
Episode 36
Tepat pukul 04.00 WIB aku terbangun, aku terkejut karena tidak menemukan suamiku disebelahku, akupun segera berdiri dan mencoba mencarinya ke kamar mandi, dan ternyata tidak ada, akupun keluar kamar dengan hati-hati agar tidak membuat suara yang mengganggu keluargaku yang masih istirahat.
"MasyaAllah...ternyata Bang Bayu sedang berdo'a..." ujarku dalam hati ketika melihat Bang Bayu di ruang sholat rumah kami.
"Kira-kira Bang Bayu do'a apa yaa...nguping aahh...hehe..." ujarku lagi dalam hati.
Akupun mendekat dengan hati-hati, dan aku berusaha mendengarkan apa yang diminta Bang Bayu dalam Do'anya.
"Yaa Allah...malam ini aku sangat bersyukur kepada-Mu Yaa Allah...karena telah Engkau persatukan aku dengan wanita yang sangat baik yang pernah aku temui, wanita yang membuatku taubat dan mendekat kepada-Mu ya Allah...Yaa Allah, aku ikhlas dengan apa yang Engkau kehendaki untuk kami berdua, aku ikhlas dengan kondisi istriku yang belum bisa melayaniku, aku ikhlas dengan apa yang sudah Engkau takdirkan untuk kami...Yaa Allah, aku ridhoi istriku, jadikan dia salah satu Ratu Bidadari Syurga kelak nantinya, dan persatukan kami bukan hanya di dunia ini saja, tetapi juga di Syurga kelak, Aamiin..." ucap Bang Bayu dalam do'anya yang terdengar olehku, meskipun suaranya pelan.
Tidak terasa air mataku jatuh dan membasahi pipiku, akupun sangat bersyukur mendapatkan suami terbaik seperti Bang Bayu...segera aku membalikan badanku hendak menuju ke kamar lagi, agar suamiku tidak memergoki aku yang sedang mendengarkan do'anya, dan akupun kembali tidur.
***
Beberapa hari berlalu, haidpun berakhir, aku segera mandi dan melaksanakan aktifitas seperti biasa, dan hari inipun hari terakhir aku libur kuliah, karena aku hanya mengambil libur satu minggu, Bang Richipun hendak pergi bulan madu ke Turki sore ini.
"Dek ikut aja yuk, tambah lagi aja liburnya..." ajak Bang Richi kepadaku.
"Hmm...gimana ya Bang, aku udah ketinggalan jauh nih pelajarannya..." jawabku bingung.
"Kalo masalah ilmu kedokteran, kan disini ada guru privat Kamu Sya...ehm ehm...hehe..." sambung Kak Rahmi merayuku.
"Kapan lagi kan...numpung suami Kamu belum berangkat ke pesantren...lagian tuh kata Kakakmu juga dia siap bantu Kamu belajar..." lanjut Bang Richi.
"Aku bilang Bang Bayu dulu yaa..." jawabku.
"Aku udah denger kok...hehe...terserah Kamu aja Sya, kalo Kamu mau ikut, bisa aja kita ijin lagi di kampus..." ujar Bang Bayu yang tiba-tiba berdiri di belakangku.
"Nah kan...lampu hijau deh...yuk, abang ambilin tiket yaa..." sahut Bang Richi lagi.
"Duuhh...gimana yaa...aku tanya Papa Mama dulu deh..." jawabku lagi.
"Yaudah sono..." lanjut Bang Richi, dan akupun menemui Papa dan Mama.
***
__ADS_1
POV Bayu
"Gimana rencanamu selanjutnya Bay?" tanya Bang Richi.
"Ya seperti rencana awal Bang, aku mau mendalami ilmu agama..." jawabku.
"Setelah selesai mau ngapain?" tanya Bang Richi lagi.
"Belom tau...hehe...mungkin buka rumah tahfizh, nanti aku minta salah satu ustadz di pondok temanku itu untuk mengajar, atau kalo mereka punya referensi ustadz lain yang membutuhkan pekerjaan..." jawabku lagi.
"MasyaAllah...niat yang bagus....tapi Kamu juga harus ada usaha lain Bay, jadi untuk biaya harian ustadz nya gak dipungut dari santri, dan santri bisa bayar iyuran semampunya atau bahkan bagus lagi kalo gratis...waahh amal jariyah banget itu..." ujar Bang Richi.
"Iya juga yaa...Rumah Tahfizh anak yatim dan duafa...keren Bang...tapi aku buka usaha apaan yaa..." aku mulai memutar otak.
