"Kebetulan Apa Takdir...?"

"Kebetulan Apa Takdir...?"
Kak Rahel Dijodohkan


__ADS_3

Episode 23


Setiap malam, aku selalu merenung, entah kenapa di sekolah rasanya sepi sekali, padahal ada kedua sahabatku, tapi selalu merasa ada yang kurang, ya... karena sudah tidak ada Bayu lagi...mungkin ini cara Allah untuk menegur aku yang sudah berani mencintai orang yang jelas bukan mahromku, disaat aku masih belum cukup umur begini.


Tok tok tok...


"Raisya, ini Abang..." tiba-tiba Bang Richi mengetuk pintu kamarku memecah renunganku.


"Iya Bang masuk aja, gak aku kunci kok..." jawabku.


"Loohh, Kamu kenapa Dek? abis nangis ya?" tanya Bang Richi.


"Gak kok Bang...cuma kelilipan..." jawabku mencari alasan.


"Jangan bohong, aku ini abangmu, aku tau gimana Kamu itu Dek..." lanjut Bang Richi.


"Hmmm...aku cuma lagi sedih aja Bang..." jawabku.


"Sedih kenapa sih adikku tersayang ini..." ujar Bang Richi mengucap-usap kepalaku.


"Gak kenapa-napa kok Bang, oh ya ada apaan Bang Richi malem-malem begini kesini?" tanyaku.


"Emang gak boleh ya Abang ke kamar adeknya?" ujar Bang Richi bertanya balik.


"Iihh bukan begitu...boleh dong, maksud aku apa ada hal penting banget gitu?" jawabku.


"Sebenernya Abang mau cerita, tapi Kamu dulu deh yang cerita, Kamu kenapa nangis?" lanjut Bang Richi.


"Aku gak kenapa-napa kok Abang...Bang Richi aja yang cerita..." jawabku.


"Oke Abang cerita, tapi nanti Kamu juga jujur sama Abang ya, kenapa Kamu sedih...oke...?" tanya Bang Richi.


"Iya deh...tapi nanti kalo aku cerita, Bang Richi jangan marah ya..." ujarku.


"Iya...tenang aja..." jawab Bang Richi.


"Oke, jadi Abang mau ngomong apa?" tanyaku.


"Rahel dek...ternyata dia disuruh pulang orang tuanya karena mau dijodohin sama anak temannya Om Broto..." jawab Bang Richi.


"Astaghfirullah...terus Kak Rahel mau Bang?" tanyaku lagi.


"Mau gak mau Dek, karena semua keluarga memaksa..." jawab Bang Richi.


"Lah kok malah pake pemaksaan sih, sekarang udah gak zamannya kali dijodohin begitu..." ujarku.


"Yaa, mau gimana lagi, posisinya terancam...dan sekarang Abang harus bisa terima kenyataan..." jawab Bang Richi.


"Sabar ya Bang..." ucapku.


"Ya, sekarang gantian...Kamu kenapa sedih?" taya Bang Richi.


"Hmmm...oke deh...tapi janji jangan marah..." ujarku, dan akupun menceritakan semua tentang Bayu, dari awal kami bertemu, sampai sekarang dia pergi.


"Jadi Kamu suka juga sama dia?" tanya Bang Richi.


"Entahlah Bang, aku gak ngerti, apa ini namanya aku suka dia, atau gimana..." jawabku.


"Yaudah, Kamu fokus aja belajar dulu, gapai cita-citamu dulu, kalo emang kalian berjodoh, pasti bakal ketemu lagi...selagi dia orang baik, Abang mendukung kok...yang jelas sekarang fokus sekolah dulu, jangan pikir pacaran..." jawab Bang Richi.


"Iya Bang, aku juga gak suka pacaran, ngapain juga kita jagain jodoh orang...ups...hahaha...." ujarku menyindir Bang Richi.

__ADS_1


"Huuuhhh dasar Kamu...malah ngejek Abang..." jawab Bang Richi, dan kami tertawa bersama.


***


Pulang sekolah, aku janjian dengan Kak Rahel di taman kota, dan pastinya aku ajak kedua sahabatku.


