
Episode 22
Beberapa hari aku tidak bertemu Bayu, tidak saling komunikasi, membuat hatiku semakin gundah...
"Yaa Allah, kenapa aku ini seperti orang tidak beriman? yang lebih sering memikirkan orang yang disukai dari pada Engkau ya Allah...Ya Allah beri Hamba HidayahMu..." ucapku dalam hati.
Aku segera mandi, Wudhu' dan Sholat Duha...selesai Sholat, aku dipanggil Papa.
"Raisya...sini sebentar nak..." ujar Papa.
"Iya Pa...bentar..." jawabku dan langsung keluar kamar.
"Nak, Kamu temani Mang Odi sebentar yaa...ada teman Papa yang mau dijemput ke Bandara." ucap Papa.
"Lho, kan teman Papa, kok aku yang jemput Pa? secara kami bukan Mahrom Pa..." tanyaku heran.
"Sudah, Kamu pergi saja, ikuti kata Papa, lagian kan ada Mang Odi dan Bi Ayu...sudah cepat sana berangkat..." jawab Papa.
Akupun tidak bisa menolak dan akhirnya menurut saja, aku segera mengganti pakaian dan kamipun segera berangkat.
"Siapa sih emang yang mau datang Mang? tanyaku.
"Wah Mamang kurang tau Non..." jawab Mang Odi.
"Mencurigakan sih sebenernya, kok harus aku dan Bi Ayu yang jemput, apa hubungannya sama kami, kan yang mau datang itu teman Papa..." ucapku.
Tidak lama kamipun keluar dari Tol dan masuk gerbang Bandara di Kota kami...kami segera turun dari mobil dan menuju tempat kedatangan internasional.
Karena bagiku ini tamu yang agak aneh, akupun tidak terlalu memperhatikan orang-orang yang keluar dari ruangan tersebut, bahkan aku sibuk memainkan ponselku, mendengarkan ceramah menggunakan headset, sampai tiba-tiba aku terkejut karena ada sepasang tangan yang menutup mataku dari belakang.
"Astaghfirullah...apa ini, lepaskan saya, tolong, jangan sentuh saya...siapa anda...jangan coba-coba pegang saya...Ya Allah, siapa ini...Mang Odi, tolong aku Mang...Bi Ayuu....tolong..." aku berteriak sambil berusaha lepas dari orang tersebut.
Akhirnya tangan itu melemah dan dengan mudah aku tarik. Begitu aku membalikan tubuhku, betapa kagetnya aku...
"Abang Richi....!!!" aku teriak bahagia, sampai tidak terasa air mataku berlinang, dan akupun memeluk Abangku karena aku sangat merindukannya.
"Assalamu'alaikum Cantik...kaget yaa...hahaha..." ucap Bang Richi.
"Wa'alaikumussalam Bang...iya lah, aku gak pernah disentuh laki-laki yang bukan mahromku, kok malah ada yang berani pegang aku, rasanya mau aku kungfu aja tadi...hahaha..." jawabku.
Setelah kami menaikan barang-barang Bang Richi, kami segera balik.
"Abang kenapa gak bilang sama aku kalo mau balik?" tanyaku.
"Sengaja, kan kejutan buat Kamu...Abang juga bilang ke Mama Papa untuk gak bilang-bilang Kamu, bahkan Mang Odi sama Bi Ayu juga udah tau, tapi ikut merahasiakannya...ya kan Mang, Bi..." jawab Bang Richi.
"Iya Den, malah Non Raisya sempet ngedumel, kok temen Papa malah aku yang jemput, kata Non Raisya...hehe..." ujar Mang Odi.
__ADS_1
"Iiihh, lagian bilangnya temen Papa, kan aku risih, kalo bilangnya ada saudara jauh, masih enakan lah..." jawabku.
"Yee, kalo bilang saudara, Kamu pasti bisa nebak, kan kita gak punya saudara yang tinggalnya jauh...hahaha..." ucap Bang Richi.
Sepanjang perjalanan kami berbincang, tertawa, melepas kerinduan kami, sampai kami tiba di rumah, ternyata Mama dan Papa sudah siapkan makan siang dengan beberapa dekorasi menyambut kedatangan Bang Richi.
"Assalamu'alaikum Ma, Pa..." sapa Bang Richi.
"Wa'alaikumussalam Nak..." Mama Papa menyambut Bang Richi dan memeluknya.
Setelah ngobrol sebentar, kami segera makan siang.
"Jadi gimana ekspresi adikmu tadi Chi?" tanya Papa.
"Waahh...histeris Pa, dia takut kalo yang tutup matanya itu orang gak dikenal...hahaha..." jawab Bang Richi.
"Iihh...jahat banget sih, hampir copot jantung aku tau...untung gak aku kungfu tadi...hahaha..." jawabku membela diri.
"Hahaha..." semua tertaaa mendengar jawabanku, termasuk aku sendiri.
