
Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, setibanya mereka dirumah utama Kakek Dirdja.
Penyambutan satu-satunya cucu yang ia sayangi begitu meriah. Dengan hidangan makan malam yang begitu banyak. Makanan yang tersaji, makanan yang disukai sang cucu tercinta.
Saat tamu datang memasuki ruang tamu.
"Aaaa cucuku sayang, akhirnya tiba." Senyum Kakek Dirdja sambil merentangkan tangan untuk memeluk cucu kesayanganya itu.
Arani menyambut pelukan Kakek Dirdja dengan senyuman manisnya.
"Ah cucu menantuku menepati janjinya juga. Untuk mempertemukan aki aki kesepian ini dengan cucunya." Kakek Dirdja melepaskan pelukanya. Dan berganti memeluk cucu menantunya, Derriel.
"Kakek Dirdja." Sambut Derriel.
Mata Arani yang awas dengan kehadiran orang-orang disekelilingnya, tidak lepas memndangi seorang wanita paruh baya, kurang lebih berumur 38 tahun ada di belakang pengawal Kakek Dirjda.
"Kakek tidak ingin memperkenalkan koleksi wanita kakek yang terbaru nih ?."
"Oh itu, Beb kemarilah, aku perkenalkan cucu kesayanganku ini."
Beb??. Aku enggak salah dengarkan. Panggilan kesayangan kakek terhadap wanita itu 'Beb'. Oh ya ampun. Kenapa diriku yang geli mendengarnya yah. Batin Arani protes sendiri.
Wanita itu jalan mendekati mereka . Senyum yang elegan dan menawan. Lesung pipinya terlihat jelas. Melengkapi keindahan setiap mata memandang.
Setelah jaranknya dekat dengan Kakek Dirdja, ia pun langsung merangkul lengan Kakek.
"Arani, Derriel perkenalkan ini calon nenek sambung untuk kalian, Dona. Beb, ini Arani cucuku. Dan Derriel cucu menantuku." Raut wajah Kakek Dirdja penuh dengan kebahagiaan.
"Arani." Sambut Arani mencium punggung tangan Dona.
"Malam Nyonya Dona. Saya Derriel." Lalu mencium punggung tangan Dona.
"Ah Derriel danln Arani harus memanggil Dona, nenek ya. Karena ia akan menjadi istriku."
"Kakek yakin dengam pilihan kakek ini ?. "
"Sangat yakin 1000%. Dona cocok menjadi nenek sambungmu Ara."
Arani melihat dari bawah sampai ujung kepala Dona dengan insten.
"Kek, sepertinya wanita yang kakek bawa ini sama saja dengan yang sebelum belumnya. Hanya mengingikan kekayaan kakek saja."
Ketus Arani
"Sayang, tolong dijaga bicaranya dengan orang yang lebih tua dari kita." Kata Derriel dengan volume pelan dengan mendekati kepala Arani.
"Tentu saja itu benar calon cucu sambungku. Tidak ada seorang wanita yang tidak menginginkan kekayaan. Selain itu nenek sambungmu ini juga menginginkan kelembutan, kehangatan dan juga kasih sayang seorang lelaki seperti kakekmu ini."
"Ciiih, terang terangan sekali nenek ini mengakuinya."
"Arani.....!" Kata Derriel penuh penekanan, namun masih dengan volume nada yang sangat kecil.
__ADS_1
"Beb, kenapa kamu berkata seperti itu. Arani pasti tidak akan menyukaimu". Kata Kakek Dirdja dengan volume suara kecil di telinga Dona.
"Aaahhh... Bagaimana kita makan bersama. Kakek sudah menyediakan makanan kesukaan Ara. Ayo ayo ayo."
Derriel pun merangkul pundak Arani dan menggiringnya ke meja makan.
Ah penyambutan yang tidak baik . Suasana hati istri kecilku kurang baik saat ini. -Derriel
Iiiiiiicchhsss menyebalkan sekali sih tu nenek donat. Kalau berbentuk donat sungguhan enak kali ya dimakan. -Arani
Aku mohon tuhan tolong luluhkan hati cucuku untuk menerima Dona sebagai nenek sambungnya. -Kakek Dirdja.
Menarik bocah ini. Pasti akan menyenangkan mempunyai cucu sepertinya. Lihat saja. Akan aku buat kamu memaksa menyukaiku sebagai nenek sambungmu kelak. Akan aku pakai caraku sendiri. Darling, maaf mungkin aku tidak akan menggunakan cara yang kamu ajarkan kepadaku untuk menghadapi calon cucuku ini. -Dona.
Setibanya di meja makan. Sebelum duduk di kursi masing masing Arani sudah protes.
"Kakek yang benar saja. Ini makanan banyak sekali."
"Ini semua makanan yang kamu suka Ara."
"Ya, tapi tidak semuanya harus dihidangkan kakek."
Aduuuuh.... Kenapa kakek selalu membuat istri kecilku jengkel dengan hal yang berlebihan untuk meluluhkan hatinya. Sepertinya aku harus memberikan rincian daftar suatu hal yang disukai maupun tidak disukai Arani. Kata Derriel dalam hati.
"Sudah jangan berdebat di depan makanan. Pamali. Lebih baik kita duduk sekarang. Makan dengan hikmat. Jika tidak habis kita bisa bagi kesemua pelayan yang ada dirumah ini."
"Ini sangat banyak loh. Dari ujung meja ke ujing meja sana. Bahkan semua pelayan yang ada dirumah ini pun tak akan sanggup untuk menghabiskanya."
