba telepon rumah berdering. “May, kita ngobrolnya sambil duduk ya. Aku mau angkat telepon dulu.”
Dia mengangguk, lalu duduk di tempat yang aku tunjuk. Sejujurnya, kepalaku seperti mau pecah akibat menampung emosi terlalu banyak.
“Ken, ponselmu kenapa seharian ini mati? Apa kamu juga sudah mati? Ditanya ke orang hotel katanya seharian kamu tidak ke sana. Berkali-kali telepon ke nomor rumah, baru diangkat sekarang.” Suara di ujung telepon langsung memarahi saat aku menempelkan gagang telepon ke telinga.
“Maaf Bibi, seharian ini Ken tertidur.”
“Apa kamu sakit?”
__ADS_1
“Tidak.”
“Kamu tahu kami sangat khawatir?”
“Ken baik-baik saja, Bibi.”
“Jangan bohong! Tetangga di sana menelepon Paman Yamada. Dia mengabarkan katanya semalam kamu pulang naik taksi diantar seseorang dalam kondisi mabuk. Lalu….”
“Iya, tapi Ken tidak….”
“Ken. Bibi tak memintamu memotong ucapan Bibi.” Aku pun terdiam karena mendengar suara Bibi semakin lantang. “Tadi pagi juga terdengar suara keributan dan katanya kamu berteriak-teriak. Namun saat tetangga mengetuk pintu, tak ada jawaban apa pun. Kami sangat khawatir terjadi sesuatu. Untung saja Paman menelepon teman perempuanmu yang bernama Mayumi. Mayumi mampu menyakinkan Paman jika kondisimu baik-baik saja. Tadinya, sore ini Bibi dan Keigo akan terbang ke sana.”
“Keigo sudah di rumah, Bi?” Aku berusaha meredam emosi Bibi dengan menanyakan keponakanku itu.
“Iya. Jadi semalam sebenarnya ada apa? Apa Bibi perlu ke sana hari ini?”
“Bibi, Ken sudah bilang tidak ada apa-apa. Jadi Bibi tidak perlu ke sini. Nanti Ken yang ke Tokyo sebelum malam tahun baru.”
“Baiklah. Terserah kamu saja, Ken. Jangan buat kami khawatir lagi!”
“Iya, Bibi.”
“Jangan lupa langsung telepon Pamammu juga!”
“Iya.”
Setelah berbincang di telepon dengan Bibi, Mayumi tampak tertunduk. Ini tak biasa. Apa yang sebenarnya terjadi? Semoga aku tak melakukan hal yang menyakitinya lagi.
“May, ada apa sebenarnya? Dari tadi aku perhatikan kamu diam saja.”
Dia menggelengkan kepala, memberikan sinyal tidak ada apa-apa. Namun, justru itu menandakan sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang membuatnya menjadi murung dan dingin seperti ini.
Aku berusaha menahan kepala yang sakit. Sebenarnya aku ingin sendiri dulu, tetapi tak mungkin menyuruh Mayumi pulang. Sedangkan aku yang memintanya duduk di dalam rumah.
“Ken….” Ia mengangkat kepalanya.
“Iya….”
“Aku minta maaf atas kejadian semalam. Aku tak bermaksud membuatmu….” Kata-katanya terhenti.
“Sejujurnya aku masih sulit mengingat kejadian setelah aku mabuk hingga terbangun pagi tadi. Aku seperti hilang kesadaran,” jelasku sambil sedikit memijat keningku.
“Aku juga minta maaf jika aku tidak tahu diri. Aku masih salah mengartikan perhatianmu. Menganggap akan ada keajiban yang membuatmu akan suka kepadaku. Sampai saat ini, harapan itu masih ada. Namun setelah ini, aku janji akan berusaha membuang sedikit demi sedikit kepingan harapan itu,” tuturnya sembari terlihat mengusap pipi.
Aku belum paham maksud perkataannya. Apa sebenarnya yang ingin dia sampaikan? Jika tentang hal itu, bukankah sudah jelas bahwa aku memang menyukainya, namun sebagai teman.
Setelah jeda, Mayumi melanjutkan ucapannya, “Tetapi kenapa kamu harus dengan….”
Apa yang membuat Mayumi berat melanjutkan kata-katanya? Dari tadi sikapnya seperti menahan kesakitan. Bukan sakit di badan, melainkan sakit di hati yang terasa amat memilukan. Dia juga mengatakan kenapa aku harus dengan, dengan siapa?
Jika yang dia maksud dengan Add? Apa dia tahu kejadian semalam? Kejadian ketika Add melecehkan kepercayaanku sebagai teman dengan merampas kehormatanku. Aku seperti berada dalam labirin. Memecahkan teka-teki yang jawabannya ada di depanku, tetapi sulit ditemukan.
Aku ingat. Semalam, saat tiba di restoran Add berkali-kali menghubungi. Aku mengabaikannya. Namun, ia malah terus mengirimi pesan menanyakan keberadaanku. Aku putuskan memberitahunya jika aku sedang makan malam di sebuah restoran dengan Mayumi. Tujuannya agar dia tidak terus membuat ponselku bergetar. Setelah itu, dia pun tak menghubungiku lagi.
Rupanya petaka bermula dari informasi keberadaanku yang aku kirim kepada Add. Juga kecerobohanku meminum alkohol. Takdir? Aku tak mau menyebutnya demikian. Ini pelajaran yang sangat berharga buatku. Atau mungkin ini karma? Karma karena aku masih mengharapkan kedekatan dengan Dave, padahal dia sudah berkeluarga. Tapi, aku tak punya niatan merebut atau merusak rumah tangganya.
“Maaf. Ken. Sepertinya mobilmu sudah tiba di depan. Aku juga mau sekalian pulang.” Mayumi berdiri dan berjalan dengan cepat menuju luar rumah.
Ya, ada suara mobil yang parkir di halaman rumah.
“Ken, ini kunci mobilnya.”
“Terima kasih, May! Berapa biayanya?”
“Papa bilang tidak usah.”
Kepalaku seperti ditusuk ratusan jarum. Sangat sakit. Ini lebih sakit dari saat terbangun tadi pagi. Aku mencoba meletakkan kedua tangan di kepala untuk menahannya agar tidak pecah.
“Ken, kamu baik-baik saja?”
Aku hanya bisa mengangguk.
“Aku pulang ya. Kamu istirahat saja. Sekali lagi, aku minta maaf. Aku juga janji tidak akan memberitahu siapa pun.”
Mayumi pulang. Aku baringkan badan di atas sofa. Rasanya berjalan sampai ke dalam kamar begitu berat.
__ADS_1
Kucoba menutup mata, berharap bisa kembali tidur untuk setidaknya meredakan rasa sakit di kepala ini. Namun, justru dalam gelap terpikir ucapan Mayumi sebelum pulang. Tidak akan memberitahu siapa pun, tentang apa? Aku minum alkohol hingga mabuk? Itu bukan hal yang perlu ditutup-tutupi.
Ah! Aku ingin berteriak sekencang mungkin. Tetapi jika nanti terdengar lagi oleh tetangga, akan jadi masalah baru. Air mataku kembali mengalir dengan deras. Sebuah kesimpulan pun mengerucut. Jadi, Mayumi tahu perbuatan Add kepadaku, dan dia menganggap kami ada hubungan. Aku merasa begitu hina.