
Episode 8
"Permisi Buk, Pasien kecelakaan yang dibawa Ambulace tadi di ruangan mana ya." tanyaku kepada petugas Rumah Sakit.
"Yang Pelajar itu ya Mbak, masih di IGD Mbak, sepertinya masih ditangani, silahkan menunggu dulu ya Mbak, nanti jika Dokter sudah selesai, baru boleh dijenguk." jawab petugas, dan kamipun duduk menunggu di depan IGD.
"Siapa yang nanganin ya? apa Kak Rahmi?" tanyaku kepada dua sahabatku.
"Gak tau deh, kan kita gak liat Dokter yang masuk ruangannya, haha..." jawab Siska.
"Dasar Kamu, iya lah, toh kita baru sampe, kira-kira siapa...gitu maksudku...kita lihat saja nanti deh." lanjutku
"Eh iya ada yang tau nomor orang tua Wahyu gak?" tanya Nita, dan kami menggeleng karena memang tidak ada yang tahu.
"Kasihan banget kalo orang tuanya gak tau...eh itu Dokter keluar..." ujar Nita melihat Dokter keluar dari IGD yang ternyata bukan Dokter Rahmi.
"Bagaimana keadaan teman kami Dok?" tanya Siska.
"Pasien berseragam SMP itu, yang nama di bajunya Wahyu Nugroho kan? Kondisinya lumayan parah, kakinya patah, dan luka-luka lumayan parah disekujur badan dan mukanya, tadi sempat tidak sadarkan diri sebentar, tapi sekarang sudah sadar." jawab Dokter.
"Astaghfirullahal'azhim...boleh kami masuk Dok...?" tanyaku.
"Silahkan...saya permisi dulu ya Dek..." jawab Dokter meninggalkan kami, dan kami segera masuk.
"Ya Allah, Wahyu...lukamu banyak banget begini..." ucap Nita.
"Eh, kalian jenguk aku, makasih ya Three Angle, kalian masih perhatian sama aku...aagghh...kakiku kenapa berat banget digeser..." jawab Wahyu dan berteriak sakit.
"Hmmm...kata Dokter....kakimu...patah Yu..." lanjut Nita ragu menyampaikannya.
"Apaaa....??? Aduuhh...gimana ini...." Wahyu seakan tidak bisa menerima keadaan.
__ADS_1
"Sabar Yu, ini mungkin ujian dari Allah untuk Kamu lebih bersabar dan Ikhlas dengan yang ditetapkan Nya." aku mencoba menenangkan Wahyu.
"Gimana mau sabar, Kamu gak ngerasain sakitnya Sya...gimana keadaan aku selanjutnya, gimana masa depan aku...kalian gak bakal ngerti...!!! apalagi Kamu Sya, puaskan Kamu...!!! dengan aku begini, Kamu bebas karena gak bakal aku deketin lagi...iyakan...!!!" Wahyu masih tidak terima.
"Wahyu, kami ngerti keadaan Kamu, tapi apa yang bisa kita perbuat? bahkan Dokterpun cuma bisa berusaha, yang penting Kamu sabar, ikuti arahan Dokter, jangan banyak bergerak, kaki patah itu setahuku bisa pulih lagi asalkan Kamunya gak banyak gerak yang malah bikin patahannya itu gak pas posisinya...lagian asal Kamu tau, Raisya yang udah telpon Ambulance buat Kamu, kalo Raisya gak peduliin Kamu, mungkin Kamu udah mati geletak begitu di pinggir jalan, gak ada yang nolongin, karena kata saksi mata yang melihat, Kamu ugal-ugalan di jalan itu, makanya mereka gak ada yang mau tolongin Kamu, cuma lihat-lihat aja...seharusnya Kamu berterimakasih, bukan malah nyalahin Raisya...!!!" ujar Siska marah.
"Udah Sis, jangan bikin ribut disini, ini Rumah Sakit, biarin aja dia nilai aku gimana juga, aku gak masalah, aku berbuat bukan karena mau dipuji kok, yaudah Kamu coba tanya deh ke dia, siapa orang di rumah yang bisa kita hubungi, biar kita bisa pulang, aku tunggu di luar, biar hatiku gak dirasuki syetan sehingga jadi gak Ikhlas..." ucapku kepada Siska, dan akupun langsung berjalan keluar.
"Sya, maafin aku, aku terbawa emosi...Sya...Raisya...!!!" Wahyu memanggilku, tetapi aku tetap berjalan keluar tanpa menoleh kebelakang.
"Ada apa ya Dek, kok ada suara ribut..." kata petugas ketika aku sampai di luar.
"Oh gak Pak, itu kawan kami Wahyu, mungkin masih syok dengan kondisinya...kami akan mencoba hubungi keluarganya, setelah itu kami bisa tinggal Wahyu disini ya Pak?" ucapku pada petugas.
