
"Astaga... Sayang jangan melotot seperti itu, mengerikan sekali." ucap Derriel memaksakan senyum, setelah ia menarik selimut yang dikenakan Arani.
"Katakan . Siapa mereka ?." Ucap Arani, seketika duduk ditempat tidur, masih melototin Derriel.
"Mereka ya..... Em itu."
"Udah sih jujur aja. Katamu tidak ada yang boleh disembunyikan diantara kita. Tapi kamu sendiri yang mengingkarinya."
"Sayang...."
"Sudahlah kalau tidak mau mengatakannya. Pergi dari sini. Malam ini tidur diluar sana. Ara ngambek sama kamu." Kata Ara sambil melempar bantar di badan Derriel. Derriel bersekiap menangkap bantal. Arani pun mendorong tubuh Derriel keluar kamar. Lalu menutup pintu dan menguncinya.
"Sayang jangan seperti ini aku tidak bisa tidur tanpa kamu. Sambil mengetuk pintu kamar sesekali."
Derriel pasrah bermalam di luar kamar. Kalau ia terus mengetuk pintunya yang ada bisa berlarut larut marahnya.
"Katakan aku tidak mau ada satupun informasi yang tertinggal." Kata Arani di HP jadulnya kepada seseorang diujung telephon. HP jadul yang dimilikinya. Yang tidak pernah diketahui oleh Derriel sekalipun.
"Menarik." Arani tersenyum disudut bibirnya. "Aku ingin menemuinya. Kuserahkan semua kepadamu. Dan segera temukan orang yang kamu duga itu. Jika itu benar ini akan menjadi kabar yang lebih mengejutkan untuk kakek, 'DIA' dan Derriel." Arani menutup telephonnya. Dan menyembunyikannya di balik dinding tembok dibawah kasur yang bisa dibuka tutup olehnya seorang.
Arani merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Sambil tersenyum kecil disudut bibirnya. Ia tidak menyangka benang kusut yang diciptakan oleh kakeknya sendiri malah mengantarkan kehidupannya kepada kenyataan yang tidak disangka-sangka.
"Aduuuuh... Badanku enggak enak begini sih. Aaa jangan sekarang dong datangnya. Enggak tepat banget."
Kalau sudah begini , ia akan meminta dikerokin badannya. Itu akan membuatnya nyaman lagi sebelum masuk angin di badannya semakin menjadi jadi.
Tapi masih ia tahan enggak mungkin kalau dia minta dikerokin sama Derriel. Ia masih marah padanya. Minta tolong pada pelayan rumah juga ia tidak mau. Tubuhnya disentuh sembarang orang. Jika saja Anet dan Farda ada di dekatnya ia akan meminta tolong pada mereka. Itu yang Arani lakukan dulu waktu masih sekolah.
Sudah membolak-balikkan badan, tidur kesana kemari badannya tetap tidak mendapatkan kenyamanan
Pintu kamar dibukanya. Terlihat Derriel duduk memangku bantalnya disamping pintu.
"Sayang....." Panggil Derriel kala pintu terbuka dan Arani sudah berdiri diambang pintu.
"Masuklah..." Satu kata Arani ucapkan .
Arani berlalu. Dan langsung duduk bersila diatas tempat tidur sambil memandang Derriel .
__ADS_1
Derriel segera masuk kekamarnya. Dan menghampiri Arani diatas tempat tidur dengan muka berseri-seri. Karena beranggapan Arani sudah memaafkannya. Selangkah lagi ia bisa naik ketempat tidur. Derriel menghentikan langkahnya.
Dilihatnya Arani membuka baju tidurnya.
Terlihatlah bahu Arani yang putih mulus bening. Gundukan kenyal Arani masih tertutup bra berwarna pink. Arani membalikkan tubuhnya membelakangi Derriel. Masih posisi duduk bersila. Lalu membuka branya. Dan melemparnya sembarang arah. Diangkatnya rambut bergelombang itu. Lalu ia ikat sanggul.
Terlihatlah setengah badan Arani tanpa sehelai benang. Pemandangan leher jenjang, punggunng mulus Arani mebuat Derriel menelan ludahnya sendiri.
"Sayang, kamu kenapa.? "
"Mendekatlah. Duduk dibelakangku." Perlahan tapi pasti Derriel duduk dibelakang Arani.
