
Episode sebelumnya.
Di kedai makanan siap saji. Di tengah kenikmatan menyantap semangkuk Mie panjang hangat tiba-tiba sesuatu telah mengganggu pendengaran Liying.
"Jangan pergi!. Ku mohon jangan tinggalkan aku!". Merintih sangat meminta. Suaranya begitu lembut ketika di dengar, seperti seorang wanita yang sedang memohon kepada seseorang. Namun orang tersebut tidak mau menerima dirinya.
" Jika kau pergi bagaimana dengan anak yang ku kandung ini!".Memohon belas kasihan, tetapi memang orang tersebut sudah tidak mau lagi menerima dirinya.
"Ah!. Aku tidak peduli dengan anak itu!". Membentak jawabannya begitu kasar saat di dengar. " Jika pun Dia lahir aku tidaka akan menganggapnya sebagai anak ku!". Menentang keras bernada tinggi.
Ini terdengar dari ujung sana. Suara dengan kata-kata ini mengganggu pendengaran Liying, hingga Dia pun menghentikan menyantap Mie panjang hangat nya tersebut.
***************
Bruk.
Di letakkan nya kedua sumpit tersebut ke atas meja dengan kasar. Lalu sangat geram Liying berdiri dari kursi panjang yang di dudukinya itu, dan marahnya dia ingin segera beranjak pergi meninggalkan kedai makanan siap saji tersebut.
"Kau ingin pergi kemana?". Bertanya Yue Yi dengan heran akibat Liying yang ingin pergi begitu saja tanpa ada kata yang terucap olehnya.
Raut wajahnya begitu marah memerah seakan-akan dia ingin menerkam seseorang. Yue Yi memperhatikan sikap Liying yang berubah cepat itu.
Tidak ada angin atau hujan. Mengapa sikapnya berubah cepat seperti itu?. Tanya Yue Yi dengan bingung.
" Kau ingin kemana?." Lanjutnya bertanya kembali ketika Liying yang benar-benar ingin pergi dari tempat ini. "Hei. Zhuge Liying!." Panggilnya yang kesal. Sudah meneriaki dirinya. Namun Liying sendiri tidak menggubris ucapan nya.
Tidak peduli Liying itu kakak seperguruannya atau bukan. Jika Liying telah bersikap seperti ini maka Yue Yi sangat kesal karna Liying sangat acuh disaat seperti ini.
**Tuk. Tuk.
Berjalan gagah tanpa berkata atau mendengarkan perkataan dari teman nya. Tidak berucap atau bertutur, yang ada hanya memandang tajam dengan satu titik pandangan yaitu kedepan**.
"Hei tunggu aku!". Panggilnya yang tergesah-gesah. " Nyonya ini uangnya!". Brak. Di taruh saja beberapa koin perak sebagai bayaran atas dua mangkuk Mie panjang hangat tadi.
"Liying!".Teriaknya memanggil dan mencoba untuk mengejar Zhuge Liying yang sudah menghilang dengan cepat itu.
Tergesah-gesah dan terburu-buru Yue Yi dengan bersusah payah mencoba untuk beranjak pergi dari tempat itu. Di lewatinya kursi panjang itu lalu pergi tanpa salam.
" Terima kasih, Nona!". Teriak Nyonya penjual itu. Ketika kedua gadis yang tadi sedang makan itu telah pergi, dan mereka meninggalkan beberapa koin perak sebagai bayaran atas dua mangkuk Mie panjang hangat yang telah disajikannya tadi.
**********
**Sampailah Zhuge Liying di tempat asal suara yang mengganggu itu, lalu memang benar di tengah keributan dan keramaian pasar ternyata ada sesuatu yang memilukan hati.
*Apa itu?.
Di area tersebut. Kedua mata Zhuge Liying di buat terbuka lebar dan seakan di buat geram dengan ini.
Seorang wanita dewasa tengah duduk tersungkur di jalan dengan kondisinya yang sedang hamil besar. Wanita itu sudah sangat kotar pakaian nya pun sudah nampak tidak berwarna akibar tertutup debu.
Rambut panjangnya tidak tertata rapih seperti kebanyakan para wanita lainnya. Dia sedang menangis terisak di bawah sana dengan benyak orang yang mengelilingi dirinya.
Sebenarnya Apa yang sedang Dia lakukan di bawah tanah itu?. Apa yang membuatnya menangis seperti itu***?.
