Yang Menyatukan Cinta

Yang Menyatukan Cinta
BAB 11 : Kejujuran


__ADS_3

Hawa panas menyelimuti tubuh mereka berdua yang sudah terkapar diatas ranjang. Aktifitas malam yang panjang dan melelahkan bagi Arani.


"Sayang....! Terima kasih banyak. Kamu sudah menyerahkan segalanya untukku. Sampai kapanpun kau selalu miliku. Aku sangat mencintaimu sayang. Sangat..." Bisik Derriel di telinga Arani dengan lembutnya. Dan dengan tangannya yang masih asik memainkan tempat favorit milik istrinya.


"Emm..." Jawab Arani dengan memejamkan matanya yang sudah kelelahan melayani suaminya sampai jam 2 pagi. 3 ronde telah mereka lalui sepanjang malam ini.


"Sayang aku ingin lagi." Pinta Derriel pada istrinya


"Apa...? Say kamu enggak lelah. Ini sudah hampir menjelang pagi. Energimu belum habis juga? Aku kira melakukan ritual ini hanya sekali. Baru semalam kok berkali kali. Dan sekarang Say Ail mau nambah lagi. Ini diluar apa yang aku bayangkan Say."


Gemas mendengar ucapan istri mungilnya. Derriel mengecup pundak istrinya dan semakin erat pelukan Derriel.


"Kita akan sering melakukannya setiap hari sayang." Tangan Derriel sudah menjalar kesegala arah dan bermain di tempat favoritnya itu.


"Sungguh aku sangat lelah. Dan badanku seperti orang yang habis di pukuli say."


Dengan bujuk rayuan Derriel yang mampu meluluhkan Arani, akhirnya pergulatan panas itu terjadi lagi.


Arani meminta Derriel untuk pelan pelan melakukannya . Karena rasa sakit yang dirasakan masih begitu terasa dibagian intinya.


Sampai sejam kemudian, mereka merasakan kenikmatan di atas puncak mereka secara bersamaan.


Derriel ambruk lemas diatas tubuh Arani. Masih dalam keadaan penyatuan diantara mereka.


"Sudah. Aku sangat lelah Say Ail..." Mohon Arani.


"Iya sayangku Kita ke kamar mandi dulu. Membersihkan badan kita. Lalu lanjut tidur ya sayang. " Ucap Derriel melepaskan penyatuan mereka. Dan segera membopong tubuh istrinya ke kamar mandi.


Setengah jam mereka dikamar mandi. Derriel tidak bisa menahan hasratnya saat melihat tubuh polos istrinya. Membuat ia melakukan pergulatan panas di dalam kamar mandi .


Derriel segera membopong tubuh istrinya lagi setelah mandi, ke ranjang setelah Arani menangis kesal karena hasrat birahi suaminya yang tidak ada lelahnya sepanjang malam ini.


"Cup sayang jangan menangis lagi ya. Ayo sekarang kita tidur. Kita istirahat ya."


Ucap Derriel setelah membaringkan tubuh istrinya diatas tempat tidur. Dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Derriel terus memeluk erat tubuh istrinya itu sambil meminta maaf.


"Aku minta maaf ya...."


"Kamu terus aja meminta lebih. Padahal Ara sudah sangat kelelahan. Kamu gak tau rasanya badanku kaya apa sekarang. Huhuhuhhu. "Tangis Arani dipelukan Derriel.


"Badanku benar benar remuk. Dan bagian bawahku begitu nyeri tahu. Huhuhuhhu.." masih tetap menangis.


"Maafkan Aku. Maaf. Sekarang tidur ya. Sudah ya jangan menangis lagi. Nanti akan aku panggil orang untuk datang kerumah . Perawatan spa dan pijat untuk tubuhmu ya sayang..."

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Arani. Perlahan lahan tangis Arani mulai mereda. Dan tertidur dipelukan Derriel.


"Maafkan aku sayang. Karena lama aku menahan hasratku. Aku melampiaskannya di momen ritual malam pertama kita ini. Maafkan aku. Maaf.." Kata Derriel mengecup kepala istrinya. Dan mulai memejamkan matanya sambil memeluk istrinya yang sudah terlelap tidur di dekapannya itu.


****************


Matahari sudah bertengger tinggi di awan . Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Arani membuka matanya perlahan. Dilihatnya Derriel masih memejamkan mata disinya. Memeluknya erat.


Aku benar benar melakukannya semalam. Aku tidak menyangka melakukan itu membutuhkan waktu sampai menjelang pagi. Aku kira sekali melakukannya ya sudah. Tapi praktenya.


Oh ya ampun mana semalam Sai Ail bilang akan melakukannya setiap hari.


Yang benar aja. Semalaman melakukannya tubuhku seperti orang yang habis dipukuli . Ditambah aah, hanya menggeser kakiku saja bagian bawahku sudah begitu sakit.


Aku ingin ke kamar mandi . Ingin buang air kecil tapi badanku benar benar sakit semua. Tidak ada tenaga begini.


Ucap Arani dalam hati sambil memandangi wajah Derriel yang masih terlelap tidur.


"Aaaaaakkkkk" pekik Arani saat hendak menurunkan kakinya dari atas ranjang.


