
Sampai di depan rumah Alexandros, rombongan Derriel, yaitu Sekertaris Rio dan para pengawal melihat mobil ambulance keluar dari rumah besar Alexandros.
Derriel memerintahkan para pengawalnya untuk memeriksa ambulance tersebut, apa yang terjadi kenapa harus ada ambulance keluar dari rumah Alexandros.
Pikiran Derriel jauh kemana mana menghawatirkan dan mencemaskan Arani.
Beberapa pengawal memeriksa ambulance tersebut, setelah itu mereka kembali ke mobil Derriel, memberitahukan bahwa di dalam mobil ambulance ada seorang mayat perempuan yang telah dibunuh oleh Alexandros karena telah mengganggu dan mengusiknya.
Sontak saja membuat Derriel segera memerintahkan Rio melajukan mobilnya kedalam rumah Alexandros.
Tanpa disangka sangka. Rombongan Derriel begitu mudah melalui pintu gerbang rumah Alexandros tanpa harus melewi pemeriksaan.
Kepala pelayan rumah menyambut kedatangan Derriel dan mempersilakannya masuk.
Dilihatnya Alexandros di ruang utama, dan menyapanya.
"Selamat datang cucu menantuku." Sapa Alexandros sambil merentangkan tangannya. Seolah ingin mendapatkan pelukan dari Derriel.
"Dimana Arani ?." Tanya Derriel penuh dengan ketegasannya. Namun Derriel juga bingung kenapa Alexandros memanggilnya cucu menantu.
"Dia ada di kamar lantai dua, di pintu berwarna pink."
Bergegas Derriel sendiri menuju ke lantai atas tanpa mengindahkan penyambutan dan mengabaikan isyarat rentangan tangan Alexandros
"Apessssss, dikacangin aku." Kata Alexandros sambil menurunkan rentangan tangannya.
Rio yang mendengar ucapan Alexandros mencoba untuk menahan tawanya.
Alexandros yang melihat gelagat Rio langsung menatapnya tajam seolah-olah ingin menerkam hidup-hidup. Seketika membuat nyali Rio menciut.
...****************...
Tanpa mengetuk pintu Derriel segera masuk ke kamar yang dimaksud Alexandros dan ia melihat Arani sedang posisi tidur namun ekspresi wajahnya kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Sayang, apa yang terjadi kepadamu ?." Tanya Derriel kepada Arani dengan ekspresi penuh kesedihan melihat Arani kesakitan seperti itu.
Arani membuka matanya perlahan, namun sekejap kemudian perlahan ia memejamkan matanya sambil merintih kalau perut dan pinggangnya sakit.
Arani mengarahkan telapak tangan Derriel untuk mengusap bagian pinggang.
"Apa kamu sedang datang bulan sayang ?".
"Eeemmm." Jawab Arani sambil menganggukan kepala dan meneteskan air mata.
"Syukurlah hanya datang bulan saja akan aku suruh pelayan untuk mengantarkan air hangat untuk mengompres perutmu dan juga air hangat madu jahe untuk kamu minum."
Aku harap tidak ada yang Arani rasakan kecuali sakit karena datang bulan. Aku berharap Alexandros tak menyakiti Arani sehelai rambutpun.
Setiap datang bulan kamu pasti selalu kesakitan. Hal wajar sih tapi kamu tidak bisa menahan rasa sakit di hari pertama datang bulan. Setelah sakit yang dirasakan Arani mereda mungkin nanti aku akan menanyainya baik-baik apa yang dilakukan Alexandros selama Arani di sini.
__ADS_1
...****************...
Setengah jam setelah Derriel sampai, Kakek Dirdja tiba di rumah Alexandros.
Sekian lama tidak pernah ketemu, selalu berkonflik jarak jauh, bersaing dalam dunia bisnis, dan permasalahan lama yaitu saling melenyapkan anggota keluarga kedua belah pihak, membuat Kakek Dirdja terheran heran, kenapa bisa semudah ini memasuki kediaman Alexandros. Apa yang akan direncanakan Alexandros. Membuat Kakek Dirdja lebih waspada lagi.
...****************...
Malam pun tiba. Jam menunjukkan pukul delapan. Perlahan Arani membuka matanya.
"Sai Ail, kamu ada di sini." Kata Arani lalu memposisikan tubuhnya untuk duduk bersandar di tempat tidur.
"Apakah rasa sakit di pinggang dan perutmu sudah mulai mereda?".
"Yah, lumayan."
"Minumlah air jahe madu ini. Agar perutmu lebih terasa hangat."
"Terima kasih Sai Ail." lalu Arani pun minum air tersebut.
Derriel mengusap kepala Arani penuh dengan kasih sayang. Memandanginya dengan penuh cinta ditambah senyum kecil di bibirnya.
