
Pov Intan.
"Siapa laki-laki itu? Kenapa kejadian siang tadi, seolah menjadi jalan untuk selalu bertemu dengannya? Menyebalkan." gerutuku selama perjalanan.
Karena tak ingin pulang, akhirnya aku memutuskan utuk datang ke rumah bordil Madam Lola. Aku seolah tak lagi memiliki tujuan hidup selain kesana.
Seperti biasanya, malam seperti ini sudah begitu ramai dengan pengunjung. Tampak dari tempat parkiran yang nyaris tak ada celah untuk mobil lain yang datang.
" Tan, bukannya libur? Kok kesini?" tanya Wulan padaku.
"Ngga ada kerjaan juga di rumah. Mending kesini, makan dan minum gratis." jawabku.
"Ya gimana, suasana lagi rame. Tapi, kamu kan lagi sakit. Madam ngga akan biarin kamu gitu aja." tegur Wulan padaku.
"Tinggal bibir yang sakit, yang lain ngga terlalu. Lagian, mana mau om-om itu sama cewek bopeng begini." candaku padanya.
Wulan hanya tersenyum renyah, dan menggandengku masuk ke dalam rumah itu.
__ADS_1
Wulan adalah gadis desa, sama sepertiku. Nasibnya pun malang karena di jual oleh ayah kandungnya sendiri. Hanya saja, Ia belum memiliki pelanggan tetap sepertiku, karena belum berpengalaman. Maka dari itu, aku sering menyisihkan bayaranku sedikit untuknya.
"Tan, ngapain kesini?" tanya Madam, sama saja dengan pertanyaan wulan.
"Di rumah bosen. Mending di sini kan?"
"Kalau disini ngga boleh nganggur, harus kerja. Apalagi rame nih."
"Aman lah." jawabku, yang langsung duduk di singasana. Tempatku biasa menunggu seorang pelanggan datang dan memlihku untuk melayaninya.
Wulan terus mendampingiku, sembari bealajar bagaimana cara melayani pelanggan dengan baik. Aku seperti seorang tutor untuknya. Tapi memang, Ia hanya dekat denganku selama ini, ketika yang lain selalu membulynya dengan wajah yang tak secantik lainnya.
" Lah, kok kita yang harus agresif? Malu lah, kayak ngga punya harga diri." jawab Wulan spontan.
Aku menyentil jidatnya yang lebar itu karena kesal.
" Kamu tahu, kita berada dimana? Kita di rumah P*l*c*ran. Dari awal kita masuk kemari, harga diri itu sudah hilang tanpa pernah akan kembali." jawabku.
__ADS_1
"Meski aku terpaksa masuk?"
"Dari semua gadis yang ada disini, tak ada yang sengaja masuk, tidak. Kamu lihat Niken? Dia bahkan di jual suaminya sendiri demi menutupi hutang. Arin, dia anak jalanan yang memang di asuh untuk pekerjaan ini. Dan aku, aku memang datang sendiri, tapi itu semua demi laki-laki itu."
"Kalau masih dendam, kenapa terus merawatnya?"
"Ini lah rasanya, ketika kita berada di antara kata Biar bagaimanapun. Sebuah kata yang mengharuskan kita menerima kenyataan, meski hati kota menolaknya mentah-mentah. Tapi, biar bagaimanapun, dia ayahku."
"Iya... Aku faham rasanya."
Aku dan Wulan berbincang selama itu. Sama sekali tak ada yang menghampiri kami. Karena memang,. Aku memilih tempat di pojokan yang jarang terlihat oleh orang lain.
"Intan... Kamu disini? Om kira kamu ngga masuk?" panggil Om suryo padaku.
"Hmm, Intan lagi libur, Om. Lihat nih, lebam semua gara-gara orang sakit kemarin. Takutnya, kalau di paksa kerja, malah ngga bisa puasin pelanggan." jawabku dengan sedikit godaan padanya.
Om Suryo merogoh dompetnya, meraih beberapa lembar uang merah, lalu memberikannya padaku.
__ADS_1
" Ini, buat berobat. Kasihan, cantik begini mukanya bonyok. Nanti, kalau udah sembuh, langsung hubungi Om ya." ucapnya genit, sembari tangannya mencolek daguku.