Zhuge Liying.

Zhuge Liying.
Eps 7.


__ADS_3

Episode Sebelumnya.


****Liu hadir di tengah-tengah pasar hanya untuk berpatroli disana. Namun ketika sedang berpatroli tiba-tiba ada sesuatu yang telah mengganggu dirinya.


Penasaran Dia akhirnya mencari tahu itu, dan sampai lah Dia pada masalah itu**.


"Apa Dia adalah putri mu, Tuan?". Tanya ku terlebih dahulu untuk memastikan semuanya.


" Iya, Tuan Liu.Tolong selamatkan Dia!". Jawab dari Laki-laki setengah paru baya itu, seraya merintih meminta pada ku.


Kedua tangan nya menggenggam erat tangan ku, wajah sangat memelas seakan-akan Dia sangat memerlukan bantuan ku ini.


Aku memperhatikan sekujur tubuh wanita cantik yang telah terkapar itu, seluruh tubuhnya berwarna biru lalu mulai membengkak menjadi hitam. Penyakit apa yang di derita gadis ini?. Pikir ku yang bertanya aneh ketika melihat itu.


"Jika saja Adik keempat ada disini, maka Dia akan membantuku untuk menyelesaikan ini!". Tutur dengan bergumam.


Aku sendiri khawatir dengan kendisi ini, karna aku bukan lah ahli dalam hal pengobatan dan penyakit, jadi aku tidak dapat mendiaknosa penyakit apa yang di derita gadis ini.


Lalu, maka dari itu Jika adik keempat ada disini pasti Dia sangat membantu.


" Bagaimana Tuan Liu?". Tanya Dia dengan penuh harap, ketika diriku yang sedang menganalisa ini. "Apakah putri ku dapat sembuh kembali?". Katanya sangat berharap.


Aku diam. Harus menjawab apa?. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang ilmu pengobatan, karna aku bukan lah seorang tabib. Melainkan hanya seorang yang pandai dengan berbagai senjata.


" Putrimu Ini terkena racun!". Jawab ku yang ku ketahui.


"Apa Racun!". Syok dari Sang ayah.


" Lihat!. Putrinya itu terkena racun!". Bisik oranga yang berdiri dibelakang. "Sudah ku duga, karna tidak mungkin Dia itu berpenyakitan". Gunjing yang lainnya. " Iya. Pantas saja tubuhnya sampai berwarna biru seperti itu! ". Sahut yang lainnya.


**Jawaban Liu tadi membuat orang-orang yang ada di belakang membicarakannya. Telinga nya yang tajam itu mendengar semua gunjingan atau pembicaraan mereka walau semua berbisik satu sama lain.


" *Apa Dia bisa terselamatkan***?". Tanya Sang Ayah yang sangat meminta.


"Racunnya sudah menyebar keseluruh tubuh putrimu, kemungkinan untuk sembuhnya sangatlah kecil". Sedikit penjelasan dari Liu.


Namun dari penjelasannya membuat Sang ayah sedih saja. Kristal bening nya terus menetes membasahi pipi, dan mulai mengalir hingga mengenai tubuh putri cantiknya.


" Jadi apakah kau dapat menyembuhkan nya. Tuan Liu! ". Menaruh harapan besar pada Liu.


"Maap Tuan!. Aku tidak bisa mengobati putrimu ini, karana aku bukan lah ahli dalam hal pengobatan. " Kata Liu yang memelas dan pasrah. Kepalanya tertunduk malu Karna tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku tidak ahli dalam hal Racun, dan bagaimana cara penyembuhan nya pun aku tidak tahu. Maap kan saya Tuan!". Memohon dengan sengala maap yang terdalam. Dia pun masih tertunduk tidak berani Liu mengangkat kepala.


Liu paham bahwa Dia hebat. Namun jika sedang berada posisi seperti ini maka Dia hanya bisa tertunduk tak berdaya.


" Apa?". Tidak tahu bagaimana perasaan Ayah ini ketika Dia mendengar Jawaban dari Liu?.


"Jadi kau tidak bisa menyembuhkan putri ku?". Bertanya meminta penjelasannya. " **Iya!". Liu menjawab pasrah, dan hanya bisa menganggutkan kepala karna malau.


Tik.

__ADS_1


Kristal-kristal bening itu terjatuh kembali di pipinya. Sang Ayah tidak dapat membendung kembali tangisan nya. *Apa yang Dia perbuat?. Dia sendiri tidak tabu harus apa***?.


Liu yang hebat saja tidak bisa menyembuhkan putri nya, apa lagi dengan dirinya yang datang dari kalangan orang biasa. Walau Dia seorang penjual obat-obat herbal. Namun Laki-laki setengah paru baya ini tidak tahu bagaimana cara menghilangkan racun pada tubuh putrinya sendiri.


"Tidaaaaakkkkm!!!!". Dia berteriak pada Langit. Kepalanya mengangakat keatas, dan teriakannya sangat kencang agar para Dewa dapat mendengarnya.


Setelah puas berteriak, Lalu Laki-laki setengah paru baya itu memandang jasad putri nya, Dia menangis tersedu-sedu disana, dan Liu hanya bisa tertunduk seraya memberi dukungan penguat untuk Sang Ayah.


Dirinya menepuk-nepuk bahu Laki-laki setengah paru baya itu, agar Dia kuat dan bisa mengiklaskan kepergian putrinya.


Di tengah kesedihan ini, dan menjadi bahan perbincangan di pasar. Tiba-tiba!.


