
Satu tahun yang lalu, tepatnya pertama kali Diriku melangkah kaki di kota ini.
***
Di sebuah perguruan ilmu bela diri yang terkenal di kota. Perguruan ini bernama Dao Bao Hu, wadah dimana terbentuknya para detective-detective muda.
Petang ini para senior Dao Bao Hu sedang berkumpul bersama. Mereka, Kakak pertama komandan Devisi Elang, lalu adik kedua yang tengah memainkan seruling bambu itu, dan yang ketiga, adik keempat Sang ahli obat dan pengobatan.
Ketiga Laki-laki tampan, gagah, menawan idaman para wanita itu duduk bersama-sama di perkarangan taman kecil di area dalam Dao Bao Hu. Meja bundar kayu berada di tengah-tengah mereka, dan beberapa cangkir Teh menemani santai di petang sore ini.
🎶Tu.Tu.Tu.Ru.Tu.Ru.Tu.Tu.Ru.🎶
Suara siulan seluring bambu yang di mainkan oleh adik kedua, membuat para kaum burung berkicau dan menari di udara.
**Suaranya megitu menenangkan jiwa, hingga siapa pun yang mendengarnya akan hanyut di setiap melodi itu.
Kedua mata adik kedua terpejam erat, menikmati setiap melodi dalam permainan seruling bambunya**.
Tenang dan hening, inilah suasana petang di sore hari ini.
"Permainan mu semakin indah saja!". Kata kakak pertama untuk menuji adik kedua. " Kau benar." Sahut Adik keempat. " Melodinya semakin indah, dan selalu membuatku ingin berada di tempat ini!". Katanya lebih lanjut, seraya memejamkan kedua matanya.
🎶Tu.Tu.Tu.🎶 Melodi terus di mainkan tanpa perlu mendengarkan pujian dari kedua rekannya.
Namun di tengah keheningan itu, tiba-tiba suara keras mempecah belah suasana.
"Kakak Yang!. Kakak kedua!, Adik keempat!".
Teriak suara itu yang terdengar memanggil ketiga Laki-laki yang sedang duduk santai disana.
**Yang berteriak itu adalah Adik ketiga. Dia berlari kencang dari ujung lorong menuju kepada para Laki-laki itu.
" Suara itu?". Adik keempat berkata menduga-duga, dengan mata itu yang masih terpejam. "Adik ketiga!". Tebak dari kakak pertama.
Tek**.
Permainan seruling pun telah di hentikan, Adik kedua pun membuka matanya, lalu menurunkan seruling bambu miliknya, dan menoleh berbalik menghadap kebelakang.
" Kakak pertama! ". Kata Adik ketiga, sesampainya Dia tengah-tengah mereka. Nafasnya menggebu, jantungnya berdegub kencang, nafasnya telah terhambat akibat terus berlari tanpa henti.
" Ada apa?". Cuap kakak pertama bertanya pada adik ketiga. Lalu Adik ketiga belum menjawab, karna lelah Dia lebih memilih duduk terlebih dahulu di tengah-tengah yang lain.
"Aku membawa berita heboh dari penjuru Negeri!". Liu Adik ketiga mulai berkata. Wajah merunduk dan mendekati semua orang, dan suaranya terdengar Seakan-akan berbisik kepada semuanya.
" Kalian sudah dengar rumor yang telah tersebar heboh di tengah masyarakat?". Katanya, yang semakin serius saja.
"Rumor. Ya!". Sahut Yu kakak kedua, begitu tenang sambil melamun ke arah lain.
__ADS_1
" Hanya omong kosong!". Kata Yang Leng kakak pertama dengan malas, tanpa memandang wajah adik ketiga.
Kedua orang ini tidak menggubris dengan serius ucapan Adik keempat. Namun sikap berbeda di tunjukan adik keempat
"Apa itu?". Tanya penasaran Zhao Yi adik keempat ,Wajah tampan itu mendekat pada Liu.
" Siang ini saat sedang patroli di pasar, seluruh penjual membicarakan tentang Pendekar Bertopeng." Kata Adik ketiga menjelaskan, dan kata-katanya akan membuat penasaran.
"Pendekar Bertopeng?". Kata Yu dengan santai, dan pandangannya menoleh melihat kepada Zhao Yi dan Liu.
Seperti nya Yu cukup penasaran. Namun Yang Leng menanggapinya dengan diam, tak peduli dengan alur pembicaraan ini, tetapi nampak jelas Adik keempat sangat antusias dengan berita yang di bawa Liu itu.
" Cepat jelaskan!". Tidak sabar. "Siapa Pendekar Bertopeng itu?". Kata Zhao Yi dengan semangat.
" Jadi siang ini, saat sedang berpatroli di pasar!". Kata Liu untuk memulai cerita. Semuanya pun merapat mendekat. Namun tidak dengan Kakak pertama yang nampak biasa dan acuh.
***
Siang hari. Di pasar tradisional di dekat Dao Bao Hu.
Aku baru saja tiba di sana, semuanya masih terasa sama. Suasana pasar yang ramai dan berisik, karna ini lah pasar salah satu tempat keramaian orang.