***
"Dek, besok Kamu pulang sekolah jam berapa?" tanya Bang Richi.
"Biasanya abis Zhuhur Bang, emang kenapa?" tanyaku.
"Kemana Bang?" tanyaku lagi.
"Kamu masih inget Rahel gak?" Bang Richi bertanya balik.
"Oh teman kecil Abang itu, eh pacar Abang maksudnya...inget bang, udah lama banget gak ketemu, emang kenapa Bang?" tanyaku lagi.
"Mantan pacar lebih tepatnya, semenjak Abang pergi, kami putus...besok dia juga sampai di Indonesia, Abang mau jemput dia, abang cuma gak mau kalo kami berdua aja..." jawab Bang Richi.
"Oohh baguslah kalo putus, ngapain juga pacaran...nanti kalo serius, langsung nikah aja, gak apa-apa...oh ya besok ya...hmmm.....boleh...jemput aku ke sekolah yaa..." ujarku.
"Okee...yaudah tidur gih, abang juga ngantuk..." ucap Bang Richi yang langsung keluar dan menutup pintu kamarku.
Akupun merasakan bahagia yang teramat sangat, aku bersyukur kepada Allah, setelah tadi pagi aku merasakan galau, ternyata Allah rubah keadaan hatiku menjadi bahagia.
***
"Raisya...ayo...kan udah janji kemarin..." sapa Bang Richi.
"Siaappp....!!! eh aku pergi duluan ya teman-teman..." aku berjalan meninggalkan teman-temanku.
"Ajak aja temennya Dek..." ucap Bang Richi.
__ADS_1
"Boleh Bang?" tanyaku dan Bang Richi mengangguk.
"Ayo teman-teman...jalan-jalan..." panggilku.
Kamipun meluncur ke Bandara menjemput Kak Rahel, setiba kami disana, pas juga dengan turunnya Kak Rahel dari pesawat...sebelum mengantarkan Kak Rahel pulang, kami makan dulu, sambil berbincang-bincang.
"Waahh Raisya, udah besar sekali Kamu...lama gak ketemu..." sapa Kak Rahel.
"Hehe Alhamdulillah Kak, iya Kakak sih, Bang Richi berangkat ehh Kakak juga berangkat, terakhir ketemu dulu waktu aku masih kelas 5 SD...haha..." jawabku.
"Masih imut-imut...haha..." ujar Kak Rahel.
"Sampe sekarang masih kan Kak...hahaha..." jawabku lagi.
Kami berbincang-bincang karena lama tidak berjumpa, sewaktu Bang Richi dapat beasiswa ke Yaman, Kak Rahel juga berangkat ke Malaisya. Setelah makan kami langsung mengantarkan Kak Rahel dan kami pulang ke rumah.
"Dek, nanti kalo ditanya Papa Mama, jangan bilang kalo abis jemput Rahel yaa..." ucap Bang Richi.
"Emang kenapa Bang? oh ya emang Abang masih suka ya sama Kak Rahel?" tanyaku.
"Pokoknya jangan bilang-bilang...oke...denger ya, Kamu masih kecil, masa mau bahas-bahas masalah hati." jawab Bang Richi.
"Iihh aku udah gede tau...serius nih...kok sampe Abang yang rela-relain jemput Kak Rahel? emang selama kalian berjauhan begitu, masih sering komunikasi?" tanyaku lagi.
"Ya kalo dibilang masih suka sih ya gak juga, tapi kalo dibilang udah gak ada rasa, hmmm.....masih ada juga..." jawab Bang Richi.
"Lah, kok gak jelas gitu sih...jangan asal permainkan hati perempuan lho Bang, adekmu ini perempuan juga..." ujarku lagi.
"Kamu gak ngerti Dek, ayo ke taman, abang ceritain..." ajak Bang Richi.
Kamipun berjalan ke taman belakang rumah.
"Jadi Rahel itukan anaknya Om Broto, saingan bisnis Papa, nah Papa gak suka kalo abang sama Rahel, begitu juga dengan Om Broto, gak suka sama abang, tapi kami berdua saling mencintai." ujar Bang Richi.
"Hmmm...ya berarti emang Abang gak boleh pacaran Bang..." jawabku.
"Iya abang emang udah gak pacaran lho dek...tapi kalo mau nikahpun juga, kalo orang tua gak setuju, gimana coba..." ujar Bang Richi lagi.
"Iya juga sih...hmmm...yang sabar ya Bang, mungkin Allah ada recana lain yang lebih baik buat Abang..." jawabku lagi.
"Iya Dek, semoga saja..." lanjut Bang Richi.
Kamipun masuk kedalam rumah karena sudah waktunya istirahat.
Bersambung...
Nantikan Episode berikutnya dan jangan lupa Like, Komen, dan Vote nya ya Readers...🌹🌹🌹
__ADS_1