Yang Menyatukan Cinta

Yang Menyatukan Cinta
BAB 17 : Saling Diam


__ADS_3

"Apa yang terjadi dengan tanganmu?". Tanya Derriel menghampiri Arani yang duduk di closet menundukan kepalanya.


Mendengar suara Derriel dan kedatangannya membuat Arani terkejut. Ia pun segera mengontrol keterkejutannya.


"Om Derriel tidak perlu khawati. Ini hanya saus tomat saja."


Lalu ia bergegas membasuh tangannya .


Apa, kenapa nama panggilannya berubah seperti sediakala. Apa benar kau tidak mencintaiku sebagai laki-laki idamanmu Arani sayang. - Batin Derriel kecewa.


"Ini sudah larut malam. Ayo segera kita kembali ke kamar kita."


"Ini kamarku. Ara tidur di sini."


"Sayang, kita punya kamar bersama."


"Tidak mau."


Kenapa lagi dia. Apa yang diambekin sekarang. --Batin Derriel sambil memijat pelipisnya.


Ia sudah lelah menempuh perjalanan jauh. Lalu langsung ke lantor, dan sekarang ditambah istri kecilnya ngambek tidak jelas.


Aaaahh atau jangan jangan..


"Maafkan aku. Bukan bermaksut untuk tidak perhatian hari ini kepadamu. Aku mengurus pekerjaan dikantor yang sempat tertunda kemarin. Ada apa dengan matamu. Apa kau habis menangis seharian ?. Ayo kita bicarakan di kamar kita ." Ajak Derriel memegang bahu Arani.


"Tidak mau." Sambil menolak rangkulan tangan Derriel di bahunya.


"Kamar ini berantakan . Lihatlah ! Ayo sekarang ke kamar kita. " Tanpa harus menawarkan, Derriel langsung menggendong Arani menuju kamar mereka bersama.


"Om Ail !!" Arani terkejut.


"Kenapa nama panggilan kesayangannya di ubah. Apa kau sudah tidak mencintaiku.?"


" Tidak !" Tukas Arani.


"Benarkah?"


Hening....


Sesampainya didalam kamar mereka bersama. Derriel segera meletakkan Arani di atas tempat tidur. Dan ia pun menyusul kemudian.


Mereka bersandar di kepala tempat tidur.


"Apakah ada ucapanku yang menyakitimu?" Ucap Derriel sambil membelai kepala Arani.


"Kalau Om Ail merasa , tidak perlu ditanya bukan." Ketus Arani sambil membuang muka.

__ADS_1


"Maaf jika aku ada salah."


Arani masih membuang mukanya.


"Arani sayang, lihatlah aku."


Tidak ada tanggapan dari Arani. Lalu Derriel pun meletakan kepalanya di bahu Arani.


"Istri tercintaku, maafkan aku . Jangan ngambek lagi ya. Ayo sekarang kita tidur. Ini sudah menjelang pagi. Aku sangat lelah. Pekerjaan di kantor juga sedang ada kendala. Mengertilah." Pinta Derriel lalu memeluk Arani dan memposisikan badan mereka tidur .


Tidak ada jawaban dari Arani. Namun ajakan dari pelukan Derriel untuk tidur bersama tidak ia tolak.


"Mari kita tidur . Nanti aku harus segera ke kantor kembali. Aku sangat, sangaat mencintaimu sayang. Love you." Derriel mencium pucuk kepala, pipi dan bibir Arani. Lalu ia segera memejamkan matanya sambil memeluk Arani .


Paginya Arani bangun, ia tidak melihat Derriel di sisinya. Lalu pintu ruang ganti baju terbuka. Keluarlah Derriel dari ruang itu sudah rapi untuk menuju kantor.


"Ara ikut ke kantor. Membantu menyelesaikan masalah pekerjaan disana. Bukan sebagai karyawan. Om Ail mengerti maksut Ara !"


Arani bergegas ke kamar mandi.


"Baiklah !"


Kenapa ia masih memanggilku Om ??


....


Di dalam mobil tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua. Sampainya mereka di gedung AD Group. Arani mengenakan pakaian yang tertutup dari ujung kepala sampai kaki. Berjalan memasuki gedung sampai di ruangan Derriel. Para karyawan yang melihat kedatangan mereka berdua sudah paham, siapa yang berjalan di sisi Derriel dengan pakaian tertutup seperti itu. Yang mereka tahu, itu adalah keponakan Derriel meski sekalipun mereka tidak pernah melihat wajahnya.


Di dalam ruangan baik Derriel maupun Arani mereka disibukan dengan berkas-berkas yang sudah berjejer didepan mereka masing masing.


Selang beberapa jam Rio memasuki ruangan Derriel, setelah menyelesaikan pertemuan rapat meeting internal .


