"Kebetulan Apa Takdir...?"

"Kebetulan Apa Takdir...?"
Mr.Hassan's Family


__ADS_3

Episode 38


Hari ini kami menyewa Taksi Online untuk mengatarkan kami keliling kota Istanbul, mulai dari museum, taman kota, hingga pantai.


Kami sampai di pantai setelah makan siang, sehingga kami bisa menghabiskan waktu bermain di pantai, sampai akhirnya waktu Ashar hampir tiba.


"Assalamu'alaikum Sir, I'm sorry, where is the Mosque?" tanya Bang Richi pada salah seorang warga yang sepertinya penduduk asli Turki.


"Wa'alaikumussalam...there...come with me, I also want to go to Mosque..." jawab lelaki itu yang ternyata juga hendak ke Masjid.


"Thanks Brother..." jawab Bang Richi, dan kamipun berjalan bersamanya.


"Where do You come from?" tanya lelaki itu.


"We are from Indonesia..." jawab Bang Richi.


"Oh MasyaAllah...Indonesian Muslims are very friendly...My Name is Mochammad Hassan, You can call me Hassan." ujar lelaki itu yang bernama Hassan.


"Oh MasyaAllah, Mr.Hassan, good name, my name is Richi, she is my wife, Rahmi...she is my younger sister, Raisya...and he is Raisya's husband, Bayu..." jawab Bang Richi mengenalkan kami.


Bang Richipun asyik berbincang dengan Mr.Hassan, sedangkan kami hanya mendengarkan percakapan mereka.


"Asyik bener ngobrolnya, ajakin bahasa minang juga nih...hahaha..." ujarku.


"Yee, namanya kita tamu, ya mesti ramah...kan dia sendiri yang bilang, muslim Indonesia itu ramah...ya kita buktikan..." jawab Kak Rahmi.


"Hehe..iya Kak, becanda doang..." ujarku lagi.


"Nah itu Masjidnya, ayo...pas juga tuh baru azan..." sambung Bang Bayu.


Selesai Sholat, ternyata Mr.Hassan tadi sudah keluar duluan dan menunggu kami di luar Masjid.


"Hi Richi...come here...!!!" panggil Mr.Hassan.


Kamipun menghampirinya yang sedang duduk di Cafe sebelah Masjid.


"What do You want to drink?" tanya Mr.Hassan.


"No thanks..." jawab Bang Richi basa basi.


"No no...You have to drink here...this is my cafe..." ujar Mr.Hasan sedikit memaksa.


"MasyaAllah...okay...come on..." jawab Bang Richi yang tidak enak untuk menolak.


"Ayo sini, kalian mau minum apa? dia yang punya kafe ini ternyata..." ajak Bang Richi.

__ADS_1


"Kopi aja kayanya Bang..." jawab Bang Bayu.


"Aku sama deh...Kak Rahmi?" ujarku.


"Samain aja berarti..." sambung Kak Rahmi.


"Okay, We want to order coffe..." ujar Bang Richi.


Kamipun duduk dan berbincang-bincang sambil menunggu pesanan kami.


"Ternyata bos Bang, gayanya mah biasa banget..." ucapku.


"Makanya kita dilarang memandang orang dari fisik semata Dek..." jawab Bang Richi.


"Iya Sayang, bener kata Bang Richi, liat aku, walaupun tampang pas-pasan, banyak dosa, tapi punya istri bidadari syurga...hehe..." sambung Bang Bayu.


"Hahaha...iya iya..." jawabku.


Setelah kami ngopi-ngopi di Cafe Mr.Hassan, kami diajak oleh Mr.Hassan ke rumahnya, ternyata rumahnya sangat sederhana, ya tidak terlalu buruk, tapi juga tidak megah seperti rumah-rumah orang kaya yang kita bayangkan, di rumahnya terdapat beberapa anak yatim piyatu yang diasuhnya, meskipun dia memiliki empat orang anak, tetapi tidak membedakan sayangnya kepada anak asuhnya tadi, mereka nampak akrab semua, mereka menyambut kami dengan ramah, bahkan istri Mr.Hassan juga ikut menyambut kami.


"Assalamu'alaikum...masyaAllah...Brothers and Sisters, sit down please...my name is Aisha, i am from Yaman, but since we got married, we live here." sambut istri Mr.Hassan memperkenalkan dirinya kepada kami.


Kamipun berbincang-bincang dengan mereka, mereka menceritakan bagaimana sejarah islam di Turki, cerita tentang kekhalifahan turki utsmani, cerita keluarga mereka, anak-anaknya yang ternyata sudah menjadi Hafizh Qur'an meskipun usianya masih sangat kecil...


