
Aku masih berharap bisa ke Hokkaido. Kulihat di media sosial banyak pemberitaan tentang festival salju di Sapporo. Akan sangat menyenangkan bisa menikmati indahnya suasana dan pemandangan winter di sana. Namun, kondisi kehamilanku belum stabil. Masih rentan jika aku memaksakan untuk melakukan perjalanan jauh. Semoga tahun depan bisa ke sana dengan keluarga lengkap.
Liburan tahun kemarin, aku hanya bisa di rumah dengan suamiku. Hujan deras sepanjang malam tahun baru membuat kami malas ke luar rumah. Selain itu, ada rasa bosan melihat tahun baru di Jakarta yang setiap tahunnya sama. Tak ada yang istimewa, sama seperti dalam perayaan tahun baru kali ini.
Suamiku malah tidak mengambil cuti tahun baru dengan alasan untuk nanti ketika aku melahirkan saja. Namun, dia juga mengatakan jika ada banyak proyek besar yang menyapa pekerjaannya di awal tahun. Aku pun menerima keputusan tersebut dan fokus menjaga kehamilan dengan baik dan bijak saja. Seperti saran dari dokter kandungan, banyak istirahat dan makan makanan yang bernutrisi tinggi.
Untungnya, di kehamilan pertama ini aku tak mengalami masalah kesehatan atau morning sickness. Tak ada juga ngidam yang aneh-aneh, selain berharap bisa pergi ke Hokkaido. Walau harapan tersebut pun sering pasang surut.
Untuk sekadar cuci mata dan mengusir rasa bosan yang melanda, aku selalu mengintip keindahan Negeri Sakura via internet. Berkhayal sedang berada di Taman Kota Sapporo membuat boneka salju, kemudian menyantap semangkuk Ramen. Oh, nikmatnya!
Saking terlalu fokus melihat-lihat video pemandangan di Hokkaido, aku sampai lupa menyiapkan makan malam. Sebentar lagi suamiku pulang. Belakangan ini nafsu makannya sedang meningkat. Setiba di rumah pasti dia mencari cemilan untuk penghubung ke makan malam. Padahal aku yang hamil, tetapi yang banyak makan justru dia.
Kulihat persediaan bahan makanan di dapur, ternyata banyak yang sudah habis. Tak mungkin juga belanja sore hari seperti ini. Jalanan pasti macet, dan bahan makanannya pun banyak yang sudah tidak segar. Aku jadi bingung dengan menu makan malam nanti.
Aku coba menelepon suamiku. Di kulkas hanya ada telur dan ayam untuk lauk makan. Aku ingin meminta pendapatnya, karena tadi pagi dia mengatakan sudah bosan makan olahan dua protein tersebut. Dua kali kutelepon, namun tak ada respon. Mungkin suamiku sedang menyetir atau ponselnya di-silent. Aku pun mengirimkan pesan singkat saja agar suamiku membeli hidangan untuk makan malam di luar.
Sementara itu, aku mengumpulkan bahan untuk membuat Pancake. Sajian penyambut kedatangan Sang Kesayangan.
Mau bagaimana lagi, hanya hidangan pembuka tersebut yang bisa aku buat sesuai dengan bahan makanan yang tersedia. Membuatnya juga tak terlalu sulit dan bahannya tidak rumit. Cukup telur, tepung terigu, gula pasir, susu cair, mentega, baking powder, dan sedikit garam. Hal terpenting dalam membuat Pancake yaitu tidak perlu waktu yang lama untuk membuatnya.
Pancake penuh cinta untuk suami terkasih sudah jadi. Topping-nya aku buat dua macam, yaitu satu dengan gula merah ala Surabi Manis Bandung, dan yang satu dengan buah stroberi. Tak sabar ingin segera mendengar pujian dari mulut suamiku.
Aku buka ponsel, lalu menjelajahi WhatsApp. Huh, pesan yang aku kirim belum ada balasan. Kulihat statusnya sudah dibaca. Kucoba telepon lagi, tetapi nomor suamiku tidak aktif. Mungkin ponselnya kehabisan baterai. Pikirku. Aku tunggu saja, sebentar lagi dia juga akan pulang. Lebih baik aku bersihkan badan dahulu.
Tubuhku sudah segar dan wangi selepas mandi. Jam menunjukkan pada angka yang seharusnya suamiku sudah tiba di rumah. Aku mulai sedikit cemas.
Kutelepon lagi, tetapi ponselnya masih belum aktif. Mungkinkah dia terjebak macet di jalan? Aku tunggu saja sambil membuka aplikasi layanan streaming video. Hamil pertama ini menjadikan film dan drama Korea sebagai teman setiaku. Kadang saking asiknya, tak terasa waktu cepat sekali berlalu.
