
Episode 20
POV Raisya
Hari ini aku tidak menjemput Nita dan Siska, karena justru mereka yang pagi-pagi sudah sampai di rumahku, meski aku merasa heran, tapi ya gak masalah deh...kamipun diantar Mang Odi ke Sekolah seperti biasanya.
"Raisya, nanti kita jam istirahat sama pas pulang barengan yaa..." ucap Siska.
"Lah, kan biasanya emang begitu...kenapa emang Sis?" tanyaku heran.
"Ya mungkin Siska takut gak bakal ditraktir lagi kali...ya kan Sis..." sambung Nita.
"Iya Sya, cuma mau ngingetin aja kok...hehehe..." jawab Siska.
"Kok mereka agak aneh ya." fikirku dalam hati.
"Yaudah nanti aku susul ke kelas kalian..." jawabku.
"Kami aja yang ke kelas Kamu Sya..." ucap Nita.
"Oh, yaudah gimana baiknya aja deh..." lanjutku heran.
Sesampai di sekolah, mereka berdua menemaniku sampai aku masuk kelas, bahkan benar yang dikatakan mereka, begitu bel jam istirahat berbunyi, mereka sudah menungguku di depan kelasku.
"Laahh cepet banget, kalian keluar duluan sebelum bel bunyi ya?" tanyaku.
"Enggak kok Sya, tadi pas bunyi aku langsung kesini, kan kelas kita sebelahan...haha..." ujar Nita.
"Iya juga yaa...tapi Siska kelasnya kan di sana, kok bisa cepat juga kesininya?" tanyaku curiga.
"Hmm tadi aku izin ke Toilet, pas balik belnya bunyi, jadi gak ke kelas lagi deh, langsung kesini...hehe..." jawab Siska.
"Kalian gak bohongin akukan? kok kaya ada yang aneh deh..." ucapku.
"Ya enggak lah Sya...yaudah ke taman yuk..." sambung Nita cepat.
Meski aku sedikit penasaran dengan tingkah mereka, tapi aku mencoba tetap tenang, biar aku cari tahu sendiri nanti.
Saat duduk di taman kami tidak banyak berbincang, akhirnya aku atur siasat, aku hidupkan perekam suara HPku, aku masukan kedalam tas.
"Kalian ngobrol aja dulu, aku mau ke toilet sebentar..." ucapku.
"Eehh kami temani ya?" tanya Siska.
__ADS_1
"Lah, udah kaya anak kecil aja buang airnya ditemani...tunggu aja disini, orang aku mau buang air kok...malu-maluin aja...haha...yaudah yaa...bentar...." ujarku sambil meninggalkan mereka dan menuju Toilet.
Sekitar lima menit aku diam di toilet, dan aku segera balik ke tempat mereka.
"Maaf ya lama, abis mules banget...yaudah kita masuk yuk..." ucapku dan kami segera balik karena bel sudah berbunyi.
***
"Aku balik yaa, bye teman-teman..." ucapku meneruskan perjalanan pulangku setelah menyinggahi mereka seperti biasa.
"Mang Odi, Mamang liat ada yang aneh gak dari kedua sahabatku tadi?" tanyaku.
"Iya sih Non, tadi pagi juga agak aneh rasanya...kaya ada yang disembunyiin dari Non, biasanya gak begitu..." jawab Mang Odi.
"Hmmm aku juga merasakan hal yang sama Mang..." ujarku.
Setiba di rumah aku segera ke kamarku, setelah bersih-bersih, aku langsung mengambil HP dan rebahan di kasurku, dan akupun membuka hasil rekaman tadi, dan benar, rencanaku berhasil, terdengar jelas obrolan mereka.
"Eh Sis, Kamu hati-hati dong, jangan terlalu tekanin Raisya, nanti dia curiga..." suara Nita.
"Hehe...maaf deh, abisnya aku takut banget kalo sampe beneran Desi itu nyerang Raisya..." suara Siska..
"Iya sih, tapi kita jangan buat Raisya curiga ya..." suara Nita.
"Tapi jujur juga Bayu ngomong kalo dia...eh itu Raisya, diem aja, pura-pura gak ada masalah aja ya..." suara Nita.
"Maaf ya lama, abis mules banget, yaudah kita masuk yuk..." suaraku sendiri.
Aku termenung memikirkan maksud obrolan mereka, kenapa Desi mau serang aku? dan Bayu jujur apa ke mereka berdua...dua hal itu terngiang-ngiang dalam kepalaku sampai akupun tertidur.
***
Besoknya, lagi-lagi mereka sudah sampai di rumahku pagi-pagi...
"Kenapa gak nginep disini aja kalian? atau sahur disini...hahaha..." ucapku bercanda.
"Boleh juga tuh, besok deh...hahaha..." jawab Siska tertwa.
"Yuk jalan..." ujarku lagi.