"Biarkan aku yang mengobatinya!."


Kata-kata tersebut terdengar di tengah-tengah hati sedang berduka ini. Siapa Dia yang telah berkata seperti itu?.


"Jika tidak bisa mengobati. Minggir kau!". Suara itu nampaknya meneriaki Aku.


Aku menoleh keseluruh arah, untuk mencari tahu dari mana asal suara tersebut dan begitu pula dengan yang lain, semuanya pun di buat terkejut dengan teriakan tersebut.


" Minggir semua!. Biarkan aku yang mengobati putri Tuan itu!". kata tegas dari suara yang misterius tersebut.


**Suara itu terdengar sangat dekat, dan sepertinya itu bersal dari belakang. Liu beranjak dari duduknya dan mencoba untuk mencari sumber suara tersebut.


*Tuk. Tuk. Tuk.


Dari belakang. Tiba-tiba seseorang ingin masuk ke tengah-tengah keramaian ini***.


"Beri aku jalan!". Pinta dari Dia.


" D-i-a?". Gagap dari beberapa orang.


"Bukan kah , Dia?". Menerka mencoba menebak.


semuanya mencoba menebak siapa Dia?. Ketika Dirinya yang berjalan melewati orang-orang ini.


**Penampilannya seperti Seorang wanita karna terlihat dari pakaian nya yang bersulam sutra halus berwarna ungu. Lalu sepertinya Dia seorang pendekar karna terdengar dari suara nya yang begitu tegas, walau wajahnya tertutup topeng bergambarkan hewan beruang.


" *Dia pendekar Bertopeng***!". Sebut dari beberapa orang yang telah mengetahui siapa Dia.


"Pendekar Bertopeng?". Gumam Liu yang baru tahu, karna Dia yang tidak tahu apa-apa.


Pendekar Bertopeng itu, begitulah orang-orang memanggilnya berjalan mendekati Laki-laki setengah paru baya itu, lalu duduk tersungkur disana tepat di samping jasad yang telah membengkak tersebut.


" Pendekar Bertopeng!. Tolong selamatkan putri ku. Dia putri ku satu-satunya, dan hanya Dia lah anggota keluarga yang ku punya !". Linta Tuan tersebut dengan memelas, setelah Pendekar Bertopeng itu duduk disamping jasad putri nya.


"Kan Kucoba." Pendekar Bertopeng mencoba untuk memberi jawaban, agar Tuan tersebut dapat tenang.


Liu melihat Pendekar yang membawa dua pedang itu sedang menganalisa jasad tersebut, lalu Liu mundur beberapa langkah ke belakang, dan memperhatikan bagaimana cara pengobatan yang akan di berikan oleh Pendekar Bertopeng tersebuat.


**Jari telunjuk itu memeriksa apakah masih ada detak jantung dari putri cantik yang terkapar ini. Lalu memandang kesekujur tubuh, di lihat olehnya Semuanya telah membengkak.

__ADS_1


*Apa yang akan di perbuat olehnya***?.


"Jantungnya masih berdetak." Kata Pendekar Bertopeng tersebut setelah mendapatkan analisanya. "Benarkah?". Langsung disambut bahagia oleh Sang Ayah.


" Racunnya telah menyebar keseluruh tubuhnya, dan mengakibatkan beberapa organ dalamnya terluka sangat parah. Namun putrimu masih bernafas". Jelasnya.


"Syukurlah!". Bernafas lega, seraya mengelus-elus dada karna kabar baik telah tersampaikan.


" apakah Dia dapat di selamatkan? ". Tanya dari Tuan tersebut.


" Akan ku coba!". Jawab singkatnya saja, dan terdengar samar karna tertutup topeng.


"Tolong bantu aku!". Pinta darinya. " Angkat tubuhnya, lalu duduk kan Dia!."


"Baik!". Mengikuti intruksi.


Setelah duduk.


Thek... Thek...


Jari jemari itu mulai bermain. Pendekar Bertopeng tersebut duduk tepat di belakang putri yang tengah terduduk tersebut.


Tenanganya telah tersalur pada jari jemarinya. Lalu.


**Thek... Thek...


Memberi banyak totokan di beberapa bagian syaraf belakang.


Glek... Glek...


Putri yang telah membengkak itu meliuk kedepan metika totok tersebut menyambar tubuhnya.


Mua...!


Seketika cairan hitam yang menggumpal keluar dari dalam rongga mulutnya. Dia memuntahkan semua racun itu yang telah menyebar di seluruh tubuh.


Thek... Thek...


Di beri kembali beberapa totokan, ketika dirinya melihat gumpalan hitam mulai keluar dari mulut.


Iii*... Semua orang melihat ngeri ketika cairan hitam yang menggumpal keluar dari dalam rongga mulut. Itu bukan lah darah, melainkan racun-racun yang telah tersebar di sekujur tubuh*, dan Liu pun ikut memandang ngeri gumpalan hitam pekat yang keluar itu.


**Thek... Thek...


Masih terus memberi totokan, dan juga gumpalan hitam tersebut masih saja di


muntahkan olehnya.


Semakin banyak yang keluar maka akan lebih baik hasilnya, dan memang benar tidak perlu memakan banyak waktu lagi.


Perlahan kulit yang tadinya telah berwarna biru tersebut, berangsur-angsur kembali menjadi warna kulit normal, ketika sebagian racun telah keluar dari dalam tubuh.

__ADS_1


Pertanyaan nya. Akan kah putri cantik ini selamat**?.


Bersambung sampai di sini dulu.


__ADS_2