
Pagi hari dirumah utama Kakek Dirdja terlihat aktivitas yang begitu sibuk dengan digelarnya pernikahan Kakek Dirdja dan Dona.
Karena pernikahan yang mendadak, jadi semuanya dipersiapkan ala kadarnya. Sama halnya dengan pernikahan Derriel dan Arani .
Acara pernikahan pun usai. Hanya di hadiri oleh orang-orang terdekat diantara kami semua.
HP Arani berdering. Ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Hallo.....", Jawab Arani disudut ruangan.
"Siapa yang menelepon?." Tanya Derriel yang menghampiri Arani setelah menutup teleponnya.
"Dari kantor Say Ail , AD group. Katanya Ara diterima kerja di sana. Besok sudah bisa mulai bekerja. Untuk bisa diterima disana, Ini semua tidak ada bantuan dari Say Ail ataupun Om Rio kan?. Arani diterima karena telah lolos tes seleksi dari AD Group kan ?"
"Tentu saja sayang, itu semua hasil kerja kerasmu. Rio hanya membantu administrasi data profilmu saja. Tidak ada yang akan tahu kamu cucu tunggal kakek Dirdja maupun istri dari CEO AD Group. " Derriel memeluk Arani dan mencium pucuk kepalanya.
"Say Ail, setelah acara ini selesai, kita ke Mall yuk. Kita pilih-pilih pakaian yang akan Ara kenakan untuk kerja."
"Baiklah sayang. Tapi hanya sampai jam 1 siang, setelah kita selesai makan siang. Akan ada rapat yang penting yang harus aku hadiri."
"Tidak masalah."
...****************...
Sesuai keinginan Arani, saat ini mereka jalan-jalan di mall. Tanpa harus membuang waktu, karena waktu semakin menipis Arani langsung mencari pakaian, sepatu, dan tas yang dibutuhkan untuk kerja.
Meski Derriel mampu membelikan banyak pakaian sepatu dan tas namun Arani hanya membeli 3 pasang sepatu, 3 pasang tas, dan tujuh setel pakaian kerja.
Bagi Arani membeli suatu barang enggak harus bermerek. Asal nyaman digunakan. Dan lagi Arani tidak menyukai membeli barang dengan harga yang begitu mahal.
Selesai makan siang. Derriel pamit ke istrinya untuk menemui rekan kerjanya. Sedangkan Arani lanjut melihat lihat keramaian dalam Mall.
Satu pengawal wanita berada di samping Arani untuk menemaninya.
Sebenarnya ada beberapa pengawal mengawasinya. Namun tidak terlihat mencolok. Mereka berbaur dengan para pengunjung di sana.
"Sepertinya situa bangka itu memperketat pengawalan cucunya. Segera lapor ke tuan besar. Kita harus buat strategi baru lagi." kata salah satu pengunjung Mall yang duduk di tempat makan siap saji AFC kepada rekannya di ujung telepon.
"Baik bos."
Di suatu perusahaan di gedung yang menjulang tinggi di kota CC, seseorang duduk dibangku kebesarannya sambil menghisap cerutu.
"Ah Dirjda.... kau memang selalu beruntung dari pada aku. Baiklah, akan aku beri kesempatan sedikit waktu kepadamu untuk bersama cucumu itu. Setelah waktunya habis, akan aku pastikan kau hidup tanpa seorang keluarga dan keturunan disismu. hahahahahah ." Tawa laki-laki yang umurnya sebaya dengan Kakek Dirdja."
...****************...
Di lantai atas gedung AD Group berdiri, Derriel begitu lega setelah menyelesaikan rapat dengan rekan kerjanya ini. Segera Derriel memasuki ruangannya dan mengerjakan beberapa berkas lagi yang harus ia kerjakan sebelum pulang kerja menemui istri kecilnya. Baru saja beberapa jam berpisah dengan istrinya , sekarang ia sangat merindukanya.
__ADS_1
Tidak sengaja bayangan akan penampilan sekertaris rekan kerjanya tadi muncul di benaknya.
