
"Aaah.. Maaf tuan saya tidak sengaja." Kata Monika setelah menabrak tubuh Derriel yang hendak keluar dari toko bunga.
Tubuhnya maskulin sekali. Sangat nikmat ,aku ingin segera memilikimu Derriel.--kata Monika dalam hati.
"Emm..." Kata Derriel yang tidak memperhatikan manita yang di tabraknya.
Ia lebih fokus kepada bunga yang ia bawa. Memastikan jika bunganya tidak rusak sedikitpun. Setelah memastikan bunganya baik baik saja, segera ia berlalu menuju mobilnya tanpa perduli dengan sang wanita.
Monika begitu kesal, tapi juga senang sudah merasakan sekilas menyentuh tubuh Derriel dan mencium bau badan Derriel yang maskulin. Membuat ia bergairah.
Sesampainya ia di kediaman Kakek Dirdja, ia segera bergegas ke kamar Arani.
Saat melintasi ruang santai, dilihatnya Nenek Dona dan Kakek Dirdja bercengkrama hangat penuh kasih sayang.
"Derriel kau sudah pulang." Tegur Kakek Dirdja.
"Iya kek." Lekas ia menghampiri mereka berdua dan mencium tangan punggung mereka.
"Arani sedari tadi ada dikamar setelah dari luar."
"Sebentar lagi jam makan malam. Ajak istrimu makan bersama."
"Baik kek, Derriel pamit ke kamar dulu."
"Iya. Sana pergilah."
Sesampainya di kamar, ia tidak mendapati Arani dikamar,
"Sayang, kau dimana?" Panggil Derriel sambil melempar jas nya ke sofa dan melonggarkan dasinya.
"Ara dikamar mandi. Sebentar ya."
Mendengar sahutan Arani, Derriel begitu lega. Dilihatnya bunga yang ia genggam. Berharap Arani senang mendapatkan bunga darinya.
Jeglek.
Terdengar suara pintu terbuka.
"Say Ail, sudah pulang kerja."
"Ya sayang. Ini bunga anggrek untukmu, wanika tercintaku."
Dilihatnya Arani tersenyum senang mendapatkan hadiah darinya.
"Terima kasih Say Ail. Bunganya indah" dan mencium wangi bunga tersebut.
Derriel memeluk istrinya tersebut. Sesaat baru merasakan pelukan hangat dari istrinya, tubuh Derriel didorong Arani.
"Sayang, kenapa?" Kaget Derriel dengan sikap Arani yang tiba-tiba.
"Siapa dia...?"
"Dia??" Bingung Derriel
"Dia siapa maksutnya . Aku tidak mengerti sayang."
"Yang mencoba menyemtuh Say Ail."
"Apa?"
"Tubuh Say Ail tercium parfum seorang wanita." Ucap Arani dan seketika kaget melihat noda lipstik di kemeja Derriel yang dikenakannya.
"Siapa wanita yang mencoba mencium tubuh Say Ail?"
"Sayang tidak ada wanita yang mencium tubuhku".
__ADS_1
"Dan apa itu?" Sambil menunjuk noda lipstik yang samar berbentuk bibir di kemeja Derriel.
"Apa ini....?" Bingung Derriel melihat noda samar dikemejanya.
"Malah balik bertanya. Siapa wanita yang mencoba menyentuh suamiku.?"
Derriel diam sesaat dan teringat wanita yang tadi menabraknya.
"Sayang ini tidak seperti yang kau pikirnya. Saat aku selesai membeli bunga ada seorang wanita yang tidak sengaja menabrak ku. Kumohon percayalah."
Arani memicingkan matanya.
"Kau bisa tanyakan ke Rio. Dia melihatnya tadi. Kumohon percayalah."
Arani meletakkan bunga di vasnya. Dan menyambar HP-nya.
"Halo nona." Sapa Rio di sebrang telepon.
"Siapa wanita itu?"
Yang ditanya bingung siapa yang dimaksut Nonanya.
Tidak ada jawaban dari orang disebrang telpon.
"Kata Om Ail ada wanita yang menabraknya di toko bunga tadi."
Saklar di otaknya langsung menyala, sesat setelah dikasih pertanyaan dari Nona Arani yang mebuatnya bleng.
"Ahh itu tadi ada wanita yang tidak sengaja menabrak Tuan Derriel."
"Om Rio yakin tidak sengaja menabranya atau memang ingin menyentuh tubuh suamiku?"
Rio mencoba mentajamkan ingatannya tadi. Agar tidak salah menjawab pertanyaan yang diajukan Nona nya.
"Tidak sengaja Nona Arani." Namum hatinya meragukan jawabannya sendiri. Sisi lain tidak ingin Nonanya marah besar karena cemburu.
Diam sesaat. Dan teringat sekilas dengan pegawainya sendiri.
Deriiel yang melihat expresi Arani, merutuk dirinya sendiri karena ceroboh atas apa yang terjadi tadi sampai membuat Arani marah seperti ini.
"Ah itu , saya sempat melihat wajah wanita itu. Seperti karyawan kami dibagian administrasi."
"Siapa?".
"Sebentar nona." Mengotak ngatik isi laptopnya . Fix Nona benar benar cemburu buta ini.
"Monika, Nona." Setelah melihat foto foto karyawan yang ia miliki dibagian administrasi, dan mengingatkannya dengan wanita yang menabrak Tuan Derriel.