" Ku mohon jangan pergi!. Jika kau pergi bagaimana dengan anak yang ku kandung ini!. Hiks." Tangisnya yang terisak sambil terduduk dan memohon di bawah kaki seorang laki-laki yang mungkin adalah suaminya.
"Lepaskan kaki ku!". Marahnya.
**Bruk.
__ADS_1
Di tendang saja tubuh wanita dewasa itu hingga Dia sedikit terhempas beberapa langkah.
Aaau!.
Teriak nya ketika terjatuh.
" Ah. Aku tidak peduli dengan anak itu!. Jika pun Dia lahir aku tidak akan mengakuinya sebagai anak ku! ". Bentak nya di hadapan semua orang tanpa ada rasa malu**.
Iiiisst!. Mengepal kedua tangan Zhuge Liying yang berdiri diantara banyaknya orang. Dia memandang geram laki-laki yang kejam itu.
Seorang laki-laki seperti Apa yang tega memperlakukan seorang wanita seperti itu di hadapan banyak orang, dan di tambah wanita itu yang sedang hamil besar?.
Mengapa laki-laki itu begitu kejam, dimana hati nuraninya?, Apa Dia sudah mati karna rasa belas kasihnya terhadap seorang wanita sudah tidak ada?!.
Liying memandang kesal laki-laki itu, dan memang sangat kesal ketika melihat wajah laki-laki kejam tersebut.
Dia yang berdiri cukup jauh dari sana tidak mau ambil diam dengan pristiwa ini. Dia tidak mau seorang wanita di tindas seperti itu dihadapan orang banyak.
" Hei Tuan!". Meneriaki Laki-laki itu, ketika Dirinya yang hendak pergi dan benar-benar ingin meninggalkan wanita yang sedang hamil tua itu.
"Ada apa Nona?". Tanya balik pria tersebut saat Dia yang mendengar bahwa ada yang sedang menegurnya.
Pria tersebut memandang kesal ketika di teriaki oleh Zhuge Liying wanita yang berpenampilan seperti pendekar yang berdiri cukup jauh disana.
" Hiks." Sedang kan wanita dewasa yang tengah hamil tua itu hanya dapat menangis terisak tersedu-sedu ketika melihat suaminya yang jahat itu, sedang di tegur oleh seorang gadis muda yang berdandan seperti seorang pendekar.
"Minta maap lah pada istrimu!." Pinta Liying kepada pria tersebut, seraya kedua mata itu yang membulat memandang tajam pandangannya kepada pria itu.
"Cih!". Membuang salivahnya ke tanah.
" Tidak mau diriku meminta maap padanya!". Di tolak mentah-mentah permintaan Zhuge Liying itu.
Telunjuknya menunjuk tegak kepada wanita yang sudah tidak berdaya itu, lemah dan penuh kotoran di pakaian nya.
Jawaban dan perkataan nya membuat Liying semakin marah saja. Seorang pendekar tidak memiliki sikap seperti itu. Kedua tangannya mengepal bulat-bulat dengan kesal. Raut wajahnya pun tidak bisa di gambarkan.
Kesal, marah dan memandang jijik laki-laki yang menganggap dirinya sebagai seorang pendekar itu.
" Jadi kau tidak mau meminta maap? ". Membulat semua kedua matanya dan menatap exlusif pria itu.
Semua orang pun menjadi penonton di tempat itu. Tidak ada satu pun yang berbicar atau mererai pertengkaran ini. Semuanya hanya diam membisu seperti patung yang terpajang di sudut kota.
" Baiklah. Jika kau memaksa!". Gumam Liying yang terdengar nampak serius akan sesuatu.
"Aku untuk membunuh mu!". Seriusnya. " Yaaaa!!!". Di cabutnya begitu cepat salaha satu pedanganya.
Ssst. Dia berlari cepat kepada pria itu dengan salah satu pedangnya yang telah di keluarkan lalu mengayun Zig-zag mengarah cepat pada laki-laki tersebut.
"Zhuge Liying!". Teriak Yue Yi yang memanggil mencoba menghentikan. Namun sayang Liying telah pergi dengan pedang yang siap menerkam itu.
" Yaaaa!".
Di sudah sangat marah. Tidak terima nama baik seorang pendekar harus ternoda dengan sikap yang manusiawi ini. Menjijikan dan tidak pantas orang ini di sebut seorang pendekar.
"*Cling!".
Diayun dan tepat mengenainya.
Benta tajam itu mengayun cepat dan tepat mengenai leher pria kejam itu dan " Kik". Sekali ayun jiwa pun menghilang.