Tubuh wanita yang bagus sexsi, aduhai, dibalut dengan pakaian kemeja baju yang ketat, rok mini kekurangan bahan menurut penilaianya dan satu kancing kemeja atas terbuka. Sedikit memperlihatkan belahan gunung kembar milik sekertaris itu, membuat Derriel larut dalam bayangan akan sosok Arani menggunakan pakaian seperti itu didepannya.
"Aahhhh siieeth sial, jadi menegang seperti ini." umpat Derriel segera membuyarkan lamunan hot akan penampilan Arani karena bagian bawahnya menegang.
Hal wajar jika ia melamunkan istrinya akan hal seperti itu. Arani istri sahnya ini. Ditambah ia belum bisa merasakan ritual pasutri pada umumnya. Mengingat istrinya yang polos akan hal-hal seperti itu. Dan juga Arani masih belum siap melakukannya.
Maklum anak baru gede. Hehehehe
"Aiiichh untung masih dalam jangkauan lamunanku. Apa yang akan aku dapatkan jika aku menyuruhnya memakai pakaian seperti itu dihadapanku. Bisa-bisa disiram air panas. Aaiichs menyeramkan istri imutku itu kalau sudah marah." Gerutu Derriel
Dulu Ara meminta kepada Derriel untuk dibelikan rok santai panjang selutut. Derriel salah membeli, panjang roknya 5 senti diatas lutut Arani.
Derriel pun ditampar menggunakan panci, ketika Ara waktu itu hendak memasak Air hangat. Mengomelinya, memarahinya, mengatainya om mesum dan lain-lain.
Sampai drama endingnya Arani ngambek berhari-hari tidak mau berbicara pada Derriel.
Kalau sudah ngambek seperti itu Derriel frustasi harus membujuknya. Karena Derriel tidak bisa didiamkan atau dicuekin Arani. Baginya jika itu terjadi kehidupannya terasa hampa.
Jam sudah menunjukkan angka 8 malam. Didalam mobil, saat perjalanan kembali kerumah,
"Rio bagaimana aku memulainya. Sepertinya Arani tidak peka dengan sentuhanku. Sentuhan yang aku inginkan."
"Maaf tuan maksud Tuan sentuhan bagaimana ?."
"Maafkan saya Tuan, saya belum bisa membantu hal seperti itu."
Apakah mereka belum melakukan ritual malam pertaman ? . Oh ya ampun itu urusan merekalah.
Derriel dan Arani masih menginap di kediaman Kakek Dirdja.
Setibanya Derriel di rumah utama, ternyata Kakek Dirdja pergi ke kediaman Dona setelah acara pernikahan mereka. Dan akan menginap semalam di sana.
Derriel lekas pergi ke kamarnya setelah menanyai keberadaan Arani kepada Pak Yadi kepala pelayan dirumah ini.
Namun saat Derriel membuka pintu kamarnya ia tak mendapatkan Arani di dalam kamar.
"Sayang aku sudah kebali. Dimana kamu?." Panggil Derriel, lalu tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
Menampakan sosok yang dicari Derriel. Arani hanya melilitkan handuk dibadannya. Hanya bagian dada sampai atas lutut 7 senti badannya tertutup hamduk. Terlihat kulit arani begitu polos dan bersih sepertinya Arani baru selesai mandi.
Melihat kedatangan Derriel, Arani pun langsung memeluknya.
"Say Ail, kamu sudah datang.Tahu gak, tadi Ara senang banget tahu. Waktu di mall Ara bertemu dengan Anet dan katanya ia akan tinggal di kota ini, kuliah disini . Lain waktu Ara ingin bermain bersamanya. Boleh ya?"
"Tentu saja apa yang tidak untukmu sayang." kata Derriel semakin erat memeluk badan Arani dan mengusap-ngusap kulit punggung Arani dengan sangat lembut dan penuh perasaan. Gejolak di dalam dirinya sudah beruap uap.
__ADS_1
"Baiklah sekarang sudahi pelukan kita ini. Aku ingin mandi. Rasanya badanku sangat lengket sekali." Melepaskan pelukan mereka.
"Ya sudah sana segera mandi selain lengket badanmu juga bau Say Ail hihihihi." Tiba-tiba HP arani berdiri ."Sepertinya itu Anet". Kata Arani lalu langsung menyambar HP-nya yang tergeletak di atas tempat tidur."
