Yang Menyatukan Cinta

Yang Menyatukan Cinta
BAB 30 : Up


__ADS_3

"Iya, ini aku Ardian !". Seru lelaki itu.


"Sedang apa kau disini?". Tanya Arani


"Apalagi kalau bukan mengikutimu". Sahut Daniel


"Tidak bisakah kau tidak menyela pembicaraan orang lain?" . Sungut Ardian


"Orang lain siapa maksutmu?. Dia adik iparku. Sepantasnya, akulah yang akan memastikan kalian menjaga jarak."


"Kau mengakuinya jika Arani adik iparmu, meskipun kau ingin mencelakainya, hah?".


"Sudah cukup, hentikan perdebatan kalian berdua. Ara laper, mau makan. Bisakah kita makan dulu. " ucap Arani memelas dengan mimik imutnya di depan Ardian dan Daniel.


"Untuk kalian semua, jangan ada satu pun yang memberi informasi kejadian saat ini kepada Om Ail. Biar Ara yang akan memberi tahunya secara langsung. Setelah dari sini." pinta Arani kepada para pengawalnya.


"Tapi nona...."


"Baiklah , bersiaplah menjadi pelampiasan kekesalan Tuan kalian nantinya jika Om Ail mendengar kejadian hari ini selain dariku. Aku tidak akan mau disentuh olehnya . Kalian pasti tahu akibatnya jika Om Ail tidak bisa menyentuh Ara."


"Aa-iittu.... Baiklah Nona". Ucap salah satu pengawal Arani.


Arani begitu lahap memakan makanan yang disajikan di meja makan. Daniel dan Ardian yang meliat Arani begitu banyak makan dan sangat lahap menikmati makannya merasa perut mereka kenyang meski mereka hanya makan sedikit.


"Apa seperti ini nafsu makanmu, atau kau tidak diberi makan oleh suamimu, ckckckckc." Ucap Daniel sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Heheh Ara lapar Bang ya wajar dong makan banyak"


"Ya tapi tidak sebanyak ini. Apa yang kau makan itu setara dengan lima porsi lho."


"Apasih Bang, udah enggak perlu membahas makanan yang baru saja Ara makan. Jadi sekarang bagaimana."


"Apanya yang bagaimana?".


Arani dan Ardian saling pangdang.


" Apa tujuanmu menemui Arani saat ini secara terang-terangan setelah kau ingin mencelakainya.?"


"Kau sendiri kenapa bisa ada disini ? sedangkan kami tidak menfundangmu."


"Huh, bukan suatu kesalahan bukan jika aku bisa menemuinya disini. Kita tidak sengaja bertemu. Bukan begitu adik ipar?"


"Bisa jadi seperti itu." ucap Arani singkat.


"Aku tidak akan pernah mengampuni mu jika kau mencoba melukai Arani lagi." Tegas Ardian


"Slow broo... Ada apa denganmu bersikap seperti itu. Dilihat dari gelagatmu, sepertinya kau menyukai Arani."


"Jika aku menyukainya itu bukan urusanmu." Ucap Ardian sambil melirik Arani.


Sedangkan Arani memandangi Ardian tidak percaya. Lalu memalingkan wajahnya melihat para pengawalnya satu persatu. Dan para pengawal merasa tatapan dari Arani adalah kode untuk mencari lebenaran. Tanpa ragu menjawab dalam diam, beberapa pengawal yang mengetahui jika Ardian menyukai Arani serempak menganggukkan kepala mereka masing-masing.

__ADS_1


Pantas saja tadi mereka begitu tegang melihat kehadiran Ardian. Jika seperti itu sudah dipastikan Say Ail mengetahui hal ini. Pantas saja ia begitu tidak suka jika aku menyebut nama Ardian.


"Wah wah wah, terang terangan sekali kau mengakuinya. Padahal kau tahu jika ia sudah mempunyai suami."


Ardian menundukkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan Daniel, jika ia menyukai istri orang lain. Namun setidaknya ia ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan kepada Arani. Meski ia tahu jika Arani tidak ada rasa sesikitpun kepadanya . Dan menganggap dirinya hanya sebatas teman.


"Baiklah. Bang Daniel Ara mengundang Bang Daniel makan malam bersama di kediaman Kakek Dirdja nanti malam. Apakah Abang Daniel bisa hadir?"


"Arani, yang benar saja. Ia ingin mencelakaimu kenapa kau mengundangnya makan malam?".


"Karena ia Abang ipar Ara. Salah satu keluarga kami Ardian."


"Tapi kan..."


"Tidak ada tapi, meskipun Bang Daniel ingin mencelakaiku, tetap ia keluarga kami. Bukan begitu Bang Daniel?".


Daniel hanya menyunggingkan senyum kecil di sudut bibirnya.


.


.


.


.To be continued

__ADS_1


__ADS_2