
Salam hangat dariku untuk kalian yang sudah mampir dikaryaku. Sehat-sehat selalu untuk kalian dimanapun kalian berada
Maafin aku up episotnya lama . Berharap bisa setiap hari update. Nyatanya tidak semudah yang di inginkan.
Tidak mudah membangun ide cermelang mencari cerita yang menarik untuk dibaca.
Jujur sedih sekali saat menulis hayalan disini, sudah sampai di tengah jalan bleeeeeng mau diarahin kemana cerita ini.
Semoga BAB kali ini menghibur kalian .
selamat membaca 🤗
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Coba Ara menghubungi Ard..., Maksutnya teman Ara untuk mencari celah bagaimana menangkapnya. Dia sangat ahli dalam mencari celah kelemahan lawannya lho . Emm bolehkan Say?" Mohon Ara sambil nyengir kuda.
"Ayo tidur. Kita bahas lain waktu." Kata Derriel memeluk Arani dan memejamkan matanya.
"Aiiich cemburunya begitu sih. Jelek banget. Nyawaku sedang terancam ini."
"Sayang masalah itu biar aku saja yang melakukannya. Cukup kau selalu berada disisiku." Semakin erat memeluk istri mungilnya itu
"Say Ail. Satu lagi. Jangan mengabaikan aku lagi seperti di dalam mobil wktu pulang dari rumah Kakek Alexandros. Sungguh itu menyakitkan. Say Ail selama ini tidak pernah mengabaikan aku seperti itu." Terpancar kesedihan dimata Arani.
Lekat lekat Derriel menatap wajah sedih istrinya itu.
"Maaf akan hal itu. Tindakanku membuatmu sedih. Kita sudah sepakat masalah ini. Maka kedepannya tidak ada lagi peristiwa seperti ini lagi. Ok !". Lalu mengecup bibir Arani sekilas.
"Emm..."
Malam ditutup dengan Arani yang begitu pulas dipelukan Derriel. Melihat Arani sudah pulas. Ia segera keluar dari kamar hotel. Dan menemui kepala pengawal yang mengawalinya sepanjang hari, di kamar hotel sebelahnya.
"Katakan..."
"Nona Muda meminta kami agar tidak menghalangi dua wanita lain yang mengikuti Tuan Derriel dan Nona muda hari ini."
Derriel tersenyum kecil. "Ikuti kemauan istriku, jika itu membuatnya senang. Tapi jangan sampai lengah untuk keamanan istriku. Aku tidak mau istriku terluka maupun tergores sedikipun."
"Baik Tuan Derriel."
Lalu Derriel kembali ke kamar hotelnya. Melihat Arani yang tidur pulas, namun masih terbesit kerisauan dalam hatinya. Jika keamanan istrinya masih saja terancan .
Tuhan bisakah untuk kehibudapan kali ini kami tidak harus menjalani kehidupan yang berdarah, kehilangan dan kesedihan seperti kedua orang tua kami dan kakek nenek kami. Aku hanya ingin ada kedamaian, cinta dan kasih sayang . Kumohon lindungilah kami Damaikanlah keadaan yang menimpa kami. - ucap Derriel dalam hatinya. Sabil mengelus pucuk kepala istrinya.
Esoknya, Derriel pergi pagi-pagi sekali ke kantor. Untuk menyelesaikan pekerjaanya yang tinggal sedikit lagi. Dan menulis pesan kepada istrinya di secarik kertas untuk datang menemuinya di waktu makan siang tiba.
****
__ADS_1
Hari demi hari berlalu. Masalah pekerjaan Derriel teratasi dengan baik . Ditambah Arani yang selalu disisinya. Baik di kantor maupun di rumah. Esok adalah hari weekend.
"Sayang lebih baik kau berhenti bekerja di AD Group."
"Enggak mau Ara mau bekerja di perusahaan Say Ail."
"Kamu membantuku seperti kemarin saja juga sama aja kan bekerja. Jadi tidak perlu menyandang status sebagai karyawan di perusahaan suamimu ini."
"Ya beda Say. Statusku itu istri yang membantu suaminya."
"Aiiichhh kau ini..."
"Say Ail. Kalau Ara berstatus karyawan kan leluasa memata-matai siapa saja yg ingin mendekati Say Ail."
"Kau ini ya. Wanita seperti apapun tidak akan pernah menggantikankamu di hatiku sayang". Derriel memeluk erat Arani.
"Ya mungkin tidak akan menggantikan Ara di hati Say Ail. Tapi wanita diluar sana hanya mengandalkan ambisinya untuk memilikimu".