Setelah Derriel selesai mandi. Dia hanya menggunakan handuk yang dililit di bagian pinggangnya. Lalu menghampiri Arani, ternyata ia sedang asik berbalas chat dengan temannya. Sampai lupa ia masih mengenakan hantuk.
"Sayang ...... !". Panggil Derriel yang sudah duduk di sebelah Arani lalu membelai pucuk kepala Arani.
"Em...." Jawab Arani yang pandangannya masih belum terlepas dari HP-nya.
Perlahan Derriel menggenggam HP yang sedang dipegang oleh Arani. Lalu menaruhnya di meja.
Arani menatap Derriel dengan lekat, dan pandangan mereka pun bertemu saling menatap. Derriel mulai mengusap lembut pipi Arani lanjut ke bibir yang merona merah jambu. Dan semakin mendekatkan wajah mereka sampai tidak ada jarak. Derriel pun lalu mencium bibir Arani dengan lembut semakin lama semakin dalam ciuman yang mereka lakukan. Perlahan tapi pasti Derriel membaringkan tubuh Arani diatas tempat tidur. Lalu melepaskan ciumannya.
"Sayang aku sangat menyayangimu." Kata Derriel sambil mengusap pipi dan bibir Arani dengan ibu jarinya. Tatapan mata Derriel yang penuh kasih sayang kepada Arani membuatnya terbawa suasana.
"Aku juga menyayangimu Say Ail." Jawabnya dengan lembut dengan sekujur badan merasa bergetar. Dan terasa kakinya mulai lemas karena sentuhan tangan Derriel dibagiah pahanya
Setelah mendengar jawaban Arani , Derriel melanjutkan mencium leher Arani tak lupa ia meninggalkan 3 jejak cupanya disana. Terdengar ******* dari mulut Arani.
Perlahan ciumannya turun, turun sampai bagian bahu Arani.Dengan perlahan Derriel membuka lilitan handuk Arani . Terlihat begitu indah gunung kembar yang lama ia dambakan. Lama Derriel memandanginya. Mulus putih bersih, kenyal, dan berisi.
Ternyata punya istriku tidak kalah indah dan menggiurkan untuk dinikmati.
Terciptalah senyum di bibir Derriel.
"Say Ail. Jangan dilihatin seperti itu dong. Ara kan malu." Kedua tangan Arani menyilang sambil menutup gunung kembarnya dari pandangan Derriel. Tangan Derriel pun mencegahnya. Dan mengangkat kedua tangan Arani keatas kepalasnya.
"Tidak perlu malu dan jangan dihalangi. Aku adalah suamimu. Aku berhak atasmu."
Lanjut Derrriel mencium bibir Arani.
"Siiiitttt brengseng. Selalu saja mengganggu." Umpat Derriel saat HP-nya berdering. Lalu menyambar HP-nya dengan kasar.
Arani pun sontak langsung memebenarkan lilitan handuknya lalu bergegas ke kamar mandi.
"Katan, jika bukan hal penting yang kau berikan , akan kupastikan kau tidak bisa berjalan esok." Kesal Derriel tanpa peduli suara siapa yang ada di sebrang sana.
"Maaf tuan telah mengganggu waktu anda. Informasi mengenai orang yang anda inginkan sudah kami dapatkan semua. " Ucap Rio asisten sekaligus sekertarisnya itu.
Siiittch aku pasti telah mengganggu waktu bersama istrinya lagi.. Benar-benar sial. Kakiku yang berharga esok pasti tidak akan bisa merasakan menyentuh muka bumi ini.
"Kirim data-datanya ke email sekarang juga." Kata Derriel langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Rio.
"Sayang, aku keruang kerjaku dulu. Ada pekerjaan yang penting yang harus aku kerjakan.Mungkin akan lama, jika kamu sudah mengantuk tidurlah terlebih dahulu." Derriel bergegas mengenakan baju.
"Ya baiklah." Kata Arani di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Ya ampun apa itu tadi. Benar-benar bikin panas saja badan ini. Ternyata rasanya seperti ini mungkin jika itu sampai berlanjut, sampai kebawah apa jadinya?. Baru bagian atas yang dipandang dan mengecup leherku saja sudah membuat kakiku lemas. Dan badan bergetar.