
Episode 32
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, sehari lagi hari yang dinanti-nantikan tiba...kami sudah sepakat untuk mengadakan Akad Nikah di rumah saja, sekaligus acara pesta pernikahan kami, tendapun sudah berdiri megah, undangan sudah disebar, Band Nasyid sudah disewa, semua perlengkapan sudah oke, tinggal sedikit dekorasi lagi.
Aku duduk termenung diatas bangku pelaminanku yang bergandengan dengan pelaminan Bang Richi...tiba-tiba...
"Hoooyy....ngapain bengong disini...besok Kamu bakalan duduk juga disini kok...haha...udah gak sabar yaa..." Bang Richi memecah lamunanku.
"Iihh...apaan sih Bang, cuma kecapekan aja tau..." jawabku beralasan.
"Capek? cuma liatin orang kerja aja kok capek...haha...besok jangan ketuker tempat duduknya yaaa...hahaha..." ucap Bang Richi.
"Iya lah, akukan udah request duluan, pokoknya aku yang ini, Abang yang itu, ngapain aku minta tuker...yeee....hahaha..." jawabku tertawa.
"Yaudah, masuk yuk, Papa Mama sudah nunggu tuh, kita makan malam dulu abis itu istirahat..." ajak Bang Richi.
"Iya Bang...oh ya Bang, enak ya kalo keluarga kita rame...tapi sayangnya kita gak punya saudara yang dekat...Mama anak tunggal, Papa punya saudara satu-satunya, udah meninggal juga...sepi deh kita...sepupu kita juga gak ada, saudara jauhpun gak ada yang dekat sini tinggalnya..." ucapku sedih.
"Kata siapa Kamu gak punya saudara? terus kami gak dianggap saudara nih?" tiba-tiba Nita menyahut dari belakangku.
"Waahh Nita...Siska...Ya Allah...Alhamdulillah aku masih punya sahabat serasa saudara..." akupun memeluk mereka berdua.
"Ayok makan dulu...Abang juga udah laper nih, udah pada nunggu..." ajak Bang Richi lagi.
"Iya iya....ayok Nit, Sis..." ucapku.
Kamipun masuk ke ruang makan, dan betapa kagetnya aku...
"Om Razan, Tante Hanum, Om Didi, Tante Dina, Reza, Feni...waaahhh.....kalian kapan sampai...kok gak ngabarin sih kalo mau kesini...Ya Allah...bahagianya aku, akhirnya kita rame..." ucapku kaget.
"Iya Nak, kami sengaja gak bilang-bilang, mau kasih kejutan sama Kamu...ayo sini kita makan dulu..." jawab Om Razan.
"Masa sih Kak Raisya mau nikahan kami gak dateng, gak mungkin banget deh...ya gak Bang Reza..." sambung Feni anaknya Tante Dina.
Kamipun makan bersama sambil berbincang-bincang karena sudah lama tidak bertemu, Om Razan adalah adik sepupu Papaku, Tante Hanum adalah istrinya, dan Bang Reza anaknya, Bang Reza anak tunggal, umurnya gak terlalu jauh dariku, kami selisih satu tahun setengah. sedangkan Tante Dina adik sepupu Mama, Om Didi suaminya, dan Feni anaknya, Feni juga anak tunggal, kalo usia Feni empat tahun dibawahku. Kami memang sangat jarang kumpul begini, karena kami tinggal di Kota berbeda, meskipun masih dalam satu Provinsi, paling kumpulnya saat Lebaran saja, makanya aku sedikit tidak percaya jika ternyata mereka menyempatkan diri untuk datang kesini.
"Kak Raisya, malam inikan terkahir Kakak single nih, aku tidur sama Kakak yaa...hehe..." ucap Feni.
"Hmmm...boleh...tapi kita rame-rame yaa, Nita sama Siska juga nginep..." jawabku.
__ADS_1
"Gak apa-apa Kak, enak dong rame...makasih Kakakku cantik..." ucap Feni dan dia langsung memelukku.
Setelah makan malam, kamipun lanjut duduk di taman belakang, sedangkan Bang Richi dan Bang Reza ikut membantu tukang dekorasi memasang beberapa hiasan lagi.
"Raisya, Richi...jangan malam-malam banget tidurnya, inget besok kalian harus fit lho Nak...." panggil Mama.
"Iya Ma bentar lagi..." jawab Bang Richi.
"Aku tenangin perutku dulu Ma, makan tadi semangat banget, sampe kekenyangan jadinya...hehe..." jawabku.
"Yaudah, Mama istirahat duluan ya..." ucap Mama yang langsung berjalan meninggalkan kami menuju kamar beliau, dan kamipun mengiyakan.
"Gimana perasaanmu sekarang Sya?" tanya Nita.