"Aahh Say Ail. Hentikan ! Geli say." Ucap Arani. Karena tengkuknya diberi kecupan oleh Derriel.
"Apa kau sudah selesai datang bulannya sayang ?" Tanya Derriel yang suaranya semakin berat dan parau di dekat telinga Arani.. Hasratnya sudah memuncak untuk menerkam istrinya.
"Sudah. Memang,, aaaah hentikan. Ara jadi tidak fokus Say..aaahh."
Lalu Derriel pun menghentikan aktifitasnya. Dan menatap lekat lekat wajah istrinya sambil memberi sekilas kecupan di bibirnya.
"Sayang, ayo kita ke dokter kandungan !". Ajak Derriel
"Memasang KB." sekilas memcium bibir Arani lagi , lagi dan lagi.
"Harus sekarang ya?."
"Tentu saja. Setelah datang bulan, waktunya kamu dalam keadaan subur. Sangat besar sekali kemungkinan kamu hamil . Apa kamu mau segera hamil?".
"Tidaaak.. "
"Maka ikuti perintahku."
"Ok. Baiklah. Terimah kasih sudah mengerti kemauanku." Sambil memeluk erat Derriel.
"Baiklah. Setelah Pasang KB aku minta imbalannya."
"Siap Sai Ail. Apapun yang kamu pinta akan aku penuhi."
...****************...
Saat di perjalanan ke rumah sakit, didalam mobil
"Sayang di minggu depan ikut aku."
"Kemana?" Tanya Arani yang tidak lepas memainkan HP-nya.
__ADS_1
"Menemui semua temanmu itu."
Arani berhenti memainkan HP-nya pandangannya lurus kedepan. Dan berusaha berfikir teman yang dimaksud suaminya yang mana.
"Teman-teman yang membantumu dalam mencari informasi."
Menoleh memandang Derriel disampingnya "Semuanya?"
"Ya tanpa pengecualian."
"Untuk apa ?"
"Aku ingin tahu mereka".
"Itu saja?"
"Iya sambil membahas rencana untuk menangkap dan mentakhlukan saudaraku itu."
"Eh, tiba-tiba" heran Arani.
"Ya aku mencari detail profil data mereka dari HP yang kau sembunyikan dariku sayang. Skill yang mereka punya sesuai untuk melindungimu. Mereka tidak menanggapi kehadiran atau panggilan dari orang-orangku untuk bertemu. Tapi saat aku mencoba menghubungi mereka melalui HP-mu itu. Mereka langsung siap menerima pesan ajakanku. Apakah mereka setia itu kepadamu sayang?"
Arani tersenyum lebar mendengar penuturan Derriel.
"Benarkan ada kejadian seperti itu? Lucu sekali. Berarti mereka beranggapan jika yang mengirim pesan SMS melalui HP-ku itu adalah Ara?"
Derriel pun menggangguk pelan dan menoleh ke wajah Arani yang duduk disebelahnya.
"Tidak Ara sangka. Mereka begitu setia kepadaku" senyum Arani terlukis indah diwajahnya.
Namun tidak dengan Derriel, tali sumbu cemburunya mulai menyala dan siap untuk terbakar. Bagaimana tidak, karena teman teman Arani yang dimaksut ada lima dan hanya satu gadis saja.
Melihat ekspresi suaminya yang sudah terbakar api cemburu membuat Arani merubah ekspresi wajahnya menjadi imut.
Sambil memeluk lengan kekar Derriel. Dan mengkedip-kedipkan matanya.
"Say Ail, jangan cemburu gitu dong. Hanya Say Ail seorang yang ada di hati Ara.
Sekilas Derriel memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya yang kasar. Mencoba untuk mengotrol emosinya yang mulai membakar dirinya.
"Rasanya aku ingin urungkan niatanku ini."
"Jika Say Ail urungkan. Jangan sampai nanti menyesal dikemudian hari."
"Sayang ....."
"Say Ail jangan pernah meragukan perasaan Ara ke Say Ail. Ara akan selalu setia pada Say Ail. Karena Ara sangat mencintai Say Ail. Say Ail jangan cemas akan hal itu. " sambil tersenyum manis menatap Derriel
"Kamu sedang mengatakan cinta kepada suamimu ini hem?". Senyum Derriel memgembang.
"Enggak juga sih." Elak Arani malu dengan wajah bersemu merah..
__ADS_1
"Senangnya istriku mengatakan isi hatinya yang begitu dalam kepadaku." Bahagia Derriel memeluk Arani erat dan mencium bibir tak henti hentinya. Sampai tak memperdulikan sang sopir yang ada di dalam mobil yang fokus dengan kemudinya.