Yang Menyatukan Cinta

Yang Menyatukan Cinta
BAB 9 : Cemburu


__ADS_3

Tok tok tok.


"Masuk ! "


"Tuan Derriel ini kopinya."


"Terima kasih Pak Yadi."


Memamdang Pak Yadi sekilas sambil tersentum. Lanjut melihat layar laptopnya kembali.


"Dengan senang hati tuan. Ada lagi yang ingin tuan Derriel butuhkan?"


"Tidak ada Pak Yadi. Terima kasih".


...****************...


Dua jam berlalu. Setelah membaca informasi yang diberikan Rio , Derriel pun segera kembali ke kamar.


Dilihatnya Arani sudah tertidur sambil memegang HP .


Sepertinya ia tertidur saat chatingan dengan Anet. -Derriel


"Apa ni, ya ampun istri kecilku harus diracuni dengan hal hal fulgar seperti ini." Kata Derriel setelah melihat isi chat Arani dengan Anet.


"Rio tolong selidiki teman Arani ini. Pantau aktivitasnya." Perintah Derriel lewat telepon.


"Baik Tuan Derriel".


Kenapa ia harus berurusan dengan anak ingusan ini sih. Apa yang teman Nona Arani lakukan pada Tuan Derriel . Kata Rio dalam hati


Derriel segera berbaring disebelah Arani. Membenarkan selimut yang mereka gunakan bersama dan mengatur suhu ruangan.


Derriel mengusap pucuk kepala Arani. mencium kening dan bibir Arani. Mengusap lembut pipi Arani dengan jari telunjuknya.


Sedari kecil engkau tidak pernah merasakan kehadiran dan kasih sayang dari orangtua. Karena itu aku berusaha memberikan yang terbaik untukmu, perhatian, kasih sayang .


Tapi itu semua membuatku menjadi semakin ingin memilikimu lebih sejak engkau beranjak remaja. Arani bayiku, menjelma menjadi wanita remaja yang cantik menggemaskan.


Dari situlah mula aku mengenal dan mendabakan seorang wanita untuk aku tempatkan dalam hatiku. Apakah kau juga mempunyai rasa sayang dan cinta yang lebih untukku. Melihatku


bukan sekedar kerabat atau orang yang selalu ada untukmu.


Apakah kau melihatku sebagai laki-laki yang kau idamkan dalam kehidupanmu menjalani rumah tangga ini. Seandainya dimasa mendatang engkau harus berpisah denganku ,kamu akan memperjuangkannya juga. Sama halnya aku yang tidak akan melepaskanmu begitu saja , apapun halangan didepan menimpa kita kelak.


Ungkap isi hati Derriel pada Arani yang sedang nyenyak dalam tidurnya


Derriel lantas segera tidur sambil memeluk istri kecilnya itu.


Badanmu memang mungil. Tapi berisi juga. membuatku ingin menerkammu. Kata Derriel dalam hati dan memeluk erat istrinya.


...****************...


Pagi yang penuh dengan semangat untuk Arani.


Derriel dan Arani berangkat kerja mengendarai kendaraan yang berbeda.


Kesepakatan untuk mereka berdua saat di kantor tidak saling kenal satu sama lain. Dan apapun yang aka terjadi oleh Arani di kantor , Derriel maupun Rio tidak akan ikut campur


Sesampainya di kantor Arani langsung menghadap HRD dan diperkenalkan kepada karyawan lain dibagian devisi administrasi.


Dalam menjalankan kerjanya ia dibimbing oleh seniornya yang bernama Kak Ani.


Saat jam-jam sibuk kerja, tiba-tiba Derriel datang ke bagian administrasi untuk memantau. Hal ini biasa dilakukan Derriel jika jadwalnya tidak padat.


Ia akan bergilir memantau setiap devisi didalam perusahaannya. Dan kali ini giliran devisi administrasi.


Metta dan juga Monika yang ada dalam satu devisi dengan Arani begitu senang dan mencoba berpenampilan semenarik mungkin.

