"Kebetulan Apa Takdir...?"

"Kebetulan Apa Takdir...?"
Dokter Cantik, Kak Rahmi


__ADS_3

Episode 5


Setelah kami berbincang-bincang, aku pamit untuk Sholat Duha, dan kedua sahabatku juga ikut denganku ke Musholla untuk Sholat Duha.


Selesai Sholat, kami kembali ke ruangan Mama...tiba tiba...


"Raisya...gimana keadaan Mamamu..." panggil Om Niko.


"Eh, Om Niko...Alhamdulillah Om udah baikan...mungkin nanti udah boleh pulang, tapi kurang tau sih, mudah mudahan saja..." jawabku.


"Alhamdulillah, kalo nanti diperiksa Dokter ternyata aman, ya berarti siang ini sudah boleh pulang...." lanjut Om Niko.


"Iya Om, bantu do'a ya Om...oh ya Om Niko Dokter apa Om, kenapa gak Om saja yang periksa Mama?" tanyaku lagi.


"Om Dokter Spesialis Bedah sih, emang luka kecelakaan itu termasuk bedah, tapi biasanya kalo kondisi begini Dokter di IGD itu yang menangani, walaupun tetap berkonsultasi dengan Dokter Bedah, cuma karena Om kemarin juga baru sampai Indonesia, jadi bukan Om Dokter Bedah yang jahit kepala Mamamu...gak masalah kok, Dokter Dokter disini ahli dalam bidangnya masing masing..." lanjut Om Niko.


"Ooh begtu ya Om...keren juga ya jadi Dokter, bisa bantu banyak orang..." ucapku.


"Ya Alhamdulillah...tapi kalo Kamu mau jadi Dokter, jadilah Dokter Kandungan, karena Dokter Kandungan rata-rata laki-laki, jarang yang wanita...sedangkan pasiennya ya pasti wanita...ya walaupun dalam kondisi darurat begitu sih boleh dalam Syariat Islam, akan tetapi biar lebih baik, ya ditangani wanita juga, bagaimanapun aurat ya tetap aurat..." lanjut Om Niko.


"Iya Om, mudah mudahan aku bisa jadi Dokter Kandungan Om...biar bisa bantu bayi lucu mungil keluar dari perut ibunya...hahaha" jawabku tertawa membayangkannya.


"Haaaahh...Kamu aja liat darah sama jarum takut Sya..." ejek Nita.


"Yang ada Dokternya pingsan duluan...hahaha..." sambut Siska.


"Iiiihhh....gak gitu juga kali, bedalah antara lagi panik, sama udah persiapan...weekk..." jawabku ngeles.


"Semua bisa karena biasa, nanti lama lama juga bisa kok Sya, tenang aja..." Om Niko menyemangati aku.


"Tuuuuhhhh kaaannn....seharusnya kalian support dong, nanti kalo kalian lahiran, aku yang bantu, tenang aja, gratiiiss...hahaha...." aku tertawa bersemangat.


Kamipun berpamitan dan segera kembali ke ruangan Mama.


***


Tidak lama kami sampai di ruangan Mama, Dokter yang kemarin menjahit kepala Mama beserta 2 orang Perawat datang, dan langsung memeriksa keadaan Mama.

__ADS_1


"Alhamdulillah kondisi Ibu sudah jauh lebih baik, dan nanti siang setelah diperiksa akhir, Ibu boleh pulang, dengan catatan, hasil pemeriksaan akhir nanti kondisi Ibu tetap seperti ini bahkan mesti lebih baik lagi ya Bu Jihan..." ujar Dokter Cantik yang aku lihat dari Name Tagnya tertulis Dr.Rahmi, menjelaskan kepada Mamaku.


"Alhamdulillah..." jawab Mama.


"Setelah ini Mbak bisa ke ruangan saya ya, di sana..." ujar Dokter Rahmi kepadaku sambil menunjuk sebuah ruangan dekat IGD.


"Baik Dokter......Rahmi..." Ucapku sambil melihat lagi Name Tagnya khawatir salah saat menyebut namanya.


Dokter Rahmipun tersenyum dan pamitan untuk langsung keluar.


Aku segera telepon Papa untuk memberi tahu kalau siang ini Mama sudah boleh pulang, tapi setelah beberapa kali di telpon, tidak ada jawaban.


"Ga diangkat ya Nak? biarin aja dulu, Papa mungkin masih meeting, karena ini Proyek besar, Skala Internasional kata Papamu beberapa hari yang lalu...jadi Perusahaan Papa mau bekerjasama dengan perusahaan besar dari luar negeri, dan nanti produk-produk kita akan dipasarkan di beberapa Negara..." ucap Mama.


"Alhamdulillah...akhirnya perjuangan Papa makin melejit...semoga sukses deh...biar Papa makin banyak memberi manfaat untuk orang banyak...." jawabku merasa bahagia.


"Aamiin...!!!" sahut Mama dan kedua sahabatku.


"InsyaAllah Sya...kalo untuk yang baik, pasti Allah mudahkan...apalagi Papamu paling Hobby yang namanya sedekah, iyakan...dengan amal baik begitu, disokong dengan usaha yang baik, pasti hasilnya baik...apalagi produk-produk Papamu bagus berkwalitas...liat aja nih mukaku jadi cantik begini abis pake krim yang kamu kasih itu..." lanjut Nita sambil mengelus-elus wajahnya.


