
Arani yang berdiri di belakang tubuh Derriel, menyembulkan kepalanya untuk melihat orang yang di maksut suaminya itu.
"Farda......"
"Arani....."
Merekapun saling berpelukan erat. dan melupakan keadaan sekitar.
"Farda kamu bisa sampai ke kota ini. kamu mengunjungi siapa di kota ini? kamu kan tidak punya sanak saudara disini."
"Emmm. Emm. Itu... sebenarnya....."
"Dia istriku." sahut Daniel tiba-tiba.
"Apa...!" serempak mereka terkejut dengan ucapan Daniel.
Farda hanya menundukkan kepalanya setelah melepas pelukan dari Arani.
...****************...
Makan malam berjalan dengan hening. Karena itu permintaan Daniel. Jika sedang di meja makan, dan makan bersama maka harus menikmati gidangan tanpa ada sepatah kata pun terucap
Di ruang keluarga kediaman Dirdja.
"Menginaplah disini, Bang. Malam sudah sangat larut." Bujuk Derriel.
"Kami langsung pulang saja." Ketus Daniel
Bukannya tadi Tuan Daniel menyuruhku untuk membawa pakaian untuk jaga jaga jikalau menginap ya. Aaahhh iya bisa jadi Tuan Daniel jual mahal. Aiiichhh laki -laki ini ya, bikin gemes. --Batin sang gadis yang bernama Farda. Teman sekolah Arani.
"Daniel Derriel maafkan ayah kalian ini yang telah lalai dengan kalian. Maafkan masa laluku. Ayah berharap bisa menebus kesalahan ayah yang sudah berlalu." Ucap Alexandros tulus dari lubuk hatinya.
"Ayah. Sudah jangan mengingat masa lalu. Itu sudah berlalu. Aku sudah memaafkanmu. Kita jalani hidup kita sekarang dengan damai."
"Uuucchh kau bilang damai dan melupakan masa lalu. Bagaimana bisa diabaikan begitu saja. Dengan masa lalu yang begitu kejam untuk kami lalui. Aku harus melihat ibuku menahan rasa sakit yang ia derita karena kami tidak memiliki cukup biaya untuk berobat. Dan aku harus kehilangan adik perempuanku. Keluargaku satu satunya."
__ADS_1
"Kami semua juga keluargamu bang." Sela Arani.
"Gara gara kau , adikku hilang bocah tengik."
"Hilangnya Delisa bukan karena Arani, Bang. Jangan menyalahkan siapapun atas hilangnya Delisa." Bela Derriel.
"Hentikan perselisihan kalian. Daniel kami memang tidak bisa merasakan kehidupan yang kau jalani. Tapi setidaknya bisakah kau menerima kami sebagai keluarga. Mari kita bersatu menjadi keluarga besar. Mengenai hilangnya Delisa , Aku , Alexandros, dan juga Derriel sudah menyatukan kekuatan dan kekuasaan kita bersama untuk mencari Delisa. Alangah baiknya jika kau turut bergabung mencari Delisa bersama sama. Bukankah kau seorang IT jenius. Dengan menyatukan kekuatan dan kekuasaan yang kita miliki bukannya peluang menemukan Delisa akan lebih besar." Ucap Kakek Dirdja.
"Kurasa sudah cupuk aku bertamu disini. Kami pamit pulang."
"Daniel". Panggil Alexandros
"Farda". Panggil Arani.
Jika sudah kekeh dengan kemauannya. Pastilah Daniel tidak akan mudah di bujuk.
Di ambang pintu teras kediaman Dirdja.
"Arani. Aku pulang dulu ya. Lain kali kita berjumpa lagi. " Pamit Farda pada Arani
"Janji ya. Nanti Ara ajak berkeliling kota."
"Em..." Sambil mengangguk kan kepalanya.
Doooooorrr.....
Saat hendak memasuki mobil, Daniel dan Farda, merdengar suara tembakan satu kali. Yang mengenai vas kaca besar yang terletak di sebelah Nenek Dona berdiri.
"Aaaaaaaaahhh..." Teriak Dona sambil menutup kupingnya. Dan langsung mendapat pelukan dari Kakek Dirdja di sebelahnya.
"Ibuuuu...." Teriak Farda sambil menutup kuping dan sedikit membungkuk.
"Aaakkkh..." Ucap Arani. Lalu dipeluk oleh Derriel.
Beberapa bodyguard berusaha melindungi kakek dan nenek dan menggiringnya masuk ke dalam rumah. Derriel segera memeluk Arani juga segera masuk kerumah.
__ADS_1
"Segera kejar penembak itu. Jangan sampai lolos." Perintah Alexandros.
"Baik Tuan." Ucap para pengawal serempak dan bergegas menjalankan perintah.
"Daniel ajak istrimu kedalam rumah. Urungkan niatmu pulang sekarang."
"Tuan, saya takut. Sebaiknya kita mendengarkan kata Tuan Alexandros." Mohon Farda yang matanya sudah berkaca kaca."
"Ayo..." Ucap Daniel sambil merangkul pundak Farda.
...****************...
"Beb, ada yang terluka... Ada yang sakit?" Tanya Dirdja sambil memerika sekujur fisik Dona."
"Tidak sayang. Tidak ada yang terluka. Aku hanya scok mendengar tembakan."
"Cepat panggil dokter pribadiku."
"Kami sudah memanggilnya tuan. " Ucap sang ajudan.
"Arani...."
"Aku tidak apa apa Say Ail."
"Aahhh syukurlah. Sambil memeluk erat tubuh mungil istrinya.
Farda dan juga Daniel masuk lagi ke diaman Dirdja. Disusul Alexandros.
"Siapa yang berani mencoba mengusik kediamanku ini."
"Apa kau mempunyai musuh Dirdja. Karena arah tembakannya mengahar ke istrimu." Tanya Alexandros
"Selain kau dan juga Daniel yang selalu mengusik ketentraman keluargaku siapa lagi hah..." Sungut Dirdja."
"Aiiichhh kau ini. Mana mungkin aku. Bukankah kita sudah menjadi best friend lagi. Mana mungkin aku mencelakaimu lagi. Dan Daniel juga tidak akan mungkin mencelakai keluarganya sendiri. Benarkan Daniel?".
__ADS_1
"Yang jelas itu bukan aku." Jawab Daniel.