"Kebetulan Apa Takdir...?"

"Kebetulan Apa Takdir...?"
Wahyu Sadar


__ADS_3

Episode 15


POV Nita


Aku dan Siska sengaja tidak pulang bareng Raisya hari ini, karena mau menemui Wahyu, dan menunggu Wahyu keluar kelas.


"Hey Wahyu...tunggu..." panggilku.


"Ha, oh Kamu Nit, Sis, ada apa?" tanya Wahyu.


"Ada yang perlu aku bahas sama Kamu, penting..." jawabku.


"Oohh, yaudah...kalo gitu mau ngobrol di kantin apa di taman?" tanya Wahyu.


"Dikantin aja yuk, laper...hehe..." sambung Siska.


"Oke di kantin" jawabku.


Kamipun ke kantin, setelah memesan makanan kami duduk di tempat yang posisinya agak ke ujung agar tidak terdengar orang apa obrolan kami.


"Jadi begini Yu, denger-denger Kamu labrak Bayu kemarin?" tanyaku.


"Owalaah, bahas itu toh, dari mana Kamu tau? oh iya...lagian emang kenapa Nit? dia ngadu sama Kamu?" ucap Wahyu.


"Kamu gak perlu tau aku tau dari mana...dan aku sih gak ada masalah Kamu mau labrak siapa, tapi yang jadi masalah, kenapa Kamu ngaku-ngaku pacar Raisya? padahal Raisya gak suka sama Kamu, dan bahkan dia gak mau pacaran sama siapapun..." ujarku.


"Oohh, itu aku kebablasan ngomong...hehe...maaf dehh..." jawab Wahyu santai.


"Kebablasan? impossible banget, padahal Kamunya yang masih ngarep iya kan..." lanjutku.


"Jujur aja ya Nit, aku beneran serius suka sama Raiysa, tapi dianya aja yang dingin sama aku..." ujar Wahyu.


"Sebenernya dia itu bukannya dingin sama Kamu Yu, tapi emang dia gak mau deket sama cowok, apalagi pacaran..." balasku.


"Terus kalo deket Bayu dia mau gitu? berapa kali aku liat Bayu ngobrol sama kalian bahkan kemaren itu berdua aja sama Raisya...munafik banget..." lanjut Wahyu.


"Apa...? Munafik...? Kamu jaga mulutmu ya, Raisya itu gak pernah deket sama Bayu, Bayunya aja yang tiba-tiba muncul terus di tempat kami, dan gak pernah dia bahas yang lain-lain kecuali hanya obrolan biasa...jadi jangan asal sebut munafik, apalagi ke Raisya, sekali lagi Kamu bilang begitu, awas aja Kamu..." sambung Siska.


"Sabar Sis, orang begini jangan dibawa emosi, setan yang seneng kalo kita marah..." ucapku.


"Terserah kalian mau cari alesan apa, yang jelas mata kepala gue sendiri yang liat si Bayu itu deket kalian asyik ngobrol ketawa-tawa..." lanjut Wahyu mulai emosi.

__ADS_1


"Tapi Yu, yang Kamu liat gak seperti yang Kamu fikir..." ucapku.


"Anggaplah iya, itu pertemuan hanya kebetulan...tapi gue, tetap akan berusaha dapetin Raisya, gimanapun caranya...dan gak ada yang bisa halangin gue..." lanjut Wahyu dengan emosi.


"Astaghfirullah Wahyu, istighfar...pacaran jelas dilarang Agama, bahkan kalopun kalian jodoh, pasti bakal bersatu, tapi kalo bukan jodoh, mau Kamu ngapain aja tetap kalian gak bakal bersatu...ngapain juga Kamu sampe emosian segala, malah baru ini aku denger Kamu ngomong pake kata-kata Gue, ternyata Kamu gak seramah yang aku fikir, syetan udah menguasai hati Kamu Yu..." ujarku.


"Aaagghhh....bodo amat...gue udah sabar-sabar nunggu dari SMP, mau sampe kapan gue sabar, kagak bisa lagi gue buat sabar...udah capek gue, malahan sampe kecelakaan gue gara-gara kesel sama dia, karena dia nolak gue..." ucap Wahyu.


"Terserah Kamu mau bilang apa, tapi kalo Kamu emang cinta sama Raisya, bukan begini caranya...itu namanya bodoh Yu...kalo Kamu mau hatinya Raisya, justru Kamu mesti berbuat yang disukai dia...dia suka mendekatkan diri sama Allah, berarti Kamu mesti taat sama Allah, bukan malah sebaliknya...orang sholat berjamaah di sekolah aja Kamu cabut, mana mungkin Raiysa bisa suka sama Kamu...mimpi..." jawabku.