"Om Rio mencoba menutupi kejadian sebenarnya. Hah. Bagaima bisa Om Derriel memiliki sekertaris yang ragu dalam menjawab itu kejadian tidak sengaja katamu . Hah bener bener Om Rio ini. Itu memang sengaja." Duarrt jawaban yang meragukan hatinya langsung diketahui Nona Arani.
"Maaa .. " belum selesai ucapannya sudah terputus sambungan telepon mereka.
"Maaf Nona. Haduh, aku melakukan kesalahan fatal. Pasti pasti, setelah ini Tuan Derriel akan mengamukiku. Aakkakk" sambil mengacak ngacak rambunya.
Setelah menyelesaikan ucapannya ke Rio.
Tiiiaaarrr
HP keluaran baru. Harga fantastis, tergeletak di lantai setelah dilempar Arani kesembarang arah.
Pias wajah Derriel meliah Arani begitu murka dan mendengar ucapan terakhir dari istrinya.
Kejadian tadi disengaja. Tapi ia menyimpulkan tidak sengaja.
"Arani sayang.." tangannya ingin menggapai tubuh mungil istrinya.
__ADS_1
Di tepisnya tangan Derriel saat hendak menyentuhnya.
"Jangan sentuh Ara."
"Sayang jangan seperti itu. Aku tidak sanggup."
"Bakar semua yang dikenakan Om Ail hari ini. Dan mandilah dengan air kembang tujuh rupa. Baru boleh menyentuh Ara."
"Tentu, tentu aku akan melakukannya sayang."
Fix ia memanggilku om. Pertanda marah besar . Aku harus melakukan apapun yang ia minta jika tidak, bisa membuatku frustasi.--kata Derriel dalam hati
Dibantu pelayan membakar semua pakaian yang ia kenakan hari ini dan air kembang tujuh rupa untuk ia mandi.
Setelah ia selesai dengan syarat yang diajukan istrinya. Segera Derriel mendekati istrinya di kamar sebelah. Tempat pelarian Arani jika sedang kesal.
Derriel memberikan pesan kepada pelayan agar Kakek Dirdja dan Nenek Dona tidak perlu menunggunya makan malam. Karena ia ingin membujuk istrinya yang sedang mode on.
Perlahan Derriel membuka pintu kamar sangat hati hati. Dilihatnya Arani sedang duduk di pinggir tempat tidur sambil memandangi kedatangan Derriel.
"Sayang...."
Arani mendekat kearah suaminya yang perlahan mendekatinya.
Didorongnya tubuh Derriel ke sofa. Kaget atas apa yang dilakukan istrinya tersebut.
Arani menindih tubuh suaminya. Ia duduk diatas pangkuan suaminya yang bersandar duduk di sofa. Mencium bibir Derriel kasar.
Mendapat serangan kasar dari istrinya membuat Derriel membeku dan membolakan matanya.
"Dimana, dimana bagian tubuh Say Ail yang di sentuh wanita tadi."
"Hanya bagian dada saya yang tersentuh olehnya. Tidak ada yang lain sayang."
Arani mencoba membuka kaos yang dikenakan Derriel. Melihat tubuh bidang suaminya. Merasa tak rela disentuh oleh wanita selainnya.
Arani memeluk tubuh mulus suaminya. Membenamkan wajah cantiknya di dada bidang suaminya. Menggeleng gelengkan kepalanya. Sesekali mencium dada bidang suaminya.
Derriel yang mendapatkan perlakuan menggemaskan dari istrinya merasa senang dan bahagia tiada tara.
Derriel mengusap pucik kepala Arani dengan penuh kasih sayang. Dan terdengar gelak tawa dari mulut Derriel.
"Kenapa tertawa?"
"Tingkahmu membuatmu semakin imut. Aku suka."
"Ara tidak terima ada wanita lain menyentuh suamiku bahankan hanya sekedar tersenggol saja. Ara enggak suka Say..."
"Maaf atas kecerobohanku kali ini membuatmu kecewa. Akan kupastikan kedepannya tidak terulang kembali."
Mengelus pipi Arani dengan jemarinya. Dan memberi kecupan hangat di bibir istrinya.
Di gendongnya Arani dan dibaringkan di atas ranjang dengan sangat hati hati.
Arani membelai pipi Derriel. Menelusuri garis muka suaminya itu.
"Say Ail sangat tanpan. Dan hanya miliku." Terukir senyum di kedua insan yang dimabuk cinta.
"Sungguh , aku tampan?"
"Em.." mengecup bibir Derriel.
"Ara akan memimpin permainan kali ini"
Membuat Derriel membolakan matanya dan tersenyum puas bahagia atas apa yang ia dengar. Dan permulaan permainan istrinya yang membuat ia mabuk kepayang.
__ADS_1
Siapa sangka jika permasalahan yang timbul kali ini akan berdampak bagaimana marahnya Arani, tapi itu semua sirna. Yang didapat malah kebalikannya. Mendapatkan perlakuan yang tidak disangka dari istrinya. Memberikan servisan terindah yang ia dapat dari pelayanan sang istri diatas ranjang . Dimana istrinyalah yang kali ini mendominasi permainan dan memimpin jalannya permainan sampai puncak kenikmatan tiada tara diantara dua insan di bawah selimut.