Yang Menyatukan Cinta

Yang Menyatukan Cinta
BAB 34 : Kisah Daniel


__ADS_3

Setelah Daniel mandi dan memakai celana panjang berwarna hitam, terdengar ketukan pintu kamarnya.


"Tuan, ini saya."


"Masuklah."


Si gadis membuka pintu kamar Daniel namun ia tidak berani melangkah masuk ke dalam. Setengah jam sudah berlalu setelah apa yang diperintahkan Daniel kepadanya untuk bersiap menikah. Penampilan sang gadis sudah rapi. Sederhana memakai kebaya model lama . Kebaya ibunya kala nikah dulu. Sang gadis memakai makeup tipis. Polesan lipblam pink di bibirnya dan bedak tipis memolesi wajahnya.


Sambil menundukkan wajahnya. Dan membawa sebuah kotak.


"Tuan. Maafkan saya sudah melukai tuan. I-i-ini kotak P3K saya bawakan untuk Tuan."


"Baguslah kau sangat peka jadi orang. Tahu kesalahan yang kau buat. Poleskan obat di luka yang kau buat ini. Masuk jangan hanya berdiri disitu."


Terlihat jelas jika sang gadis masih takut.


"Aku janji sebelum ijab kabul terlaksanan , aku tidak akan macam-macam denganmu. Cepat masuk !." Intruksi cepat masuk di ucapkan secara lantang oleh Daniel. Membuat sang gadis segera masuk kedalam kamar.


Sekilas sang gadis melihat Daniel. Tubuh kekar dan six-pack yang tidak dibungkus dengan baju membuatnya malu tapi juga takut. Ia tetap menundukkan wajahnya meski ia sudah mendekati Daniel.


Melihat si gadis masih diam di posisinya membuat Daniel jengah.


"Kau tau aku tidak suka dengan orang yang kerjanya bertele-tele. Cepat lakukan tugasmu. Luka yang kau berikan cukup perih."


"Ba, baik tuan."


Dengan telaten , cekatan dan lembuat sang gadis memoleskan obat di tubul Daniel yang ia cakar. Kelembutan yang dilakukan sang gadis, membuat Daniel teringat dengan mendiang ibunya dikala ia terluka karena jatuh ibunyalah yang mengobati lukanya dengan kelembutan.


Setelah cakaran di punggung Daniel selesai di obati, ganti yang terakhir di bahu depan yang di gigit sang gadis. Saat sang gadis berhadapan dengan tubuh kekar Daniel. Terlihat gelagatnya yang gematar.


"Aku selalu menepati ucapanku. Cepat obati. Pernikahan ini segera dimulai.


"Baa, baa, baik tuan."


Sang gadis segera memoleskan luka yang ada. Ia sadar jika dirinya dipandangi oleh Daniel. Namun ia masih takut menatap wajah Daniel. Dia hanya berfokus pada pengobatannya.


Bibir yang manis - Batin Daniel.


Bel pun berbunyi menandakan jika sang asisten sudah tiba bersama dengan penghulu, wali hakim, dan beberapa orang saksi.


"Tolong ambil kemeja dan jasku. Yang pantas kukenakan hari ini dan serasi dengan penampilanmu."


"Ba, baik tuan."


Diambilah kemeja dan jas yang serasi dengannya. Dan membantu Daniel memakaiannya. Layaknya sang istri melayani suami berpakaian.


...****************...


Ijab kabul berjalan lancar. Dengan satu tarikan nafas Daniel fasih mengucapkan ijab kabul. Dan mereka sah secara agama menjadi suami istri atau bisa dibilang nikah siri. Saat sang gadis mencium tangan punggung Daniel, terasa getaran ketakutan yang tersisa dari kejadian sebelum ijab kabul terlaksana.


Dia gemetar, apa masih ketakutan akan kejadian tadi ?.-- Ucap Daniel dalam hati.


Disematkannya cinci nikah di jari mamis sang gadis.


Orang-orang yang menyaksikan pernikahan ini, membubarkan diri. Dan tersisalah mereka berdua sepasang suami istri yang sah.

__ADS_1


"Persiapkan dirimu. Dan bawa perlengkapan kita untuk menginap di rumah orang lain. Aku di undang jamuan makan malam hari ini. Bisa saja kita diharuskan menginap.


"Ba, baik tuan."


Kebutuhan tuan Daniel sudah siap semua. Kebutuhanku juga. Tapi ada yang kurang. Jika ia memintaku memakai baju tidur yang kurang bahan itu bagaimana. Aku tidak punya . Berpikirlah gadis manis. Berpikirlah otak ini. Ah tangtop dan celena pendek ini tidak masalah lah. Sama aja kan pakaian kurang bahan. Kalaupun nanti Tuan Daniel meminta pakaian seksi, aku bisa menggunakan ini. Jika dia tidak puas tinggal kukatakan yang sebenarnya saja kalau aku memang tidak punya. Kau sangat pintar wahai otakku. Hehehe. -Ucap si gadis dalam hati.


...****************...


Disisi lain dikediaman megah Kakek Dirdja. Para pelayan sudah sibuk mempersiapkan jamuan makan malam yang akan diadakan satu setengah jam lagi.