__ADS_1


Derriel memberi senyum kecil melihat istrinya ada dideretan paling belakang .Tapi Monika dan Metta malah kege'eran beranggapan senyuman Derriel untuk mereka.


Derriel melihat setiap kerjaan para karyawannya itu. Memberikan pertanyaan pertanyaan yang berkaitan dengan kerjaan yang dikerjakan setiap karyawan.


Tiba saatnya Monika dan Metta diberi pertanyaan oleh Derriel, mereka begitu antusias dan sangat bersemangat. Sampai sampai mendekatkan jarak diantata mereka.


Arani yang melihatnya begitu geram sampai-sampai mematahkan pensil yang sedang ia genggam.


"Ya ampun Arani, kenapa kamu menggenggam pensilnya begitu erat. Lihat jadi patahkan".


"Ah maaf Kak Ani sudah mematakkan pensil kakak, akan aku ganti nanti."


"Sudah enggak papa kok. Lekas kerjakan pekerjaan yang sudah kuajari tadi."


"Baik kak ! ".


Derriel yang mendengar ucapan Kak Ani, ia langsung menoleh kesumber suara.


Dan tatapan Derriel dan Arani bertemu. Terlihat Derriel tersenyum kecil. Gelagapan Arani pun bergegas mengalikan pandangannya.


Gemesnya. Ingin rasanya aku memelukmu . Apakah kau cemburu istri mungilku. Batin Derriel


Aiiich, baru sehari kerja sudah dapat pemandangan yang menyebalkan . Grutu Arani dalam hati.


Jam pulang kerja pun tiba. Arani sudah sampai rumah kakek Dirdja terlebih dahulu. Sedangkan Derriel masih sibuk di kantor.


Kakek Dirdja dan Nenek Dona sudah kembali ke rumah.


Melihat Nenek Dona berjalan tidak seperti biasanya membuat Arani heran.


"Nenek, kenapa jalanmu seperti itu. Apakah ada yang sakit di kakimu?"


Aich apakah begitu terlihat cara jalanku ini. Padahal sudah aku usahakan jalan normal seperti biasa. Apakah anak ini belum pernah melakukannya dengan suaminya?


"Arani apakah kau tidak tahu?"


"Apa kau belum pernah melakukannya?."


"Nenek bicara apa sih, ditanya apa, jawabnya muter muter. To the poin aja sih?"


"Aaiich bocah ini ya. Ini karena ulah kakekmu. Ternyata staminanya begitu hebat. Membuatku susah berjalan. Asal kau tahu aku ini masih perawan sebelum kakekmu menikahiku.


"Apa hubungannya dengan keperawanan dan stamina kakek?."


"Astaga kau ini. Apa kau belum pernah melakukan ritual malam pertama hah?".


" Belum. " Dijawab cepat oleh Arani, karena memang belum melakukannya.


"Ya ampun bisa gitu suamimu tahan. Bukannya kalian sudah menikah dua bulan lebih . Kenapa belum melakukannya. Apa kamu enggak kasihan sama suamimu hah?."


"Ara belum siaplah. Ara enggak mau hamil sekarang. lagi pun kenapa harus kasihan."


"Ya ampun kamu tu jadi istri enggak bisa mengerti hasrat suami ya. Namanya laki-laki sudah menikah pasti ingin menyalurkan hasratnyalah. Kalau kamunya enggak siap , kasihan suamimu harus menahannya. Bikin sakit kepala dan enggak enak badan. Itu akan membuatnya menderita karena menahan hasratnya."


"Apakah separah itu dampaknya." Kata Arani merasa bersalah dan menundukkan kepala. " Tapi Ara tidak mau hamil sekarang."


"Kalau enggak mau hamil sekarang ada caranyalah. Karena kamu belum pernah melakukannya, lakukan saat seminggu sebelum kamu datang bulan. Setelah melakukannya baru kamu pasang KB spiral. Jadi bebas melakukan kapan saja tanpa harus melihat jadwal datang bulan."


"Eemm,..”


" Aaaiiiicchh bocah ini ya. Apa kamu enggak kasihan sama suamimu hah?. Apa kamu tidak menyayanginya, apa..."