"Sangat beruntung mereka Bang, sedangkan satu orang Hafizh saja bisa menyekamatkan sepuluh keluarganya yang seharusnya masuk neraka, apalagi empat..." jawabku.


"Semoga anak-anak kita bisa juga jadi para penghafal Al-Qur'an..." sambung Kak Rahmi.


"Aamiin..." jawab kami.


Tidak terasa waktu Maghrib sudah hampir masuk, kamipun berpamitan hendak pulang ke hotel kami, karena jika terlalu malam kami khawatir tidak dapat taksi lagi, sebab taksi kami tadi hanya kami sewa sampai kami di pantai, kasihan kalau menunggu kami di pantai.


"I will take You to the hotel..." ujar Mr.Hassan.


"No Sir...Thank you..." jawab Bang Richi menolak.


"You are My Brother and Sister, I have to do it..." ujar Mr.Hassan yang lagi-lagi memaksa.


"Okay, Thanks so much..." jawab Bang Bayu yang lagi-lagi pasrah atas paksaan Mr Hassan.


Kamipun diantar Mr.Hassan sampai ke Hotel kami, setelah Sholat Maghrib berjamaah di Masjid Hotel, Mr.Hassan pulang dan kami kembali ke kamar.


Setelah Isya dan makan malam, kami berkumpul di atap hotel yang merupakan tempat santai, ada beberapa hiasan dan bangku-bangku santai seperti taman.


"Gimana Dek, nyesel ikut kami?" tanya Bang Richi.

__ADS_1


"Nyesel Bang...kenapa baru sekarang, gak dari kemarin-kemarin...hahaha..." jawabku bercanda.


"Yee...kalo kemarin-kemarin mah bukan honey moon namanya...orang kamunya....eh, gak jadi deh...hahaha...." sambung Kak Rahmi bercanda juga.


"Hmmm...Kakak...malu tau...hehe..." ujarku.


"Becanda Dek Say..." jawab Kak Rahmi.


"Oh iya, kalo aku lihat, sepertinya Mr.Hassan tadi bukan cuma seorang pengusaha deh, kayanya dia itu ulama...soalnya tadi pas di Masjid yang kita Sholat Ashar, aku lihat beberapa remaja itu berlari menghampiri beliau, cium tangan gitu...dan di papan acara Masjid, aku lihat nama Syaikh Mochammad Hassan yang bakal Khuthbah Jum'at besok, tapi gak tau sih, apa itu beliau, atau orang yang berbeda tapi namanya sama...hehe..." ujar Bang Bayu.


"Bisa jadi juga sih Bay...kalo gitu besok kita kesana aja Jum'atannya...gimana?" ajak Bang Richi.


"Boleh Bang..." jawab Bang Bayu.


"Laahh...kami gimana dong, masa tinggal di hotel, bete banget..." sambungku.


"Yaudah, kalian ikut aja...duduk aja di cafenya Mr.Hassan...mau jajan apa kek..." jawab Bang Richi.


"Asyiiikkk...ditraktir kan...hahaha..." ujarku lagi.


"Kancang ka perai...hahaha..." ujar Bang Bayu menggunakan bahasa asli kampung kami, minang kabau.


"Hmmm...mentang-mentang pernah pulang kampung, keluar bahasa minangnya, tau banget aku gak ngerti..." jawabku yang memang tidak mengerti bahasa kampungku di minang kabau sumatera barat, karena memang aku lahir di kotaku sekarang di pulau jawa, dan belum pernah pulang kampung.


"Terjemahannya bisa ditanya ke mbah google...hahaha..." ujar Bang Richi.


"Huuhh...dasar orang padang..." ujarku kesal.


"Ciyee...marah...jadi artinya itu demen atau cepat kalo masalah yang gratisan...hahaha..." jawab Bang Richi.


"Ooohh...biarin...weeekk...." jawabku mencibir jengkel.


"Marah-marah nanti gak dibukain pintu sama Bayu lhoo...hahaha..." canda Bang Richi.


"Ya tidur di luar aja ya Bang...haha..." sambung Bang Bayu.


"Iihh...aku dikeroyok...Kak Rahmi bantuin...huuu..." ujarku manja.


Kamipun menghabiskan malam itu dengan bercanda tawa di taman atap hotel sampai waktu lewat tengah malam, dan kamipun kembali ke kamar untuk beristirahat.


Bersambung...


Nantikan Episode berikutnya yang tidak kalah menarik...


Jangan lupa untuk dukung terus karya kami dengan memberikan Like, Komen, dan Vote nya ya Readers...😉😉🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2