Yang Menyatukan Cinta

Yang Menyatukan Cinta
BAB 12 : Baru keluar kamar


__ADS_3

"Jadi benarkan? ."


"Iya sayang. Semua saling berkaitan. Maka dari itu tolong menurutlah demi keamanan kamu juga. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Mengertilah." Mohon Derriel tidak ketinggalan ia semakin erat memeluk tubuh Arani.


"Terima kasih sudah berusahan menjagaku. Baiklah aku akan menurut." Ucap Arani.


Tapi tidak untuk satu tujuanku ini. Maaf aku tidak akan bisa menuruti maumu jika tujuanku ini sudah mulai aku jalankan. Kata Arani dalam hati.


...----------------...


Diruang keluarga. Arani sedang menyalahkan TV.


Nenek Dona keluar dari kamarnya. Dilihatnya Arani di ruang keluarga sendiri.


”Seharian kalian baru keluar kamar. Bahkan hari ini masih hari kerja, kalian berdua kompak banget tidak bekerja. Kenapa baru keluar kamar sekarang. Kalian melewatkan makan malam bersama.” Ujar Dona melangkah mendekati Arani. dan sekarang sudah duduk di sebelah Arani.


”Nenek, Ara malas membahasnya. Udah nonton TV aja bareng bareng ."


Insten Dona mengamati setiap inci tubuh cucu sambungnya itu. Dan ada sedikit kecurigaan yang ia lihat di leher Arani.


Tiba-tiba tanpa permisi, Dona mencolek dan menggosok sedikit leher Arani. Benar saja. Arani memakai cream untuk kulit, menutupi bekas kemerahan di leher Arani.


"Issss nenek apa sih main sentuh sentuh Ara." Arani lalu menutup lehernya dengan telapak tangan agar bekas ****** dari Derriel tidak dilihat neneknya yang kepo ini.


"Hahahaha kau seharian ini melakukan ritual itu hah?. Coba lihat cara jalanmu. jalan lah." Pinta Dona sambil mendorong tubuh Arani untuk segera bangkit dari tempat duduknya.


"Iiiiiissschhh apa sih nek. Seneng banget kayanya kalo Ara bernasip sama kaya nenek. Memuaskan suami yang begitu buas."


"Wkwkwkwk tidak kusangka Derriel begitu besar powernya. Seharian kalian tidak keluar kamar. Eh tapi mulainya tadi pagi apa sudah sedari malam?"


"Sedari malam. Puas dengernya." Kata ketus, dan sebal sambil memanyunkan bibirnya itu."


"Apa.... yang benar saja." Dona tercengang dengan pengutaraan dari Arani.


”Wah pasti lelah sekali kamu Ara."


"Tidak perlu Ara jawab. Nenek sudah tahu jawabannya"


"Ayo ikut nenek ke dapur."


"Mau ngapain kedapur?"


"Membuat ramuan untuk tubuhmu itu. Kau ingin tubuhmu lebih bugar lagi kan. Ayo."


Arani mengikut neneknya yang sudah berjalan menuju dapur.


"Ara, sekarang dimana suami kamu?."


"Ada diruang kerja kakek. Katanya mau membahas masalah pekerjaan."


Kalian pasti membahas mengenai Kakek Alexsandros. Sepertinya aku harus melangkah lebih cepat sebelum kalian memperketat penjagaanku.


Ah besok hari weekend.... aku harus melewatkannya.

__ADS_1


Pasti asyik kalau berlibur bersama teman teman. Sayang beribu sayang aku tidak bisa ikut.


...----------------...


"Wah asyiknya, kalian sangat menikmati liburan weekend kemarin."


"Lagian kamu kemarin kenapa nggak jadi ikut kalau ikut kan kamu bisa bersenang-senang bersama kami. Tiba-tiba sakit. Jadi enggak ikut, aduh sayang banget deh." Kata Nia teman kerja yang lain.


"Yah belum rezeki Ara."


Kalau bukan bos kalian yang mengurungku di kamar,aku pasti akan ikut dengan kalian.


Emmm, alasan sakit.Om Rio pasti membantu Sai Ail untuk membuatkan surat dokter.


"Apakah lain waktu kalian akan mengadakan liburan lagi ?, Ara sangat ingin ikut, tapi bisa nggak ngajak keluarga gitu."


"Bagaimana kakak senior Ani adainlah. Kita buat tema gathering family."


"Boleh bagus tuh. Tapi nggak di bulan ini ya. Kita cari bulan yang lain, karena menejer atas, sudah memberikan liburan untuk divisi yang lain. Gantian dengan devisi lain." Kata Kak Aji.


"Yes ..... " Seru semua .


...----------------...


Saat menjelang makan siang Arani sudah terlebih dulu turun di lantai bawah. Tepatnya di lobby. Dan melihat Rio, Derriel, dan juga beberapa orang rekan bisnisnya akan keluar kantor. Sepertinya mereka akan makan siang bersama di luar kantor.