"Sayang kau sudah bangun." Kata Derriel yang terbangun karena suara rintihan Arani.


"Aakkk." Pekik Arani lagi saat ingin melangkahkan kakinya.


"Sayang, mau keman?. Bagian bawahmu pasti sakit." Ucap Derriel hawatir dan menopang tubuh Arani.


"Ayo aku gendong ya, kamu pasti kesulitan berjalan."


Derriel menggendong tubuh Arani lalu masuk kek kamar mandi bersama. Arani menuntaskan hajatnya. Derriel menyiapkan air hangat di bathtub.


Saat hendak menuju bathtub Arani melihat pantulan bayangan tubuhnya di kaca kamar mandi.


"Ya ampun kenapa bagian bawahku bengkak kaya gini. Dan tubuhku penuh dengan tanda merah seperti ini. Suamiku benar benar buas."


Derriel menghampiri Arani yang sedang memandangi pantulan bayangan tubuhnya di cermin. Dan menggiring Arani masuk ke bathtub.


"Sayang. Maafin aku ya yang begitu buas menerkammu malam tadi. Ayo kita berendam air hangat bersama . Agar badanmu lebih bugar. Sudah aku tambahkan aroma terapi di air ini.


Merekapun berendam bersama. Sambil membasuh menggosok punggung mereka bergantian.


Sambil berendam dan tubuh Arani bersender diatas tubuh Derriel. Mereka menikmati sensasi aroma terapi .


"Apakah tubuhmu lebih baikan."

__ADS_1


"Em iya Say Ail."


"Maafkan aku. Aku terlalu berlebihan menyalurkan hasratku sayang. Laik kali akan aku kontrol. Agar kau tidak kesakitan seperti ini."


"Tidak perlu dikontrol Say Ail. Luapin saja sampai tuntas. Ara enggak mau Say Ail menahan hasrat sendiri lagi. Maaf selama ini Ara membuat Say Ail menahan hasrat sendiri."


"Tidak apa. Wajar jika kamu masih belum siap melakukannya. Dan sekarang aku sudah meluapkan hasratku terima kasih sayang." Derriel semakin erat membekap tubuh Arani dari belakang.


"Dan sekarang Ara minta imbalannya. Katakan siapa mereka. Say Ail pasti sudah menyelidiki siapa mereka bukan." Ucak Arani mendongak dan melihat wajah Derriel.


"Haruskah dibahas sekarang sayang?." Lalu mengecup bibir Arani sekilas.


"Harus ! ."


"Ah itu ya baiklah akan aku beritahu kamu tapi aku mohon setelah ini jangan dibahas lagi, oke?"


"Baiklah. Katakan semuanya jangan sampai ada yang Say Ail tutup-tutupi."


"Mereka semua itu adalah orang-orang dari musuh pesaing dari pembisnis kakek kamu. Sebenarnya perusahaan yang sedang dijalani sampai saat ini, didirikan oleh kakekmu, kakek Dirdja dan juga temannya yang bernama Alexandros.


Awalnya berjalan lancar namun seiringnya waktu saat mengembangkan perusahaan, visi misi mereka dalam menjalankan perusahaan ini tidak sejalan bersama. Jadi kakekmu berusaha untuk membangun bisnis ini sendiri tanpa adanya kerjasama dengan temannya Alexandros itu lagi.


Meskipun mereka membangun perusahaan ini bersama-sama, akan tetapi saham yang dimiliki oleh kakekmu di perusahaan ini lebih besar daripada temannya itu.


Jadi perusahaan ini bisa dikendalikan oleh kakekmu sampai saat ini maka dari situlah temannya yang bernama Alexandros itu tidak bisa menerima dengan apa yang dimiliki oleh kakekmu.


Dari situlah awal mula mereka menjadi musuh dan sampai fatalnya menghancurkan satu sama lain." Jelas Derriel.


"Dan apakah mereka menghancurkan keluarga masing-masing belah pihak dengan cara membunuh. Kecelakaan orang tuaku itu memang disengaja, bukan benar-benar kecelakaan. Ya Ara berpendapat seperti itu karena nyawa Arani saat ini terancam. Karena ulah teman Kakek itu apa benar ini saling berkaitan.


"Em itu....."


"Katakan saja sejujurnya. Ara akan terima semua kenyataan yang sebenarnya kok. Jangan berbohong lagi. Kalian berbohong mengenai cerita penemuan jatidiri Ara waktu itu bukan. Jujurlah say."


"Maafkan aku dan kakekmu sayang. Sudah berbohong waktu itu."


"Jadi benarkan? ."


"Iya sayang. Semua saling berkaitan. Maka dari itu tolong menurutlah demi keamanan kamu juga. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Mengertilah." Mohon Derriel tidak ketinggalan ia semakin erat memeluk tubuh Arani.


"Terima kasih sudah berusahan menjagaku. Baiklah aku akan menurut." Ucap Arani.


Tapi tidak untuk satu tujuanku ini. Maaf aku tidak akan bisa menuruti maumu jika tujuanku ini sudah mulai aku jalankan. Kata Arani dalam hati.

__ADS_1


to be continue...


...----------------...


__ADS_2