"Say Ail kamu sudah cuci tangan?. Sebelum menyentuhku."
"Tadi saat kamu tertidur aku sempat cuci tangan sih di kamar mandi, memang kenapa?."
"Hanya menggunakan sabun saja?."
Arani langsung memasang muka cemberut imutnya, membuat Derriel yang melihatnya semakin gemas akan tingkah laku istrinya ini. Dan mencoba untuk mencium bibir manyun Arani. Tapi tubuh Derriel yang mendekatinya ditahan.
"Say Ail mau apa?".
"Ya mau mencium istri kecilku ini mau apa lagi apa kau tak merindukanku?. Aku sangat cemas saat mendapatkan kabar jika kau diculik oleh Kakek Alexandros."
"Sebelum membahas itu lebih baik Sai Ail mandi sekarang juga."
"Sayang, tapi tadi aku juga sudah mandi kok apa masih bau badan?." Kata Derriel sambil mengendus ketiak kanan dan kirinya.
Segera Arani mengambil gagang telepon yang ada di dekat tempat tidur lalu menelepon pelayan dirumah ini agar segera datang ke kamarnya dan tidak lupa membawakan kembang tujuh rupa.
"Sayang untuk apa kembang tujuh rupa itu?."
"Untuk Sai Ail mandi lah, untuk apa lagi. berendam lama-lama di situ. Bersihin seluruh tubuh Sai Ail dengan kembang tujuh rupa itu."
"Sayang tidak perlu memakai kembang tujuh rupa, sabun yang ada juga sudah cukup wangi kok di badan aku."
"Ini syarat untuk menghilangkan bekan bekas wanita itu ditubuh Sai Ail?"
Sejenak Derriel diam untuk mencerna maksut kata-kata Arani.
__ADS_1
"Ahhh kejadian yang tadi siang, apakah kamu melihatnya?." Tanya Derriel dengan senyum kecil di bibirnya.
"Sekilas Ara melihatnya." Sambil membuang muka .
"Baiklah baiklah ternyata istri kecilku ini sedang cemburu. Aku akan menuruti kemauanmu mandi dengan kembang tujuh rupa. Tapi aku mau mandinya dimandiin sama kamu, boleh kan?.
Malu-malu tapi mau Arani melakukan apa yang diinginkan Derriel. Jadilah Arani memandikan Derriel.
...****************...
Di ruang tamu yang begitu luas duduklah Alexandros, Dirdja dan juga Rio.
Lama mereka berdua saling tatap-menatap penuh dengan kebisuan. Tidak ada sepatah kata pun terucap oleh Alexandros maupun Dirdja.
Rio yang ada di situ merasa canggung atas sikap mereka berdua. Lalu ia pun pamit untuk ke kamar mandi alasan untuk menghindari ketegangan diantara keduanya.
"Ehhhmmm...." Alexandros berdehem.
"Baiklah aku yang mulai. Apa yang kau inginkan?, kenapa kau menculik cucuku apa kau ingin terus berlanjut menjalani kehidupan penuh dengan dendam dan menghancurkan satu sama lain. Tidak cukupkah kau kehilangan keluarga di antara kita berdua."
"Sudah cukup yang sudah berlalu. Aku hanya ingin merasakan mempunyai cucu saja. Dirdja dulu kau pernah mengatakan apapun yang terjadi kau dan aku akan menikmati segala hal bersama sama. Senang maupun duka. Dan sekarang aku hanya ingin menagih ucapanmu itu saja. Tidak salah bukan?."
"Yang kau inginkan tidak salah dan itu memang benar. Tapi caramu yang salah."
"Jika aku memintanya secara terang-terangan nama mungkin kau akan menyerahkan cucumu itu padaku. Setelah apa yang terjadi diantara kita berdua."
Keheningan diantara mereka berdua terjadi lagi.
"Sesampainya Arani di sini apa yang kau lakukan padanya?. Kau tidak menyakitinya bukan?"
"Bagaimana aku mungkin menyakiti cucu tercantik seperti dia dan juga sangat menghiburku saat berada disini."
"Apakah itu benar?."
"Kurasa kau masih menghafal aku seperti apa Dirdja."
"Baiklah jika itu maumu aku titipkan cucuku di sini bersamamu."
"Benarkah semudah itu aku meminta cucumu untuk bersamaku."
"Kurasa kau masih menghafal aku seperti apa Alexandros."
"Kau hanya mengcopy ucapanku saja."
"Dengan syarat Derriel sebagai suami Arani juga harus tinggal di sini karena mereka tidak bisa dipisahkan sedari kecil."
"Tidak masalah..."
Dor dor dor dor......
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara tembakan di lantai atas.
Dirjad dan Alexandros spontan langsung menuju ke lantai atas diikuti dengan para pengawalnya masing masing.