
Episode 27
Sesuai impianku, akupun Lulus di Universitas yang aku inginkan dengan jurusanpun sesuai yang aku mau, Kedokteran. Semua keluargaku sangat mendukung cita-citaku ini.
Aku menjalani hari-hari di Kampus dengan semangat, begitu juga Bang Richi yang semakin semangat menjalani kerjaannya di Kantor, bahkan Bang Richi sudah menjadi Manager di Perusahaan Papa, dan tidak terasa sudah masuk bulan Desember.
"Sekarang sudah akhir tahun, apa Bayu sudah jadi bertunangan..." fikirku dalam hati, aku teringat Bayu lagi yang membuat hatiku gundah.
"Assalamu'alaikum Non, ini Bibi...Non Raisya dipanggil Tuan dan Nyonya di ruang tengah..." ucap Bi Ayu dari luar kamarku.
"Haa...Iya Bi, sebentar..." jawabku terkejut dengan panggilan Bi Ayu yang memecah renunganku.
Akupun menuju ruang keluarga, disana sudah duduk Papa, Mama, dan Bang Richi.
"Ada apa Pa?" tanyaku.
"Duduk Nak, kami mau bicara serius..." jawab Papa, dan akupun duduk disebelah Mama.
"Jadi begini Nak, kan Abangmu sudah membuktikan keseriusannya dalam mengelola Perusahaan, dan Papa sudah putuskan untuk disegerakan acara lamaran Abangmu dengan Rahmi, Kamu bantu untuk hubungi Rahmi ya, Ahad besok kita kesana..." ucap Papa.
"Oohh, Alhamdulillah oke Pa, Siap Laksanakan Tugas Besar...!!!" jawabku.
"Dan satu lagi Nak...Kamu ingat, dulu Papa pernah ngobrol serius dengan Om Niko teman Papa yang Dokter Bedah?" tanya Papa.
"Iya Pa, aku ingat..." jawabku.
"Jadi, waktu itu kami sedang membahas hal penting, yaitu kami telah bersepakat untuk menjodohkan Kamu dengan anak Om Niko itu...dan akhir tahun ini kalian akan ketemu dan bertunangan." ucap Papa lagi.
Akupun terdiam kaget...tidak satu patah katapun keluar dari mulutku, air mataku keluar dengan sendirinya, kacau balau dalam benakku...tidak pernah terbayang olehku, kenapa aku harus seperti ini...aku tidak mau perjodohan begitu...cuma di sisi lain, aku tidak bisa membantah orang tuaku.
"Ta....tapi Pa....aku......belum siap Pa....aku masih mau kuliah dulu..." jawabku terbata-bata.
"Kenapa belum siap? kan baru tunangan, nanti bisa saja setelah wisuda kalian menikah...ini hal yang tidak bisa ditawar lagi Sya, kalian akan tetap dipertemukan, bahkan akan bertunangan..." ucap Papa lagi.
__ADS_1
"Tapi Pa...huufff....aku tidak bisa membantah Pa, terserah Papa saja...aku tidak ada hak untuk menolak...aku hanya mau taat sama Papa saja...asal Papa Mama bahagia, aku akan jalani, meskipun bahagianya itu hanya bagi Papa dan Mama bukan bagi aku, permisi..." jawabku.
"Raisya, tunggu...!!!" ucap Bang Richi berusaha menahanku, tetapi aku tidak memperdulikannya.
Akupun berlari ke Kamarku, aku menangis sejadi-jadinya...kenapa aku begini...aku tidak sanggup jika harus dijodohkan dengan orang yang aku tidak cinta, bahkan kenalpun tidak...akupun menghubungi kedua sahabatku dan kami janjian di Taman Kota.
"Ada apa Sya? kok matamu bengkak, abis nangis ya?" tanya Nita.
"Lagian mendadak begini ngajak ketemuannya, pasti Kamu lagi ada masalahkan?" sambung Siska.
"Iya, kalian benar...aku mau cerita sama kalian...tapi aku bingung mau mulai dari mana..." jawabku.
"Ceritain aja semuanya Sya...apa gunanya kami jadi sahabatmu..." kata Nita.
Akupun menceritakan semuanya, semua tentang perjodohanku ini.
"Ya Allah...setahuku Papamu orangnya tidak suka memaksakan kehendaknya lho Sya...tapi sekarang kenapa begini...?" ucap Nita.
"Apa tanggapan Mamamu Sya?" tanya Siska.
"Mamapun setuju Sis, itu yang aku heran, kenapa yang biasanya Papa Mama selalu memperhatikan kebahagiaanku, gak mau lihat aku sedih, tapi sekarang seolah-olah semuanya tega terhadapku..." jawabku lagi sambil berderaian air mata.
"Kamu yang sabar ya Sya...kalo nanti Kamu kenapa-napa, segera kabari kami, kami juga gak mau sahabat kami kalo sampai tersakiti..." ucap Nita lagi.
