"Kebetulan Apa Takdir...?"

"Kebetulan Apa Takdir...?"
Rindu Ketiga Suadaraku.


__ADS_3

Episode 18


Di kantin kami merayakan kenaikan kelas kami dan peningktan prestasi Siska, serta atas rasa syukur karena Allah telah berikan aku kesempatan menjadi Juara Umum, tapi kali ini Nita tidak mau jika aku yang mentraktir mereka, Nita maunya dia yang mentraktir aku dan Siska.


"Udah, pokoknya jangan takut, hari ini aku yang bayarin kalian berdua...kalian makan sepuasnya...oke okee....." ucap Nita.


"Oke deehh...kita mah kalo yang namanya makan ya gass full dong...hahaha..." jawab Siska.


Kamipun tertawa bersama, tidak lama menunggu, makananpun tiba, kami segera memakan makanan kami, sedang asyik makan, Wahyupun datang menghampiri kami.


"Assalamu'alaikum...boleh gabung yaa..." sapa Wahyu.


"Wa'alaikumussalam..." jawab kami.


"Boleh Yu, gimana hasil Rapor Kamu Yu?" tanya Nita.


"Ya Alhamdulillah lumayan...tapi tetap saja belum bisa menyaingi kalian...hehehe..." jawab Wahyu.


"Gak pinter-pinter banget juga sih...biasa aja..." sambung Siska.


"Ya tapi tetep lebih dari aku..." ucap Wahyu.


"Makanya fokus aja belajar dulu, jangan mikir pacaran dan lain-lain...nanti baru prestasi bisa naik..." sambungku tanpa menoleh kepada Wahyu.


"Hmmm...iya...makasih masukannya..." jawab Wahyu.


"Ya, biasa aja...oh ya semuanya, aku tinggal ke kamar mandi dulu ya..." ucapku sambil berlalu meninggalkan mereka ke kamar mandi.


"Jangan lama-lama ya Sya...kita balik bareng lhoo..." ujar Nita.


"Sipp..." jawabku dan mengacungkan jempolku.


***


Selesai kami makan, kami langsung ke parkiran menunggu Mang Odi, dan tidak lama kami sampai, Mang Odi juga sampai, dan kami segera naik mobil.


"Sya...kok diem aja sih..." sapa Siska yang mengejutkan aku ketika sedang termenung.


"Haa...gak apa-apa kok..." ujarku.


"Gak apa-apa tapi bengong gitu...kenapa Sya...cerita lah..." ucap Nita.


"Aku lagi kangen seseorang..." ucapku.


"Siapa? Kak Bayu yaa..." sambung Siska.


"Iihh...apaan sih Sis...sembarangan...bukanlah, siapa dia..." jawabku.


"Hahaha...becanda doang...ya terus siapa dong?" tanya Siska lagi.

__ADS_1


"Bang Richi...entah kenapa tiba-tiba aku keingetan Bang Richi...." jawabku sedih.


"Kenapa gak ditelpon aja Sya?" tanya Nita juga.


"Nantilah pas di rumah...udah deket, tanggung...kalo udah ngobrol nanti lama..." jawabku.


"Oh ya Sya, aku boleh tanya gak?" ucap Nita lagi.


"Boleh dong Nit, kaya apa aja Kamu..." jawabku.


"Maaf ya sebelumnya, Kamu jangan marah atau tersinggung yaa..." ucap Nita.


"Iya Neng, mau tanya apaaaaa......???" ujarku lagi.


"Kok jarak umur Kamu sama Bang Richi jauh banget sih?" tanya Nita.


Akupun terdiam mendengar pertanyaan Nita, dan tidak terasa air mataku berlinang.


"Sya...aku salah tanya yaa...maaf ya Sya...udah lupain aja...Kamu jangan nangis dong Sya..." ujar Nita.


"Hmmm...gak kok Nit, Kamu gak salah...aku cuma terlalu bawa perasaan..." jawabku sambil menyeka air mataku.


"Kalo Non Raisya gak sanggup certain ya gak usah Non...atau Mamang yang bantu cerita?" ujar Mang Odi.


"Gak usah Mang...kami udah bersahabat empat tahun, tapi mereka belom ada yang tau hal ini, biar aku aja yang ceritain Mang..." jawabku.


"Jadi sebenarnya aku ini empat bersaudara...Bang Richi anak pertama, kemudian anak kedua Kakak perempuanku, dan ketiga Kakam laki-laki, keempat baru aku...jarak kami rata-rata tiga tahun...makanya jarak umur Bang Richi sama aku jadi sepuluh tahun..." ucapku.


Lagi-lagi air mata ini gak bisa kubendung...meski tanpa isak tangis, tetapi air mata tetap mengalir di pipiku...dan akupun tidak sanggup bercerita di mobil, maka aku tahan ceritaku sejenak.


"Nanti aku ceritain, kita duduk di taman saja biar suasananya tenang..." jawabku.


"Kalo berat buat cerita, ya gak usah Non..." ucap Mang Odi lagi.


"Iya Sya...gak usah deh..." lanjut Siska.


"Gak lhoo...kan udah aku bilang, sudah waktunya kalian kenal keluargaku..." jawabku.


***


"Bi Ayu, tolong buatin minuman sama bawain kue ke belakang ya Bi, kami mau santai dulu di taman belakang..." ucapku kepada Bibi Ayu.


"Siap Laksanakan Non...!!! hehehe..." jawab Bi Ayu tersenyum.


Kamipun tertawa dan langsung ke taman belakang rumahku, setiba disana tidak satupun dari mereka yang mau memulai bertanya, kami hanya diam saja, aku memperhatikan mereka seperti enggan untuk bertanya, saat aku lihat Nita, dia langsung menunduk, saat aku lihat Siska, dia langsung melihat HPnya, sampai Bi Ayu datang dan menyuguhkan minuman hangat lengkap degan beberapa cemilan.


