
Episode 28
Hari yang aku khawatirkan tiba, setelah tadi malam aku merenung, aku segera Sholat Hajat, dan Witir kemudian tidur, dalam tidurku aku bermimpi, bertemu dengan Bayu, dia sampaikan kepadaku, untuk menuruti orang tuaku, karena pilihan mereka pasti yang terbaik buatku, tapi setelah itu aku menolak dan marah kepadanya, karena dia terlalu lemah dan tidak mau memperjuangan cinta kami, sampai akhirnya aku terbangun dari tidurku.
"Ya Allah...hari ini aku akan kedatangan tamu yang aku tidak menginginkannya Ya Allah...tapi jika tamu ini baik menurutmu, lancarkan Ya Allah...sebaliknya jika tamu ini tidak baik, maka gagalkan acara ini Ya Allah...aku serahkan keadaan ini kepada-Mu...Engkau Dzat yang Maha Mengetahui kegundahan hatiku, jika dia yang terbaik untukku, rubah hatiku ini, sebaliknya jika dia adalah lelaki yang buruk buatku, gagalkan perjodohan ini...Aamiin..." ucapku dalam Do'a Tahajjud.
Setelah Berdzikir dan Tilawah Qur'an, Azan Subuh berkumandang, akupun segera Sholat Subuh, tetapi kali ini aku tidak berjamaah dengan Mama di ruang Sholat kami, aku sholat sendiri di kamarku, aku mau melanjutkan munajatku kepada Allah, sampai hatiku benar-benar bulat...dan setelah panjang berdo'a dan berdzikir, aku ketiduran diatas sajadahku.
"Assalamu'alaikum...Non Raisya...ini Bibi Non...buka pintunya Non..." teriak Bi Ayu yang mengejutkanku.
"Iya Bi sebentar..." jawabku dan aku segera membuka pintu.
"Non Raisya kenapa? dari tadi Bibi udah ketokin pintu...Bibi sampe takut Non kenapa-napa..." ucap Bi Ayu.
"Gak apa-apa kok Bi, gak mungkin juga aku mau bunuh diri kan...hahaha..." jawabku.
"Astaghfirullah Non, ya jangan dong Non...yaudah kalo gitu, Non mandi bersih-bersih ya...nanti Bibi bantu dandan..." ucap Bi Ayu.
"Gak usah Bi, aku gak mau dandan, aku mau natural apa adanya, tanpa make-up, cukup pelembap biasa aja...aku gak mau orang itu melihat aku karena parasku..." jawabku.
"Yaudah Non, gimana baiknya saja..." jawab Bi Ayu.
"Oh iya Bi, aku pakai cadar saja kali yaa...biar dia tidak melihatku dengan nafsunya saja..." ucapku lagi.
"Non serius? Nyonya dan Tuan mengizinkan tidak? Bibi sih gimana baiknya saja..." jawab Bibi lagi.
"Gampang, itu urusanku..." ujarku, dan aku segera keluar menemui Papa dan Mama...
"Pa, Ma, Bang...aku pernah bilangkan, kalo suatu saat nanti aku ingin berhijab dengan sempurna, dengan menggunakan cadar...dan aku meminta kepada Papa dan Mama, untuk mulai saat ini aku menggunakan Cadarku..." ucapku.
"Gak masalah Nak, tapi hari ini kalian akan bertemu lho Nak..." jawab Mama.
"Gak masalah...aku akan tetap bercadar, agar si lelaki itu tidak menerima tunangan ini dengan nafsunya, karena parasku, tapi karena agamaku...dan aku tidak mau adanya acara tukar cincin dalam pertunangan ini...maaf Bang, aku bukan menyalahkan acara Abang kemarin, tetapi Kak Rahmi sebenarnya sedikit risih dengan adanya sesi tukar cincin, untung saja Kak Rahmi pakai sarung tangan kemarin, dia yang cerita langsung sama aku..." ucapku.