Sementara di luar hari sudah gelap. Cahaya mentari sudah terangkat sempurna. Ada perasaan gelisah yang bertambah, karena jika pulang telat biasanya suamiku memberikan kabar.
Kucoba hubungi Ferdi, teman satu divisi dengan suamiku. Namun ternyata dia sedang di luar kota, cuti tahun baru untuk berlibur. Aku menjadi semakin dibuat tak tenang. Jujur, aku takut. Takut kejadian itu terulang.
Jam terus berputar. Angkanya berada di posisi setengah sepuluh malam. Ke mana suamiku? Mengapa dia belum pulang? Malam sudah semakin larut tanpa sambut.
Aku berusaha menghilangkan prasangka. Tak berpikir macam-macam dan mencurigainya lagi. Bagaimana pun, pikiran buruk ujungnya hanya menyiksa batinku saja. Dengan sedikit mengantuk, aku tetap menunggunya pulang.
Tak terasa aku tertidur di sofa depan televisi sampai akhirnya dibangunkan oleh suamiku. Kulihat jam berdetak di pukul 11.45 (23.45).
“Kok baru pulang, Yah?’’ tanyaku sambil berusaha bangkit dari sofa.
“Iya, tadi lembur soalnya ada meeting dengan klien dari luar negeri.”
“Kok nggak ngabarin Bunda?”
“HP Ayah low-batt,” jelasnya sambil memberikan bungkusan makanan.
Aku beranjak ke dapur untuk menyajikan makanan yang dibawa olehnya. Ini benar-benar makan malam. Makan di tengah malam.
Setelah kubuka, ternyata hanya ada satu bungkus makanan yang berisi nasi, Beef Teriyaki, Tempura, sayuran, dan saus tomat. “Kok cuma satu, Yah?”
“Ayah sudah makan,” terangnya setengah berteriak. Ia memijak anak tangga menuju kamar.
Mendengar jawabannya, aku jadi tidak nafsu makan. Aku menahan lapar dan menunggunya pulang, tetapi dia makan di luar dengan tak memberi kabar.
Ada rasa ingin marah, tetapi ini sudah malam. Aku juga tak mau lagi ada pertengkaran mengingat kondisiku yang kini tengah mengandung. Namun, tetap saja ada rasa sesak menyelinap di dada melihat sikapnya kembali menjadi aneh.
“Kok cuma dilihatin!” Aku cukup kaget suamiku tiba-tiba sudah ada di belakangku lagi dengan menenteng handuk.
“Nggak nafsu,” sahutku ketus.
“Maaf, ketika Ayah mau tanya Bunda pengen makan apa, Hape Ayah mati.”
“Iya.”
Dia memelukku. Dia sepertinya sadar nafsu makanku hilang karena sedang jengkel.
“Ayah makan sama siapa tadi?”
“Maksudnya?”
Dia balik merespon dengan meminta penjelasan. Padahal, pertanyaanku sepertinya cukup jelas. Apa dia hanya berusaha menjeda waktu untuk merangkai alasan?
__ADS_1
Aku yang tak ingin curiga, jadi malah melontarkan ketakutan. “Tadi Ayah sama siapa makan malamnya?”
“Ya, sama klien lah, Bun. Tadi setelah meeting, kami lanjut makan malam ke restoran di dekat kantor.”
“Benar?”
Suamiku melepas pelukannya. “Iya. Kenapa sih, Bun?”
“Nggak, cuma nanya aja.”
“Ya sudah. Ayah mandi dulu.”
“Bunda buatkan Pancake.”
“Tapi Ayah kenyang banget, Bun.”
“Kalau nggak mau, buang saja!”
Dengan kesal aku bergegas masuk kamar. Lebih baik aku tidur saja. Pikirku.
Meskipun dia masih kenyang, tetapi paling tidak dia seharusnya berusaha menenangkanku. Cicipilah walau hanya sesuap. Mengapa langsung menolak? Atau katakan akan memakannya nanti. Tak ada basa-basi sama sekali untuk sekadar menenangkan sang istri.
Apa dia tidak tahu bahwa Pancake itu dibuat dengan penuh pikiran? Pikiran yang penuh rasa cinta untuk menyambut dia selepas lelah bekerja.
“Iya, nanti Ayah makan sehabis mandi,” ujarnya setelah melihat mukaku cemberut.
Namun, sudah terlambat. Dia mengatakan itu ketika aku sudah menaiki anak tangga. Seharusnya kalimat tersebut dikatakan ketika aku menawarkan pertama kali. Kekesalanku bertambah satu level.
