Yang Menyatukan Cinta

Yang Menyatukan Cinta
BAB 26 : 13 Tahun lalu Part 3. (Panik)


__ADS_3

"Jadi ceritanya..."


Flashback on


Saat rombongan Derriel hendak kembali ke kotanya, di tengah jalan terjadilah kejadian yang tidak terduga. Dimana rombongan mobil Derriel yang terdiri dari 5 mobil sedan, salah satu mobil tertabrak oleh mobil pickup pengangkut buah. Dan mobil yang tertabrak, di dalamnya ada Derriel dan Arani.


Mereka pun dilarikan kerumah sakit syukur keadaan Arani tidak separah Derriel. Derriel mengalami luka cidera di lengan kiri dan kakinya. Sedangkan sang sopir dan nani yang satu mobil dengan Derriel mengalami luka serius dan harus masuk ke ruang UGD.


Arani terus saja menangis karena tidak ada Derriel di sisinya selama berada di rumah sakit.


Sorenya setelah mendapatkan penanganan dari dokter, Derriel meminta dan memohon kepada pihak rumah sakit agar Arani diperbolehkan diruang rawatnya meski dokter sudah melarangnya dan menyarankan Derriel untuk istirahat.


Akhirnya Arani pun diperbolehkan masuk di ruang rawat Derriel. Arani terus memeluk Derriel yang sedang berbaring di atas hospital bed. Kehadiran Derriel di sisinya membuat ia tenang dan tidak menangis lagi.


Tuam Dirdja saat ini sedang dalam perjalanan menuju kota TA setelah mendapat kabar Derriel dan Arani mengalami kecelakaan.


"Om Ail cepet sembuh ya. Agar kita cepat kembali ke rumah." Celetuk bocah kecil itu manja sambil memeluk tubuh Derriel.


"Ia anak cantik. Jadi Arani harus patuh apa yang om Ail ucapkan ya. Jadi sekarang Arani tidur karena sekarang sudah malam."


"Iya Om Ail. Ara tidur di sini ya Om. Sama Om Ail."


"Ya boleh tidur di sini."


Esok paginya Arani bangun terlebih dahulu dari pada Derriel. Dilihatnya Derriel tidur nyenyak. Ia pun hati hati turun dari hospital bed. Dan keluar kamar rawat Derriel. Di luar sudah ada dua penjaga.


"Nona Arani mau kemana?" Tanya salah satu pengawal.


"Ara mau makan om. Lapar . Mau bubur ayam." Sambil mengelus perutnya dan bermimik imut mengadu pada sang pengawal.


"Baiklah. Om carikan bubur ayam ya. Nona Arani tunggu saja di dalam."


"Ara mau ikut om. Ara mau beli susu buat Om Ail juga. Boleh ya?. Biar Om Ail cepat sembuh."


Kedua penjaga itu saling menatap untuk mengambil keputusan yang bagaimana. Jika tidak di turuti maunya ni bocah , yang ada pasti menangis. Alhasil salah satu pengawal itu mengajak Arani untuk beli bubur ayam yang ia mau. Dan yang pasti meminta beberapa pengawal lain juga turut serta.

__ADS_1


Sesampainya di penjual bubur ayam, Arani memberikan kartu debit di dalam tas ransel yang selalu ia bawa saat hendak keluar. Di dalam tas ransel mungil itu selalu ada ATM, air minum dan juga HP untuk Arni bawa kemana mana jika sedang jalan keluar bersama pengawal tanpa Derriel.


"Harganya 20 ribu rupiah den." Ucap si penjual sembari menyerahkan seporsi bubur ayam.


" Bapak, pakek ini ya bayarnya." Kata Arani menyerahkan ATM ke si penjual bubur."


Sang penjual bubur pun garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Nona, membayarnya tidak bisa memakai kartu ini kalau di sini. Kartu ini hanya bisa digunakan di mall."


"Terus bayarnya pakai apa dong, Om?. Om Ail tidak pernah memberikan uang ke Ara kalau bukan di rumah terus dimasukin ke celengan."


"Pakai uang saya saja ya, Non."