"Yaudah Nak, asalkan Kamu mau jalani acara ini, Papa izinkan, kita buat acara ini sesuai dengan syariat Islam...tapi kalo Ta'aruf degan Khithbah itu seharusnya berjarak waktu, agar saling mengenal dulu, tapi buat kali ini tidak...pagi ini kalian Ta'aruf, nanti ba'da Zhuhur kalian Khithbah...silahkan saling mengenal sampai Zhuhur nanti..." ucap Papa.
"Haa...singkat sekali...tapi baiklah Pa...aku setuju..." jawabku.
Aku berfikir dalam hatiku, zaman sekarang mana ada lelaki yang memandang agama seorang wanita, kecuali memang lelaki sholeh, maka kalo dia setuju, insyaAllah lelaki itu memang sholeh...dan kalo dia tidak setuju, berarti dia cuma mau zhohirku saja, fisik dan materi lebih tepatnya mungkin.
Sekarang sudah pukul 08.00 WIB, akupun segera Sholat Dhuha, lagi-lagi aku berdo'a seperti saat Subuh dan Tahajjid tadi, dan saat aku sedang nikmatnya berdo'a di ruang Sholat rumah, ada suara gaduh di luar.
"Tidak Pa, aku tidak mau...aku tidak mau dijodohkan...buka penutup mataku Pa...aku sudah punya wanita pilihanku sendiri, aku hanya mencintai dia saja...aku tidak mau dengan wanita lain Pa, Ma, ngerti dong..." ucap seorang lelaki dari luar rumah terdengar jelas.
"Sudah Nak, Kamu lihat dulu, siapa tau kalian cocok, jika tidak cocok, maka bisa kita batalkan..." jawab lelaki lain yang terdengar membujuk lelaki sebelumnya.
Mendengar kegaduhan, aku segera menyelesaikan Do'aku, dan bergegas memasang Cadarku, karena aku yakin, keributan itu adalah dari para tamu yang akan datang.
"Assalamu'alaikum Rizki...maaf nih agak repot bujuk anakku ini..." sapa Om Niko.
"Wa'alaikumussalam...iya Niko, Yuni, masuk..." sambut Papa.
Aku belum mau kesana sebelum dipanggil, dan aku dengar mereka sedang berbincang-bincang, kalo anaknya itu kuliah di luar negeri, baru pulang kemarin, dan juga belum siap untuk tunangan...
"Loh, kalo sama-sama gak mau ngapain dipaksa sih, siapa ya anaknya Om Niko itu, kok aku gak denger namanya disebut, suaranya pun gak kedengeran..." ucapku dalam hati.
Akupun beranikan diri sedikit mengintip, dan aku tidak menemukan pemuda disana selain Bang Richi...
"Loh, Om Niko sama Tante Yuni doang? jadi tadi suara siapa ya?" fikirku.
Saat aku memutar badan hendak kembali ke ruang sholat, aku dikejutkan Bibi Ayu.
"Astaghfirullah..." ujarku kaget.
"Eehh...maaf Non, jadi kaget yaa...lagian ngapain ngintip-ngintip...Non disuruh kedepan sama Papa Non..." ucap Bi Ayu.
"Hmmm...jadi juga deh...males banget tau Bi..." jawabku dengan kesal berjalan ke ruang tamu.
__ADS_1
"Naahh ini dia anak Papa datang, sini Nak, duduk sini, jangan cemberut aja dong, nanti ketemu anak Om Niko jadi suka lhoo...hahaha..." ucap Papa merayuku.
"Apaan sih Pa..." jawabku.
"Om, Tante...maaf tadi abis Sholat Dhuha dulu..." sapaku pada Om Niko dan Tante Yuni.
"Iya Nak, wah Kamu cocok banget pakai Cadar, makin kelihatan cantik, sejak kapan Nak?" tanya Tante Yuni.
"Alhamdulillah Tante, baru belajar-belajar kok...hehe..." jawabku tanpa memberi tahu jika sebenarnya baru hari ini.