Setiba kami di Sekolah, benar yang dikatakan mereka dalam rekaman itu, Desi dengan beberapa temannya sedang duduk di parkiran dan menunjuk mobilku, akupun berusaha tenang seolah-olah belum tahu rencana mereka, setelah kami turun, Mang Odi langsung pulang, sedangkan kedua temanku terkejut melihat Desi dan teman-temannya.
"Sya, kita lewat sana aja yuk..." Siska mengajak kami lewat jalan lain yang justru lebih jauh untuk menuju kelas.
__ADS_1
"Ngapain, biasanya juga lewat sini..." jawabku seolah tidak tahu kalau Siska sudah khawatir.
"Lewat sana aja deh, aku mau ke Perpustakaan dulu..." ucap Siska lagi beralasan.
"Yaudah Nita aja yang temani Kamu Sis...aku ke kelas dulu yaa..." jawabku.
"Jangan Sya, please...itu Desi mau berbuat jahat sama Kamu..." ucap Siska yang akhirnya jujur.
"Udah tau kok, gak usah kalian tutupin lagi dari aku...yuk maju, ngapain takut kalo kita gak salah..." jawabku, dan merekapun tidak bisa mengelak lagi, akhirnya kami berjalan ke kelas lewat tempat Desi dan teman-temannya duduk...
"Heh, culun...sini kalian..." ucap Desi.
"Maaf, kami punya nama Kak, aku Raisya, ini Siska, dan ini Nita...kami mau ke kelas dulu ya kak, permisi..." jawabku.
"Heeh...mau siapa kek nama kalian, sini dulu, enak aja kalian mau pergi begitu aja, kalian fikir gue ini dari tadi duduk disini cuma buat liatin kalian lewat, gue mau buat perhitungan sama Lo cupu..." bentak Desi.
"Masalah apa lagi sih? ini bulan Ramadhan, bulan penuh Rahmat, Ampunan, dan Berkah, apa lagi yang mau diributin, mending kita sama-sama tingkatin Iman dan Amal kita selama Ramadhan ini..." jawabku tenang.
"Halaahh...munafik Lo...gak usah ceramahin gue deh Lo...najis tau gak Lo..." bentak Desi lagi.
"Alhamdulillah sebelum berangkat tadi aku sudah mandi Kak, jadi najis di badan sudah gak ada, dan aku belajar berpuasa supaya najis di hatipun hilang...coba deh Kakak puasa, nikmat lho, dari pada makan permen gitu sambil marah-marah, nanti keselek lho Kak..." ucapku yang melihat Desi ternyata sedang menghisap permen dalam mulutnya.
"Maksud Lu apa? Lu bilang hati gue bernajis gitu, berani Lu ya...dasar munafik Lu..." ujar Desi dengan marah dan menarik jilbabku.
Hampir saja jilbabku lepas, untung saja kedua temanku langsung menarik Desi dan aku menahan jilbabku. Kedua temanku akhirnya ditarik oleh teman-teman Desi.
"Heh, kalian lepasin mereka, mereka gak ada urusannya sama masalah ini, dan kalian jangan ikut campur masalah ini..." ucapku pada teman Desi.
"Berani Lu ngatur temen-temen gue ya..." bentak Desi.
Desipun lagi-lagi mau menarik jilbabku, tetapi aku berhasil menghindar dan justru malah membuat Desi tersungkur...melihat Desi jatuh, kedua temanku tertawa, tetapi aku tidak, justru aku mengulurkan tanganku hemdak membantunya berdiri.
"Sini Kak, aku bantu berdiri." ucapku.
"Gak usah sok baik Lu, Lu seneng kan gue jatoh begini...udah Lu ambil pacar gue, sekarang Lu permalukan gue begini, sialan Lu yaa..." ucap Desi sambil meringis kesakitan.
"Astaghfirullah Kak, aku gak pernah rebut Kak Bayu, justru aku mentah-mentah menolak yang namanya pacaran...mesti aku bilang berapa kali coba...Sadar Kak, Allah sedang menegur Kakak saat ini, karena memfitnah aku, dan mencoba merusak kemuliaan seorang muslimah, karena hendak membuka jilbabku...jangan sampai Allah berbuat lebih buruk sama Kakak, aku gak mau Kak, kalo Kakak gak terima diputusin Kak Bayu, kalian selesaikan berdua, jangan bawa-bawa aku dan teman-temanku...sini aku bantu berdiri..." ujarku dan langsung aku memapah Desi untuk berdiri.
"Heeehhh....ngapain kalian...jangan macem-macem kalian yaa..." terdengar suara Bayu yang menghampiri kami.
"Tuh Kak Bayu sudah datang, silahkan kalian selesaikan berdua, kami ke kelas dulu, permisi..." ucapku dan kamipun meninggalkan mereka.
Bersambung...
__ADS_1
Nantikan Episode Selanjutnya, dan jangan lupa Like, Komen, dan Vote nya ya Readers...🌹🌹🌹