"Oohh iya Dek gak apa-apa...tapi boleh kami minta nomor HP keluarganya?" tanya petugas.
"Boleh Pak, sebentar yaa..." jawabku dan langsung masuk lagi.
"Iya Sya." jawab Siska, dan langsung mencatat nomor HP orang tua Wahyu yang disebutkan oleh Wahyu nomornya.
***
"Eh Sya, kita kok gak lihat Kak Bayu ya tadi..." tanya Nita memecah keheningan kami di mobil.
"Ha, iya juga yaa...kok di ruang IGD tadi juga gak ada ya, apa dia dibawa ke Kamar Rawat Inap?" ujarku.
"Laahh, lebih parah dong berarti kalo sampe dirawat inap..." sambung Siska.
"Iya kayanya, karena biasanya yang ditabrak emang lebih parah dari yang nabrak...tapi ga tau juga sih...hehe..." ucapku.
"Ya tapi mau gimana lagi, kita udah hampir sampe rumah, biarin aja deh lagian aku gak mau kejadian yang hampir sama, secara mereka hampir sama aja keduanya, sama-sama bikin aku BeTe..." lanjutku.
__ADS_1
"Haha...dasar kamu Sya...sabar atuh Neng Geliisss..." jawab Nita.
Kamipun tertawa melupakan keributan di IGD tadi, dan menukar topik perbincangan kami, sampai tidak terasa kami sampai dirumah.
"Assalamu'alaikum...Mama..." ucapku melihat Mama di ruang tengah ketika kami masuk rumah, dan segera bersalaman mencium tangan Mama.
"Wa'alaikumussalam...duuhh anak Mama, gimana kondisi temanmu tadi...gak parahkan...?" tanya Mama.
"Yaaa, lumayanlah Ma, kakinya patah, dianya luka-luka..." jawabku.
"Astaghfirullah...kasihan sekali, padahal seminggu lagi kalian udah harus masuk sekolah..." ucap Mama.
"Biarin aja Tante, orang gak tau terimakasih begitu, udah ditolongin malah marah-marah, bikin malu aja di Rumah Sakit ribur-ribut...kesel banget deh..." sambung Siska dengan muka kesal.
"Loh loh loh...ada apa emangnya Nak, kok begitu?" tanya Mama lagi ke Siska.
"Iya Tante, kami berusaha untuk tenangin dia, biar bersabar, ikhlas, dan tetap optimis, eehh dia malah marah, bilang kami seneng dengan kondisi dia..." jawab Siska.
"Siska...udah dong, jangan dibahas, kan udah aku bilang, dia mungkin lagi syok berat...maklumin aja...kitanya yang mesti sabar sekarang...Raisya aja yang diomelin tuh anak udah bisa lupain kejadian tadi..." ujar Nita.
"Oohh begitu...jadi begini...yang namanya manusia, jika kita diberi masalah oleh Allah, itu karena 3 hal, yang pertama karena Allah ingin menguji kita, sabar atau tidak, ikhlas apa tidak, tawakkal apa tidak...yang kedua karena Allah menegur kita, ingatkah kita akan kesalahan yang pernah kita perbuat, sehingga Allah mau ketika itu kita bertaubat kepada Nya...yang ketiga karena Allah menghukum kita sebab dari kekufuran kita kepada Allah yang sudah sangat keterlaluan...dan entah masalah kita itu ujian, teguran, apa hukuman, yang tahu ya kita sendiri...makanya banyak-banyaklah kita memohon ampun kepada Allah jika terjadi masalah, dan bersabar menghadapinya...jadi, teman Kalian itu diujikah, ditegurkah, atau dihukumkah, dia yang tau...termasuk anak-anak Mama yang cantik-cantik ini, Kalian lagi diuji atau ditegur oleh Allah, dengan digerakkannya mulut teman Kalian untuk marah-marah kepada Kalian, yang tahu ya diri masing-masing, yang pasti sekarang ini, maafkan dia dan do'akan agar Allah sembuhkan dia...oke sayang..." ucap Mama panjang lebar menasehati aku dan sahabatku yang memang sudah seperti anak sendiri bagi orang tuaku.
"Iya...kami paham..." ucap kami serentak dan memeluk Mamaku.
"Nah, Sekarang bersih bersih, Sholat Ashar lagi yaa, udah telat tuh, pasti belum Sholat Ashar kan..." lanjut Mama.
"Hehe...iya Ma, tadi kedengeran Azannya masih di jalan dan udah deket juga, jadi kami pikir tanggung, di rumah aja gitu Ma...hehe..." jawabku.
"Iya Tante...kami Sholat dulu ya Tante..." sambung Nita dan Siska yang langsung berlari kekamarku, saling mendahului ingin masuk kamar mandi duluan, aku dan Mamapun tertawa melihat tingkah mereka.
Bersambung...
__ADS_1
Nantikan Episode berikutnya, dan jangan lupa Like, komentar, dan Vote nya ya Readers...😊😊😊