Yang Menyatukan Cinta

Yang Menyatukan Cinta
BAB 25 : 13 Tahun lalu part 2


__ADS_3

Esoknya mereka berjalan jalan lagi ke pantai. Lalu naik ke perahu berkeliling menikmati keindahan dan angin laut.


Penuh canda tawa kebahagiaan diantara mereka. Dibalah perahu mereka ketepi laut. Dan mereka pun makan di restoran pinggir laun yang sangat nyaman untuk menikmati makanan sembari melihat pemandangan pantai dan lautan luas.


"Arani senang?" Tanya Derriel sambil mengusap pucuk kepala bocah itu.


"Senang Om Ail. Kita main lagi nanti."


"Kita tidak bisa berlama lama disini. Om Ail harus kerja. Begitupun Arani kan harus masuk sekolah lagi."


"Tapi Ara masih mau main lagi om....!"


"Tentu saja kita bisa main lagi kesini nanti libur sekolah ya."


"Janji ya main kesini lagi."


"Iya janji."


Mereka pun menikmati hidangan yang disajikan. Berbagai hidangan laut disajikan di atas meja. Derriel, Arani, dan para nani dan juga pengawal yang mengikuti tuannya juga ikut menyantap makanan yang ada di meja makan mereka. Derriel tidak membedakan mana tuan dan mana pelayan. Baginya orang orang yang ikut menjaga dan mengawal mereka adalah keluarganya. Lebih nikmat makan di meja bersama-sama.


Arani begitu menikmati makanya terutama udang laut Krispy. Pertama kalinya memakan udang laut, membuat nafsu makannya lahap. Derriel yang melihatnya tersenyum puas.


Selesai makan mereka kembali ke hotel untuk istirahat. Namun sepanjang jalan Arani selalu garuk garuk anggota tubuhnya. Dari kaki, tangan dan badannya.


"Om Ail gatel om..." Keluh Arani masih menggaruk-garuk lengannya dengan mimik wajah sedih.


"Loh kenapa ini." Kaget Derriel melihat lengan dan kaki Arani ada ruam merah.


"Sepertinya Nona Arani terkena alergi Tuan." Jawab sang nani yang juga mengamati tubuh mungil Arani.


"Segera ke rumah sakit atau klinik terdekat." Cemasnya Derriel melihat mata Arani sudah berkaca kaca merasakan gatal di tubuhnya.


Mereka memasuki klinik terdekat. Diperiksanya Arani, dan didiaknosa. Benar saja jika Arani alergi udang. Yang diperkuat oleh penjelasan nani Arani jika tadi Arani baru saja makan udang laut. Dokter meresepkan obat dan memberikan penjelasan mengenai dampak buruk yang akan terjadi jika telat dibawa kesini. Jika porsi makannya lebih dari hari ini dan terlambat dibawa ke klinik kesehatan bisa mengakibatkan sesak nafas juga.


Mendengar penjelasan dokter akan hal itu membuat dada Derriel sesak. Tak menyangka bisa berakibat buruk . Padahal ia melihat Arani makan dengan begitu lahapnya.


Syukur keadaan Arani tidak begitu serius setelah penanganan dari dokter. Dan malamnya Arani bisa kembali pulang tanpa harus menginap di klinik.


Sepanjang perjalanan Derriel terus saja berucap lirih meminta maaf sambil memeluk Arani di pangkuannya.


Malam semakit larut. Dilihatnya Arani sudah nyaman tidur di sisinya . Berderinglah HP Derriel di atas naskah.


"Bagaimana keadaan Arani?" Tanya Dirjda yang khawatir setelah mendapat kabar Arani alergi udang.


"Sekarang semakin membaik Tuan. Dan juga sudah bisa tidur pulas."


"Syukurlah kalau begitu. Besok segeralah kembali ke rumah. Serahkan sisa kerjaan kepada orang kepercayaanku disana."


"Baik Tuan Dirdja."


...****************...

__ADS_1


Esok paginya waktu menunjukan pukul 06:00 Arani masih nyenyak dalam tidurnya.


"Tolong jaga Arani di sini aku mau keluar sebentar mencari bubur ayam kesukaan Arani."


"Biarkan saya saja yang mencarinya tuan, atau pesan kepada pihak hotel." Ucap sang nani.


"Tidak perlu. Kamu tetap di dini saja. Lagi pula aku juga ada urusan senbentar di luar."


"Baik Tuan Derriel."


Dicarinya tukang bubur ayam di sekitaran hotel . Ada yang baru saja mangkal di pinggir jalan.


"Pak beli buburnya."


"Mau berapa porsi den?".


"Satu saja. Jangan dikasih kacang ya. Porsinya setengah saja. Untuk seorang anak kecil."


"Baik den."


"Sebelumnya saya minta maaf pak. Boleh saya tahu Bapak menjual bubur ini, jika habis dapat pemasukan berapa?."


"Jika hari ini abis bisa 350 ribu Den." Sembari menyiapkan pesanan Derriel pelanggan pertamanya.


"Ini den sudah siap. 5 ribu saja."


Derriel segera memberi lembaran uang banyak kepada si penjual. Sepulu kali lipat dari pendapatan si penjual bubur jika dagangannya habis.


