"Kebetulan Apa Takdir...?"

"Kebetulan Apa Takdir...?"
Lebih Baik Sudahi Dulu


__ADS_3

Episode 19


Beberapa bulan kemudian, tepatnya sehari sebelum Ramadhan, kami semua dikumpulkan oleh Bapak Kepala Sekolah sebelum diizinkan pulang, kamipun berbaris di Lapangan Upacara Sekolah, dan Bapak Kepala Sekolah mengumumkan teknis Belajar Mengajar selama Ramadhan, kemudian Beliau Berkata...


"Anak-anak semuanya...karena besok kita akan menjalankan Ibadah Puasa, maka Bapak mewakili semua Majelis Guru mengucapkan SELAMAT BERPUASA, MOHON MAAF LAHIR BATIN...dan setelah ini, Kalian semua saling bersalaman dan bermaaf-maafan...ingat, laki-laki bersalaman dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan...tidak ada yang bersalaman dengan lawan jenis...sekian dari Bapak, Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...." ucap Bapak Kepala Sekolah menyudahi pengarahannya.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuhu..." jawab kami serentak, dan sesuai perintah, kamipun saling bersalaman dan bermaafan.


Aku dan kedua sahabatku bersalaman dan berpelukan saling memaafkan sesama kami, dan kamipun meyalami siswi lainnya.


"Raisya...!!!" terdengar dua orang lelaki memanggilku serentak, dan kami bertiga membalikan badan.


"Loh, Kak Bayu, Wahyu, tumben barengan, akur nih yee..." ucap Siska mengejek, dan kamipun menahan tawa.


"Lu ngapain bocah, ikut-ikutin gue Lu..." ucap Bayu.


"Lah, inikan barisan anak kelas XI, seharusnya yang nanya itu gue, Lu ngapain disini..." jawab Wahyu.


"Terserah gue lah, kan mau puasa, gue mau mita maaflah sama Raisya dan teman-temannya, udah sana Lu..." ujar Bayu.


"Gue juga mau minta maaf sama mereka...Lu yang pergi sana..." balas Wahyu.


"Udah Cukup...gak ada yang perlu kalian ributin, kalian gak ada yang salah, dan kalian berdua udah kami maafin, sekarang kalian berdua sama-sama pergi sana, disini barisan perempuan...kalian mau kami panggilin guru?" jawabku menghentikan keributan mereka.


Merekapun pergi ke barisan masing-masing, dan semua siswapun dibubarkan dan kami balik ke kelas masing-masing untuk mengambil tas dan langsung menuju parkiran...


***


POV Bayu


Setelah kami bubar, aku langsung menuju parkiran dan masuk kedalam mobilku, tiba-tiba kaca pintu samping mobilku diketuk keras.


"Bayu...tunggu sayang..." ucap Desi memanggilku.


"Apaan Des? aku udah mau balik nih...buru-buru..." jawabku.

__ADS_1


"Iihh Kamu ini yaa, semua orang salaman sama aku, cuma Kamu aja yang gak salaman sama aku, Kamu kenapa sih..." tanya Desi yang langsung masuk kedalam mobilku.


"Lah, kan tadi kata kepala sekolah gak boleh salaman sama lawan jenis..." jawabku santai.


"Oohh gitu, bilang aja Kamu udah gak cinta lagi sama aku, iyakan, Kamu udah gak peduli lagi sama aku, buktinya Kamu bela-belain ngejar si culun itu, siapa itu namanya, hmm si Rasiya itu dengan alasan mau maaf-maafan menjelang puasa, iyakan...jangan Kamu pikir aku gak tau Bay..." ucap Desi emosi.


"Ya, kan aku jelas ada salah sama dia, gara-gara Kamu marah-marah sama dia...lah kalo sama Kamu kan kita gak ada masalah...apa perlunya maaf-maafan?" jawabku datar.


"Apa...??? gara-gara aku? kok Kamu salahin aku? Kamu yang deketin dia terus, wajar aku marah, Kamukan pacar aku Bay..." ucap Desi.


"Yaudah oke, aku minta Maaf ya Desi...udahkan, aku mau balik..." jawabku singkat.


"Gak bisa begitu dong Bay, benarkan Kamu udah gak Cinta sama aku...???" ucap Desi lagi.


"Hmmm...begini deh...aku lagi belajar menjadi anak yang baik dan taat sama Agama...besok bukan puasa, momen yang cocok buat aku bertaubat memperbaiki kesalahanku...lebih baik kita kurangin dosa kita dikit-dikit deh yaa..." jawabku.


"Maksudnya Bay? kalo buat berubah jadi baik, ya aku mendukung, aku suka...tapi maksudnya gimana?" tanya Desi.


"Kita udahan dulu...aku mau fokus beramal dulu selama Ramadhan ini..." jawabku tenang.


Entah kenapa, yang biasanya aku tidak bisa tenang jika melihat Desi menangis, dan segera menenangkannya, tapi kali ini tidak, perasaanku biasa saja, tidak ada dalam hatiku rasa ingin menenangkannya...


"Maaf ya Des, tapi aku rasa keputusanku sudah tepat, aku mau fokus memperbanyak amal baikku dulu, aku sudah terlalu lama jauh dari agama...kalo kita masih pacaran, maka bukan pahala yang aku dapat, justru aku malah nambah dosa terus...maaf yaa...silahkan turun, aku mau pulang." jawabku tenang.