"Tolong kerokin badan Ara. Badanku sudah memberi sinyal. Butuh pijat dan kerokan. Ara enggak mau masuk angin. Ini koin dan minyak tawonnya."
Tanpa ragu Derriel mengambil koin dan minyak tawon dari tangan Arani. Segera ia memulai apa yang diminta istrinya itu.
Ditengah aktifitannya itu. Arani membaringkan badannya mengkurep. Lanjut Derriel memijat badan mungil istrinya itu. Sesekali ia menyenggol bagian gundukan kenyal punya istrinya .
"Sudah enakan badannya."
"Em. Sudah mijitnya. Terima kasih."
Arani lekas berdiri setelah turun dari tempat tidur. Dan berjalan mondar mandir mengelilingi tempat tidur yang super besar itu tanpa mengenakan baju. Cara ini untuk menetralkan aliran darah agar aliran darah lancar kembali setelah dikerokin.
Derriel menghampiri Arani lalu menarik tangannya. Dan memeluk erat tubuh Arani.
"Sayang, hentikan . Kamu membangunkan si junior."
"Siapa junio?"
Derriel mengangkat tubuh Arani lalu ia baringkan di atas ranjang dan menindihnya .
"Ah, apa tu. Keras sekali."
"Itu si junior sayang." Kata Derriel sambil menciumi leher dan kuping arani. " Sayang aku mengingjnkanmu."
"Silakan. Aku siap."
"Apa, apa kau benar sayang ?" Tanya Derriel antusian .
__ADS_1
Arani langsung mengubah posisinya di atas tubuh Derriel. Lalu mencium bibirnya. Perlahan ciuman itu begitu lembut dan lama lama semakin dalam diiringi dengan nafas tersengal sengal dari mereka berdua.
"Aku mencintaimu sayang .."
"Aku juga Sai Ail...."
Tangan Derriel sudah menjamah seluruh tubuh Arani. Mereka berdua sudah tidak menggunakan pakaian sehelaipun.
Derriel mencium paha Arani menyesapnya. Perlahan ciuman itu mendarat di bagian inti kewanitaan Arani.
"Aaaah Sai Ail, hentikan. Jangan disitu. Aku malu. To...aaaaahh tolonooog hentikan..." ******* terindah yang didengar Derriel membuat ia semakin membakar semangat dalam dirinya.
Tubuh Arani lemas menerima permainan Derriel. Meremas seprey dan satu tangan lagi menahan kepala Derriel yang tidak henti hentinya menikmati permainannya di bagian inti kewanitaan Arani .
Puas dengan dibawah. Derriel menciumj perut, pusar dan ******* gundukan kenyal Arani secara bergantian dan memainkan ujungnya dengan lidah Derriel. Menyesap leher Arani berakhir mencium bibir Arani.
"Katakan sayang jika kau mencintaiku."
"Aku sangat mencintaimu Sak Ail. Aaah... Badanku panas sekali. Ini aaahh.....". Tangan Derriel masih menjamah bagian inti kewanitaan Arani.
"Aku mulai sekarang."
"Kenapa bilang begitu . Terus dari tadi kita ngapain Sai ?"
"Baru pemanasan..." Lalu Derriel memposisikan dirinya di sela sela kaki Arani, perlahan namun pasti ia lesatkan rudalnya di bagian inti Arani.
"Aaaakkkkkk sakit." Tangan Arani menahan pinggang Derriel
"Tahan. Ini baru pucuknya . "
"ini sangat sakit. Udah.. aakkk sakiiiitt ."
"Tahanlah. Ini sempit sayang .. " tidak kuasa mendengar rintihan Arani. Derriel memaksa menghentakkan rudalnya kedalam sampai tertancap sempurna. Dan mendiamkannya sebentar.
"Aaaakkkkk ." Teriak Arani. Derriel mencium mata , bibir Arani.
"Jangan menangis... Sakitnya akan berangsur hilang jika kita rajin melakukannya sayang."
"Rasanya sesak sekali. Punyaku jadi penuh". Ucap Arani masih memejamkan matanya mabil menahan sakit perih di bagian kewanitaaannya. Derriel tersenyum puas. Akhirnya momen yang ia tunggu bisa ia nikmati sekarang.
__ADS_1
Perlahan Derriel memaju mundurkan rudalnya .
"Aaaahhh " terdengar lengkuhan dari kedua insan didalam kamar itu.