100 Hari Mencintaimu

100 Hari Mencintaimu
Lemahnya kamu yang kuat


__ADS_3

Pov Author.


Hampir Satu jam, mereka berada dalam posisi ituh. Sang kasir minimarket hanya menatap mereka dan menggelengkan kepala dengan heran.


"Selalu bertengkar, tapi tetap melindungi dalam diam." gumamnya.


Tak lama kemudian, Troy terbangung dari tidurnya dan meregangkan tubuhnya sejenak.


"Huaaaammmhhh... Enaknya tidur begini."


"Kau bangun?"


"Weeeehhhh.. Kamu ngapain masih disini? Ngga pulang?" tanya Troy yang terkejut.


Intan menggelengkan kepala. Lalu tersenyum padanya dengan begitu manis, meski sebenarnya sakit kepala mendera.


"Kamu sakit, Tan? Kok pucet?"


Intan mengangguk, "Pusing." jawabnya.


Troy refleks bangun, lalu menggendong Intan di belakang. Ia pun berjalan cepat menuju mobil dan memasukkan Intan kedalamnya.


"Aku antar pulang, ya?"


"Aku bisa sendiri." jawab Intan lirih.


"Engga, aku antar. Aku bisa nyetir." jawab Troy.

__ADS_1


Troy lalu mengambil alih kursi setir dan memacu mobil Intan untuk mengantarnya pulang.


"Ke Rumah sakit, ya?" tawar Troy.


"Engga... Ngga mau. Aku mau tidur, nanti malam mau kerja."


"Ngga usah kerja dulu, lemes begini kok."


"Kamu mau kasih makan aku? Aku udah ngga punya uang sama sekali."


Troy hanya diam, Ia menarik tuas dan menginjak pedal gas dengan kuat. Ia tak perduli lagi apapun yang di katakan Intan dengan segala omelanya. Ia hanya fokus untuk segera sampai kerumah Intan.


" Bisa turun ngga?" tanya Troy pada Intan.


Intan tak menjawab, lalu mencoba turun sendiri dari mobilnya. Tapi, Ia justru lunglai dan nyaris roboh. Untung Troy masih di sampingnya, lalu menggendongnya lagi hingga masuk ke rumah.


"Intan sakit, hampir pingsan." jawab Troy.


Bu Tutik yang ikut khawatir, lalu ikut masuk ke rumah Intan dan membantu merawatnya sementara.


"Kamu pulang aja, biar Intan sama Ibu."


Troy hanya mengangguk, dan Ia pun pamit pulang dengan Intan yang tampak benar-benar lemah kali ini.


Pov Troy.


Aku pulang, menggunakan ojek yang mangkal di depan gang rumah Intan.

__ADS_1


Meski pulang, tapi sepanjang jalan hanya Intan yang ada dalam fikiranku. Baru kali ini, aku melihatnya selemah itu.


"Biasanya kamu kuat. Kenapa hari ini tampak begitu lemah?" fikirku.


Aku telah sampai di Minimarket, lalu kembali pergi dengan motorku. Ingin kembali ke rumah Intan, tapi tak ingin menganggu istirahatnya.


"Biarkan saja. Nanti, ketika jadwalnya berangkat kerja, baru aku kesana untuk mencegahnya." ucapku.


Aku pun pulang ke rumah Ronald, lalu masuk ke kamar untuk istirahat.


"Dari mana kau? Kenapa baru pulang?" tanya Ronald yang menghampiriku.


"Aku lelah, biarkan aku istirahat sebentar. Yang penting pekerjaanku beres, dan aku akan minta uangku nanti."


"Tidak kau tabung seperti biasa?"


"Tidak... Kali ini aku butuh."jawabku, dengan mata terpejam.


Aku mendengar langkah kakinya meninggalkanku. Aku kembali memejamkan mata, dan berusaha tidur agar waktu terasa cepat berlalu.


Pov Author.


Kal ini mimpi buruk menghantui. Mimpi yang selama ini tak pernah ingin Troy ulang selama masa hidupnya. Mimpi akan sebuah kisah yang benar-benar ingin Ia lupakan.


"Ma... Jangan pergi, Ma. Jangan tinggalin Troy. Troy janji ngga akan nakal lagi, Ma." tangisnya di sebuah stasiun yang ramai.


Di sana, sang Ibu meninggalkannya sendirian, tanpa pernah lagi menengok kebelakang. Troy berlarian sambil menangis mengejar sang Mama. Tak perduli, ketika semua orang menatapnya dengan heran, bahkan mengatakannya anak yang cengeng.

__ADS_1


Ia menangis sejadi-jadinya, ketika bus yang di naiki sang mama benar-benar hilang dari pandangannya. Ia duduk meringkuk, menatap di sekeliling yang begitu ramai. Tapi, tak ada satu orang pun yang menatapnya, bahkan menolongnya.


__ADS_2