
"Intan..."
"Hmmm? Kenapa?"
"Kamu tidur?"
"Kenapa Troy? Bahumu lelah?" tanya Intan, tanpa mengangkat kepalanya.
"Lumayan. Tapi kalau kamu masih nyaman, ngga papa. Lanjutin aja." jawab Troy, yang langsung menahan kepala Intan di bahunya.
"Troy, aku serus. Aku ingin lupa dengan semuanya. Aku lelah, sangat lelah."
"Meskipun kau akan lupa denganku?" tanya Troy.
"Aku lupa, tapi kamu ngga akan pergi. Aku yakin itu." jawab Intan dengan mata terpejam.
Troy menatapnya, lalu memberanikan diri untuk mengusap rambutnya. Begitu nyaman, dan semakin nyaman di rasakan Intan.
Hari semakin larut. Troy meminta Intan untuk segera pulang.
"Bukan ingin mengusirmu, tapi ini sudah terlalu malam." ucap Troy.
"Bahkan aku sering pulang pagi." jawab Intan.
Troy meraih kepala Intan, lalu menegakkan nya dengan menekan di bagian pipi hingga Intan tampak memonyongkan bibirnya.
"Aku bilang pulang, dan istirahat dengan nyaman di rumah." ucap Troy, lalu mengambil jaket dan memakaikannya pada Intan.
__ADS_1
"Tutupi tubuhmu."
"Bukankah, pria lebih suka jika melihat wanitanya seksi?"
Tukkkk! Troy menirukan gaya Buk Tutik menyentil dahi Intan.
"Awwwh... Sakit.!" pekiknya.
"Pria yang suka melihatmu seksi, hanya akan menatap seksinya, bukan cintanya. Tapi, ketika seorang pria melindungi tubuhmu dari pandangan orang lain, maka itulah cinta sesungguhnya."
Deg!!! Jantung Intan berdegup dengan begitu kencang secara tiba-tiba. Bahkan nyaris sakit rasanya, ketika mendengar ucapan itu dari bibir Troy.
Pria itu lalu berdiri, dan menggandeng tangan Intan menuju mobilnya. Intan hanya diam, merasakan dan menganalisa getaran apa yang ada saat ini.
"Dah, pulanglah. Besok kita ketemu lagi."
"Aku belum punya rumah. Aku tinggal dimana saja aku mau. Berkelana bebas, tanpa beban angsuran ataupun kredit perumahan."
"Kau miskin sekali." ledek Intan.
"Ya... Aku begitu miskin, tapi nyaman seperti ini." jawab Troy.
Intan pun masuk ke dalam mobilnya, lalu mulai menyetir. Meninggalkan Troy yang melambaikan tangan ketika berpisah darinya.
Pov Intan
"Hidup seperti apa yang kau jalani. Tak punya rumah, atau yang lainnya. Apa kau bahagia?" gumamku selama perjalanan.
__ADS_1
Aku memang melihatnya selalu sederhana. Bahkan pakaiannya kumal menurutku. Tapi, aura dari dalam dirinya memang terpancar bahagia. Meski terkadang begitu gelap dan abu-abu.
"Tumben jam segini udah pulang?" tanya Buk Tutik padaku.
"Ibu, tumben jam segini belum tidur. Kenapa?"
"Ngga tahu, ngga bisa tidur. Padahal udah tengah malem."
"Ibu nungguin Intan ya? Hayo ngaku."
"Yeee... Ge'er, ngapain Ibu nungguin kamu?"
"Lah, nyatanya Intan pulang, Ibu langsung keluar." jawabku dengan segala ledekan padanya.
Buk Tutik hanya diam, menghela nafas dengan melihatku.
"Kamu di pukuli lagi?"
Aku tersenyum mendengarnya. Tapi aku tak pernah bisa berbohong padanya.
"Tadi, ternyata Intan di jebak. Sebagai pengalihan pria itu untuk melindungi selingkuhannya. Intan di hajar, di pukuli. Bahkan si biru hampir di tahan karena dikira hasil morotin suaminya." jawabku.
"Tan... Berhenti yuk. Ibu yakin Intan capek, Intan pasti bisa berhenti."bujuknya padaku.
" Intan baru bisa berhenti, ketika Dia sudah ngga ada. Beban Intan hanya dia. Dan bahkan, hasil malam ini pun hanya untuk dia. Intan ngga dapet apa-apa." jawab ku.
Bu Tutik hanya bisa kembali diam. Karena Ia pun tak dapat berbuat apa-apa untukku. Dan aku faham, apa yang sebenarnya Ia ingin kan dariku. Sebuah pekerjaan yang halal, dan ketenangan untuk hidupku. Meski pun, entah kapan itu akan terjadi.
__ADS_1