"Iya, aku pasti akan hubungi kalian..." jawabku.
"Oh ya, apa Bayu tau masalah ini?" tanya Siska lagi.
"Gak, buat apa aku ceritain ke jodoh orang...aku gak mau lagi ganggu dia, biarin dia dengan orang pilihan orang tuanya...nasib kami akan berakhir sama...Ya Allah...kenapa jadi begini siihh..." jawabku dengan deraian air mata yang semakin banyak.
"Ya Allah...kasihan sekali Kamu Sya...dari awal kita kenal, Kamu yang paling ceria diantara kita, sekarang Kamu malah kebalikannya...kami sangat ngerasain apa yang Kamu rasain sekarang Sya...tapi aku yakin, pilihan orang tuamu pasti bukan orang sembarangan..." ucap Nita lagi.
"Ya semoga saja..." jawabku.
__ADS_1
***
Hari ini kami sekeluarga akan kerumah Kak Rahmi, untuk melamar Kak Rahmi, ternyata keluarga Kak Rahmi sangat ramai, dan rata-rata orang-orang hebat, ada yang Guru, Tentara, Dokter, Manager Bank, Pengusaha, dan sebagainya...kami dijamu dengan sangat ramah, dan Alhamdulillah acara lamaran berjalan dengan lancar, bahkan sesuai kesepakatan kedua belah pihak, hari itu juga dilangsungkan tunangan langsung, dan akan dilaksanakan pernikahannya tiga bulan lagi.
"Ayo Sya, Om, Tante, silahkan diambil lauknya, jangan sungkan..." ucap Kak Rahmi saat kami makan-makan setelah acara tunangan.
"Iya Kak...ini juga udah sesuai porsi aku kak...hehe" jawabku.
"Walaahh, dikit banget porsinya, diet yaa...takut kegemukan pas ketemu calon nanti...hehe..." ledek Kak Rahmi.
Akupun terdiam, kemudian tersenyum kecil.
"Kenapa Dek? jangan tersinggung ya, Kakak udah tau kok dari Abangmu, denger Kakak ya Sya, siapapun jodoh kita, itu bukan kita yang atur, mau Kamu cintanya si ini si itu, tapi kalo kata Allah dia bukan jodohmu, pasti bakal batal juga nikahnya, sebaliknya nih...kalo mislanya Kamu benci banget sama seseorang, tapi ternyata dia jodohmu, pasti kalian bakal nikah juga...percaya deh..." ucap Kak Rahmi lagi, tetapi aku masih diam.
"Gini deh, nanti abis acara, Kamu ikut Kakak yaa...Richi, Om Tante, aku boleh ya pergi sebentar sama Raisya nanti?" Kak Rahmi meminta izin.
"Iya silahkan Rahmi...Nasehati adikmu itu..." sahut Papa.
Akupun mengerutkan keningku...aku yang dizholimi kenapa seolah-olah aku yang menzholimi? fikirku dalam hati...tapi yaudahlah, lebih baik aku refreshing dulu sama Kak Rahmi, dari pada aku di rumah malah bikin aku tambah galau, fikirku lagi.
"Oke Kak, nanti kita jalannya berdua aja atau aku boleh ajak Nita sama Siska?" tanyaku.
"Terserah Kamu Sya...ajak mereka juga gak apa-apa, pasti lebih seru..." jawab Kak Rahmi.
"Oke Kak, aku telpon mereka yaa..." ucapku lagi, dan Kak Rahmi mengangguk...segera aku telpon Nita dan Siska, kamipun janjian di Taman Kota tempat biasa kami janjian.
Kak Rahmi memang ahli kalau urusan menaklukan hati, akupun takluk, dan mendengarkan setiap nasehatnya, akupun menceritakan alasan yang membuatku tidak siap untuk dijodohkan begini, dan Kak Rahmipun lagi-lagi berhasil membuat aku tersenyum kembali, setidaknya untuk saat itu...karena sebenarnya hatiku masih belum bisa menerima kenyataan ini.
Malam harinya, aku kembali merenung, apakah ini hari yang baik, atau justru hari buruk? dalam hatiku ada rasa bahagia karena acara Abangku berjalan dengan lancar, tapi di sisi lain, aku semakin galau karena berarti besok pagi, aku yang akan berjumpa dengan calon jodohku, siapa dia? baikah? sholehkah? setiakah? penyayangkah? atau jangan-jangan malah sebaliknya??? aku masih mau selesaikan kuliahku, tapi bagaimana kalo aku lagi-lagi dipaksa langsung nikah dan ternyata dia melarangku kuliah? apa aku harus membuang cita-citaku menjadi dokter? Yaa Allah...bantu aku...kenapa kehidupanku serumit ini....ucap batinku.
Bersambung...
Nantikan Episode berikutnya...jangan lupa Like, Komen, dan Vote nya ya Readers...🌹🌹🌹
__ADS_1