__ADS_1
Nafasnya berderu ketika Dia yang berdiri membelakangi laki-laki itu.
**Satu lagi. Benda tajam miliknya memakan korban. Pria yang mengaku sebagai pendekar itu langsung jatuh terkapar di tanah dengan luka sayatan kecil di bagian leher.
Tidak ada satu tetes pun darah mengalir dari tubuhnya. Zhuge Liying melakukannya dengan bersih hingga tidak ada yang tahu bahwa Ia menjadi korban ke kejaman ayunan pedang***.
"Apa yawkau lakukan?". Tanya adik Yi.
Cemasnya dan khwatir karna kali ini Liying tidak bisa mengendalikan amarah nya itu. Dia berlari dari sana menuju Liying dan berdiri tepat di samping kanannya.
Nafasnya masih berderu tidak stabil. Detak jantung nya pun masih berdegub kencang sampai-sampai bisa di dengar oleh telinga. Dug. Dug!.
" Tenangkan dirimu!. Kendalikan lah amarah mu itu!.". Menyentuh hangat tangan kanan Liying yang masih menggenggam erat pedangnya.
"Kau dan aku sedang berada di Negeri orang". Ingatkannya. " Ayah berpesan untuk tidak membuat ulah atau kekacauan di tempat asing seperti ini!". Nasihat lembut dari adik Yi untuk Zhuge, agar Dia bisa mengendalikan amarah nya itu.
*Semua penonton di buat kagum tak dapat berkata apa-apa. Pikiran mereka sama yaitu.
"**Pendekar itu sangat hebat. Apa Dia orang baru disini?. Sepertinya belum pernah melihat dia. Darimana asalnya?."
Semua orang menggunjing Zhuge Liying. Ada yang berbisik sesama dan ada juga yang memandng ngeri Zhuge Liying. Karna takut akan hebatnya ilmu pedang yang di kuasainya***.
"Nona muda!". Rintih wanita yang hamil besar itu. " Apa yang kau lakukan pada suamku ini?". Bertanya memelas pada Liying ketika Dia yang telah duduk tersungkur di samping jasad suaminya yang telah tiada di tangan Zhuge Liying itu.
"Bagaimana dengan kehidupan ku nanti?, dan bagaimana dengan nasib anak yang ku kandung ini?. Jika dia terlahir ke Dunia maka Dia akan menjadi yatim, tanpa ayah!". Memlas meminta belas kasihan dari Zhuge Liying.
Wanita ini menangis kembali. Namun kini tangisannya bukan karna suaminya yang akan pergi mencampakkan dirinya, tetapi dia mengis karna suaminya tulang punggung keluarga kini telah tiada dan tidak lagi bisa menafkahi dirinya dan anak yang masih di kandungnya itu.
Ssst.
Di masukkan kembali pedangnya itu. Tidak mau larut dalam kesedihan dan pantang baginya untuk menangisi seorang yang mengaku sebagai pendekar. Namun sifatnya tidak mencerminkan seorang pendekar.
" Ambil itu!".
Bruk.
Liying melemparkan sebuah kantung kecil berwarna coklat kepada wanita yang sekarang telah menjadi janda itu.
"Jika hidup mu tidak berfoya-foya maka itu cukup memenuhi kebutuhan mu sampai anak mu lahir". Lanjutnya dengan berkata.
" Jika suami mu itu tidak bisa bertanggung jawab, maka dia tidak pantas untuk hidup. Karna dia tidak akan bisa bertanggung jawab dengan kehidupan nya sendiri ". Tegasnya kembali.
Di terima kantung kecil yang berisikan beberapa koin emas tersebut. Wanita dewasa itu tidak dapat berkata apa-apa. Dia hanya bisa pasrah dan menerimanya. Ini sudah takdir dia harus menjadi janda di tengah hamil besar nya itu.
Tanpa berucap lagi. Zhuge Liying segera meninggalkan kedua orang tersebut. Dia mnerobos kumpulan orang yang tengah mengelilingi dirinya itu.
Liying telah bebas dari banyak orang dan begitu pula dengan Yue Yi yang segera menyusul Liying yang telah menjauhi semua orang.
Bersambung.
Setelah ini Zhuge Liying ingin pergi kemana lagi ya?. Sebenarnya Apa tujhan Zhuge Liying datang ke kota ini?.
Next Episode.
Jangan lupa Like+Coment.
jika suka favorit+Vote.
salam hangat dari ku.
__ADS_1