"Kan Abang mau dikasih perusahaan sama Papa, kenapa gak Abang ajarin aja Bayu dan Abang kasih salah satu pabrik buat dikelola Bayu Bang? kan waktu lumayan panjang, nanti setelah Abang memahami betul masalah pabrik, Bayu juga udah lulus, kan bisa abang ajari Bayu...jadi Papa full santai di rumah aja, kita sebagai anak menantu yang berkhidmat untuk orang tua..." sambung Kak Rahmi.
"Hmmm...boleh juga tuh...gimana menurutmu Bay?" ujar Bang Richi.
"Eeemmm...gimana baiknya aja nanti Bang, aku gak mungkin ngatur-ngaturkan...secara itu perusahaan Papa dan Abang, aku nurut aja..." jawabku segan.
"Kamu itu adik iparku Bayu, berarti bagian dari keluarga kami, jangan merasa jadi orang lain deh, jujur aku gak suka kalo Kamu berfikir begitu...yaudah, usul Rahmi itu bagus itu...kita rencanakan nanti...yang jelas kita jalani dulu rencana awal..." ujar Bang Richi.
***
POV Raisya
"Gimana kata Papa Mama Dek?" tanya Bang Richi.
"Terserah Bang Bayu...kalo Bang Bayu siap, Papa Mama izinkan..." jawabku.
"Yaudah, boleh deh...kapan lagi kan..." sambung Bang Bayu.
"Oke sip, tiket kami pesan ya...siap-siap gih sana..." ujar Bang Richi.
Kamipun segera beres-beres dan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa, dan tidak lupa aku memberi kabar kepada sahabatku, akupun video call sambung tiga dengan mereka, dan meminta do'a mereka untuk keselamatan kami selama perjalanan.
"Waahh asyik tuh, jangan lama-lama yaa...jangan lupa oleh-oleh..." ujar Siska.
__ADS_1
"Iya Sya, jangan lama-lama, aku mau nikah lho...jangan sampe kalian gak hadir..." sambung Nita.
"Iya...paling cuma seminggu...oke ya, aku siap-siap dulu...bye...Assalamu'alaikum..." jawabku mengakhiri telpon.
Setelah Sholat Zhuhur dan makan, kamipun diantar Mang Odi, Mama, dan Bi Ayu ke Bandara, karena pesawat kami jadwal jam 4 sore.
"Jaga diri kalian baik-baik ya Nak...jangan lupa jaga Ibadah, nanti kalo sudah sampai kabari Mama..." ucap Mama saat kami akan masuk kedalam Bandara.
"Iya Ma, Mama juga jaga diri baik-baik...sampaikan sama Papa juga ya Ma..." jawabku.
"Mang jaga kedua orang tuaku ya, aku titip sama Mamang dan Bibi..." ucap Bang Richi.
"Siap Den...!!!" jawab Mang Odi dan Bi Ayu serentak.
Kamipun berpelukan dengan Mama, dan masuk kedalam ruang tunggu bandara.
"Nanti abis Sholat Ashar langsung ya, pesawat jam 4 soalnya, mepet banget waktunya..." ucap Bang Richi dan kami mengangguk.
"Barang-barang juga jangan sampe kececer, nanti ada yang ketinggalan lagi..." sambung Kak Rahmi.
"Oh iya Bang, ini tiket buat kami berdua hadiah dari abang kan...hehe..." ujarku merayu Bang Rihi.
"Hmmm...tau gitu mah abang suruh pesen tiket sendiri...hahaha..." jawab Bang Richi.
"Iihh Abang kok jahat sih...aku pulang nih, biar hangus sekalian tiketnya..." ujarku lagi bercanda.
"Ya...abang becanda doang kok...mana mungkin abang pergitungan sama kalian..." jawab Bang Richi.
"Makasih Abangku sayang, seneng deh punya Abang kaya begini...hehehe..." ucapku merayu Bang Richi.
"Huuu...ada maunya aja, Abang sayang...hati-hati deh Kamu Bay, Raisya baik begitu cuma karena ada maunya...hahaha..." ujar Bang Richi.
Kamipun tertawa bersama-sama. Setelah itu kami segera melaksanakan Sholat Ashar berjamaah di Musholla Bandara, dan langsung kembali menunggu di ruang tunggu.
Alhamdulillah pesawat berangkat sesuai jadwal, kampun langsung naik keatas pesawat setelah terdengar informasi dari petugas Bandara, dan kami duduk di bangku yang sesuai dengan nomor di tiket kami.
Bersambung...
__ADS_1
Nantikan Episode berikutnya, yang makin membuat penasaran, jangan lupa dukung terus karya kami dengan memberi Like, Komentar, dan Vote ya readers...😊😊🌹🌹🌹