"Jangan om. Nanti uangnya kurang loh buat anak om. Nanti anak om menangis kalau uangnya kurang. Kan om bekerja menjaga Ara untuk anak om dirumah. Kaya Om Ail bekerja untuk Ara yang masih kecil.


Anak darimana. Bini aja kagak punya gue. Ni bocah main nyletuk aja gue udah punyak anak-- batin sang pengawal.


"Uang om banyak kok. Sudah pakai ini saja."


"Iya Nona Arani".


Sekembalinya mereka membeli bubur, disempatkannya Arani minta dibelikan susu. Dibawanya susu itu untuk Derriel.


"Om Ail...." panggil manja Arani berlari kecil menghampiri Derriel di atas hospital bed.


"Hay anak cantik dari mana?. Kok enggak bangunin Om sih."


"Om kan masih sakit. Jadi Ara keluar sama Om penjaga. Ini susu buat im. Suoaya om cepet sembuh.


"Terima kasih anak cantik. Kamu kebi apa itu."


"Beli bubur om ayo makan bersama. Oh ya tadi pakai uang Om pejaga. Katanya kartu ajaib Ara enggak bisa digunain kalo bukan di mall. Nanti Om Ail ganti ya om. Kasian nanti uang buat anak om penjaga kurang . Nanti nangis lagi."


"Iya. Nanti om Ail ganti. Sekarang ayo makan."

__ADS_1


Selesai makan, Ara ingin melihat ruangan bayi yang ia lewati tadi. Ia ingin melihat bayi bayi lucu itu. Dan Derriel pun mengizinkannya. Didampingi nani lainnya dan juga beberapa penjaga.


Saat di koridor menuju ruang bayi, ada seorang remaja berlari menuju pintu keluar. Ternyata remaja itu mengambil salah satu bayi di rumah sakit tersebut. Dan sedang dikejar oleh pihak keamanan rumah sakit.


Tiba tiba remaja putri dari arah yang berlawanan dengan Arani, sedang terburu buru berjalan tidak senga hampir menabrak Arani jika sang nani tidak melindunginya.


"Aaahh maaf.. Saya tidak sengaja."


"Berhati hatilah dalam melangkah. nisa saja langkahmu yang terhesa gesa bisa melukai orang lain." Ucap sang nani.


"Maaf kak saya tidak sengaja. Sekali lagi maaf" ucap sang remaja putri tak lain Delisa kembaran Derriel.


"Ara mau kembali saja ke Om Ail."


"Baiklah nona Arani." Ucap sang nani."


Sepertinya anak itu anak orang kaya. Lihatlah beberapa orang mengawalinya.


Harta karun ada di depan mata. Aaaiiiichhh aku harus menolong Bang Daniel nih. Sial gara gara perawat tadi kita hampir tertangkap. Aku harus memastikan Bang Daniel tidak tertangkap. Meski ia lihai meloloskan diri, tetap saja aku menghawatirkannya. Hullff.


...****************...


Hari sudah menjelang sore. Namun kedatangan Tuan Dirdja terhambat oleh truk pengangkut pasir yang terguling di tengah jalan menuju rumah sakit dimana Derriel di rawat.


Akhirnya dua jam berlalu. Tuan Dirdja melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba , goncangan gempa melanda wilayah TA.


Dengan guncangan gempa 6,9 skala Richter, membuat beberapa bangunan roboh.


Rombongan tuan Dirdja yang sedang di perjalanan, mereka menghentika laju kendaraan mereka. Dan keluar dari mobil berkerumun ditengah jalan raya yang lapang.


Sedangkan keadaan rumah sakin semakin semrawut karena kepanikan para penghuninya.


Arani, beberapa pengawal dan nani sudah terlebih dahulu keluar dari rumah sakit. Disusul pasien-pasien lainnya. Termasuk Derriel yang baru saja keluar dari rumah sakit. Dibantu beberapa pengawal membopongnya.


Kepanikan dirumah sakin semakin menjadi jadi dikala guncangan semakin kencang dan tiada henti.

__ADS_1


Arani hampir saja terinjak injak oleh beberapa orang yang begitu panik. Syukur ia ditolong Delisa . Ditariknya tubuh mungil Arani dalam pelukan Delisa. Dan segera menghindari krumunan orang yang mengalami kepanikan berlebihan.


__ADS_2