Yang Menyatukan Cinta

Yang Menyatukan Cinta
BAB 24 : 13 tahun lalu


__ADS_3

Flashback on


Tiga belas tahun yang lalu.


Arani kecil usia enam tahun dan Derriel berusia lima belas tahun mengunjungi tempat wisata pantai di salah satu kota TA. Kota TA terkenal dengan pariwisata pinggir pantai yang sangan indah mempesona. Perjalanan menuju pantai harus melalui perbukitan, pedesaan, dan juga disuguhi dengan pohon-pohon yang tumbuh lebat di sepanjang jalan raya.


Setelah menjadi anak angkat Dirdja di usianya 10 tahun, dengan kejeniusannya ia mampu mempelajari dunia bisnis yang diajarkan oleh Dirdja. Siapa sangka saat ini ia sedang memimpin melakukan projects yang diberikan oleh kakek Dirdja di kota TA.


Sembari bekerja dan mengajak Arani kecil berlibur.


Semenjak ikut Dirdja dan sudah bisa menghasilkan uang dari tuga tugasnya menyelesaikan pekerjaan dari Dirdja, Derriel mengambil Arani dari panti asuhan yang awal mula ia menitipkan Arani hidup disana.


Arani kecil begitu aktif sekali. Sampai terkadang lolos pengawasan dari pengasuh dan juga pengawal yang menjaganya .


Tak elak, Derriel akan begitu murka jika hal itu terjadi dan harus mengganti berkali kali pengasuh dan pengawal. Sampai titik dimana ia jengah juga harus mengganti pengawal dan pengasuh. Karena bukan mereka juga yang salah , Araninya juga begitu aktif sekali dalam menjelajah dunia ini. Yang keingin tahuannya begitu tinggi apalagi jika berada di alam terbuka seperti saat ini. Meski sudah ditambah tetep saja lolos pengawasan.


Namun kali ini Derriel menambah pengasuh dan pengawal 2x lipat dari biasanya. Derriel tidak mau terjadi hal apapun menimpa Arani di kota orang. Apalagi mereka juga baru menjejakkan kaki di kota ini.


"Om Ail itu apa yang warna biru di bawah sana. Luas sekali?" tanya Arani kecil yang duduk dipankuan Derriel dalam mobil. Melihat hamparan laut saat melewati bukit.


"Itu laut Arani. Indah dan bagus ya !. Nanti kita bermain di sana ya. Nanti kita bisa berenang disana."


"Jadi yang biru itu air Om Ail, bisa berenang disana. Banyak sekali airnya. Lihat sampai ujung sana airnya. Kita berenang disitu?"


"Iya, lautan itu air ." menjelaskan sesuai yang dipahami Arani.


"Ara enggak mau berenang disitu"


"Kenapa enggak mau"


"Airnya banyak. Ara takut Om Ail."


"Baiklah baiklah. Kita lihat aja nanti ya".


Kalau sudah disana juga kamu akan penasaran dan ingin mencoba Ara- Batin Derriel dalam hati sambil mengelus pucuk kepala Arani.


...****************...


Sesampainya di tempat tujuan, di sebuah hotel atas bukit pinggir pantai, rombongan Derriel memilih untuk beristirahat di kamar hotel dulu. Ada juga beberapa pengawal yang mendapat jatah jam istirahat pengawalahan memilih untuk menikmati suasana pantai.


Hari menjelang sore, Arani sudah menunjukan aksinya yang begitu penasaran dengan lautan. Merengek untuk melihat kesana kepada Derriel.

__ADS_1


Diatas kasur Arani melompat lompat sambil mengutarakan kemauannyan untuk bermain di luar. Berusaha membangunkan Derriel dari tidur siang menjelanng sorenya itu.


"Ayo Om. Ayo main main main laut. Ayo kesana. Bangun sudah sore gak boleh tidur sore sampai mau malam. Nanti sakit om. Ayo bangun." kata Arani sambil melompat lompat di atas tempat tidur.


"Arani, Om masih lelah. Sebentar lagi ya."


Masih memejamkan matanya.


Beberapa saat tidak ada guncangan di atas kasur yang dirasakan Derriel. Derriel mengedarkan pandangannya. Dan melihatnya mata Arani berkaca kaca, mau menangis.


"Uuwaaaa... aaaakkkh huuaaaaa" pecahlah tangis Arani.


"Cup cup cup. Ok ok kita ke pentai sekarang ya main disana..."


"Uaaakkk enggak mau pantai...."