"Hahaha..." kami bertiga tertawa ria, sedangkan Mama hanya tersenyum manis melihat kami.


Oh iya, jadi perusahaan Papaku itu bergerak dibidang Industri Produk Herbal Kesehatan dan Kecantikan, dan Alhamdulillah sudah tersebar luas hampir di seluruh Kabupaten Kota di Indonesia.


***


Kriing kriiing...tiba tiba ponselku berbunyi.


"Assalamu'alaikum Papa Sayang..." ucapku mengangkat telpon dari Papa.


"Wa'alaikumussalam Nak, tadi kamu telpon Papa ya, maaf ya Nak Papa tadi masih meeting, ada apa Nak? apa ada kabar tentang Mama?" tanya Papa dari balik telepon.


"Ya Pa, ga apa-apa kok, aku cuma mau kabarin Papa, kalo nanti siang InsyaAllah Mama udah boleh pulang Pa, tapi masih ada satu kali pemeriksaan sebelum pulang, kalo hasilnya tetap baik, bahkan lebih baik, baru boleh pulang...dan abis ini aku mau ke ruangan Dokternya Pa, mungkin abis itu sekalian urus ADM nya Pa..." jelasku.


"Alhamdulillah...yaudah Nak, abis ini Kamu ke ruangan Dokternya, dengarkan dengan baik penjelasan Dokternya, Papa yakin Kamu anak cerdas pasti bisa memahami perkataan Dokter...Papa akan kesana sesegera mungkin untuk selesaikan pembayaran dan anter kalian pulang..." jawab Papa.


"Oke Papa, hati-hati dijalan ya Papa...aku gak mau Papa kenapa-napa lhoo Pa..." lanjutku.

__ADS_1


"Iya Nak, do'ain aja...udah yaa...Assalamu'alaikum..." jawab Papa mengakhiri telpon.


"Papa mau kesini Nak?" tanya Mama.


"Iya Ma, Papa udah selesai meeting kok, aku ke ruangan Dokter Rahmi dulu ya Ma..." jawabku sambil berdiri hendak ke tempat Dokter Rahmi.


"Kami ikut ya Sya..." pinta kedua sahabatku, dan akupun mengangguk setuju.


***


Tok tok...


"Ya masuk..." ucap Dokter Rahmi


"Assalamu'alaikum Buk Dokter, maaf baru kesini, tadi aku telpon Papa dulu...hehe..." aku memasuki ruangan.


"Wa'alaikumussalam, iya gak apa-apa Mbak, silahkan duduk..." jawab Dokter Rahmi.


"Baik Buk, oh ya Buk, panggil aja aku Raisya Buk, aku baru mau masuk SMA kok, ketuaan kalo dipanggil Mbak...hehe..." lanjutku sambil duduk di kursi depan meja beliau, begitu juga sahabatku.


"Ooh, Raisya, nama yang cantik, persis seperti orangnya, beruntung orang tuamu punya anak sepertimu...kalo begitu biar akrab, panggil aja aku Kak Rahmi, aku belum ibu-ibu...hehe" ujar Dokter Rahmi meleburkan suasana.


"Jadi begini, kondisi Mamamu sudah membaik, akan tetapi ingat, jangan biarkan Mamamu banyak bergerak dulu, biarkan beberapa hari ini beliau istirahat, dan juga lebih diperhatikan lagi, jangan sampai kepalanya terbentur, terutama bagian yang pernah luka itu. Memang sekarang hanya luka, tetapi sel dan jaringan yang terluka di kepala, itu lumayan beresiko, karena banyaknya syaraf-syaraf di sana. bahkan jika syaraf sudah mulai rusak, untuk berfikir agak lamapun akan menimbulkan rasa nyeri di kepala. Saya yakin, Kamu anak cerdas, pasti mengerti perkataan saya dan bisa untuk menjaga Mamamu sebaik mungkin, dan setelah ini, kalian bisa selesaikan Administrasinya di Ruang Administrasi dan ambil obat yang akan saya resepkan di Apotek sebelah sana." Dokter Rahmi menjelaskan panjang lebar dan menunjuki arah Apotek Rumah Sakit.


"Baik Buk Dokter, eehh...Kak Rahmi...insyaAllah aku akan jaga Mama sesempurna mungkin...terima kasih ya Buk Dokter, eh salah lagi, Kak Rahmi...hehe." jawabku yang masih segan panggil beliau Kakak.


"Iya sama-sama Raisya, oh ya satu lagi, nanti ada kartu untuk Mamamu Check Up 2 minggu lagi, jangan lupa di bawa kartunya ya, agar kami bisa memantau kondisi kepala Mamamu..." lanjut Dokter Rahmi.


"Baik Kak, kalo gitu kami keluar dulu ya Kak...Assalamu'alaikum..." ucapku berpamitan.


"Ya, Wa'alaikumussalam..." jawab Dokter Rahmi.


Kamipun segera kembali ke kamar Mama, dan merapikan barang-barang kami, dan menunggu Papa menjemput kami.


Bersambung...


Nantikan Episode berikutnya...jangan lupa Like, Komentar, dan Vote nya ya Readers...🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2