Kumatikan lampu kamar, baringkan tubuh di kasur, dan menarik selimut menutupi badan. Ada pengalaman kurang menyenangkan jika aku tak mampu meredam emosi di tengah malam begini.
Aku mencoba rileks sambil memejamkan mata. Tujuannya, tentu agar bisa segera tidur. Meninggalkan semua kekesalan malam ini di alam mimpi.
Saat mimpi sudah nyaris mendekati, cahaya lampu mengejutkanku. Spontan aku melihat ke arah suamiku.
“Sorry, Ayah sedang cari baju.”
Ia dengan sigap mematikan lampu kembali. Kemudian, ia mengambil posisi tidur di sebelahku. Sedangkan aku dengan cuek membelakanginya.
Aku menjadi sulit memejamkan mata kembali. Kutarik saja selimut hingga menutupi kepala.
Kutarik sebagian selimut yang menutupi tubuhnya dengan kencang. Dia beraksi, tetapi hanya mengucapkan “Bun…” Setelah itu dia malah memeluk guling. Padahal aku di hadapannya, sementara guling di belakangnya. Aku jadi merasa tak ada guna marah sendiri. Perlahan tapi pasti, kupejamkan mata kembali sembari sekuat tenaga meredam emosi.
Kepalaku terasa pusing saat terbangun. Kulihat di kamar sudah tak ada suamiku. Sepertinya aku kesiangan gara-gara semalam sulit tidur. Langsung saja aku bergegas ke dapur untuk membuat sarapan.
“Pagi, Bunda!” sapa suamiku tersenyum.
Aku tak sempat menjawab sapaannya karena kaget melihat di meja makan sudah tersaji sarapan.
“Kenapa bengong saja? Ayo sarapan!”
“Ini Ayah yang buat?” tanyaku sambil melihat ke arah nasi goreng yang sepertinya lezat.
“Iya dong. Spesial buat Bunda dan calon bayi kita,” jawabnya sambil mengelus perutku.
“Sejak kapan Ayah bisa masak?”
Ya, aku heran. Sejak kapan suamiku bisa masak, rasanya aku tak pernah tahu hal tersebut.
“Bunda lupa ya? Dari dulu kan Ayah memang bisa masak. Ayo makan, herannya ditunda saja dulu!”
Aku coba satu sendok nasi goreng buatannya. Enak. Nasi gorengnya lezat. Tekstur nasinya yang paling aku suka. Ternyata suamiku bisa memasak nasi dengan tekstur yang lembut, namun tidak lembek saat dibuat nasi goreng. Bumbunya pas. Bawang merah dan putihnya menyatu dengan sempurna. Ya, karena bumbu utama dalam nasi goreng yaitu bawang. Lalu, tingkat kematangan ayam, sayuran, dan telur yang sempurna membuat cita rasa di lidah begitu nikmat. Masakannya lebih baik dari buatanku.
“Enak kan, Bun?”
“Hem, biasa saja.” Aku terpaksa berbohong agar dia tahu aku masih kesal atas sikapnya semalam.
“Tapi, itu udah mau habis. Mau nambah lagi? Sini Ayah ambilkan!”
“Ya karena lapar saja dari semalam belum makan.”
Setelah sarapan, suamiku menyuruh aku mandi saja. Katanya, dia yang akan membereskan meja makan, cuci piring, dan menyapu lantai. Aku tahu dia melakukan semua itu agar aku tidak ngambek lagi. Ya, itu memang cukup efektif membuatku tersenyum kembali. Rayuan tanpa kata yang menjadi idaman setiap wanita, kurasa.
__ADS_1
Seusai mandi dan merias wajah, aku menghampiri suamiku yang tengah memanaskan mesin mobil. Hari ini dia tampak berbeda.
“Yah, kapan kita jadi ke Hokkaido? Bunda sudah nggak sabar pengen segera ke sana.” Aku mencoba merayu. Memanfaatkan momentum rasa bersalah yang menghinggapinya.
“Lah, kan kita sudah sepakat ke Hokkaido-nya ditunda tahun depan saja sampai si Dede lahir”, responnya dengan lembut.
“Tapi Bunda sekarang juga kuat kok ke sana, nggak akan kenapa-kenapa.”
Namun setelah menyampaikan hal itu, kepala mendadak sakit dan terasa mual. Aku langsung berlari ke kamar mandi, dan suamiku mengikuti.
“Bun, Ayah bukannya tak mau membuat Bunda bahagia. Ayah cuma khawatir, ini kan kehamilan pertama dan Ayah perhatikan kondisi Bunda juga belum stabil”, ucapnya sambil mengusap-usap pundakku.