Di tengah kebisingan. Tiba-tiba telingaku mendengar sesuatu yang jauh disana. Suaranya begitu menyentuh hingga menembus ke gendang telinga ku.
Aku terpejam sejenak untuk merasakan dimana asal suara itu berasal. Biarkan angin pembawa pesan masuk kedalam sanubariku. Ku dengar teriakan itu.
" Tolong selamatkan putriku!". Merintih meminta bantuan.
"Tolong Tuan!. Tolong selamat kan Dia!". memohon penuh harap.
Suara itu jauh disana. Namun aku bisa merasakan setiap rintihan nya.
Mataku terbuka kembali, Lalu. " Disana?". Aku menunjuk kedepan. Lokasinya telah ku temukan. "Terima kasih angin pembawa pesan. Jika tidak ada Kau maka aku tidak akan bisa mendengar suara yang sesang meminta tolong itu".
**Tidak perlu pikir panjang lagi, dan tidak banyak basa basi. Liu segera berlari dari sana menuju lokasi yang baru saja Dia dapat itu.
Bergegas Dia, melewati semua keramaian pasar, membelah puluhan orang yang merayap padat disana**.
" S*al!". Bergumam kesal, karna lajunya harus terhambat oleh banyaknya orang yang ada di pasar.
"Bagaimana ini?." Terhenti aku disana, tetapi aku tidak kehabisan cara dan ide, pasti ada jalan keluarnya.
Maka dari itu.
"Hu!". Kekuatan peringan tubuh, dengan gaya dravitasi alam aku pun memilih berjalan di udara.
Aku melayang-layang melewati setiap kedai pedagang, dan semua orang yang ada di bawahku. Ini lah jalan satu-satunya, jika tidak bisa lewat darat maka jalur udara pun bisa di tempuh.
__ADS_1
" Hub. Hub. Hub.". Tanpa ada satu pun orang yang sadar bahwa aku sedang berada diatas kepala mereka.
***
**Tek.
Kedua kaki pun akhirnya mendarat kembali di tanah. Sampai lah ditempat yang ingin dituju, dan benar saja apa yang ada disana.
Semuanya orang sedang berkumpul membentuk lingkaran besar di sudut sana, dengan salah seorang menjadi titik pusat perhatian.
Karna rasa penasaran, dan heran ku yang begitu besar, tanpa ragu dan banyak pikir aku segera bergegas cepat menuju ke sana, untuk memastikan apa yang terjadi di tempat itu**.
"Lihatlah wajahnya!". Ungkap seseorang yang telah berkumpul disana. " Iya kasian sekali, dengan putrinya!". Menyahut orang yang ada disamping nya.
"Ii... apa dia terkena kutukan?". Bisik yang lain. " Penyakitnya sangat aneh, tidak ingin aku mendekatinya!". Jijik dari seorang wanita dewasa. "Bukankah ayahnya tabib, tetapi mengapa putrinya memiliki penyakit seperti itu!". Gunjing dari penonton lain.
" ***Tolong!." Merintih meminta dari orang tua yang menjadi pusat perhatian.
"Tuan!. Nyonya. Tolong selamatkan putri ku !". Memelas kepada semua orang yang sedang memperhatikan dirinya. Seraya memangku tubuh putri cantiknya yang telah terbujur kaku tidak berdaya, dengan seluruh tubuhnya telah membiru membengkak***.
Iiih...
Memandang ngeri. semua orang pun tidak ada yang mau mendekati Laki-laki setengah paru baya itu dengan Sang putri nya yang telah membengkak tersebut.
Semua yang memandang mereka merasa risih untuk mendekat, karna putri nya itu tiba-tiba menderita penyakit aneh yang mengakibatkan tubuhnya yang berubah menjadi biru terbujur kaku tersebut.
" Permisi!. Permisi!". Liu datang mendekat.
"Permisi Tuan!. Nyonya!. Beri aku jalan!". Bembelah puluhan manusia, dan mencoba untuk menerobos sampai ke tengah.
Karna aku yang ingin masuk akhirnya dengan kemudahan semua orang yang ada disana pun memberiku jalan untuk sampai di tengah-tengah mereka.
Lalu betapa mengejutnya aku melihat yang ada di tengah itu. Seorang Laki-laki setengah parubaya sedang menangisi putrinya yang telah terbujur kaku di tanah, dengan sekujur tubuhnya yang telah membiru.
Laki-laki tersebut memangku tubuhnya putri nya, dan meminta pertolongan kepada semua yang hadir. Namun semua orang tidak ada yang mau menolongnya, dan hanya memperhatikan seraya memandang ngeri mereka berdua.
Aku mendekat, dan duduk tersungkur di samping jasad putri tersebut.
" Ada apa dengan putri mu, Tuan?". Aku bertanya lembut pada Laki-laki setengah paru baya itu.
"*Tolong putri ku. Tuan!". Dia menjawab dengan melirih padaku.
" Jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?". Pinta ku*.
**Bersambung.
Sudah dulu sampai di sini.
__ADS_1
Jangan lupa Like+coment, agar Author lebih semangat nukisnya**.