"Eh siapa dia, kenapa jaraknya harus sedekat itu sih. Bukan, bukan dekat. Itu bahkan hampir menempel. Siapa wanita itu, mana bajunya. Astaga itu mah baju kurang bahan . Mana itu gundukan kembarnya besar lagi, memakai baju sesempit itu. Dia apa enggak merasa sesak apa dibagian. d a d a nya." Kata Arani dalam hati, mengamati kepergian rombongan suaminya itu.


"Nona, nona kenapa menggeleng gelengkan kepala? " Tegur cleaning servis di dekat Arani berdiri di ruang lobby.


"Ah ini Mas, penglihatan saya kunang kunang . Biasa kalau kurang minum seperti ini.”


"Apa perlu saya antar ke ruang kesehatan Nona?".


"Tidak perlu Mas. Terima kasih . Sebentar lagi jam istirahat, saya bisa beli minuman untuk mencegah penglihatan saya tidak kunang kunang lagi. Sekalian ingin makan siang diluar kantor."


"Oh baiklah. Saya tinggal ya. Mari,..."


"Iya silakan mas."


Diluar lobby saat hendak melangkahkan kaki di tangga terakhir, wanita yang berjalan disebelah Derriel sengaja berpura pura tersandung. Derriel disebelahnya dengan sigap menahan tubuh wanita itu agar tidak terjatuh. Sesaat mereka saling pertatapan. Namun Derriel segera menjaga jarak. Terlihat wanita itu begitu senang Derriel menolongnya . Dan pemanandangan itu dilihat oleh Arani dari dalam ruang lobby.


"Aiiich keterlaluan." Bentak Arani, dan otomatis memancing pandangan orang orang yang berlalu lalang disekitar lobby memandanginya. Arani hanya bisa nyengir kuda .


Wanita itu, benar benar berani menggoda suamiku. Ku akui kau berani, tapi awas saja kalau dia bertindak lebih dari hari ini.


...----------------...


Diruang VIP berkaca transparan restoran terbaik di kota BBB, Arani menikmati puding coklat kesukaannya, sembari mengawasi rombangan Derriel yang sedang menikmati makanan siang.


Ada notif masuk di HP Derriel,


"Arani menggunakan kartu ATM yang aku berikan. Dia di restoran ini juga. Kenapa nominalnya hanya segini, apa yang dia makan?." Kata Derriel dalam hati setelah melihat HP-nya.

__ADS_1


"Tuan Derriel, terima kasih sudah memenuhi undangan kami." Ucap Tuan Emil.


"Dengan senang hati Tuan Emil. Suatu kerohmatan mendapatkan undangan dari Tuan Emil."


Viona yang duduk disebelah Derriel berusaha mengambil perhatian dari Derriel, namun sedikitpun Derriel tidak meliriknya.


Dilain ruangan VIP berkaca transparan sebagian ruangan itu.


Tok tok tok.....


"Masuk !.".Kata Arani


Masuklah waiters keruangan Arani. Dengan membawa hidangan.


"Saya tidak memesan hidangan apapun."


"Ini pesanan dari seseorang untuk Nona".


"Siapa dia?."


"Beliau tidak menyebutkan identitasnya.Namun beliau menitipkan secarik kertas ini."


Apa Sai Ail tahu Ara disini ya.


Di secarik kertas, tertulis


......................


📄 Sayang, nikmati makan siang yang aku pesankan ini. Love you 😘


......................


"Baiklah. Taruh saja dimeja. terima kasih."


"Baik Nona."


Arani menikmati hidangannya. Namun baru lima suap Arani makan, tiba-tiba ia merasa pusing.


"Sial, aku lengah.Tulisan di surat itu, auch siiittch, kenapa aku tidak memperhatikan tulisan tangan dalam surat itu. Itu bukan tulisan suamiku maupun Om Rio.Aku jadi tidak fokus gara gara wanita itu. Ssiiittch pusing sekali." keluh Arani.


"Selesaikan pekerjaan kalian dengan rapi. aku tunggu di villa." kata seseorang bertato elang di tangannya yang sedang berbicara melalui HP-nya.


"Baik tuan ." kata seseorang di ujung sambungan telepon.


...----------------...


Dear, para readers yang sudah mampir di ceritaku. Maafkan Mba Nuur lama tidak bisa update . Syukurlah saat ini Mba Nuur sudah mulai aktif beraktifitas seperti sedia kala. Dikarenanakan kemarin sempat jatuh sakit. dan butuh waktu pemulihan juga.


semoga para sobat semua selaku diberi kesehatan selalu. Terima kasih sudah mampir dikaryaku "Yang menyatukan cinta".


mohon dukungannya untuk meninggalkan jejak like, komen, dan vote nya ya sobat semua. 🤗


Berharap ceritaku ini bisa menghibur kalian di waktu senggang. Terima kasih banyak 🙏

__ADS_1


__ADS_2