"Lah tadi katanya mau main kesana?." sambil mengusap air mata Arani yang membasahi pipi dan juga mengusap lembut kepala sampai punggung Arani.


"Huhuhu, Ara gak mau main di pantai Om. Ara mau main di laut. Mau liat laut Om !huhuhu huhuhu."


"Oh iya laut. Iya laut. kita sekarang kesana ya . Sekarang berhenti nangisnya. Anak cantik. Ayo bersiap-siap ya. Cup nangisnya."


"Huhu huhu huhu, eeemm." sambil menganggukkan kepalanya dan perlahan tangisannya mereda.


"Ini namanya pantai. Kalau mau ke laut sana kita harus kesini terlebih dahulu".


"Wah bagus Om Ail. Pasirnya putih bersih. Kok kalau yang di deket rumah kita pasirnya hitam yah?. Disini pasirnya dicuci dulu ya om pakek air laut, makanya jadi putih bersih gini."


"Hahaha tidak Arani. Pasir pantai memang sudah putih seperti ini. Kalau pasir yang di dekat rumah, itu pasir sungai. Memang warnanya hitam.


"Oh gitu, Om Ail Om Ail. Ara mau bikin rumah rumah kaya gitu." Sambil menunjuk orang-orang disisi lain yang sedang membuat kastil pasir pantai."


"Boleh. Main di depan Om sini ya. Om mau telephon Kakek Dirdja sebentar. Ditemani nany sama pengawal ya."


"Iya Om Ail".


Sembari mengawasi Arani bermain di depannya Derriel menghubungi Kakek Dirdja.


"Derriel, kau sudah sampai di kota TA?". Tanya Dirdja di seberang telepon.


"Sudah Tuan, tadi siang kami sampai sini."

__ADS_1


"Bagaimana hasilnya?".


"Para pengawal yang sudah terlebih dahulu tiba disini, belum menemukan titik kejelasan keberadaan orang tua kandungku. Penjelasan dan keterangan Kakek Danu semasa hidupnya dulu tidak begitu banyak membantu pencarian."


(kakek Danu yang mengasuh Derriel sedari bayi)


"Oh seperti itu. Jangan patah semangat. Suatu saat pasti akan ketemu dengan keluargamu."


"Iya Tuan,, terima kasih juga sudah membatu Derriel mencari keberadaan keluarga kandung Derriel."


"Em. iya."


"Untuk kerjasama kontrak dengan rekan bisnis di sini, Derriel akan menemuinya nanti malam."


"Emmm, Baiklah. Sukseskan kerja sama ini. Ini akan sanga menguntungkan kita."


"Baik Tuan, Derriel akan maksimalkan."


Tidak terasa senja mulai menampakan dirinya. Dan Derriel mengajak Arani untuk kembali ke hotel.


Sepanjang perjalanan, Arani tidak ada henti hentinya bercerita bagaimana senangnya ia bermain di bibir pantai. Hal yang selalu membuat Derriel senyum bahagia jika Arani begitu antusias dan begitu ceriwis menceritakan apa yang ia arasakan.


Malam pun tiba. Pertemuan Derriel dengan rekan bisnis Dirdja berjalan dengan baik. Melepas penat yang ia rasakan hari ini, segera ia menuju kamarnya.


Dilihatnya Arani sudah tidur pulas dengan posisi yang menggemaskan bagi Derriel.



Siapapun yang mencoba membenarkan posisi Arani tidur, jika itu bukan Derriel ia Akan menangis sejadi jadinya. Makanya Nany yang menemani kala Derriel belum kembali, akan membiarkan posisi apapun Arani tidur sampai Derriel kembali.


Kemanapun Derriel berada dan mengerjakan suatu kerjaan jika mengharuskan ia tidak kembali kerumah. Derriel akan selalu mengikut sertakan Arani. Karena alasan ini.


"Pergilah dan beristirahat. Tugasmu sudah selesai hari ini." Titah Derriel kepada nany Arani.


"Baik Tuan. Selamat beristirahat . Permisi tuan."


"Eemmm.."


Dibetulkannya posisi tidur Arani. Begitu hati hati dan penuh kasih sayang.


Derriel memberi kecupan di pucik kepala Arani.

__ADS_1


"Selamat tidur anak cantik. Bahagialah selalu. Karena itu yang membuatku bahagia menjalani kehidupan ini. Kehadiranmu di hidupku membuatku tidak merasakan kesepian lagi."


Terlelaplah Derriel dalam tidurnya sambil memeluk Arani.


__ADS_2