Apa??, nenek donat ini memanggil kakek, darling... Ouh ya ampun. Kenapa pasangan tua ini tidak mau kalah dengan anak muda zaman sekarang. -Arani
"Ah ya seperti itu lebih baik. Maaf kan kakekmu ini Ara. Kakek hanya ingin mendapatkan perhatianmu. Yang susah sekali diluluhkan selama ini. Kakek hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu cucuku sayang." Kata Kakek Dirdja penuh kesedihan dalam dirinya. Sampai saat ini ia susah sekali mendapatkan perhatian cucunya. Masih kurang jauh perhatian Arani ke Derriel. Dibandingkan dengannya.
"Aaaiiichhh baiklah baiklah.... Maafkan Arani ya kek." Kata Arani lalu memeluk Kakek Dirdja dengan erat. Dan tidak lupa mengecup pipi kakeknya itu.
"Mari kita makan hidangan ini yang disiapkan kakek penuh dengam kasih sayang." Ajak Arani. Lalu mereka pun duduk dikursi mereka masing-masing.
"Kamu mengakuinya juga kan kalau kakekmu ini lelaki yang penuh dengan kasih sayang. Maka dari itu aku tidak akan melepaskan kakekmu ini. Jadi kamu harus merestui kami menikah."
"Kenapa permintaanmu memaksa seperti itu".
"Karena aku calon nenek sambungmu yang sudah mantap dipilih oleh kakekmu.." Kata Dona dengan senyum menawannya.
"PD banget sih."
"Sudah sudah. Mari kita makan."
Acara makan malam usai. Makanan yang tidak tersentuh sedikitpun dibagikan kepada semua pelayan dirumah ini. Sebagian dibagikan kepada pak satpam penjaga komplek. Dan pedagang keliling yang lewat di depan gerbang komplek perumahan elit tersebut.
...****************...
Mereka menuju masing-masing kamar. Ara dan Derriel di kamar lantai 2 paling ujung. Sedangkan kamar Kakek ada di dekat tangga lantai 2. Sementara Dona ada di lantai 1 di kamar tamu.
__ADS_1
Arani dan Derriel selesai membersihkan diri. Dan naik di atas ranjang sambil menonton TV.
"Say Ail, bagaiman menurutmu calon nenek sambung kita ?"
"Beliau baik. Dan aku yakin Nyonya Dona akan mebuat kakekmu bahagia."
"Aku benar benar tidak menyukainya. Say Ail tadi dengar sendirikan dia terang terangan mengincar harta kakek."
"Sayang, terlepas dari itu semua lihat sisi positifnya. Kasihan loh kakek Dirdja seumur hidupnya sendirian tanpa keluarga kandung sampai sebelum mengetahui bahwa kamu cucu kandung yang hilang belasan tahun. Mungkin saatnya kakek mendapatkan kasih sayang dari seorang istri. Setelah sekian tahun ia sebatang kara karena janjinya untuk menemukan kamu.
"Emmmm...."
Derriel pun merubah posisi Arani yang tadinya duduk bersandar melihat TV, menjadi bersandar menghadapnya.
"Sayang, kamu merasakanya kan waktu usiamu 14 tahun aku tinggal selama seminggu pergi bersama Kakek Dirdja tanpa ada kabar . Ke luar negeri untuk mengurus perusahaan kakek disana yang begitu kacau."
"Ya ingat. Itu membuatku sedih. Itu adalah kali pertama dan terakhirnya Sai Ail pergi dan tidak mengabariku sama sekali."
"Itu baru seminggu. Sedangkan kakek belasan tahun silam, ditinggal mati istri, anak laki-laki, dan menantu perempunnya, saat tragedi kecelakaan maut itu.
Dan kehilanganmu cucu kecilnya yang masil berumur 1 tahun saat kecelakaan itu terjadi. Padahal kalian semua ada di satu mobil. Kakek tidak tahu kamu masih hidup atau mati. Sampai memutuskan ia berjanji akan menemukanmu hidup atau mati."
"Iya sih. Pasti kakek merindukan suatu keluarga yang ada disisinya dalam masa masa tuanya.
Baiklah baiklah Ara tidak akan bersikap egois. Kalau memang kakek sudah memilih nenek donat itu yang terbaik baginya, aku akan coba menerimanya."
"Nemek donat. Siapa nenek donat itu. Tadi kakek mengenalkan namanya Dona."
"Aaaiiiicchh, jika suatu nama Ara sulit mengingatnya. Jika namnya di tambah huruf 'T' diakhir katakan jadi donat. Sebuah makanan. Ara akan mumah mengingatnya."
"Ada hal seperti itu.?"
"Ada lah. Ini Ara contohnya."
"Aah baiklah baiklah". Ada ada saja. Batin Derriel.
Ara bangkit dari tempat tidurnya.
"Eh mau kemana ?."
"Menemui kakek. Mau bilang kalau Ara akan coba menerima calon nenek sambung itu."
"Sudah malam. Besok saja. Mungkin kakek sudah tidur."
"Gak mau. Maunya sekarang." kata Arani yang sudah membuka pintu kamarnya dan hilang dari pandangan Derriel.
"Istriku kalau sudah punya kemauan tidak bisa terelakan."
Namun setelah itu, raut muka Derriel penuh rasa kesedihan yang mendalam.
Sayang maafkan suamimu ini sudah berbohong. Aku tidak benar-benar keluar negeri.Melainkan mencari kebenaran atas identitasmu.
__ADS_1
Dan dari situlah aku dan kakekmu tahu kebenaran bahwa kamu cucu kandung Kakek Dirdja. Saat usiamu 14 tahun.