
Dirdja dan Alexandros memasuki kamar Arani secara bersamaan. Dan melihat tetesan darah di lantai menuju kamar mandi.
Alexsandros memerintahkan pengawalnya untuk memeriksa keadaan sekitar. Dan tangkap siapapun yang mencurigakan.
Sebagian pengawal lainnya ditambah pengawal dari pihak Derriel dan juga Dirdja memperketat penjagaan.
Dirdja yang mesuk kamar mandi terlebih dahulu, melihat Derriel menahan sakit akibat luka tembak.
Syukurlah, yang terluka tembakan lengannya Derriel yang berusaha melindungi Arani.
Setelah mendapatkan perawatan dari dokter pribadi keluarga Alexsandros, Derriel dan Arani beristirahat dikamar yang lain.
"Aku tidak menyangka, malah ada orang lain yang ingin menyelakai keluarga kita. Aku sudah berlebihan menghawatirkan kekejaman kakek Alexsandros kepadamu sayang. Nyatanya malah ia menerima keberadaan kita disisinya dengn sangat baik."
"Kakek Alexsandros mencelakai kita?. Hahahah itu tidak mungkin dan tidak akan pernah perjadi. Beliau akan semakin menyayangi kita, apalagi jika tahu cucu kandungnya masih hidup. Karena kita penerus dari dua keluarga yang hampir pupus karena keserakahan mereka masing masing." Kata Arani yang manja di rangkulan Derriel, sambil satu tangannya melingkar dipinggang Derriel . satu tangannya lagi mengelus lengan Derriel yang luka.
"Sayang..., Apa maksut ucapan kamu ?"
Seketika Arani sadar akan ucapannya yang berlebihan. Ia melepaskan pelukan dari Derriel, duduk dan menatap wajah Derriel sambil nyengir kuda.
"Sayang, apakah kamu sudah tahu yang sebenarnya?"
"Emmz itu,..." Tidak ada kalimat lanjutan dari Arani. Dan ia pun membuang muka kearah lain .
"Arani, lihat aku ! ".
Dan mereka saling tatap menatap.
Fix, dia marah . haduh.. enggak apalah. paling marahnya cuman sebentaran juga. kata Arani dalan hati
"Iya aku tahu kalau kamu ternyata cucu kandung Alexsandros. "
"Dari mana kamu tahu itu ?. Tolong jujurlah."
"Itu semua dari teman-temanku."
"Teman kamu yang mana? aku tahu semua teman kamu !. "
__ADS_1
"Itu... Eeemmzz.... Mereka..."
Arani ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Kenapa kamu masih saja menyembunyikan sesuatu dariku. Aku ini suami kamu . Bukankah kita sudah sepakat untuk saling terbuka." kata Derriel menundukkan kepalanya. Kekecewaan menyelimuti dirinya.
"Segera tidurlah. Sudah tengah malam, besok kita kembali ke kota BBB , dan kembali bekerja."
Akhir malam yang penuh kekecewaan bagi Derriel. Dan akhir malam yang penuh kegelisahan dan rasa bersalah bagi Arani. Karena ini kali pertama Derriel bersikap dingin padanya dan mengacuhkannya.
"Sai Ail....." tidak ada jawaban dari Derriel yang posisi tidurnya membelakangi Arani
"Say, Ara enggak bisa tidur tanpa pelukanmu." Sambil mengelus punggung Derriel.
Masih belum ada jawaban juga dari Derriel.
Apa hanya begitu saja ia begitu marah ya.
"Ardian yang membantuku dalam segala hal informasi mengenai apapun. Termasuk keluargaku ataupun keuargamu."
Seketika Derriel membuka mata mendengar Arani mrnyebut nama laki-laki .
"Ardian laki-laki yang baik. Aku bertemu dengannya saat kelas 10. Malang nasipnya yang tidak beruntung hidup dalam kemiskinan. Padahal otaknya jenius. Jadi Ara modalin aja laptop dan buku-buka IT. Tidak disangka kemampuannya bisa mengantarkannya mendapatkan beasiswa kesekolah terbaik dikota AAA.
Semenjak tahu kakek Dirdja adalah kakek kandung Ara, Ara menjadi lebih penasaran lagi dengan siapapun orang orang didekat Ara. Termasuk Sai Ail.
Ardian lelaki yang tampan. Banyak wanita yang mendekatinya. Tapi siapapun wanita yang mendekatinya selalu diacuhkan. Ah kenapa aku baru sadar akan hal itu ya. Apa jangan jangan dia sudah....."