Wahyupun terdiam mendengar kata-kataku yang terakhir, seolah dia memikirkan kata-kataku, dan diapun mulai menundukan kepalanya dan nampak dari caranya mulai tenang.


"Kamu benar Nita, seharusnya aku tunjukin kalo aku laki-laki yang pantas buat dia, yang sesuai dengan tipe nya dia, laki-laki yang taat, yang sholeh, tapi...." ujar Wahyu terhenti seolah berfikir panjang.


"Tapi apa Yu?" tanyaku.


"Tapi apa aku sanggup berubah? apa aku bisa? dan masa aku harus beribadah karena cinta sama Raisya, bukan sama Allah?" lanjut Wahyu.


"Yu, setiap orang pasti bisa berubah jadi lebih baik, dan masalah ibadah Kamu karena Raisya, itu emang salah...Kau niatin agar Kamu dekat sama Allah, sehingga hajat Kamu dipenuhi sama Allah....yaitu dapatkan Raisya..." ujarku.


"Dan satu lagi Yu, jangan minta Raisya untuk PACARAN...!!!" sambung Siska.


"Waahh...berat banget yaa, nunggu 3 tahun aja aku begini, gimana mau nunggu sampe dia selesai kuliah...???" ucap Wahyu.


"Kalo Kamu jalani dengan ikhlas karena Allah, karena mau berbuat yang baik, pasti waktu terasa singkat...aku yakin Kamu sanggup..." jawabku.


"Oke, aku akan coba..." lanjut Wahyu.


"Naahh gitu dong...tapi kalo buat cinta, jangan coba-coba...seriusin..." ucapku.


"InsyaAllah...makasih ya teman-teman...gak salah Raisya berteman sama kalian, kalian bertiga sama-sama Sholeha..." ucap Wahyu.


"Astaghfirullah...kebalik, justru kami yang beruntung punya temen kaya Raisya, dia yang ajarin kami banyak hal tentang Islam..." jawabku.


"Hmmm....yaudah kita balik yuk, udah sore..." lanjut Wahyu.


"Iya kami juga mesti balik...takut orang tua nyariin..." sambung Siska.


Wahyupun pulang, dan aku segera menelpon orang di rumah untuk minta dijemput, sambil menunggu jemputan aku dan Siska ngobrol di Halte.


"Sis, kira-kira Wahyu serius gak sih..." tanyaku.

__ADS_1


"Hmm...kalo liat dari mukanya sih kayanya serius, lagian kalo gak serius juga, ya gak bakalan mau Raisya sama dia..." jawab Siska.


"Iya juga sih, tapi kalo ternyata dia pura-pura baik, terus di belakang kita dia main dukun buat dapetin Raisya gimana?" tanyaku lagi.


"Dukun? hahaha...masih percaya aja Kamu sama begituan...Syikik Neng...hahaha...." jawab Siska.


"Iya sih, aku mah dari dulu gak percaya, tapi banyak juga kejadian begitu Sis..." lanjutku.


"Kalo dia macem-macem, kita ulek aja kepalnya...hahaha..." ucap Siska lagi.


"Hahahaa...Kamu kira cabe diulek...hahaha..." jawabku.


"Cabe mah sekarang udah main blender kali Neng, makanya ulekan gak kepake lagi, nah dari pada gak kepake mending buat ngulek kepala dia...hahaha..." lanjut Siska.


"Iya iya iya...bisa aja Kamu...eh Sis, itu Mamaku jemput, yuk..." ucapku.


Mamapun berhenti di depan kami, dan kami segera naik mobil...


"Ma, kita mampirin Siska dulu gak apa-apakan Ma?" tanyaku pada Mama.


"Ya gak masalah Nak...toh sekalian lewat..." jawab Mama.


"Makasih Tante...hehehe..." sambung Siska.


"Iya Nak, sama-sama...oh ya Raisya gak bareng kalian?" tanya Mamaku.


"Hmmm...gak Ma, tadi Raisya pulang duluan...kalo kami masih ada kerjaan tadi Ma..." jawabku cepat, khawatir Siska keceplosan bicara sama Mama, karena emang Siska sering gak bisa rem mulut...hahaha...


"Oh iya, kalian beda kelas yaa, lupa Mama...hehe..." ucap Mama.


Kamipun sampai di Rumah Siska, dan Siska segera berpamitan denganku serta Mama.


"Tante, makasih yaa, makasih juga Nit..." ucap Siska.


"Iya sama-sama" jawabku dan Mama hampir berbarengan.


Kamipun langsung pulang ke rumah, dan seperti biasanya, sampai di rumah akupun rebahan di kasurku tercinta...


Bersambung...


Nantikan Episode berikutnya, dan jangan lupa Like, Komen, dan Vote nya ya Readers...🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2