Kenapa hawa diruangan ini dingin mencekam ya. Batin Rio.


Rio menyampaikan hasil laporan meeting internalnya. Setelahnya ia kembali keruang kerjanya sendiri.


Menjelang jam pulang kerja, Derriel dan Arani membereskan berkas berkas yang sudah dikerjakannya. Dan menyiapkan berkas berikutnya untuk dikerjakan besok.


"Sayang..." Panggil Derriel


"Eemm...." jawab Arani namun tak melihat Derriel


"Jangan marah berkepanjangan. Itu tidak baik.".


Tidak ada sautan dari Arani. Derriel menghampiri Arani yang sedang siap-siap dengan atributnya untuk menutupi jatidirinya.


Derriel memeluk Arani dari belakang. Dan mencium pucuk kepala Arani.

__ADS_1


"Sayang, bagaimana jika kita makan malam di luar."


"Ada Kakek Alexsandros dirumah."


"Kakek sedang sibuk dengan pekerjaannya yang ada di kota ini. Kita makan malam di tempat favoritmu. Bagaimana?"


"Iya !" Sambil melepas pelukan Derriel. Lanjut membenahi penampilannya untuk keluar kantor.


Sebelum keluar dari kantor Arani mampir ke toilet untuk karyawan. Karena letaknya lebih dekat ke lobby. Sedangkan Derriel menunggunya di lobby.


Di dalam toilet !


"Aku sudah mencoba mengambil perhatian Derriel dengan berpenampilan seksi, selalu cepat tanggap mengenai pekerjaan yang ia tanyakan saat keruang kerja kita. Tapi sedikitpun ia tidak merespon . Apa kau pernah melihat ia bersama wanita lain? Tanya Monika kepada teman kerja yang lain.


"Sekalipun aku belum pernah melihatnya monika. Eh , tapi ya pernah suatu kejadian aku melihat Tuan Derriel sigap menolong nona Viona anak dari tuan Elmi saat ia hampir jatuh menuruni anak tangga lobby. Kau tau kan Tuan Elmi?".


"Benarkah?".


"Ya . Dan sepertinya kau harus mengalah monik, Nona Viona menaruh rasa kepada Tuan Derriel."


"Siapapun wanita yang mengincar Derriel tidak akan pernah berhasil kecuali aku. Dan akan aku pastikan Derriel menjadi miliku seutuhnya . Apapun caranya." Percaya dirinya Monika.


Cihh. percaya diri sekali kau. Tapi sayang sebelum kau melakukan apapun Derriel sudah menjadi miliku seorang. --Batin Arani sambil tersenyum kecil.


Lalu ia pun segera keluar dari toilet. Dilihatnya Monika dan temannya sedang merias diri di depan kaca wastafel sebelum pulang kerja.


"Ah nona. Nona ini keponakan Tuan Derriel bukan?". Tanya teman Monika.


Semua karyawan di kantor ini tidak ada yang tahu nama panghilan keponakan Derriel kecuali Rio . Ya maka dari itu mereka hanya menyapa Nona saja.


Sedangkan Monika hanya mengamatinya dari atas kebawah. Yang sudah jelas mereka tidak akan mengenali Arani. Karena dari ujung kepala sampai kaki tertutup. Wajah Arani tertutup memakai masker , kacamata hitam dan juga topi.


"Iya !". Jawab Arani sambil mencuci tangannya di wastafel.Tanpa melihat orang yang bertanya kepadanya.


Dan tiba-tiba HP-nya berbunyi.


"Iya Om Derriel. Sebentar lagi . Tunggu saja di depan. Oh iya tolong antar aku ke Mall depan kantor ini ya. Aku ada urusan disana. Setelah itu terserah om mau ngapain aja."


Segera Arani mengakhiri panggilan masuk dari Derriel sebelum Derriel menjawabnya.


Saat keluar dari toilet sebelum bertemu Derriel


"Jangan halangi wanita yang ada di dalam toilet ini jika ia mengikuti kami. Awasi saja. Asal ia tidak melihat wajahku." Kata Arani tegas pada pengawal yang mengawalinya bersama Derriel.


"Baik Nona !".


Saat sudah bersama Derriel, mereka bergandengan tangan dan keluar dari kantor menuju mall yang ada didepan gedung ini.

__ADS_1


Sebelum memasuki mall Arani dan Derriel berpisah. Arani berpesan kepada Derriel untuk menunggunya di cafe biasa. Ia akan pergi sebentar ke suatu tempat. Arani bilang akan mengambil kejutan untuk Derriel. Dengan syarat saat nanti bersama ia tidak boleh ada kata istri terucap dari mulut Derriel. Kecuali panggilang sayang saja.


Dan benar saja. Dari kejahuan Arani memantau Derriel. Monika bersama teman kerjanya mengikuti Derriel memasuki mall.


__ADS_2