"Gak Bay...aku gak mau putus...gak semudah itu Kamu putusin aku, setelah dulu Kamu mati-matian dapatkan hatiku, sekarang aku sudah terlanjur cinta sama Kamu, malah seenaknya Kamu tinggalin aku, gak Bay...gak bisa...ini pasti karena anak culun itu...lihat saja, aku bakal buat perhitungan sama dia..." lanjut Desi dengan emosi, dan langsung keluar dari mobilku serta membanting keras pintu mobilku. Karena aku tidak mau memperpanjang masalah aku biarkan dia pergi walaupun kesal karena berani-beraninya dia membanting pintu mobilku.


***


Aku segera menelpon Nita, dan kami janjian di Kafe dekat rumah Nita. Aku meminta Nita untuk mengajak Siska agar mereka berdua sama-sama tahu dengan apa yang aku ingin sampaikan serta agar tidak terjadi fitnah.


"Pesan makanan dulu sana, aku sudah pesan tadi..." ucapku pada mereka berdua.


"Iya Kak..." jawab mereka.


Setelah mereka memesan makanan, mereka menghampiriku.

__ADS_1


"Ada apa Kak Bayu meminta kami kesini?" tanya Siska.


"Jadi begini...tadi di Sekolah, Desi datang menemui aku di mobil, terus dia marah-marah, panjang deh masalah-masalah yang dia sebutin, masalah aku samperin kalian pas di lapangan tadi, masalah aku udah jarang hubungin dia, macem-macem deh...akhirnya karena aku mau berubah dan mau jadi orang yang taat, ya aku putuskan buat sudahi hubungan kami..." jawabku panjang lebar menjelaskan masalah Desi.


"Lah, baguslah kalo Kakak udah sadar dan gak mau pacaran lagi...terus gimana respon Kak Desi...?" tanya Nita.


"Nah itu dia masalahnya...dia gak terima aku putusin, alasannya karena dia sudah terlanjur cintalah, sudah sayang bangetlah, gak bisa hidup tanpa akulah, dan dia menuduh ini semua salahnya Raisya, dia fikir aku mutusin dia karena aku suka sama Raisya, jadi biar aku bisa deketin Raisya...itu pemahaman bodohnya dia...dan diapun mengancam akan buat perhitungan sama Raisya, makanya aku butuh kalian untuk membantu aku jagain Raisya, karena aku gak akan bisa buat jaga dia, Raisya pasti marah sama aku, aku gak mau Raisya kenapa-napa, dia anak baik, dia gak salah, justru disini aku yang salah karena aku malah menyukainya, padahal dia gak suka sama aku...eehh maaf kelewatan cerita...aku harap kalian lupakan kata-kataku yang terakhir barusan..." jawabku lagi.


"Astaghfirullah...kok bisa sepicik itu pemikiran Kak Desi yaa....oke deh Kak, kami pasti akan bantu Kakak buat jaga Raisya..." jawab Nita.


"Makasih yaa, aku yakin kalian pasti bisa bantu aku." jawabku.


"Oh ya Kak, jujur saja ya, aku memang sudah curiga kalo Kakak suka sama Raisya...karena kami sering lihat ekspresi muka Kakak kalo lihat Wahyu dekatin Raisya, dan kami lihat gimana kekhawatiran Kakak dengan keadaan Raisya...bukan hanya sekedar teman, tapi ada rasa yang lebih..." ucap Nita.


"Hmmm...oke, kalo kalian sudah tau...tapi aku harap jangan sampai kalian bilang ke Raisya soal rasa ini...dan aku akan berusaha memendam rasa ini sampai Raisya siap untuk membuka diri...aku paham kondisi dia, dia anak sholeha, makanya aku berusaha untuk memperbaiki diriku, mulai dari enggak pacaran lagi, aku akan belajar menjaga Sholatku, dan sebagainya...demi cintaku...kalian bantu do'a ya biar aku bisa berubah..." ujarku.


"Aamiin...kami yakin Kakak bisa..." jawab Siska.


"Walaupun mungkin bertahap agak lama, karena meski orang tuaku keduanya orang taat, tapi akunya salah pergaulan, bahkan bacaan sholat sudah banyak lupa..." lanjutku.


"Ya Allah Kak, belajar lagi deh kak, Sholat itu Ibadah paling utama soalnya, percuma Kakak banyak amal tapi gak Sholat, semangat ya Kak..." ucap Nita dan akupun mengangguk sambil tersenyum.


"Oh ya tapi menurut kalian, aku pantas gak buat dapetin Raisya? maksudnya, kalian setuju gak?" tanyaku.


"Setuju dong...!!!" jawab mereka barengan.


"Hehe...makasih yaa adik-adik kelasku...hahaha..." ucapku sambil tertawa.


"Huuhh...sok senior lagi deehhh...hahahaha...." sahut Nita.


Kamipun menganti topik perbincangan kami sambil memakan pesanan kami tadi, dan tidak terasa waktu Ashar telah masuk, dan setelah aku membayar semua belanjaan kami, kami segera menuju musholah dekat kafe tersebut untuk melaksanakan Sholat Ashar, walaupun aku masih belum hafal semua bacaan Sholat.


Bersambung...


Nantikan Episode Selanjutnya...jangan lupa Like, Komen, dan Vote nya ya Readers...😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2