Tanpa aba aba Derriel langsung mencium Arani dengan rakusnya. Sampai Arani sulit bernafas. Tangannya mencekram lengan kekar Derriel. Dan tangan satunya berusaha mendorong dada bidang Derriel.
Derriel pun melepaskan pagutan ciuman mereka, dan memberikan ruang sesaat untuk Arani bernafas.
"Sai Ail, arr...." dengan mata berkaca kaca Arani belum menyelesaikan ucapannya Derriel menciumnya lagi.
Dan perlanjut sampai adegan panas yang begitu panjang.
Namun Derriel hanya memainkan adegan panas bagian atas saja. Karena Arani saat ini sedang datang bulan
__ADS_1
Terlelaplah Arani dalam tidurnya. Malam yang panas dan juga panjang membuatnya langsung terbawa alam mimpi.
Sedangkan Derriel, Masih terselimuti rasa Kecewa ditambah cemburu yang membara
"Aku sangat tidak menyukai jika mulutmu memuji lelaki lain selain aku Sayang. Kau hanya boleh memujiku seorang. Yaitu aku saja. Kenapa, kenapa kau tidak peka dengan cintaku. Apakah kau benar-benar mencintaiku dari lubuk hatimu atau selama ini hanya sekedar ucapan semata. Araniku sayang, apakah kau masih menganggapku sebagai pamanmu?".
Kata Derriel pelan ditelinga Arani, sambil mengelus pipi dan bibir Arani secara bergantian.
Sampai akhirnya ia merasakan sakit di lengannya akibat tembakan tadi.
Lalu Derriel bangkit dari tidurnya. Menghubungi seseorang dari HP-nya. Memberikan perintah penjagaan pengasawan yang lebih ketat lagi kepada Arani, memcari informasi sebaik mungkin orang-orang yang dikenal Arani, dan juga mencari informasi orang yang mencoba melukai Arani.
Paginya mereka berpamitan pada kakek Alexsandros untuk kembali ke kota BBB.
Akan tetapi Kakek Alexsandros malah ikut mereka ke kota BBB. dan ingin tinggal bersama Derriel dan Arani.
Disini Kakek Alexsandros belum mengetahui jika Derriel cucu kandungnya, selain Derriel, Arani, dan Kakek Dirdja.
Mereka berempat sepakat jika Alexsandros tinggal bersama Arani dan Derriel di kediaman Derriel.
Didalam perjalanan yang begitu panjang dan menyita waktu cukup lama, sekata patah pun tidak keluar dari mulut Derriel.
Sesekali Arani menoleh dan memandangi Derriel. Meski mereka dduuk bersebelahan di dalam mobil, namun bagi Arani ada jarak yang begitu jauh diantara mereka berdua.
Efek dari datang bulan belum hilang juga. Arani mengelus pinggangnya yang merasa ngilu. Raut wajah Arani menyerengit menahan rasa sakit di pinggangnya.
Sekilas Derriel melihat Arani kesakitan. Lalu ia menjulurkn tangannya, untuk mendekatkan tubuh Arani padanya. Menyuruh Arani untuk tidur dipangkuannya. Sambil mengelus pinggang Arani, Derriel membuang muka kearah jendela. Melihat suasana jalanan yang mereka lalui.
Hal yang tidak akn pernah terjadi. Jika posisi seperti ini biasanya Derriel akan mengelus pipi Arani, namun saat ini ia hanya memangku satu tangan untuk dagunya sambil melihat keluar jendela.
Sungguh, ini menyakitkan Sai Ail. Kenapa sebegitunya kamu marah kepadaku. Jika ada hal yang aku sembunyikan darimu, bukankah kamu juga sama menyembunyikan suatu hal lain dariku. Sebelum kau mengtakannya kepadaku. Aku tidak akan menyinggungnya. Aku akan menunggu kau mengatakannya Sai Ail.
Arani berusaha menahan tangisnya.
...----------------...
Ditempat lain. Seorang lelaki muda, gagah, dan tanpan menggebrak meja, sampai meja kayu itu patah.
__ADS_1
"Sial.... Gagal.... Akan aku pastikan kalian menderita. Kalian semua melupakan keberadaanku. Lihatlah bagaimana orang yang kalian kasihi menderita." kata lelaki itu berapi-api dengan senyum yang menakutkan.