"Ma, panggil anak kita, dan bukain tutup matanya...kasihan tuh anak gak lihat apa-apa nanti...haha..." ucap Om Niko pada istrinya, dan Tante Yuni segera keluar.
"Ditutup gimana matanya Ko?" tanya Papa.
"Biar dia gak tau lokasi, jadi gak main kabur-kaburan nanti...hahaha..." jawab Om Niko.
"Assalamu'alaikum..." sapa seorang lelaki yang suaranya sangat aku kenal.
"Wa'alaikumussalam...masuk Nak, sini duduk..." jawab Papa.
Akupun membalikan badan dan melihat siapa lelaki itu...
"Haaa....Bayu..." ujarku kaget.
"Raisya...? kok Kamu...?" jawab Bayu.
"Jadi Kamu anak Om Niko?" tanyaku lagi.
"Iya...loh, berarti....." perkataan Bayu terhenti.
"Iya...ini calon jodohmu, kalian sudah saling kenal?" tanya Om Niko pada Bayu.
"Sudah Pa..." jawab Bayu.
Aku melihat tingkah Bayu yag seolah-olah diantara kami tidak ada perasaan apa-apa...maka akupun juga melakukan hal yang sama.
"Oohh, begitu...waahh...udah cocok berarti ini..." ucap Papa.
"Oohh Kamu yang namanya Bayu...sini Kamu..." ujar Bang Richi.
"Iya Bang..." jawab Bayu dan berjalan mendekat ke Bang Richi.
"Kamu yaa...dasar Kamu yaa...berani-beraninya bikin adikku nangis..." bentak Bang Richi.
"Apaan sih Bang..." sambungku.
"Diam Kamu Sya..." bentak Bang Richi padaku, dan akupun terdiam takut.
"Kenapa ini Richi, tenang Kamu, ceritakan baik-baik..." ucap Papa.
"Iya Richi, apa yang di perbuat Bayu, ceritain saja...agar kalo memang Bayu salah, kami akan ajar dia..." ucap Om Niko.
"Iya Bang, salahku apa Bang..." ucap Bayu juga.
"Masih tanya juga apa salahmu...Raisya...ceritain semuanya, apa salah dia, kenapa Kamu hampir tiap malam menangis..." perintah Bang Richi dengan suara keras.
"Dia gak salah Bang...aku nangis bukan karena dia yang salah...tapi ini salah aku Bang..." akupun mulai menangis.
"Bayu ada apa ini, jangan memperkeruh suasana..." bentak Papa.
"Asal Papa, Mama, Om dan Tante tau...ini Bayu, adalah Orang yang sangat dicintai Raisya, dan Bayu juga mencintai Raisya...jadi kenapa harus diperlambat, segerakan...hahahaha....mantap kan acting-ku tadi...hahahaha..." ucap Bang Richi yang ternyata hanya bercanda.
Semuanya langsung tertawa...termasuk Bayu...tapi tidak denganku.
"Kamu kenapa Dek? apa gak lucu sama sandiwara Abang tadi?" tanya Bang Richi.
"Gak gitu Bang...aku cuma masih belum yakin dengan semua ini...apa benar Bayu mencintaiku? dan apakah tidak ada wanita lain selainku selama dia diluar negeri? itu yang aku ragu..." jawabku berbisik.
__ADS_1
"Bayu...sekarang begini...orang tua kita akan menjodohkan kalian...tapi tidak dengan aku...aku mau tau, apa benar Kamu mencintai adikku?" tanya Bang Richi.
"Abang bisa dengar dari kedua saksi Bang...sebentar ya..." jawab Bayu, kemudian Bayu menelepon seseorang.
"Sebentar ya Bang, aku gak mau jawab langsung dari mulutku, nanti aku dikira bohong...nanti ada dua saksi yang datang..." lanjut Bayu.
"Oke, kami tunggu...terus selama Kamu di luar negeri apa gak ada wanita lain?" tanya Bang Richi lagi.