"Ada apa ngajak ketemuan disini Sya?" tanya Kak Rahel.


"Maaf ya Kak, aku cuma mau tanya, apa benar Kak Rahel mau dijodohkan orang tua Kakak? Bang Richi cerita sama aku, aku yang maksa Bang Richi cerita, karena aku lihat Abangku sedih aja..." jawabku.


"Maafin Kakak ya Sya, mungkin Kamu tau juga kalo orang tua kita itu adalah saingan bisnis, cuma Kakak gak habis fikirnya, kok masalah bisnis dibawa-bawa ke keluarga...ini sungguh gak adil bagi kakak sebenernya Sya..." ucap Kak Rahel.


"Emang gak bisa dibicarakan lagi ya Kak?" tanya Nita.


"Kakak udah berusaha Nit, tapi orang tua kakak orangnya keras kepala...jadi kakak gak bisa nolak lagi..." jawab Kak Rahel.


"Ya Allah...kenapa harus begini sih kejadiannya..." ucapku pelan.


"Mungkin Allah sudah siapkan jodoh terbaik buat Abangmu Sya, Kakak bukan wanita yang baik..." jawab Kak Rahel.


"Enggak Kak, Kakak itu cocok sama Abangku, aku yakin itu..." ucapku lagi.


"Ya tapi kehendak Allah berbeda, Kakak udah berusaha, tapi hasilnya malah berbeda...yaa, semoga Bang Richi dapat pengganti yang lebih baik...Aamiin..." lanjut Kak Rahel.


"Aamiin..." jawab kami serentak.


Kamipun ditraktir Kak Rahel makan Bakso di pasar, setelah itu kami baru pulang.


***


"Kasihan juga Kak Rahel itu ya Sya..." ucap Siska.


"Iya Sis, tapi mau kata apa, mungkin emang bukan jodoh Abangku..." jawabku.


"Gak Nit, mungkin dia lagi sibuk persiapan berangkatnya." jawabku.


Saat kami sedang berbincang-bincang di taman rumahku, aku ditelpon Bang Richi.


"Assalamu'alaikum Bang, ada apa Bang?" tanyaku.


"Wa'alaikumussalam...dek Kamu ke Rumah Sakit sekarang ya, temani Abang, Rahel kecelakaan...tapi Papa Mama jangan sampe tau..." jawab Bang Richi.


"Innalillahi...iya Bang, tapi aku sama teman-teman yaa..." ucapku.


"Yaudah gak apa-apa..." jawab Bang Richi dan akupun mematikan telpon dan langsung mengajak kedua temanku untuk ke Rumah Sakit.


"Emang kenapa Sya?" tanya Nita.


"Nanti aja ceritanya, ayo kita ke Rumah Sakit..." jawabku dan kami segera berangkat menggunakan motor.


"Gimana keadaan Kak Rahel Bang?" tanyaku.


"Belom tau sih, tapi Abang udah hubungi keluarganya, walaupun mereka gak suka, Abang gak peduli..." jawab Bang Richi, dan tidak lama kemudian, Dokterpun keluar IGD.


"Gimana keadaan teman saya Dok?" tanya Bang Richi.


"Alhamdulillah gak parah, cuma luka-luka kecil aja...eh Raisya..." sapa Doker yang ternyata Kak Rahmi.


"Iya Kak, ini Bang Richi Abangku...kenalin Kak..." ujarku mengenalkan Bang Richi.


"Oh...iya, salam kenal, aku Rahmi..." ucap Kak Rahmi mengenalkan dirinya dan meletakan kedua tangannya didepan dada.

__ADS_1


"Ya, aku Richi, Abangnya Raisya..." jawab Bang Richi.


"Dokter Rahmi ini yang bantu Mama waktu kecelakaan Bang..." ucapku.


"Oohh Makasih Buk Dokter..." jawab Bang Richi, dan Kak Rahmi tersenyum.


"Masa aku panggil Kakak, eh Abang panggil ibuk...hahaha...Kak Rahmi ini seumuran Abang lhoo..." ujarku.


"Wah, hebat juga, masih muda udah jadi Dokter Spesialis..." ucap Bang Richi.