"Silahkan Non..." ucap Bi Ayu.


"Iya Bi, makasih ya Bi..." jawabku.

__ADS_1


Merekapun masih diam...


"Hoyy...kok pada diem...ayo minum..." ujarku pada mereka.


"Eehh...iya Sya..." jawab Nita dan langsung mengambil cangkir.


"Kalian kenapa pada diem? katanya mau tau ceritanya..." tanyaku.


"Gak usah Sya, kami gak mau Kamu sedih..." jawab Siska.


"Gak kok...santai aja...jadi begini...Sewaktu Bang Richi berumur tiga tahun, Mamaku melahirkan Kakak perempuanku, namanya Kak Rahmi, tetapi Allah sayang sama Kakakku, Allah gak mau Kakak lama-lama di dunia yang penuh ujian berat ini, akhirnya dalam waktu 7 hari, tepat di hari Aqiqah Kak Rahmi, Allah menjempunya, Kakaku meninggal dalam usia 7 hari...begitu juga dengan Abang keduaku, namanya Bang Rahmat, tapi seenggaknya, Bang Rahmat lebih lama, tepat di hari ulang tahunnya yang kedua, Abangku berlari keluar rumah saat bermain mobil-mobilan hadiah ualng tahun dari Papa, sempat dikejar oleh Papa dan Mama, tapi sayangnya, Abangku gak sempat terkejar, dan sebuah mobil kencang pas lewat depan rumahku...dan akhirnya, Papa Mama hanya bisa menangis memangku jasad Abangku yang bersimbah darah..." aku bercerita panjang sambil bercucuran air mata, begitu juga kedua sahabatku yang mendengarkan sambil menangis.


"Udah Sya...jangan dilanjutin lagi..." ucap Nita menghentikanku, tapi aku tidak memperdulikannya.


"Sempat Mama Trauma untuk hamil lagi, dan berencana untuk tidak mau lagi memiliki anak jika harus diambil lagi dengan cepat oleh Allah...tapi Papa berhasil menenangkan Mama, dan empat tahun setelah kejadian itu, akupun lahir...dan aku tau cerita inipun juga dari Mamaku...makanya aku sangat bahagia bisa kenal kalian...seperti lengkap saudaraku...walaupun kita seumuran dan kita semua perempuan, sedangkan aku sebenarnya punya dua abang satu kakak kan...tapi kalian udah jadi pelengkap sebagai pengganti Kakak dan Abangku..." lanjutku.


Kamipun berpelukan sambil menangis...sesaat kemudian, kami dikejutkan dengan deringan HPku pertanda ada telpon masuk.


"MasyaAllah...Allah Maha Tahu dengan apa yang difikirkan Hamba-Nya...Bang Richi telpon...bentar ya teman-teman..." ucapku sambil menyeka air mataku dan segera mengangkat telpon.


"Assalamu'alaikum Bang...Abang apa kabar...?" tanyaku membuka obrolan.


"Wa'alaikumussalam...Alhamdulillah abang baik-baik aja...Kamu gimana sayang?" Bang Richi bertanya balik.


"Alhamdulillah Bang...Abang tau gak, aku tu lagi kangeeeen banget sama Abang, eehh Allah kabulkan do'a aku, Abang langsung telpon...hehe..." ucapku bahagia.


"Hehe....iya dek, abang juga kangen banget sama Kamu, kangen bawelnya Kamu, manjanya Kamu, haha...tapi lebih kangen sama Papa Mama dong...weekk...hahaha..." jawab Bang Richi mengejekku, dan kedua sahabatku yang mendengar langsung tertawa, karena memang sengaja aku loadspeaker.


"Iihh Abang...iyalah Abang pasti lebih kangen Papa Mama...tapi jangan bawa-bawa aib aku dong, ada temen-temen aku nih...bikin malu aja...hmm..." ucapku.


"Biasa aja lah Sya...ya kan Nit...hahaha..." ujar Siska, dan Nita mengangguk.


"Teman-teman Raisya sekelas sama Raisya gak?" tanya Bang Richi kepada dua sahabatku dari balik telepon.


"Sekarang enggak Bang, dulu waktu SMP iya..." jawab Nita.


"Oohh kalian udh berteman dari SMP, waahh udah lama juga gak pulang ke Indonesia yaa...udah empat tahun aja...haha..." ucap Bang Richi.


"Makanya pulang Bang...aku kangeenn....gak cukup kalo cuma via telpon, sama Video Call..." Sambungku.


"Iya, Do'ain abang ya dek...semoga abang cepat selesaikan semuanya...banyak-banyak berdo'a deh..." ucap Bang Richi.


"Iya Abangku Sayang...aku selalu do'a buat Abang, biar Abang segera selesai Khatam, dan Abang buka Pesantren disini, Papa Mama pasti bangga banget...Abang pasti bisa...aku yakin..." jawabku.


"Aamiin... udah dulu ya dek, ada Masyaikh yang panggil Abang...salam buat Papa Mama...Assalamu'alaikum..." ucap Bang Rici mengakhiri telepon.


"Wa'alaikumussalam Bang..." jawabku.


Selesai telepon kuletakkan, suara Azan Ashar terdengar, karena memang Rumahku bersebelahan dengan Masjid, kamipun segera berberes dan menuju Masjid.

__ADS_1


Bersambung....


Nantikan Episode Berikutnya, dan jangan lupa Like, Komen, dan Vote nya ya Readers...🌹🌹🌹


__ADS_2