"Arani apa kau yakin dengan keputusanmu ini. Mengundangnya makan malam. Kau tahu bukan jika dialah yang mencoba mencelakaimu." Cerca Kakek Dirdja.


"Aaiiiicchhh pertanyaan ini lagi. Sehari tiga orang menanyakan hal ini. Apa nanti ayah mertua jika suda datang menanyakan hal yang serupa?."


"Ya kan...."


"Iya Ara sangat tahu betul orang ini. Dan ini bukan suatu yang salah bukan jika mencoba menjalin ikatan kekeluargaan yang tercerai berai disatukan kembali.


Coba Say Ail lihat tadi. Bagaimana respon awalnya saat diundang tidak mau dan akhirnya memutuskan setuju ikut makan malam bersama kita."


"Iya aku lihat sayang." Ucap Derriel yang duduk disebelahnya.


"Nah itu. Karena adanya interaksi kedekatan diantara kita maka bisa jadi kan Bang Daniel berubah pikiran untuk tidak mencelakai ku lagi. Itu si pemikiran simple Ara ya."


"Terserah kau saja. Tapi Kakek akan tetap berjaga jaga untuk pengamanan yang ketat dirumah ini ." Ucap sang kakek yang duduk bersebrangan dengan Arani dan Derriel.


Nenek Dona yang duduk disebelah kakek Dirdja cukup diam mendengar dan mengelus elus tangan Kakek Dirdja. Supaya lebih tenang dan rileks. Karena ia tau perasaan suaminya saat ini sedang tidak tenang, dan was was atas apa yang dimau cucu kesayangan satu satunya ini.


"Ara akan ikuti mau Kakek Dirdja. Jika itu yang terbaik. Ara tidak takut apapun. Ada suami yang selalu menjaga Ara."


"Derriel, apakah kau sudah menghubungi Ayahmu juga?".


"Sudah Kek, mungkin sebentar lagi beliau segera tiba."


Tiba - tiba terbukalah pintu ruang utama .


Terlihat seorang lelaki paruh baya masuk kedalam rumah dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Ckckckck kacau sekali penampilanmu Alex."


"Diamlah kau Dirdja. Dimana Arani." Tanyanya berusaha untuk menetralkan nafasnya.


" Ara disini ayah mertua." Sambil mengangkat tangan seperti sedang di absen kehadirannya.


"Cih kau buta apa, orang sebesar itu tidak kau lihat sampai sampai bertanya keberadaannya." Cletuk Kakek Dirdja.


Pandangan Alexandros belalih menatap sang menantu. Tanpa memperdulikan ucapan Dirdja.


"Arani apa..."


"Ya sangat yakin ayah mertua, Ara mengundang Bang Daniel makan malam bersama kita." Ucap Arani memotong ucapan Alexandros.


"Arani jangan memotong pembicaraan orang lain sebelum selesai berbicara." Ucap Derriel lembut kepada Arani.


"Pasti kalimat tanyanya sama seperti yang sudah susah Say Ail."

__ADS_1


"Hargai orang yang sedang berbicara terhadap kita."


"Baiklah...." Sambil memanyunkan bibir lancipnya. Dan Derriel pun mencium pucuk kepala Arani.


"Sebentar lagi tamu yang diundang segera tiba. Rapikan penampilanmu Alexandros. Masa mau bertemu anak yang sekian purnama tidak pernah kau lihat, kau berpenampilan berantakan tidak elegan seperti ini."


"Aku bukan anak kecil Dirdja. Aku tahu jika penampilanku berantaka.


Dimana kamar yang akan aku tempati disini."


"Di lantai bawah ini. Itu kamarnya." Unjuk Dirdja.


Sekilas Alexandros melihat Dona. Tanpa Dona pedulikan.


"Hay jaga matamu. Dia sudah menjadi milikku. Cari sana pasanganmu sendiri."


"Cih." Acuh Alexandros dan melangkah meninggalkan mereka menuju kamarnya.


"Kakek sudah tahu?." Tanya Arani khawatir jika hubungan pasutri di depannya sedang tidak baik karena kehadiran orang ketiga dimasa lalu.


"Yah. Dona menceritakan semuanya kepadaku. Jika dulu Alexandros mantan kekasihnya yang meninggalkannya begitu saja padahal hari pernikahan sudah di ujung mata."


"Tapi kalian baik baik saja kan.?" Arani mencoba memastikan keadaan .


"Iya seperti yang kau lihat ini cucuku."


"Syukurlah kalau begitu."


...****************...


Waktu makan malampun tiba. Dimana tamu yang di undang tiba.


Alexandros, Kakek Dirdja, Nenek Dona, Derriel dan juga Arani berdiri di ambang pintu yang tertutup sebelum tamunya datang.


Saat tamu sudah di depan pintu. Pelayan membukakan pintu utama. Dilihatnya Daniel dan seorang gadis di sampingnya.


"Selamat datang di rumahku Daniel." Sambut Kakek Dirdja.


"Bang Daniel, dia?" Tunjuk Derriel kepada sang gadis.


"Kau ..."


Mendengar suara Derriel, sang gadispun menatap kedepan dan betapa terkejutnya ia.


"Om Derriel..." Panggil sang gadis.


.


.


.


.


.to be continue

__ADS_1


__ADS_2