"Biasa saja kok Pak, semua Allah yang mudahkan...Alhamdulillah..." ujar Kak Rahmi.


"Hmm kalo emang seumuran jangan panggil Pak dong, tua banget, Richi aja..." lanjut Bang Richi.


"Oh iya, maaf, kalo begitu panggil saja aku Rahmi..." balas Kak Rahmi, dan Bang Richi mengangguk.


"Oh ya Mamamu gimana kabarnya Sya? lama banget kita gak ketemu..." tanya Kak Rahmi.


"Alhamdulillah baik Kak...iya nih Kak, udah gak sakit lagi...hahaha..." jawabku.


"Baguslah kalo gak sakit...hehe..." ucap Kak Rahmi.


"Kak Rahmi mah enak, jadi Dokter, nanti kalo udah nikah suaminya bisa Kakak yang urus kalo sakit...haha..." candaku.


"Makanya kata Dokter Niko kemarinkan, Raisya harus jadi Dokter juga..." jawab Kak Rahmi.


"InsyaAllah Kak...do'ain yaa...oh ya Kak, ada Obat buat cepat dapet jodoh gak Kak, buat bang Richi...hahaha..." candaku lagi.


"Iihh apaan sih Dek...malu-maluin aja...maaf ya Rahmi, Raisya ini emang kalo ngomong ceplas ceplos...hehe..." ucap Bang Richi.


"Gak apa-apa kok, aku suka gaya Raisya, santai tapi berisi..." jawab Kak Rahmi.


"Oh ya Sya, kalo ada obat cepat jodoh, Kakak duluanlah yang konsumsi Sya...hahaha Kakak jujur banget yaa...hahaha....gak mungkin ada lah Sya, jodoh sudah ditetapkan Allah dengan siapa dan kapannya...kita menjalani saja..." lanjut Kak Rahmi.


"Iya Kak...kalo begitu aku rasa Kak Rahmi dan Bang Richi ada kecocokan...upss...." candaku sambil menutup mulut.


"Raisya, apa-apaan sih..." jawab Bang Richi.


"Raisya ada-ada saja...emang Raisya bisa menerawang dalam hal jodoh seseorang ya...hehe...udahlah, jangan bahas itu, semua sudah ditentukan Allah...kita menjalani saja...hmmm...Kakak ke ruangan dulu ya, silahkan dijenguk dulu temanya...permisi..." jawab Kak Rahmi berpamitan, tetapi aku lihat wajahnya memerah seperti malu, sepertinya rencanaku berhasil.


Kamipun masuk ke ruangan Kak Rahel.


"Gimana keadaan Kamu Hel?" tanya Bang Richi.


"Gak apa-apa...maafin aku ya, aku ngerepotin kalian, sedangkan keluargaku sendiri belum kesini..." jawab Kak Rahel.


"Biasa aja dong Kak, kan aku juga udah anggap Kakak seperti keluargaku...ya walaupun keluarga kita gak begitu...hehe..." ucapku.


"Makasih ya Sya...oh ya kalian kenal sama Dokter yang rawat aku tadi? asyik banget ngobrolnya sampe kedengan kesini ketawanya...hehe..." ujar Kak Rahel lagi.


"Iya kak, Kak Rahmi itu Dokter yang bantu Mama waktu kecelakaan...dia baik banget..." ucapku.


"Iya, dia sangat baik, sama seperti Abangmu Sya..." lanjut Kak Rahel.


"Maksud Kamu apa Rahel?" tanya Bang Richi.


"Aku sudah gak bisa sama Kamu Chi, keluarga kita gak bakal bisa saling mengerti tentang perasaan kita, dan aku lihat sepertinya kalian cocok, siapa tau kalian berjodoh, aku yakin Raisya bisa bantu kalian untuk bisa akrab." ujar Kak Rahel.


Akupun melihat Bang Richi, dan terlihat wajah Bang Richi yang belum siap untuk kehilangan Kak Rahel.


Bersambung...

__ADS_1


Nantikan Episode Berikutnya, dan jangan lupa Like Komen dan Vote nya ya Readers...😉


__ADS_2