"Bukan begitu Nek. Ara sangat sayang sama suami Ara."


"Mencintainya enggak?."


"Emm cin_ta."

__ADS_1


"Kok jawabnya ragu gitu. Atau jangan-jangan kamu menyukai laki-laki lain lagi. Secara kamu kan dipaksa menikah sama kakekmu."


"Ya enggak lah Nek. Laki-laki pertama yang Ara sukai ya Om Derriel. Laki-laki yang selalu ada dihati Ara."


"Katakan sejujurnya, sejak kapan kamu menyukai Derriel sebagia laki-laki dambaanmu?. Bukan sekedar sebagai Paman bagimukan. Secara dari kecil kamu menganggap Derriel kan pamanmu. Sampai kenyataan yang tidak terduga, di usiamu 14 tahun, ternyata kamu cucu kandung Kakek Dirdja."


"Sejak teman-teman Ara mempunyai gebetan. Ara memilih Om Derriel sebagai laki-laki yang sesuai hati Ara."


"Berarti kamu suka laki-laki karena ikut-ikutan temen kamu dong?"


"Ya enggak gitu nek. Hanya Om Derriel seorang yang ada dihati Ara. Ara...."


"Ok begini aja deh. kalau kamu memang menyayanginya, mencintainya berarti kamu sudah siap memberikan segalanya kepada suamimu, tampa terkecuali."


**


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Derriel belum kembali dari kantor.


✉️ Say Ail, apakah kerjaannya masih banyak ?.


✉️ Sedikit lagi selesai sayang. Tidurlah terlebih dahulu jika kamu sudah mengantuk.


✉️ Ah begitu ya. Baiklah


Tidak ada balasan dari Derriel.


Sepertinya ia sangat sibuk dengan kerjaanya.-Arani


**


Hari demi hari dilalui seperti biasa.Derriel dan Arani masih tetap tinggal di kediaman Kakek Dirdja. Karena itu permintaan kakeknya.


Pada akhir pekan nanti para karyawan wanita sepakat akan jalan-jalan bersama ke taman hiburan. Tak luput Arani pun ikut. Kecuali Monika. Ia tidak menyukai kegiatan bersantai seperti itu. Lebih baik menghabiskan waktu jalan-jalan ke mall membeli barang-barang mahal.


Namun Derriel tidak mengizinkan Arani untuk mengikutinya.


"Ayolah Say. Izinin ya, please ."


"Tidak bisa tanpa pengawal ada disisimu. Terlalu berbahaya."


" Tapi teman teman kantor tidak mengizinkan sanak family atau teman ikut. Ara harus beralasan apa coba jika ada pengawal disisi Ara. Apa enggak cukup beberapa pengawal memantau Ara dari jarak tertentu."


"Tidak cukup kalau tidak ada pengawal tepat di sisimu."


"Sekali iniiiii saja."


"Sayang..."


"Ayolah..."


"Arani hentikan." Bentak Derriel sudah tidak sabar lagi dengan rengekan Arani sedari tadi.


"Selama ini aku selalu menuruti kemauanmu. Tidak bisakah kamu patuh dengan laranganku ini hah."


Yang tadinya tangan Arani glayutan di lengan Derriel, perlahan ia lepaskan. Karena kaget baru kali ini Derriel membentaknya.


"Ini demi keselamatan kamu. Kamu tahun sendiri bukan...."


"Iya Ara tahu. Maaf. Ara akan patuh." Kata Ara memotong ucapan Derriel yang belum selesai ia ucapkan. Sambil menundukan kepalanya, ia berlali kecil meninggalkan Derriel.


"Ara...." Panggil Derriel kelu. Tersadar akan bentakannya membuat hati Arani sedih. Arani tidak bisa dibentak olehnya.


Derriel pun segera menyusul Arani masuk kekamar mereka.


Terlihat Arani berbaring diatas tempat tidur sambil menutup seluruh badanya dengan selimut.


"Sayang..." Panggil Derriel sambil menggoyangkan selimut yang Arani kenakan.

__ADS_1


Hening.....


__ADS_2