"Hmmm...baik bang, aku juga gak mau jawab sendiri dalam hal ini...sebentar ya..." jawab Bayu lagi dan dia pun lagi-lagi menelepon seseorang.
"Assalamu'alaikum Akhi, gimana kabar disana..." sapa Bayu memulai telpon.
"Wa'alaikumussalam Akhi Bayu, MasyaAllah...sudah sampai kah? gimana jadinya Akhi?" tanya lelaki itu dari balik telpon yang sengaja di Loadspeaker.
"Alhamdulillah sudah Akhi, dan insyaAllah kami jadi menikah..." jawab Bayu.
"Serius Antum? katanya kesana mau menolak, karena gak ada yang mau Antum nikahi selain Raiysa...bahkan teman akhwat disinipun Antum tolak semua...kok bisa-bisanya langsung berubah pikiran...awas kena sihir Antum..." ujar lelaki itu.
"Astaghfirullah...jangan nuduh begitu dong, masalahnya bukan sihir. atau bukan ini, masalahnya orang yang dijodohkan denganku itu ternyata wanita impianku Akhi..." jawab Bayu dengan muka sangat bahagia nampaknya.
"Haa...serius Antum? sama Raisya gitu? Alhamdulillah deh kalo begitu...hebat rencana Allah...lanjutkan Akhi..." lanjut lelaki itu.
"Siap...Bantu Do'a yaa..." jawab Bayu.
"Aamiin..." jawabnya.
"Oke, sudah dulu ya Akhi...Assalamu'alaikum..." ujar Bayu mengakhiri telpon.
"Gimana Bang?" tanya Bayu.
"Hmmm....mana dua saksimu itu?" Bang Richi bertanya balik.
"Assalamu'alaikum...Om, Tante, Abang, Kak Bayu, dan Sahabatku Raisya...apa kabar...." tiba-tiba Nita dan Siska datang.
"Loh, kalian kok kesini?" tanyaku.
"Iya nih, kayanya ada yang belum yakin sama cintanya Romeo ke Juliet..." jawab Nita.
"Hehe...udah jelas kan Bang...jadi?" tanya Bayu.
"Gak bisa...aku gak mau..." jawab Bang Richi dan membuat kami semua kaget, terutama aku.
"Apa maksud Kamu Richi?" tanya Papa.
"Aku gak mau memutuskan...karena yang mau nikah bukan aku Pa, tapi Raisya, aku masih normal lho Pa...haha...gimana Adikku Cantik...apa Kamu mau sama Bayu???" tanya Bang Richi.
Akupun terdiam dan dengan hati yang sangat bahagia, aku mengangguk tanda setuju.
"Alhamdulillah..." ucap mereka semua terutama Bayu yang suaranya paling keras.
"Tunggu........!!!!!!!!" teriakku.
"Tapi ada syaratnya..." lanjutku.
"Apapun syaratnya, akan aku penuhi." jawab Bayu.
"Pertama, Aku tetap harus jadi Dokter, kedua aku tetap harus bercadar kecuali di rumah, ketiga aku mau Kamu harus hafal Al-Qur'an minimal Juz 30..." ucapku.
"Haaa....??? kalo satu dan dua aku siap...tapi yang ketiga...kan Kamu tau aku baru belajar Sya..." jawab Bayu.
"Sanggup atau tidak...kalo sanggup, aku bersedia, kalo tidak, maaf saja, aku tidak bersedia..." jawabku lagi.
"Iya iya....siap...aku siap...yang penting dibimbing yaa..." lanjut Bayu, dan aku mengangguk.
Semua orang tertawa melihat tingkah Bayu yang takut jika aku menolaknya, dan sesuai rencana Papa, setelah Zhuhur dan makan siang, kamipun diKhithbah.
Bersamabung...
__ADS_1
Nantikan Episode berikutnya...jangan lupa Like Komen dan Vote nya ya Readers...🌹🌹🌹