"Hmmm...gimana yaa, bisa dirasain tapi sulit diceritain Nit..." jawabku.
"Bentar lagi juga Kamu ngerasain Nit...haha..." sambung Siska.
"Mudah-mudahan aja...sebenernya aku juga masih merasakan hal antara percaya dan tidak percaya sama kejadian ini...tapi ini jalan takdir dari Allah buatku..." jawab Nita.
"Ya bagus dong Nit, sekarang tinggal aku sendiri yang belum jelas..." ucap Siska.
"Iya Sya...mudah-mudahan Allah pertemukan dengan yang terbaik, Sholeh, ganteng, penyayang, romantis, kaya, keturunan baik-baik...waaahh lengkap deh...." ucap Siska menghayal.
"Kalo ada yang sempurna begitu, dari seribu orang paling cuma satu Sis, saingan Kamu banyak banget berarti...hahaha..." sambung Nita.
"Yaudah, kita aamiinin aja...semoga Allah tunaikan hajatnya Siska..." jawabku.
"Aamiin...pokoknya kalo Kamu nanti nikah, aku kasih kado spesial deh Sis..." lanjut Nita.
"Seriusan ya Nit...aku tunggu lho kadonya..." jawab Siska.
"Iya...yang penting jangan sampe lupa kabarin kami...nanti mentang-mentang lagi happy, eehh sahabat lupa...ya gak Sya..." ucap Nita.
"Iya Nit...kalo sampe lupa, waahh...gak bakal deh aku anggap saudara lagi...haha..." jawabku lagi.
"Gak bakalan dong...bahagiaku, bahagia kalian juga kan..." jawab Siska.
"Naahh...mantap tuh..." ucap Nita.
__ADS_1
"Udah yuk, istirahat...ngantuk nih..." ucapku.
"Ciyee...pengantin baru udah ngantuk...hahaha..." ledek Nita.
"Belom...masih calon...hahaha..." jawabku
"Yaudah, yuk..." sambung Siska, dan kamipun langsung masuk kamar.
Setiba di kamar, Sepupuku Feni, juga sahabatku Siska dan Nita langsung tertidur...tetapi tidak denganku, aku yang tadinya mengajak mereka istirahat karena aku mulai terkantuk, tetapi saat ini mataku tidak bisa dipejamkan, setiap aku mencoba memejamkan mataku, jantungku langsung berdetak kencang...entah kenapa aku gelisah malam itu.
Malam ini begitu panjang terasa bagiku, waktu sangat lama berjalan, aku melalui waktu dengan kegelisahan sampai jam dinding kamarku berbunyi tanda waktu sudah menunjukan pukul 00.00 WIB, sedangkan aku masih belum bisa tidur.
"Kenapa aku jadi gak bisa tidur ya..." gumamku dalam hati.
"Ya Allah, mana sudah tengah malam begini, bisa-bisa aku ngantuk nih acara besok...bantu aku untuk tidur Ya Allah..." ucapku lagi.
Merasakan kegelisahanku yang tidak karuan, Nitapun terbangun.
"Kamu belum tidura Sya?" tanya Nita yang melihat aku berbaring tetapi sambil memutar badan ke kiri dan ke kanan.
"Belum Nit, gak tau nih, padahal tadi ngantuk banget, tapi sekarang malah gak bisa tidur..." jawabku.
"Ya Allah, Raisya... Kamu harus fit lho besok...kalo Kamu gak tidur nanti Kamu lemas pas acara gimana dong?" tanya Nita lagi.
"Aku udah berusaha Nit, tapi setiap aku memejamkan mata, jantungku berdebar kencang." jawabku.
"Hmmm...yaudah, aku temani Kamu sampe Kamu tidur ya..." ucap Nita.
"Gak usah Nit, Kamu istirahat aja gih, aku mau Sholat Sunnah dulu, mungkin setelah itu aku bisa tidur..." jawabku.
"Yaudah deh, tapi setelah Sholat Kamu langsung istirahat ya..." ucap Nita lagi.
"Iya Nit..." jawabku dan aku langsung ke kamar mandi untuk berwudhu', sedangkan Nita kembali tidur...setelah itu aku mendirikan Sholat Sunnah 4 rakaat, berdzikir sejenak, dan membaca Al-Qur'an beberapa halaman, sampai akhirnya akupun mulai mengantuk.
Waktu saat ini sudah menunjukan pukul 01.00WIB, akupun segera berbaring di kasur, dan setelah berdo'a akupun memejamkan mataku sambil aku berdzikir dalam hatiku, dan akhirnya akupun tertidur, Alhamdulillah...
Bersambung...
Nantikan Episode berikutnya yang pastinya semakin membuat penasaran, yuk dukung terus karya kami, dengan memberikan Like, Komen, dan Vote nya...terima kasih...😉🙏🌹🌹🌹
__ADS_1