Bapak penjual bubur tercengang dan membolakan mata Derriel memberikan begitu banyak lembaran uang sedangkan harga buburnya hanya lima ribu rupiah saja.


"Saya beli dagangan bapak semua. Nanti bagikan saja pada orang orang yang berlalu lalang disini."


Tidak ada gerakan menerima dari si penjual. Derriel menarik telapak tangan Bapak penjual bubur. Dan memberikan lembaran uang tersebut. Dirasakan tangan bapak penjual gemetar menerimanya. Tersungging senyum kecil di bibir Derriel.


"Ini pendapatan bapak hari ini. Selebihnya saya titip kan ke bapak untuk anggota keluarga bapak dirumah yang menanti kebalinya bapak berjualan."


"Terima kasih den. Terima kasih. Semoga Tuhan membalas kebaikan Aden berkali kali lipat." Kata si penjual bubur haru dan berlinang air mata saking bersyukurnya.


Karena uang yang ia terima hari ini bisa untuk modal usaha istrinya berjualan di rumah sambil momong anak yang bontot dan selebihnya untuk membayar tunggakan sekolah anak pertama dan kedua.


Derriel kembali ke hotel. Dan Arani menangis mencari keberadaan Derriel karena Arani bangun tidak didapatinya Derriel di sisinya.


Flashback off...


"Arani. Sayang bangun . Bangunlah.. !" Pinta Derriel cemas, karena Arani mengigau dalam tidurnya dan nafasnya tersengal sengal.


Terbukalah mata Arani. Dilihatnya Derriel disisinya. Membuat ia sedih dan berlinanglah air matanya.


"Oom A..aail..." ucap Arani sersengal nafasnya dan terbata bata.


Ia pun segera memeluk tubuh polos tanpa sehelai benang di hadapannya itu.

__ADS_1


Setelah pergulatan panas di atas ranjang. mereka tidur bersama sambil berpelukan. Siap sangka mimpi buruk menghampiri Arani atas kejadian 13 tahun silam.


"Tenanglah. Aku disini sayang."


"Ara memimpikan kejadian 13 tahun lalu om. " sambil menangis di pelukan Derriel.


"Tenanglah kejadian itu sudah berlalu. Dan tidak akan terjadi lagi menimpamu. Aku akan selalu disisimu sayang."


Beberapa saat setelah Arani tenang di pelukan Derriel, Derriel mengajak istrinya mandi bersama. Lalu makan malam dikamar karena mereka melewatkan makan malam tadi karena pergulatan panas yang penuh cinta diantara mereka.


Meski jam suduh menunjukkan jam 23.30, rasa lapar tak bisa terelakan lagi.


Merekapun kembali ke atas ranjan sambil berpelukan bersandar di sandaran tempat tidur. Yang pasti sudah mengenakan pakaian tidur mereka masing masing.


"Say Ail..."


"Emmm... Kenapa." Derriel sudah memejamkan matanya meski mereka masih posisi berpelukan dan bersandar.


"Kurasa Ara tahu kenapa kembaran Say Ail ingin membunuh Arani."


Derriel menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia membuka matanya yang baru saja ia pejamkan.


"Jangan berbicara yang tidak-tidak. Motif sesungguhnya kita belum tahu detainya sayang."


"Ia ingin balas dendam kepada Say Ail karena masih memiliki orang yang Say Ail sayangi. Yaitu Ara. Sedangkan ia harus kehilangan orang yang ia sayangi karena Ara."


"Kau ini bicara apa sayang. Sudah jangan mengada ada cerita. Kita tunggu kabar dari Ayah Alexsandros mengenai motif dari kejadian penyerangan waktu itu."


"Cieee sekarang sudah memanggil nama ayah nih. Ara kira Say Ail tidak akan menyebutkan nama panggilan itu ke Ayah Alexsandros."


"Bukannya katamu aku harus membenarkan nama panggilannya. Dan kali ini aku sedang berusaha sayang."


"Ah suami yang sangan mendengarkan ucapan istri. Makin sayang Say Ail." Sambil mengeratkan pelukannya kepada Derriel


"Itu harus. Istri harus semakin sayang kepada suaminya." dibalas erat pelukan dari istri mungilnya itu dan Derriel pun memejamkan matanya lagi


"Say Ail..."


"Heeemmm.."


"Nama kembaran Say Ail adalah Daniel dan Delisa."


Derriel membuka matanya.


"Dari mana kau tahu sayang. Aku belum menyebutkan nama mereka. Bahkan aku hanya tahu nama kembaran laki lakiku saja. Daniel. Sedangkan kembaran perempuanku, aku belum mengetahuinya."


"Karena Arani bertemu mereka tiga belas tahun lalu di kota TA. Dan karena Arani lah. kembaran perempuan Say Ail terpisah dengan kembaran laki laki Say Ail waktu itu. Arani baru ingat lejadian itu setelah mimpi buruk tadi."


Derriel melepaskan pelukannya. Menatap wajah cantik dihadapannya.


"Jelaskan secara detainya jika kamu ingat sayang."

__ADS_1


"Jadi ceritanya .....


-To be continue


__ADS_2