
Di bawah sinar Cakrawala senja. Arloji di tangan menunjukan pukul 16:00 sore, itu berarti waktunya aku pulang ke rumah.
Dengan mengayuh sepeda tua ini, aku Zhuge Liying menelusuri jalan raya dan membaur dengan pengendara motor dan mobil yang lain.
Aku adalah seorang gadis berusia 20 tahun. Aku tinggal di Kota ini baru beberapa tahun terakhir. Di kota ini aku tidak memiliki siapa-siapa, hidup sebatang kara tanpa ada orang tua yang mendampingi.
Aku tinggal mengontrak di sebuah rumah susun sederhana, yang luasnya sekitar 30 meter saja. Tidak bisa banyak orang yang masuk ke rumah ku, sehingga aku pun jarang sekali mengajak seorang teman untuk main ke rumah ku.
Aku sudah lulus SMA, ingin sekali melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Namun, apalah daya ku yang hidup serba pas-pasan ini. Jangan kan berpikir untuk melanjutkan kuliah, besok ingin makan apa pun aku tidak tahu.
Seriap hari dengan sepeda tua ini aku mengayuh mencari sedikit rezeki untuk sesuap nasi. Pekerjaan ku adalah menghantar Koran (Surat Kabar) ke setiap rumah yang ada di kota ini.
Aku menyambangi setiap pintu, lalu ku antarkan Koran-koran ini kepada orang-orang yang masih mencari berita dari sebuah surat kabar.
__ADS_1
Tahu bukan ini sudah Zaman yang sangat Modern, semuanya di mudahkan dengan Telepon Genggam. Tidak ada satu pun orang yang tidak memiliki ponsel, pasti semuanya memiliki benda yang mudah dibawa-bawa itu.
Zaman sudah canggih, semuanya menggunakan jaringan Internet untuk mengakses berita dari seluruh penjuru dunia dengan mudah dan cepat. Namun, aku tetap semangat menekuni pekerjaan ini.
Mungkin bagi sebagian orang membaca koran itu sudah ketinggalan Zaman, akan tetapi masih banyak segelintir orang yang masih menjadikan membaca koran sebagai budaya mereka.
Seperti halnya kota ini. Sebuah kota di ujung selatan dari Negeri Cina ini masih melestarikan Budaya membaca koran. Semua penduduknya setiap pagi dan sore selalu menyempatkan diri untuk membaca koran.
Sampai di rumah, aku simpan baik-baik sepeda yang menjadi mata pencarian ku ini. Setelah itu aku masuk rumah, di dalam seperti biasa. Barang-barang masih berserakan di lantai, pakaian kotor masih tercecer dimana-mana.
"Ha!" Aku hanya bisa menghelak nafas dalam-dalam dan berjalan sambil mengambil satu persatu barang-barang ini.
"Astaga, barang-barang ini! Apakah setiap pulang ke rumah, aku selalu di sambut dengan benda-benda yang selalu berserakan ini." mengutip satu persatu, dan meletakkannya kembali pada tempatnya.
__ADS_1
"Mengapa nasib ku s*al seperti ini. Hidup sebatang kara tanpa ada orang tua, dan tidak pernah di dekati oleh seorang pria!"
"Apakah di Dunia ini para pria itu tidak ada, sampai-sampai aku harus hidup sendiri seperti ini sepanjang hidupku."
Aku menggerutu sendiri pada diri ini. Biar pun aku mengoceh sampai besok pun, tidak akan ada satu pun yang mendengarnya.
Jadi bagi kalian para pemudi dan perjaka jika kalian yang diluar sana masih jomblo dan masih mencari pasangan, maka aku siap untuk menjadi pacar kalian.
Aku akan siap menerima kalian dengan tangan terbuka, dan pintu rumah ku ini akan selalu terbuka lebar untuk kalian sedang mencari Cinta.
Jadi untuk kalian para pria yang masih sendiri, mari mampir ke rumah ku. Mungkin saja kita bisa cocok nantinya.
...
__ADS_1