“Bunda pengen sekali lihat salju di sana. Ini juga kan bawaan ngidam.”
“Bukannya sebelum hamil Bunda memang sudah pengen pergi ke sana?” pungkasnya.
Suamiku mementahkan senjataku. Aku pikir dia akan luluh jika aku mengatakan keinginanku bawaan hamil.
“Ya sudahlah, kalau Ayah nggak mau nemenin, Bunda bisa pergi sendiri.”
“Bun, jangan ngambek gitu. Ini kan demi Bunda dan calon anak kita. Perjalanan ke sana kan berjam-jam ditambah cuacanya sedang sangat dingin. Takutnya dengan kondisi Bunda yang seperti ini malah nanti berdampak serius dengan kesehatan kandungan Bunda.”
“Ayah berharap Bunda kenapa-kenapa?”
“Bukan begitu. Ini hanya antisipasi.”
Debat di dalam kamar mandi membuat kepalaku semakin pusing. Sambil menunjukkan wajah masam, aku berjalan ke ruang tamu. Kemudian, duduk di sofa dengan menyilangkan kedua tangan di dada.
“Bagaimana kalau kita tunggu 3 atau 4 bulan lagi? Kondisi Bunda pasti lebih stabil. Ini kan juga sesuai rekomendasi dokter.”
Apa, 4 bulan lagi? Musim salju di Jepang biasanya hanya sampai minggu ke-3 bulan Maret. Jika setelah itu, untuk apa ke Hokkaido. Meski setelah Musim Salju berganti Musim Semi yang penuh dengan Bunga Sakura, tetapi aku sudah pernah menikmati itu di sana.
“Bunda kan sedang ingin menikmati salju, bukan Sakura, Yah!”
“Tapi biasanya banyak wisatawan berlibur ke Jepang karena Sakura, kan?”
“Sudahlah! Bunda malas berdebat.”
“Kok debat sih, Bun? Ini kan sedang diskusi,” tangkisnya sambil menciumi perutku. “Iya kan, De?!”
“Ya sudah, pokoknya nanti siang Bunda mau periksa ke dokter agar dapat rekomendasi.”
“Kenapa nggak sekarang saja sama Ayah?”
“Bukannya Ayah sudah mau berangkat kerja?”
“Nggak, hari ini Ayah ke kantornya siang.”
“Terus itu kenapa sudah manasin mobil dari tadi?”
“Yuk, kita berangkat sekarang! Ayah ambil handphone dulu sebentar.”
Tumben sekali dia berangkat ke kantor siang hari. Ini pertama kalinya dia begitu. Biasanya, dia bahkan sangat takut untuk terlambat satu menit pun.
Kami lekas menuju rumah sakit tempat aku biasa memeriksa kehamilanku. Sepanjang jalan, aku sempat merasa mual lagi. Padahal kemarin kondisiku baik-baik saja.
Setengah jam lebih aku menjalani pemeriksaan kesehatan dan kehamilan. Mulai dari pemeriksaan fisik yaitu berat badan, tinggi badan, dan lingkar perut hingga pengambilan sampel darah untuk mengecek kadar hemoglobin.
Berat badanku berkurang 3 kg, aku juga merasakan penyusutan tersebut. Namun, hal yang membuatku jadi sedih yaitu dokter mengatakan aku harus mengurangi aktivitas berat, tidak boleh melakukan perjalanan jauh, istirahat di rumah, dan memperhatikan asupan nutrisi dari makanan. HB-ku hanya 9 gr/dl. Artinya, aku mengalami anemia ringan. Normalnya, HB wanita dewasa berkisar 12-15 gr/dl. Itu cukup berbahaya terhadap kandunganku jika diabaikan.
Aku pun menerima masukkan dokter untuk beristirahat, memperhatikan pola makan dan nutrisinya, serta minum tablet tambah darah secara teratur. Dengan berat hati, aku memang harus menunggu winter di Hokkaido hingga tahun depan.
“Tuh kan, kata Ayah juga Bunda lebih baik banyak istirahat dan juga banyak makan,” ujar suamiku ketika keluar dari rumah sakit. “Sekarang Ayah antar Bunda pulang. Terus Ayah nanti langsung berangkat kerja ya?”
“Kita ke supermarket dulu, Yah.”
“Beli apa?”
“Bahan-bahan makanan kan sudah habis.”
“Emang Bunda kuat?”
__ADS_1
“Yah, Bunda tidak sakit, hanya sedikit pusing saja.”
“Ya sudah, begini saja, Bunda catat di handphone mau beli apa saja. Biar nanti Ayah yang belanja dan Bunda tunggu di mobil saja.”